HARI PENGHAKIMAN: AT-TARIQ, AL ADIYAT, & SANG MASIH

Surat At-Tariq (Surat 86 – Sang Pendatang Malam) memperingatkan kita tentang Hari Penghakiman yang akan datang ketika:

Sungguh, Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup setelah mati).Pada hari ditampakkan segala rahasia,maka manusia tidak lagi mempunyai suatu kekuatan dan tidak (pula) ada penolong.

Surat At-Tariq 86: 8-10

Surat At-Tariq memberitahu kita bahwa Allah akan menyelidiki semua pikiran dan perbuatan kita yang memalukan dan kita rahasiakan. Tak ada yang bisa melindungi kita dari ujian penghakiman-Nya. Surat Al-Adiyat (Surat 100 – Sang Pemburu yang Berlari Kencang) pun menggambarkan hari yang sama ketika:

sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak bersyukur) kepada Tuhannyadan sesungguhnya dia (manusia) menyaksikan (mengakui) keingkarannya,dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihanMaka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan,dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan?sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Mahateliti terhadap keadaan mereka.

Surat Al-Adiyat 100: 6-11

Surat Al-Adiyat memperingatkan bahwa rahasia hidup kita yang memalukan sekalipun, yang selama ini kita tutup rapat-rapat, akan diumumkan karena Allah sangat mengenal apa yang kita lakukan.

Kita dapat menghindari pemikiran tentang Hari yang akan datang ini dan berharap bahwa kita bisa melewatinya. Namun Surat At-Tariq dan Al-Adiyat memiliki peringatan yang sangat jelas tentang Hari itu.

Apakah tidak lebih baik kalau kita mempersiapkannya? Namun bagaimana caranya?

Nabi Isa AlMasih AS datang bagi kita yang berusaha mempersiapkan diri untuk Hari itu. Dia berkata dalam Injil:

Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.
Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak,
supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.
Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia.

Yahya 5: 21-27

Nabi Isa AlMasih AS mengklaim wewenang yang agung – bahkan wewenang untuk mengawasi Hari Penghakiman. Hal ini terbukti dalam bagaimana Taurat Nabi Musa menubuatkan wewenangnya dari Penciptaan dunia dalam enam hari. Penulis Zabur dan nabi-nabi berikutnya menubuatkan rincian tentang kedatangannya. Hal ini membuktikan bahwa ia telah diberi wewenang ini oleh Allah. Apa yang dimaksud oleh Nabi Isa dengan, “Barangsiapa yang mendengar firman-ku dan percaya bahwa Dia yang mengutus aku, memiliki hidup yang kekal dan tidak akan dihukum”? Kita bisa melihatnya di sini.

HARI PENGHAKIMAN: AL-HUMAZAH & SANG MASIH

Surah Al-Humazah (Surah 104 – Sang Pedagang) memperingatkan kita tentang Hari Penghakiman dengan cara ini:

Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela,yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnyadia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannyaSekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hu¯amah.Dan tahukah kamu apakah (neraka) Hu¯amah itu?(Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan,

Al-Humazah 104: 1-6

Surah Al-Humazah menyampaikan bahwa Api murka Allah menanti kita, terutama jika kita telah berbuat serakah dan berbicara buruk tentang orang lain. Bagi mereka yang terus bermurah hati kepada semua orang yang meminta bantuan, yang tidak pernah merasa iri hati terhadap harta yang dimiliki oleh orang kaya, yang tidak pernah membicarakan keburukan orang lain, dan tidak pernah memperdebatkan uang dengan orang lain, mungkin dapat memiliki pengharapan bahwa mereka tidak akan hancur lebur karena murka Allah pada Hari itu.

Namun bagaimana dengan kita semua?

Nabi Isa AlMasih AS datang secara khusus bagi mereka yang takut terhadap murka Allah yang akan menimpa mereka. Seperti yang dia katakan dalam Injil:

Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”
Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.
Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”
Nikodemus menjawab, katanya: “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?”
Jawab Yesus: “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?
Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?
Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.
Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.
Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;
tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”

Yahya 3: 13-21

Isa AlMasih AS mengklaim wewenang yang agung – ia bahkan mengklaim bahwa ia ‘datang dari surga’. Dalam sebuah percakapan dengan seorang Samaria (dijelaskan secara lebih rinci di sini), Sang Nabi mengklaim dirinya sebagai ‘air hidup’.

Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”
Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?”
Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

Yahya 4: 10-14

Wewenangnya atas klaim-klaim ini terbukti dalam bagaimana Taurat Nabi Musa menubuatkan wewenangnya dari Penciptaan dunia dalam enam hari. Kemudian Zabur dan nabi-nabi berikutnya menubuatkan seluk-beluk kedatangannya, yang menunjukkan bahwa kedatangannya direncanakan dari surga. Namun apa yang dimaksud nabi tersebut ketika dia berkata bahwa dia ‘harus ditinggikan’ sehingga ‘setiap orang yang percaya kepadanya dapat memiliki hidup kekal’? Hal itu dijelaskan di sini.

Siapakah Nabi Ayub? Mengapa Ia Penting Saat Ini?

Surah Al-Bayyinah (Surah 98 – Bukti yang Jelas) menjelaskan syarat-syarat menjadi orang yang baik. Ayat ini berkata:

Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan pergi (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata,

Surah Al-Bayyinah 98: 5

Sama halnya dengan Surah Al-Asr’ (Surah 103 – Sang Masa) yang menjelaskan sifat-sifat yang harus kita miliki untuk menghindari kerugian di hadapan Allah.

sungguh, manusia berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Surah Al-Asr 103:2-3

Nabi Ayub AS adalah seseorang yang digambarkan dalam Surah Al-Bayyinah dan Surah Al-Asr. Nabi Ayub tidak terlalu terkenal. Namanya disebut dalam Alquran sebanyak 4 kali.

Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada

DawudAn-Nisa 4:163

Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya. Kepada masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan sebelum itu Kami telah memberi petunjuk kepada Nuh, dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baikAl

-Anam 6:84

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”

Al-Anbya 21:83

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.”

Sad 38:41

Ayub masuk dalam daftar nabi-nabi seperti Ibrahim, Isa Almasih, dan Daud karena dia menulis satu kitab dalam Alkitab. Kitabnya menjelaskan hidupnya. Nabi Ayub hidup pada zaman antara Nabi Nuh AS dan Nabi Ibrahim AS. Beginilah Alkitab menggambarkan hidupnya:

Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan.
Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.
Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka.
Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa

.Ayub 1:1-5

Kehidupan Ayub memenuhi seluruh standar yang disyaratkan dalam Surah Al-Bayyinah dan Surah Al-Asr. Namun, Setan datang menghadap Allah. Percakapan antara Setan dan Allah ini dicatat dalam kitab Ayub.

 Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis.
Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Dari mana engkau?” Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.”
Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”
Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?
Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.
Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.”
ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.” Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.

Ayub 1: 6-12

Setelah itu, Setan menimpakan malapetaka atas hidup Ayub.

Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lelaki dan yang perempuan makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung,
datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: “Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya,
datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”
Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”
Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”
Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung,
maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”
Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah,
katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”
Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

Ayub 1:13-22

Setan masih terus mencari peluang untuk menghasut Ayub supaya dia mengutuki Allah. Jadi, ada ujian kedua yang dihadapi Ayub.

Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN.
Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Dari mana engkau?” Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.”
Firman TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.”
Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya.
Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.”
Maka firman TUHAN kepada Iblis: “Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya.”
Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya.
Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu.
Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!”
Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Ayub 2:1-10

Inilah sebabnya Surah Al-Anbya menggambarkan Ayub menangis dalam kesengsaraan dan Surah Sad menjelaskan bahwa Si Jahat (Setan) telah menghajarnya.

Dalam penderitaannya tersebut, tiga orang sahabatnya datang untuk menghiburnya.

Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia.
Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit.
Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.

Ayub 2:11-13

Kitab Ayub mencatat percakapan antara Ayub dan ketiga sahabatnya tentang malapetaka yang tengah menimpanya. Percakapan mereka yang panjang bisa kita lihat dalam banyak pasalnya. Kesimpulannya, sahabat-sahabatnya menyatakan bahwa malapetaka seperti yang dia alami hanya menimpa orang jahat saja. Jadi, Ayub pastilah telah berbuat dosa secara diam-diam. Jika Ayub mengakui dosa-dosanya, mungkin dia akan beroleh pengampunan. Akan tetapi Ayub selalu berkata bahwa dia tidak berlaku salah. Dia tidak tahu mengapa malapetaka itu bisa menimpanya.

Kita tidak bisa mengikuti setiap bagian dari percakapan panjang mereka, namun di tengah pusaran pertanyaan-pertanyaannya, Ayub menyatakan hal yang dia tahu secara pasti:

Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.
Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah,
yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu

Ayub 19:25-27

Meskipun Ayub tidak tahu mengapa tragedi seperti itu menimpanya, dia tahu dengan pasti bahwa seorang Penebus akan datang ke dunia. Sang Penebus ini adalah seseorang yang dapat membayar penuh dosa-dosanya. Ayub menyebut Sang Penebus ini “Penebusku.” Jadi dia tahu dengan pasti bahwa Sang Penebus akan datang untuknya. Setelah ‘kulit Ayub dibinasakan’ (setelah Ayub wafat), dia akan melihat Allah dalam tubuhnya.

Ayub menanti Hari Kebangkitan. Pada hari itu, dia akan menghadap Allah dengan penuh keyakinan karena Penebusnya hidup dan telah menebusnya.

Surah Al-Ma’arij (Surah 70 – Tempat-tempat naik) juga berbicara tentang seorang penebus pada Hari Kebangkitan. Namun, Surah Al-Ma’arij berbicara tentang seorang bodoh yang dengan kekalutannya baru mulai mencari seorang penebus pada Hari Kebangkitan tersebut.

sedang mereka saling melihat. Pada hari itu, orang yang berdosa ingin sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab dengan anak-anaknya,dan istrinya dan saudaranyadan keluarga yang melindunginya (di dunia),dan orang-orang di bumi seluruhnya, kemudian mengharapkan (tebusan) itu dapat menyelamatkannya.

Surah Al-Ma’arij 70:11-14

Orang bodoh dalam  Surah Al-Ma’arij  tidak menemukan siapa pun yang bisa menebusnya. Dia mencari seorang penebus yang bisa menyelamatkannya dari “Hukuman pada Hari itu”- Hari Penghakiman. Anak-anaknya, istrinya, saudara-saudaranya, dan siapapun di dunia ini tidak bisa menebusnya karena mereka juga harus membayar Hukuman mereka sendiri pada hari itu.

Ayub adalah orang yang benar. Namun demikian, dia menyadari bahwa dia masih membutuhkan seorang penebus untuk menghadapi Hari itu. Dia yakin, terlepas dari semua persoalan hidupnya, bahwa dia memunyai seorang penebus. Karena Taurat telah menyatakan bahwa upah dosa adalah maut, maka seorang penebus harus membayar hidupnya dengan nyawanya. Ayub mengetahui bahwa penebusnya “pada akhirnya akan berdiri di atas bumi.” Siapakah ‘penebus’ Ayub? Satu-satunya orang yang pernah mati, namun kemudian bangkit untuk berdiri di atas bumi lagi adalah Nabi Isa Almasih AS. Dialah satu-satunya yang mampu membayar tebusan Hukuman (Maut), namun “pada akhirnya berdiri di atas bumi.”

