Tanda 2 Nabi Musa: Hukum Taurat

Dalam Tanda Pertama Nabi Musa ‒ Paskah ‒ kita melihat bahwa Allah telah menetapkan kematian semua anak sulung, kecuali mereka yang berada di rumah-rumah di mana seekor anak domba dikorbankan dan darahnya dibubuhkan pada tiang pintu rumah. Firaun tidak tunduk pada perintah tersebut, sehingga anaknya mati dan Musa (AS) memimpin bani Israil keluar dari Mesir, sementara Firaun tenggelam ketika mengejar mereka di Laut Merah.

Namun, peran Musa sebagai Nabi tidak hanya untuk memimpin mereka keluar dari Mesir, melainkan juga untuk memimpin mereka ke dalam cara hidup yang baru‒ yaitu dengan hidup menurut Hukum Syariat yang ditetapkan Allah. Oleh karena itu, tidak lama setelah meninggalkan Mesir, Musa (AS) dan bani Israil tiba di Gunung Sinai. Musa (AS) naik ke gunung dan berada di sana selama 40 hari untuk menerima Hukum Syariat. Alquran menunjukkan peristiwa ini melalui ayat:

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang telah Kami berikan kepadamu dan ingatlah apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.” (Surat 2:63-The Cow)

Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat) tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam… (Surat 7:142-The Heights)

Jadi, Hukum apa yang diterima Musa (AS)? Meskipun Hukum tersebut‒kalau lengkap‒cukup panjang (terdiri dari 613 perintah dan peraturan tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan‒seperti peraturan tentang apa yang haram dan yang halal) dan perintah-perintah ini menyusun sebagian besar isi Kitab Taurat, Musa‒pada awalnya‒menerima seperangkat perintah  yang ditulis Allah di atas loh batu. Perintah ini dikenal sebagai Sepuluh Perintah Allah, yang menjadi dasar untuk semua peraturan lainnya. Kesepuluh perintah ini adalah pokok-pokok yang mutlak penting dari Hukum Taurat‒prasyarat bagi semua peraturan yang lain‒. Alquran menunjukkan hal ini dalam ayat:

Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan untuk segala hal; maka (Kami berfirman), “Berpegangteguhlah kepadanya dan suruhlah kaummu berpegang kepadanya dengan sebaik-baiknya, Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang fasik.”

Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya. (Surat 7:145-146-The  Heights)

Sepuluh Perintah Allah

Jadi, Alquran menyatakan bahwa Sepuluh Perintah Allah yang ditulis di atas loh batu ini adalah tanda-tanda dari Allah sendiri. Namun, apa saja perintah-perintah itu? Perintah-perintah yang ditulis di sini diambil dari Kitab Keluaran‒bagian dari Taurat Musa‒, yang sebelumnya disalin dari loh batu. (Saya hanya menambahkan angka untuk menghitung banyaknya perintah)

Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:

“Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

1) Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

2) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

3) Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

4) Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

5) Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

6) Jangan membunuh.

7) Jangan berzinah.

8) Jangan mencuri.

9) Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

10) Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

Seluruh bangsa itu menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Maka bangsa itu takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh. (Keluaran 20: 1-18)

Seringkali terlihat bahwa kebanyakan dari kita‒yang tinggal di negara-negara sekuler‒lupa bahwa Sepuluh Perintah Allah ini adalah perintah, bukan saran, bukan rekomendasi, bukan pula perintah yang dapat dinegosiasikan. Perintah ini adalah perintah untuk ditaati, kita harus tunduk padanya. Itulah Hukum Syariat dan bani Israil takut akan kekudusan Allah.

Standar Ketaatan

Namun, masih ada pertanyaan penting. Berapa banyak perintah yang harus mereka taati? Ayat di bawah ini ada tepat sebelum pemberian Sepuluh Perintah Allah.

Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepadanya…

Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa… (Keluaran 19:3, 5)

Dan ayat di bawah ini ada tepat setelah pemberian Sepuluh Perintah Allah.

Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.” (Keluaran 24:7)

Dalam kitab terakhir Taurat (Taurat terdiri atas lima kitab) yang adalah pesan terakhirnya, Musa merangkum ketaatan terhadap Hukum Taurat dalam ayat di bawah ini.

TUHAN, Allah kita, memerintahkan kepada kita untuk melakukan segala ketetapan itu dan untuk takut akan TUHAN, Allah kita, supaya senantiasa baik keadaan kita dan supaya Ia membiarkan kita hidup, seperti sekarang ini. Dan kita akan menjadi benar, apabila kita melakukan segenap perintah itu dengan setia di hadapan TUHAN, Allah kita, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita.” (Ulangan 6:24-25)

Memperoleh Kebenaran

Di sini muncul lagi kata ‘kebenaran‘. Kata ini sangat penting. Pertama kali kita melihatnya dalam Tanda Nabi Adam ketika Allah bersabda kepada anak-anak Nabi Adam (kita!),

Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat. [Surat 7:26 (The Heights)]

Kemudian, kata ini muncul lagi dalam Tanda 2 Nabi Ibrahim ketika Allah menjanjikan seorang anak laki-laki baginya, dan Nabi Ibrahim (AS) memercayai janji tersebut sehingga dikatakan,

Abram percaya kepada Allah, dan Dia [Allah] memperhitungkan hal itu kepadanya [Ibrahim] sebagai kebenaran. (Kejadian 15: 6)

(Lihatlah Tanda 2 Nabi Ibrahim untuk penjelasan lengkap tentang kebenaran).

Di sini kita melihat Hukum Taurat menyediakan cara untuk memeroleh kebenaran karena sebagaimana dikatakan “jika kita melakukan dengan setia segala perintah itu … kita akan dinyatakan benar.” (Ulangan 6:25)

Namun, syarat untuk memeroleh kebenaran sangat berat. Dikatakan bahwa kita perlu ‘melakukan dengan setia segala perintah ini’ dan hanya dengan cara itu kita memperoleh kebenaran. Hal ini mengingatkan kita pada Tanda Nabi Adam. Hanya satu ketidaktaatan maka Allah menjatuhkan hukuman dan mengusir mereka dari Firdaus. Allah tidak menunggu sampai terjadi beberapa ketidaktaatan. Hal yang sama terjadi dengan istri Nabi Lut dalam Tanda Nabi Lut. Agar kita sungguh-sungguh memahami betapa seriusnya hal tersebut, maka dalam tautan ini terdapat banyak ayat dalam Taurat yang menekankan ketepatan tingkat ketaatan terhadap Hukum Taurat.

Mari kita pikirkan apa maksudnya. Dalam ujian mata kuliah saya dulu, kadang-kadang, dosen memberikan banyak pertanyaan kepada kami, misalnya 25 pertanyaan, kemudian kami boleh memilih beberapa pertanyaan di antaranya untuk kami jawab. Sebagai contoh, kami bisa menjawab 20 dari 25 pertanyaan yang ada. Jadi, seorang mahasiswa bisa melewatkan pertanyaan yang sulit baginya dan memilih pertanyaan yang lain. Sementara, mahasiswa yang lain bisa melakukan hal yang sama untuk pertanyaan yang berbeda. Dengan cara ini, dosen membuat ujian tersebut lebih mudah bagi kami.

Banyak orang menganggap Sepuluh Perintah Allah seperti ujian mata kuliah saya. Mereka berpikir bahwa Allah memberikan Sepuluh Perintah-Nya dengan maksud supaya kita bisa memilih dan menaati lima saja dari Sepuluh Perintah ini. Namun, tidak seperti itu maksudnya. Perintah-perintah ini diberikan untuk ditaati dan dipatuhi SEMUANYA, bukan beberapa yang kita pilih saja. Hanya dengan mematuhi seluruh Hukum Taurat, maka ‘ mereka akan dinyatakan benar’.

