Aqiqah dan yang diQiqah dan Kambing Qurban Sebagai Pembayaran Kaffarah

Disebutkan di QS An Nisa’ [4]:157 …

Dan juga (disebabkan) dakwaan mereka dengan mengatakan: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih Isa Ibni Maryam, Rasul Allah.”

Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak memalangnya (di kayu palang – salib), tetapi tampaknya mereka yang melakukan.

Dan sesungguhnya orang-orang yang telah berselisih faham, mengenai Nabi Isa, sebenarnya mereka berada dalam keadaan syak (ragu-ragu) tentang menentukan (pembunuhannya). Tiada sesuatu pengetahuan pun bagi mereka mengenainya selain daripada mengikut sangkaan semata-mata; dan mereka tidak membunuhnya dengan yakin.

Dari semua ayat dalam Al Qur’an, bagi banyak orang, QS An Nisā’ [4]:157 adalah tergolong yang paling susah ditafsir orang. Namun justeru dari Kitab Al Qur’an sendiri, kita boleh memperoleh pandangan yang arif dan bijaksana yang sangat menenangkan dan sangat membesarkan hati.

Disebutkan di QS Al Baqarah [2]:154 …

Dan janganlah kamu mengatakan (bahawa) sesiapa yang terbunuh di Jalan Allah itu: mati, sesungguhnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak dapat menyedarinya.

Oleh kerana itulah, bagi orang-orang yang beriman kepada Allah, orang-orang yang mati selalu dikatakan,

إِنَّالِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْن

(‘innalillahi wa ‘inna ‘ilaihi rāji’ūn)

yang bermaksud,

“Milik Allah kita semua, dan kepada Allah lah, kita semua kembali.”

Rupanya orang-orang yang beriman kepada Allah SWT memandang apapun yang berlaku dengan mata hati atau ūlil abṣār yang tersebut di QS Ali Imran [3]:13 pada waktu Perang Badar, di mana sesungguhnya yang memenangkan Perang Badar itu adalah Allah sendiri bukan kekuatan manusia. Jadi manusia tidak boleh dengan sombong mengatakan bahawa mereka telah membunuh.

Oleh kerana itulah, QS An Nisā’ [4]:157 langsung membalas kesombongan orang-orang Yahudi jahat itu dengan menyatakan syubbihalahum [nampaknya mereka orang-orang Yahudi jahat itulah lah yang melakukan pembunuhan Isa], tapi sebenarnya Allah lah yang berkuasa di balik pembunuhan Isa, kerana di QS Ali Imran [3]:55 Allah sendiri menyatakan bahawa Allah lah yang mewafatkan Isa bukan orang-orang Yahudi walaupun rupanya orang-orang Yahudi yang membunuh Isa.

3|55|إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۖ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

(Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Wahai Isa! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dengan sempurna, dan akan mengangkatmu ke sisiKu, dan akan membersihkanmu dari orang-orang kafir, dan juga akan menjadikan orang-orang yang mengikutmu mengatasi orang-orang kafir, hingga ke hari kiamat. Kemudian kepada Akulah tempat kembalinya kamu, lalu Aku menghukum (memberi keputusan) tentang apa yang kamu perselisihkan.”

Bahkan Sayidina Isa sendiri ketika baru sahaja dilahirkan ke bumi ini sudah menerima takdir kematiannya (disebutkan di QS Maryam [19]:19).

Dan ketika baru sahaja lahir ke dunia ini, Isa langsung boleh bercakap,

“وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا”

wassalāmu ‘alayya yauma wulidttu wa yauma amūtu wa yauma ‘ub’aṡu hayyan

yang bermaksud,

“Dan segala keselamatan serta kesejahteraan dilimpahkan kepadaku pada hari aku diperanakkan dan pada hari aku mati, serta pada hari aku dibangkitkan hidup semula.”

Bagaikan hewan aqiqah atau hewan qurban dibunuh maka bagi manusia yang di qiqah, siksa akibat dosa-dosanya sudah terbayar kaffarah nya sebagai tebusan untuk menggantikan manusia yang berdosa tersebut dalam menanggung hukuman siksaannya. Oleh kerana itulah besyukurlah manusia yang di qiqah atas adanya aqiqah.

Di dalam Tarjamah Arab Kitab Injil disebutkan Nabi Yahya memanggil Nabi Isa, Kambing Allah atau Qurban Allah (baca Injil Surah Yahya 1:29) yang bak Kambing yang turun dari Langit yang menggantikan manusia yaitu putera Ibrahim. Kita semua adalah keturunan-keturunan Ibrahim bin Nuh.

Kalau sudah di qiqah, keadaan yang diqiqah tersebut murni dan fitri kembali kerana sudah terbayar kaffarah nya. Bagai ibadah haji badal dan pemotongan hewan sebagai tebusan atau kaffarah, kita yang sangat lemah ini hanya bersyukur bersyukur dan bersyukur kepada Allah SWT.