Jika orang sesaleh Ayub saja masih membutuhkan seorang penebus bagi dirinya, terlebih lagi saya dan Anda. Kita memerlukan seorang penebus untuk membayar hukuman mati kita. Jika orang yang telah memenuhi persyaratan yang tertera dalam Al-Bayyinah dan Al-Asr’ masih membutuhkan seorang penebus, bagaimana dengan kita? Janganlah kita menjadi seperti orang bodoh yang ada dalam Surah Al-Ma’arij, yang menunggu sampai pada Hari Terakhir dan dengan kekalutannya baru mulai mencari seseorang yang bisa menebus hukumannya.

Sekarang pahamilah bagaimana Nabi Isa Almasih AS bisa menebus Anda seperti yang dinubuatkan Nabi Ayub.

Pada akhir kitab ini, Ayub bertemu dengan TUHAN (di sini) dan kekayaan serta keluarganya dipulihkan (di sini).

 

Memahami & Menerima Karunia Kehidupan dari Isa al Masih

Kita telah membahas minggu terakhir nabi Isa al Masih AS. Injil mencatat bahwa ia disalibkan pada Hari 6 – Jumat Agung, dan ia dibangkitkan kembali pada hari Minggu berikutnya. Ini diramalkan baik dalam Taurat dan Mazmur dan para Nabi. Tetapi mengapa ini terjadi dan apa artinya bagi Anda dan saya hari ini? Di sini kita berusaha memahami apa yang ditawarkan oleh Nabi Isa al Masih, dan bagaimana kita dapat menerima belas kasihan dan pengampunan. Ini akan membantu kita bahkan memahami tebusan Ibrahim yang dijelaskan dalam Surat As-Saffat [37], Surat al Fatihah [1] ketika meminta kepada Allah untuk ‘menunjukkan kita ke Jalan Yang Lurus’, serta memahami mengapa ‘Muslim’ berarti ‘orang yang berserah diri’, dan mengapa ketaatan beragama seperti berwudhu, zakat dan makan makanan yang halal adalah baik tetapi tidak mencukupi untuk Hari Penghakiman.

Berita Buruk – apa yang para nabi katakan tentang hubungan kita dengan Allah

Taurat mengajarkan bahwa ketika Allan menciptakan manusia Dia


Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Genesis1:27

“Gambar” tidak dimaksudkan dalam arti fisik, melainkan bahwa kita dibuat untuk mencerminkan Dia dalam cara kita berfungsi secara emosional, mental, sosial dan spiritual. Kita diciptakan untuk berada dalam hubungan dengan-Nya. Kita dapat menggambarkan hubungan ini di slide di bawah ini. Sang Pencipta, sebagai penguasa tanpa batas, ditempatkan di bagian atas sementara pria dan wanita ditempatkan di bagian bawah slide karena kita adalah makhluk yang terbatas. Hubungan ditunjukkan oleh panah penghubung.

 

Diciptakan dalam gambar-Nya, manusia diciptakan untuk berhubungan dengan Sang Pencipta

 

Allah itu sempurna dalam karakter – Dia Maha Suci. Karena hal ini Zabur berkata

Sebab Engkau bukan Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat tidak akan menumpang untuk Anda.Mazmur5: 4-5

Adam melakukan satu perbuatan ketidaktaatan – hanya satu – dan Kesucian Allah menuntutnya untuk menghakimi. Taurat dan Al Qur’an mencatat bahwa Allah menjadikannya manusia dan mengusirnya dari hadhirat-Nya. Situasi yang sama ada untuk kita. Ketika kita berbuat dosa atau tidak taat dengan cara apa pun kita tidak menghormati Allah karena kita tidak bertindak sesuai dengan gambaran kita yang diciptakan. Hubungan kita terputus. Ini menghasilkan penghalang sekokoh dinding batu diantara kita dan Sang Pencipta.

 

Dosa kita menciptakan penghalang yang kuat antara kita dan Allah yang Maha Suci

Menusuk Penghalang Dosa dengan Keta’atan Keagamaan

Banyak dari kita mencoba untuk menembus penghalang antara kita dan Allah ini dengan perbuatan keagamaan atau pekerjaan yang menghasilkan cukup banyak kepatutan untuk menghancurkan penghalang itu. Doa, puasa, haji, pergi ke masjid, zakat, sedekah adalah cara-cara yang kita upayakan untuk mendapatkan pahala untuk menembus penghalang seperti digambarkan berikut. Harapannya adalah pahala keagamaan akan menghapuskan beberapa dosa. Jika banyak perbuatan kita menghasilkan pahala yang cukup, kita berharap untuk menghapuskan semua dosa kita dan menerima belas kasihan dan pengampunan.

 

Kita mencoba untuk menembus penghalang ini dengan melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan pahala di hadapan Allah

Tetapi berapa banyak pahala yang kita butuhkan untuk menghapuskan dosa? Apa jaminan kita bahwa perbuatan baik kita akan cukup untuk menghapuskan dosa dan menembus penghalang yang telah terjadi di antara kita dan Sang Pencipta? Apakah kita tahu jika upaya kita untuk niat baik akan cukup? Kita tidak memiliki jaminan dan karenanya kita berusaha melakukan sebanyak yang kita bisa dan berharap itu akan cukup pada Hari Penghakiman.