Namun, mengapa beberapa orang menganggap Hukum Taurat seperti soal ujian mata kuliah saya? Karena Hukum Taurat sangat sulit untuk dipatuhi, mengingat hal ini bukan hanya untuk satu hari, melainkan sepanjang hidup kita. Jadi, mudah bagi kita mengelabui diri kita sendiri dan menurunkan standar yang sudah Tuhan tetapkan. Lihatlah kembali perintah-perintah ini dan tanyakan kepada diri Anda sendiri, “Dapatkah saya menaati perintah-perintah ini? Semuanya? Setiap hari? Tanpa pernah gagal?” Alasan mengapa kita perlu menanyakan hal ini kepada diri kita sendiri adalah karena Sepuluh Perintah Allah itu masih berlaku. Allah tidak membatalkannya, seperti terlihat dari nabi-nabi lainnya setelah Nabi Musa (AS) (termasuk Isa Almasih dan Nabi Muhammad ‒SAW‒ lihat di sini). Mengingat perintah-perintah ini adalah perintah mendasar yang berurusan dengan pemujaan berhala, penyembahan kepada Satu Allah, perzinaan, pencurian, pembunuhan, dusta, dsb., maka perintah-perintah ini bersifat kekal, jadi kita harus menaatinya. Tidak seorang pun bisa menjawab pertanyaan ini untuk orang lain‒ orang hanya bisa menjawabnya untuk diri sendiri dan akan menjawab pertanyaan itu lagi pada Hari Penghakiman di hadapan Allah.

Pertanyaan Terpenting di Hadapan Allah

Jadi, saya akan mengajukan sebuah pertanyaan. Pertanyaan ini diambil dari Ulangan 6: 25 dengan sedikit penyesuaian. Pertanyaan ini bersifat pribadi, jadi Anda menjawabnya untuk diri Anda sendiri. Hukum Taurat berbicara kepada setiap orang dengan cara yang berbeda, demikian juga respon Anda terhadap ayat tersebut. Pilihlah jawaban yang paling menggambarkan diri Anda. Klik jawaban yang sesuai dengan Anda.

Dari Ulangan 6: 24-25 dengan mengganti kata ‘kita’ menjadi ‘saya’

“ALLAH memerintahkan agar saya melaksanakan segala ketetapan ini dengan bertakwa kepada ALLAH, Tuhan kita, supaya keadaan saya senantiasa baik dan supaya saya tetap hidup seperti pada hari ini. Saya akan dinyatakan benar, jika saya melakukan dengan setia segala perintah itu di hadapan ALLAH, Tuhan saya, seperti yang diperintahkanNya kepada saya.”

Ya – ini menggambarkan diri saya

Tidak – Saya belum menaati semuanya dan hal ini tidak menggambarkan diri saya.

Tanda 1 (Kenabian) Musa: Paskah

Sekitar 500 tahun telah berlalu sejak Nabi Ibrahim AS dan itu sekitar 1500 Sebelum Masehi (SM). Setelah Ibrahim meninggal, keturunannya melalui putranya Ishak, sekarang disebut kaum Israel, telah berkembang manjadi sejumlah besar orang, dan mereka juga menjadi budak di Mesir. Ini terjadi karena Yusuf, cicit Ibrahim (AS) dijual sebagai budak ke Mesir dan setelah bertahun-tahun kemudian, keluarganya mengikuti.   Ini semua dijelaskan dalam Kejadian 45-46 – Kitab Pertama Musa dalam Taurat .

Jadi sekarang kita sampai pada Tanda-tanda Nabi besar lainnya – Musa (AS) – diceritakan dalam Kitab Taurat kedua . Musa (AS) telah diperintahkan oleh TUHAN untuk menemui Firaun di Mesir dan hal itu mengakibatkan persaingan antara Musa (AS) dan para ahli sihir dari Firaun. Kontes ini telah menghasilkan sembilan wabah terkenal atau bencana terhadap Firaun yang merupakan tanda baginya. Tetapi Firaun belum menyerahkan diri pada kehendak TUHAN dan tidak menaati tanda-tanda ini.