Bersamaan dengan perbuatan untuk mendapatkan pahala, upaya-upaya untuk niat baik, banyak dari kita bekerja keras untuk tetap bersih. Kita rajin melakukan wudhu sebelum shalat. Kita bekerja keras untuk menjauh dari orang-orang, perbuatan-perbuatan dan makanan yang membuat kita tidak bersih. Tetapi nabi Yesaya mengungkapkan bahwa:

Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.

Yesaya64: 6

Nabi memberi tahu kita bahwa bahkan jika kita menghindari segala sesuatu yang membuat kita tidak suci, dosa-dosa kita akan membuat ‘tindakan benar’ kita sama tidak bergunanya dengan ‘kain kotor’ dalam membuat kita bersih. Itu berita buruk. Dan bertambah buruk.

Berita Lebih Buruk: kekuatan Dosa dan Kematian

Nabi Musa AS dengan jelas menetapkan standar dalam Hukum bahwa kepatuhan total diperlukan. Hukum tidak pernah mengatakan sesuatu seperti “upaya untuk mengikuti sebagian besar perintah”. Kenyataannya Hukum berulang kali menyatakan bahwa satu-satunya pekerjaan yang menjamin penebusan dosa adalah kematian. Kita lihat pada masa Nuh AS dan bahkan dengan istri Lut AS bahwa kematian dihasilkan dari dosa.

Injil merangkum kebenaran ini dengan cara berikut:

Karena upah dosa adalah maut…Roma 6:23

“Kematian” secara harfiah berarti ‘pemisahan’. Ketika jiwa kita terpisah dari tubuh kita, kita mati secara fisik. Demikian pula kita sekarang bahkan terpisah dari Allah secara rohani dan mati serta najis di hadapan-Nya.

Ini mengungkapkan masalah dari harapan kita dalam mendapatkan jasa untuk menebus dosa. Masalahnya adalah bahwa upaya keras, pahala, niat baik, dan perbuatan kita, meskipun tidak salah, tidak cukup karena pembayaran yang diperlukan (‘upah’) untuk dosa-dosa kita adalah ‘kematian’. Hanya kematian yang akan menembus tembok ini karena itu memenuhi keadilan Tuhan. Upaya kita untuk mendapatkan pahala seperti mencoba menyembuhkan kanker (yang berakibat kematian) dengan makan makanan halal. Makan makanan halal itu tidak buruk, itu baik – dan seharusnya makan makanan yang halal – tetapi itu tidak akan menyembuhkan kanker. Untuk kanker Anda membutuhkan perawatan yang sama sekali berbeda yaitu yang mematikan sel kanker.

Jadi, bahkan dalam upaya dan niat baik kita untuk menghasilkan keta’atan keagamaan kita sebenarnya mati dan najis sebagai mayat di hadapan Sang Pencipta.

 

Dosa kita menghasilkan kematian – Kita seperti mayat yang najis di hadapan Allah

Ibrahim – menunjukkan Jalan Yang Lurus

Lain halnya dengan Nabi Ibrahim AS. Dia ‘dianggap sebagai kebenaran’, bukan karena jasa-jasanya tetapi karena dia percaya dan percaya janji kepadanya. Dia memercayai Tuhan untuk memenuhi penebusan yang diminta, daripada menghasilkan untuk dirinya sendiri. Kita lihat dalam pengorbanannya yang besar bahwa kematian (penebusan dosa) dibayarkan, tetapi bukan oleh putranya melainkan oleh seekor domba yang disediakan oleh Allah.

 

Ibrahim ditunjukkan Jalan Lurus – Dia hanya mempercayai Janji Tuhan dan Tuhan Menyediakan pembayaran kematian untuk dosa

Al-Quran berbicara tentang ini dalam Surat As-Saffat [37] di mana dikatakan:

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,”Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”

Surat As-Saffat37: 107-109

Allah ‘menebus’ (membayar harga) dan Ibrahim menerima berkah, rahmat dan pengampunan, termasuk ‘kedamaian’.

Kabar Baik: Karya Isa al Masih atas nama kita

Teladan dari nabi ada di sana untuk menunjukkan kepada kita Jalan Lurus sesuai dengan permintaan Surat Al-Fatihah [1 – Pembukaan]

Pemilik hari pembalasan.Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.Tunjukilah kami jalan yang lurus(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Surat al-Fatihah 1: 4-7

Injil menjelaskan bahwa ini adalah gambaran untuk menunjukkan bagaimana Allah akan menebus dosa dan menyediakan obat untuk kematian dan kenajisan dengan cara yang sederhana namun kuat.

Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Roma 6:23

Sejauh ini semuanya merupakan ‘berita buruk’. Tetapi ‘injil’ secara harfiah berarti ‘kabar baik’ dan dalam menyatakan bahwa pengorbanan kematian Isa sudah cukup untuk menembus penghalang antara kita dan Tuhan, kita dapat melihat mengapa itu adalah kabar baik seperti yang ditunjukkan.

 

Pengorbanan Isa al Masih – anak domba Allah – melakukan pembayaran mati terhadap dosa atas nama kita seperti yang dilakukan dalam dombanya Ibrahim.

Nabi Isa al Masih dikorbankan dan kemudian bangkit dari kematian sebagai buah sulung sehingga ia sekarang menawarkan kepada kita kehidupan barunya. Kita tidak perlu lagi menjadi tahanan atas kematian dosa.

 

Kebangkitan Isa al Masih adalah ‘buah sulung’. Kita dapat dibebaskan dari kematian dan menerima kehidupan kebangkitan yang sama.

Dalam pengrobanan dan kebangkitannya, Isa al Masih menjadi gerbang yang menerobos penghalang dosa yang memisahkan kita dari Allah. Inilah sebabnya nabi berkata:

Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.
Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Yohannes 10:9-10

 

Dengan demikian Isa al Masih adalah Gerbang yang menerobos penghalang dosa dan kematian

Karena gerbang ini, kita sekarang dapat memperoleh kembali hubungan yang kita miliki dengan Sang Pencipta sebelum dosa kita menjadi penghalang dan kita dapat diyakinkan menerima kemurahan dan pengampunan atas dosa-dosa kita.

 

Dengan Gerbang terbuka kita sekarang dipulihkan dalam Hubungan dengan Sanf Pencipta

Seperti yang dinyatakan Injil:

Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,ng telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.

1 Timotius 2: 5-6

Karunia Tuhan untuk Anda

Nabi ‘memberikan dirinya sendiri’ untuk ‘semua orang’. Jadi ini pasti termasuk Anda dan juga saya. Melalui kematian dan kebangkitannya, dia telah membayar harganya untuk menjadi ‘penengah’ dan memberi kita kehidupan. Bagaimana kehidupan ini diberikan?

Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Roma 6:23

Perhatikan bagaimana itu diberikan kepada kita. Ini ditawarkan sebagai sebuah… ‘hadiah‘. Pikirkan tentang hadiah. Tidak peduli apa hadiahnya, jika itu benar-benar sebuah hadiah, itu adalah sesuatu yang tidak Anda usahakan dan tidak dapatkan berdasarkan prestasi. Jika Anda mengusahakan untuk mendapatkannya hadiah tidak akan lagi menjadi hadiah – itu akan menjadi upah! Dengan cara yang sama Anda tidak bisa mengusahakan untuk mendapatkan pengorbanan Isa al Masih. Itu diberikan kepada Anda sebagai hadiah. Sesederhana itu.

Dan apa hadiahnya? Itu adalah ‘kehidupan abadi’. Itu berarti bahwa dosa yang membuat Anda dan saya mati sekarang sudah ditebus. Tuhan sangat mencintai Anda dan saya. Ini sangatlah kuat.

Jadi bagaimana Anda dan saya mendapatkan kehidupan kekal? Sekali lagi, pikirkan hadiah-hadiah. Jika seseorang ingin memberi Anda hadiah, Anda harus ‘menerimanya’. Kapan saja hadiah ditawarkan, hanya ada dua pilihan. Entah hadiah ditolak (“Tidak, terima kasih”) atau diterima (“Terima kasih atas hadiah Anda. Saya akan menerimanya”). Begitu juga hadiah ini harus diterima. Tidak bisa secara mental dipercaya, dipelajari atau dipahami. Agar bermanfaat, hadiah apa pun yang ditawarkan kepada Anda harus ‘diterima’.

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nyorang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Yohannes 1: 12-13

Faktanya, Injil mengatakan tentang Tuhan itu

Tuhan Juruselamat kita, yang ingin semua orang diselamatkan …

1 Timotius 2: 3-4

Dia adalah seorang Juru Selamat dan keinginan-Nya adalah agar ‘semua orang’ menerima hadiahnya dan diselamatkan dari dosa dan kematian. Jika ini adalah kehendak-Nya, maka untuk menerima hadiahnya hanya akan berserah pada kehendak-Nya – makna dari kata ‘Muslim’ – orang yang berserah diri.

Bagaimana kita menerima hadiah ini? Injil mengatakan itu

Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.

Roma 10:12

Perhatikan bahwa janji ini adalah untuk ‘semua orang’. Sejak dia bangkit dari kematian, Isa al Masih masih hidup sampai sekarang. Jadi jika Anda memanggilnya dia akan mendengar dan memberikan hadiahnya kepada Anda. Anda memanggilnya dan bertanya kepadanya. Mungkin Anda belum pernah melakukan ini. Di bawah ini adalah panduan yang dapat membantu Anda. Itu bukan mantra sihir. Bukan kata-kata khusus yang memberi kekuatan. Ini adalah kepercayaan seperti yang dimiliki Ibrahim yang kita tempatkan di Isa al Masih untuk memberi kita hadiah ini. Saat kita percaya padanya, Dia akan mendengarkan kita dan menjawab. Injil itu kuat, namun juga sangat sederhana. Jangan ragu untuk mengikuti panduan ini jika Anda merasa terbantu.

Nabi dan Tuhan terkasih Isa al Masih. Saya mengerti bahwa dengan dosa-dosa saya saya terpisah dari Allah Sang Pencipta. Meskipun saya bisa berusaha keras, usaha saya tidak menembus penghalang ini. Tetapi saya mengerti bahwa kematian Anda adalah pengorbanan untuk membasuh semua dosa saya dan membuat saya bersih. Saya tahu bahwa Anda bangkit dari kematian setelah pengorbanan Anda, jadi saya percaya bahwa pengorbanan Anda sudah cukup dan saya tunduk kepada Anda. Saya meminta Anda untuk membersihkan saya dari dosa-dosa saya dan menengahi dengan Pencipta saya sehingga saya dapat memiliki kehidupan yang kekal. Terima kasih, Isa the Masih, untuk melakukan semua ini untukku dan maukah kamu sekarang terus membimbingku dalam hidupku sehingga aku dapat mengikuti kamu sebagai Tuhanku.

Atas nama Tuhan, Maha Penyayang

 

Bagaimana Mazmur dan para Nabi bernubuat tentang Isa al Masih?