Wabah ke-10

Jadi Allah akan membawa wabah (bencana) ke 10 dan yang paling menakutkan. Pada titik ini Taurat memberikan persiapan dan penjelasan sebelum wabah ke-10 datang. Al-Qur’an juga merujuk pada poin ini dalam catatan dengan ayat berikut

Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa sembilan mukjizat yang nyata maka tanyakanlah kepada Bani Israil, ketika Musa datang kepada mereka lalu Fir‘aun berkata kepadanya, “Wahai Musa! Sesungguhnya aku benar-benar menduga engkau terkena sihir.”

Dia (Musa) menjawab, ”Sungguh, engkau telah mengetahui, bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sungguh, aku benar-benar menduga engkau akan binasa, wahai Fir‘aun.” (Surah 17 Isra, The Night Journey: 101-102)

Jadi Firaun ‘ditakdirkan untuk dihancurkan’. Tetapi bagaimana ini bisa terjadi? Allah sebelumnya telah mengirim kehancuran dengan berbagai cara. Bagi orang-orang pada zaman Nuh seluruh dunia tenggelam dalam banjir, dan bagi istri Lut itu berubah menjadi tiang garam. Tetapi kehancuran ini berbeda karena itu juga harus menjadi Tanda bagi semua orang – suatu Tanda Besar. Seperti yang dikatakan Alquran

Lalu (Musa) memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. (Surat 79:20)

Anda dapat membaca penjelasan tentang Wabah ke-10 dalam Keluaran Taurat di tautan sini . Ini adalah akun yang sangat lengkap dan ini akan membantu Anda dalam lebih memahami penjelasan di bawah ini.

Domba Paskah Menyelamatkan dari Maut

Kitab suci ini memberi tahu kita bahwa kehancuran yang ditetapkan oleh Allah yaitu bahwa setiap anak sulung harus mati malam itu kecuali yang ada di sebuah rumah dimana tempat seekor anak domba dikorbankan dan darahnya dicat di tiang pintu rumah itu. Kehancuran Firaun, jika dia tidak patuh, yaitu bahwa putranya dan pewaris takhta akan mati. Dan setiap rumah di Mesir akan kehilangan putra sulungnya – jika mereka tidak patuh dengan mengorbankan seekor domba dan mengecat darahnya di tiang-tiang pintu mereka. Jadi Mesir menghadapi bencana nasional.

Tetapi di rumah-rumah di mana seekor anak domba telah dikorbankan dan darahnya dicat di tiang-tiang pintu, janjinya adalah bahwa setiap orang akan selamat. Penghakiman Allah akan melewati ataui melampaui rumah itu. Jadi hari ini Tanda disebut Paskah (karena kematian melampaui semua rumah di mana darah domba telah dicat di pintu-pintu). Tetapi bagi siapakah darah di pintu adalah suatu Tanda? Taurat mengatakan:

Tuhan berkata kepada Musa … ” … Akulah TUHAN. Darah [domba Paskah] akan menjadi tanda bagi kamu di rumah-rumah di mana kamu berada; dan ketika Saya melihat darah, Saya akan melewati (melampaui) kamu. (Keluaran 12:13)

Jadi, meskipun TUHAN sedang mencari darah di pintu, dan ketika Dia melihatnya, Dia akan melampauinya, darah itu bukanlah suatu Tanda bagi-Nya. Dikatakan bahwa darah adalah ‘tanda untuk kamu’ – orang-orang. Lebih jauhnya yaitu itu adalah Tanda bagi kita semua yang membaca akun ini di Taurat . Jadi bagaimana itu sebuah Tanda bagi kita? Setelah malam yang menentukan ini , TUHAN memerintahkan mereka untuk:

… Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.” Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah. (Keluaran 12:27)

Paskah Memulai Kalender Yahudi

Maka orang Israel diperintahkan untuk merayakan Paskah pada hari yang sama setiap tahun. Kalender Israel sedikit berbeda dari kalender Barat, jadi hari pada tahun itu berubah sedikit setiap tahun jika Anda melacaknya dengan kalender Barat, mirip dengan bagaimana Ramadhan bergeser, karena didasarkan pada panjang tahun yang berbeda, bergerak setiap tahun pada Kalender Barat. Tetapi sampai hari ini, masih 3500 tahun kemudian, orang-orang Yahudi terus merayakan Paskah setiap tahun untuk mengenang peristiwa ini sejak zaman Musa (AS) sebagai bentuk kepatuhan terhadap perintah yang diberikan oleh TUHAN di Taurat.

Gambaran kejadian modern ketika banyak anak domba disembelih untuk perayaan Paskah Yahudi mendatang
Gambaran kejadian modern ketika banyak anak domba disembelih untuk perayaan Paskah Yahudi mendatang

Berikut ini adalah gambaran modern tentang orang-orang Yahudi yang menyembelih domba untuk Paskah yang akan datang.   Ini mirip dengan perayaan Idul Adha.

Dalam melacak perayaan ini melalui sejarah, kita dapat mencatat sesuatu yang sangat luar biasa. Anda dapat melihat ini dalam Kitab Injil di mana ia mencatat rincian penangkapan dan pengadilan Nabi Isa al Masih (AS):

“Kemudian orang-orang Yahudi membawa Isa … ke istana gubernur Romawi [Pilatus] … untuk menghindari kenajisan seremonial, orang-orang Yahudi tidak memasuki istana; mereka ingin dapat makan Paskah “… [Pilatus] berkata [kepada para pemimpin Yahudi]” … Tetapi sudah menjadi kebiasaanmu bagiku untuk melepaskan kepadamu seorang tahanan pada saat Paskah . Apakah kamu ingin saya melepaskan ‘raja orang Yahudi’? [yaitu Yang Masih] “Mereka berteriak kembali,” Bukan bukan dia …”(Yohanes 18:28, 39-40)

Dengan kata lain, Isa al Masih (AS) ditangkap dan dikirim untuk dieksekusi pada hari Paskah dalam kalender Yahudi. Jika Anda ingat dari  Tanda 3 Ibrahim , salah satu sebutan (gelar) Isa diberikan kepadanya oleh Nabi Yahya (SAW) yaitu

Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.

Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. (Yohanes 1:29-30)

Isa (AS) Dikutuk pada Paskah

Di sini kita melihat keunikan dari Tanda ini. Isa (AS), ‘ Anak Domba Allah ‘, dikirim untuk dieksekusi (dikorbankan) pada hari yang sama ketika semua orang Yahudi yang hidup pada saat itu (33 M dalam kalender Barat) mengorbankan seekor domba untuk mengenang Paskah pertama yang terjadi 1500 tahun sebelumnya. Inilah sebabnya mengapa perayaan Paskah Yahudi biasanya terjadi setiap tahun di minggu yang sama dengan Paskah – kenangan akan meninggalnya Isa al Masih – karena Isa (AS) dikirim untuk berkurban pada hari yang sama. (Paskah-Easter dan Paskah-Passover tidak pada tanggal yang sama persis karena kalender Yahudi dan Barat memiliki cara berbeda untuk menyesuaikan panjang tahun, tetapi biasanya pada minggu yang sama).

Sekarang pikirkan sebentar tentang apa yang ‘Tanda‘ bisa berikan. Anda dapat melihat beberapa tanda di bawah sini.