Taurat Nabi Musa AS mengungkapkan ramalan Isa al Masih AS melalui Tanda-tanda yang terpola pada kedatangan Nabi. Para nabi yang mengikuti Musa menunjukkan rencana Allah dengan pelafalan. Dawud AS, diilhami oleh Allah, pertama kali bernubuat tentang kedatangan ‘Masih’ dalam Mazmur 2 sekitar 1000 SM. Kemudian dalam Mazmur 22 ia menerima pesan tentang seseorang yang tangan dan kakinya ‘ditusuk’ dalam siksaan-siksaan, kemudian ‘terbaring dalam debu maut’ tetapi setelah itu meraih kemenangan besar yang akan berdampak pada semua ‘keluarga di muka bumi’. Apakah ini nubuat tentang penyaliban yang akan datang dan kebangkitan Isa al Masih? Kita lihat, termasuk apa yang Surat Saba [34] dan Surah An-Naml [27] katakan kepada kita tentang bagaimana Allah mengilhami Daud dalam Zabur (mis. Mazmur 22).

Nubuat Mazmur 22

Anda dapat membaca seluruh Mazmur 22 di sini. Di bawah ini adalah sebuah daftar dimana Mazmur 22 didampingkan dengan gambaran penyaliban Isa al Masih sebagaimana disaksikan oleh para muridnya (sahabatnya) dalam Injil. Tulisan-tulisannya diwarnai sehingga kesamaannya mudah dicatat.

 Rincian penyaliban dari Injil Mazmur 22 – ditulis 1000 SM
(Matius 27: 31-48) ..Lalu mereka membawa dia (Yesus) pergi untuk menyalibkan dia …. 39 Orang-orang yang lewat melemparkan penghinaan kepadanya, menggelengkan kepala mereka 40 dan berkata, “… selamatkanlah dirimu! Turunlah dari salib, jika kamu Anak Allah! ” 41 Seperti para imam kepala, para ahli Taurat dan para sesepuh mengejeknya. 42 “Dia menyelamatkan orang lain,” kata mereka, “tetapi dia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri! Dia adalah raja Israel! Biarkan dia turun sekarang dari salib, dan kita akan beriman padanya. 43 Dia percaya pada Tuhan. Biarkan Tuhan menyelamatkannya sekarang jika dia menginginkannya … Sekitar jam kesembilan Yesus berseru … “Ya Tuhan, Ya Tuhan, mengapa Engkau meninggalkan aku?” … 48 Segera salah satu dari mereka berlari dan mengambil sepon. Dia mengisinya dengan cuka anggur, menaruhnya di atas tongkat, dan menawarkannya kepada Yesus untuk diminum. (Markus 15: 16-20) 16 Para prajurit membawa Yesus pergi… Mereka memakaikan jubah ungu padanya, kemudian memuntir sebuah mahkota duri dan menaruh itu pada dirinya. 18 Dan mereka mulai memanggilnya, “Salam, raja orang Yahudi!” 19 Berulang kali mereka memukul kepalanya dengan tongkat dan meludahinya. Sambil berlutut, mereka memberi hormat kepadanya. 20 Dan setelah mereka mengejeknya, mereka menanggalkan jubah ungu dan mengenakan pakaiannya sendiri. Kemudian mereka membawa dia ke luar untuk menyalibkan dia … 37 Dengan seruan nyaring, Yesus menghembuskan napas terakhirnya. (Yohanes 19:34) mereka tidak mematahkan kakinya …, menusuk sisi Yesus dengan tombak, membawakan  tiba-tiba aliran darah dan airmereka menyalibkan dia … (Yohanes 20:25) [Thomas] kecuali saya melihat bekas paku di tangannya, … “… (Yohanes 20:23-24) Ketika para prajurit menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaiannya, membaginya menjadi empat bagian, satu untuk masing-masing, dengan pakaian dalam yang tersisaJangan robek itu “, mereka berkata,” Mari kita putuskan siapa yang mendapatkannya “... 1 Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mengapa Engkau begitu jauh dari menyelamatkanku, begitu jauh dari tangisan kesedihanku?  2 Tuhanku, aku berteriak di siang hari, tetapi kamu tidak menjawab, pada malam hari, tetapi aku tidak menemukan istirahat7 Semua yang melihatku mengejekku; mereka melemparkan penghinaan, menggelengkan kepala. 8“Ia percaya kepada Tuhan,” kata mereka, “biarlah Tuhan menyelamatkannya. Biarkan dia membebaskannya, karena dia senang padanya.9 Namun Anda membawa saya keluar dari rahim; Anda membuat saya percaya pada Anda, bahkan di payudara ibu saya. 10 Sejak lahir aku dilemparkan ke atas kamu; dari rahim ibuku kamu adalah Tuhanku.11 Jangan jauh-jauh dariku, karena masalah sudah dekat dan tidak ada yang bisa menolong. 12 Banyak sapi jantan mengelilingiku; banteng-banteng Basan yang kuat mengelilingiku. 13 Singa-singa yang mengaum yang merobek mangsa mereka membuka mulut lebar-lebar terhadapku. 14 Aku dicurahkan seperti air, dan semua tulangku terlepas dari sendinya. Hatiku telah berubah menjadi lilin; itu telah melebur dalam diriku. 15 Mulutku mengering seperti belalang, dan lidahku melekat pada langit-langit mulutku; Anda membaringkan saya di debu maut. 16 Anjing-anjing mengelilingiku, sekelompok penjahat mengelilingiku; mereka menusuk tangan dan kakiku. 17 Semua tulangku dipajang; orang-orang menatap dan menertawakanku. 18 Mereka membagi pakaianku di antara mereka dan membuang banyak untuk pakaianku.  

Injil ditulis dari sudut pandang saksi mata yang menyaksikan penyaliban. Tetapi Mazmur 22 ditulis dari sudut pandang seseorang yang mengalaminya. Bagaimana menjelaskan kesamaan antara Mazmur 22 dan penyaliban Isa al Masih? Apakah kebetulan bahwa detail-detailnya cocok seperti persis untuk memasukkan bahwa pakaian itu akan dibagi (pakaian jahitan terbelah di sepanjang jahitan dan disahkan di antara para prajurit) DAN telah membuang banyak (pakaian mulus akan hancur jika terkoyak sehingga mereka bertaruh untuk itu). Mazmur 22 ditulis sebelum penyaliban ditemukan tetapi menggambarkan detail spesifiknya (penusukan tangan dan kaki, tulang keluar dari sendi – dengan diregangkan saat korban digantung). Selain itu, Injil Yohanes mencatat bahwa darah dan air mengalir keluar ketika tombak ditusukkan di sisi Yesus, menunjukkan penumpukan cairan di sekitar jantung. Isa al Masih meninggal karena serangan jantung. Ini cocok dengan deskripsi Mazmur 22 tentang ‘hatiku telah berubah menjadi lilin’. Kata Ibrani dalam Mazmur 22 yang diterjemahkan ‘ditindik’ secara harfiah berarti ‘seperti singa’. Dengan kata lain, tangan dan kaki dimutilasi dan dianiaya seperti singa ketika mereka ditusuk.

Orang-orang yang tidak percaya menjawab bahwa kesamaan dari Mazmur 22 dengan rekaman saksi mata dalam Injil memungkinkan karena para murid Isa mengarang peristiwa-peristiwa supaya ‘cocok’ dengan nubuat. Bisakah itu menjelaskan kesamaannya?

Mazmur 22 dan warisan Isa al Masih

Tetapi Mazmur 22 tidak berakhir dengan ayat 18 dalam tabel di atas – ini terus berlanjut. Perhatikan di sini betapa kemenangannya pada akhir – setelah kematian!

 26 Orang miskin akan makan sampai kenyang; orang yang datang kepada TUHAN akan memuji Dia. Semoga kamu sejahtera selama-lamanya!
27 Semua bangsa akan ingat kepada TUHAN dan kembali kepada-Nya, segala suku bangsa akan sujud menyembah Dia. 28 Sebab Tuhanlah yang berkuasa, Ia memerintah bangsa-bangsa.
29 Semua orang besar akan sujud di hadapan-Nya, semua manusia fana akan sujud menyembah Dia. 30 Angkatan-angkatan berikut akan berbakti kepada TUHAN, Ia akan diberitakan turun-temurun.
31 Kepada bangsa yang lahir kemudian akan dikabarkan bahwa TUHAN telah menyelamatkan umat-Nya. (Mazmur 22: 26-31)

Ini tidak berbicara tentang detail kematian orang ini. Itu dibahas di awal Mazmur. Nabi Dawud AS sekarang melihat lebih jauh ke masa depan dan mengatasi dampak dari kematian orang ini pada ‘anak cucu’ dan ‘generasi masa depan’ (ayat 30). Itu adalah kita yang hidup 2000 tahun setelah Isa al Masih. Dawud memberi tahu kita bahwa ‘anak cucu’ yang mengikuti pria ini dengan ‘tangan dan kaki tertusuk’, yang mati dengan kematian yang mengerikan akan ‘melayani’ dia dan ‘diberitahu tentang dia’. Ayat 27 meramalkan sejauh mana – itu akan pergi ke ‘ujung-ujung bumi’ dan di antara ‘semua keluarga bangsa’ dan menyebabkan mereka ‘beralih ke TUHAN’. Ayat 29 menunjukkan bagaimana ‘mereka yang tidak dapat menjaga diri mereka sendiri’ (kita semua) suatu hari akan berlutut di hadapannya. Kebenaran orang ini akan diberitakan kepada orang-orang yang belum hidup (‘belum lahir’) di saat kematiannya.

Tujuan ini tidak ada hubungannya dengan apakah Injil itu dibuat agar sesuai dengan Mazmur 22 karena sekarang sedang berurusan dengan banyak peristiwa kemudian – yaitu masa kita. Para penulis Injil, pada abad ke-1, tidak dapat mengimbangi dampak kematian Isa al Masih di zaman kita. Rasionalisasi orang-orang kafir tidak menjelaskan warisan Isa Al Masih dalam jangka panjang di seluruh dunia yang diprediksi secara tepat oleh Mazmur 22 3000 tahun yang lalu.

Quran – ramalan Daud yang diberikan oleh Allah

Pujian kemenangan di akhir Mazmur 22 ini persis seperti apa yang dikatakan oleh Surat Saba [34] dan Surat An-Naml [27] dalam Al-Qur’an ketika dikatakan tentang Mazmur yang diilhami oleh Daud bahwa:

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya. (Surat Saba 34:10)

Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman”. (Surat An-Naml 27:15)

Seperti dikatakan, Allah memberi Daud pengetahuan dan rahmat untuk meramalkan masa depan dan dengan pengetahuan itu ia menyanyikan pujian yang dicatat dalam Mazmur 22.

Sekarang pertimbangkan pertanyaan yang diajukan dalam Surat al-Waqi’ah [56].

Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?(Surat al-Waqi’ah 56:83-87)

Siapa yang bisa memanggil kembali jiwa dari kematian? Tantangan ini diberikan untuk memisahkan pekerjaan manusia dari pekerjaan Allah. Namun Surat al-Waqi’ah persis seperti yang digambarkan oleh Mazmur 22 – dan ia melakukannya dengan meramalkan atau menubuatkan karya Isa al Masih AS.

Seseorang tidak dapat membuat prediksi yang lebih baik tentang efek penyaliban Isa al Masih daripada Mazmur 22. Siapa lagi dalam sejarah dunia yang dapat mengklaim bahwa rincian kematiannya serta warisan hidupnya ke masa depan yang jauh telah diramlakan 1000 tahun sebelum dia hidup? Karena tidak ada manusia yang dapat meramalkan masa depan yang jauh dalam perincian seperti ini, ini adalah bukti bahwa pengorbanan Isa al Masih adalah dengan “rencana dan ramalan Allah yang disengaja”

Para nabi lainnya menubuatkan pengorbanan Isa al Masih

Sama seperti Taurat dimulai dengan bayangan cermin dari peristiwa hari-hari terakhir Isa al Masih dan kemudian membuat gambar lebih jelas dengan rincian lebih lanjut, para nabi yang mengikuti Dawud mengklarifikasi rincian lebih lanjut tentang kematian dan kebangkitan Isa al Masih. Tabel di bawah ini merangkum beberapa dari yang telah kita lihat.

Sabda para Nabi Bagaimana itu mengungkapkan rencana Masih yang akan datang
Tanda Kelahiran Perawan Seorang anak laki-laki akan dilahirkan dari seorang perawan yang meramalkan Nabi Yesaya pada tahun 700 SM dan dia akan hidup sempurna tanpa dosa. Hanya kehidupan yang sempurna yang bisa dipersembahkan untuk orang lain.  Isa al Masih, terlahir untuk menggenapi nubuat itu, menjalani kehidupan suci itu
‘Cabang’ yang akan datang menubuatkan nama Isa and penebusan dosa kita Nabi Yesaya, Nabi Yeremia dan Nabi Zakharia memberikan serangkaian nubuat tentang kedatangan yang disebut Zakharia dengan benar sebagai Isa – 500 tahun sebelum Isa hidup. Zakharia bernubuat bahwa dalam ‘suatu hari’ dosa-dosa orang akan dihapus. Isa mempersembahkan dirinya sebagai korban dan dengan demikian tepat ‘satu hari’ dosa ditebus, menggenapi semua nubuat ini.
Nabi Daniel dan waktu kedatangan Masih  Daniel menubuatkan persis 480 tahun jadwal kedatangan Masih. Isa datang persis menurut jadwal yang dibuatkan
Nabi Daniel menubuatkan Masih akan ‘terasingkan’ Setelah kedatangan Masih, nabi Daniel menulis bahwa ia akan ‘disingkirkan dan tidak memiliki apa-apa’. Ini adalah ramalan tentang kematian Isa al Masih yang akan datang ketika ia ‘dipisahkan’ dari kehidupan.
Nabi Yesaya meramalkan kematian & kebangkitan Sang Pelayan yang akan datang   Nabi Yesaya meramalkan dengan sangat terperinci bagaimana Masih akan ‘disingkirkan dari tanah orang hidup’ termasuk penyiksaan, ditolak, ‘ditusuk’ karena dosa-dosa kita, digiring seperti domba ke pembantaian, hidupnya menjadi persembahan untuk dosa , tetapi setelah itu dia akan kembali melihat ‘hidup’ dan menjadi pemenang. Semua ramalan terperinci ini terpenuhi ketika Isa al Masih disalibkan  dan kemudian bangkit dari kematian. Bahwa rincian seperti itu dapat diprediksi 700 tahun sebelumnya adalah pertanda bagus bahwa ini adalah rencana Allah.  
Nabi Yunus dan kematian Isa al Masih    Nabi Yunus mengalami seperti berada dalam kuburan ketika berada di dalam ikan besar. Ini adalah gambar yang digunakan Isa al Masih untuk menjelaskan bahwa dengan cara yang sama ia juga akan mengalami kematian.
Nabi Zakharia & pembebasan para tahanan kematian Isa al Masih merujuk pada ramalan Zakharia bahwa ia akan membebaskan ‘tahanan kematian’ (mereka yang sudah mati). Misinya untuk memasuki kematian dan membebaskan mereka yang terjebak di sana telah dinubuatkan oleh para nabi.  

Dengan banyak ramalan ini, dari para nabi yang sendiri dipisahkan oleh ratusan tahun, tinggal di berbagai negara, memiliki latar belakang yang berbeda, namun semuanya berpusat pada ramalan sebagian dari kemenangan besar Isa al Masih melalui kematian dan kebangkitannya – ini adalah bukti bahwa ini sesuai dengan rencana Allah. Karena alasan ini, Petrus, pemimpin para murid Isa al Masih, berkata kepada para pendengarnya:

Dan karena itulah terjadi juga apa yang sudah diberitahukan oleh Allah dahulu kala melalui semua nabi-nabi-Nya, bahwa Raja Penyelamat yang dijanjikan itu harus menderita. (Kisah 3:18)

Tepat setelah Petrus mengatakan ini, ia kemudian menyatakan:

Oleh sebab itu Saudara-saudara, bertobatlah dari dosa-dosamu dan kembalilah kepada Allah, supaya Ia menghapuskan dosa-dosamu. (Kisah 3:19)

Ada janji keberkatan untuk kita agar dosa-dosa kita ‘dihapuskan’. Kita lihat apa artinya ini di sini.