Apa yang dilakukan 'Tanda'? Mereka adalah petunjuk dalam pikiran kita untuk membuat kita memikirkan sesuatu yang lain
Apa yang dilakukan ‘Tanda’? Mereka adalah petunjuk dalam pikiran kita untuk membuat kita memikirkan sesuatu yang lain

 Ketika kita melihat tanda ‘tengkorak dan tulang’ itu membuat kita berpikir tentang kematian dan bahaya .Tanda ‘Lengkungan Emas’ seharusnya membuat kita berpikir tentang McDonalds . Tanda ‘√’ pada ikat kepala pemain tenis Nadal adalah tanda untuk Nike . Nike ingin kita memikirkan mereka ketika kita melihat tanda ini pada Nadal. Dengan kata lain, Tanda adalah petunjuk dalam pikiran kita untuk mengarahkan pemikiran kita ke objek yang diinginkan. Dengan tanda Musa (AS) ini, Allahlah yang telah memberikan tanda itu untuk kita. Mengapa Dia memberikan tanda ini? Nah tandanya, dengan waktu yang luar biasa dari domba yang dikorbankan pada hari yang sama dengan Isa harus menjadi petunjuk untuk pengorbanan Isa al Masih (AS).

BC: Sebelum Masehi (SM), AD: Masehi (M) Paskah adalah 'Tanda' dengan menunjuk pada pengorbanan Isa al Masih
BC: Sebelum Masehi (SM), AD: Masehi (M)
Paskah adalah ‘Tanda’ dengan menunjuk pada pengorbanan Isa al Masih

Ini bekerja di pikiran kita seperti yang saya tunjukkan dalam diagram itu. Tanda itu ada di sana untuk mengarahkan kita pada penyerahan Isa al Masih. Pada Paskah pertama itu, domba-domba dikorbankan dan darah mengalir dan menyebar sehingga orang-orang dapat hidup.   Dan dengan demikian, Tanda yang menunjuk kepada Isa ini adalah untuk memberi tahu kita bahwa dia, ‘Anak Domba Allah’, juga diberikan kepada kematian agar kita dapat menemukan kehidupan.

Pengorbanan putra Ibrahim adalah untuk mengarahkan kita dalam pemikiran kita kepada Isa al Masih

Pengorbanan putra Ibrahim adalah untuk mengarahkan kita dalam pemikiran kita kepada Isa al Masih

Kita lihat di Tanda 3 Ibrahim bahwa tempat Ibrahim (AS) diuji dengan pengorbanan putranya adalah Gunung Moriah. Tetapi seekor domba pada saat terakhir dikorbankan sebagai ganti putranya.   Seekor domba mati agar putra Ibrahim bisa hidup.   Gunung Moriah adalah tempat yang sama di mana Isa (AS) diberikan untuk pengorbanan. Itu adalah sebuah Tanda untuk membuat kita berpikir tentang Isa Al Masih (AS) yang diberikan untuk pengorbanan dengan menunjuk ke lokasi . Di sini dalam Tanda Musa ini kita menemukan petunjuk lain untuk peristiwa yang sama – penyerahan Isa (SAW) untuk pengorbanan – dengan menunjuk pada hari di kalender Kurban Paskah.   Pengorbanan anak domba sekali lagi digunakan untuk menunjuk pada peristiwa yang sama. Mengapa? Kita lanjutkan dengan Tanda Musa berikutnya untuk mendapatkan pemahaman lebih lanjut. Tanda ini adalah pengukuhann Hukum di Gunung Sinai.

Tetapi untuk menyelesaikan cerita ini, apa yang terjadi pada Firaun?   Seperti yang kita baca dalam petikan dari Taurat , dia tidak mengindahkan peringatan itu dan putra sulungnya (pewaris tahta kerajaan) meninggal malam itu.  Jadi dia akhirnya membiarkan orang Israel meninggalkan Mesir.   Tapi kemudian dia berubah pikiran dan mengejar mereka ke Laut Merah.  Di sana TUHAN membuat orang Israel melewati Laut, tetapi Firaun tenggelam bersama pasukannya.   Setelah sembilan wabah, kematian Paskah, dan hilangnya pasukan, Mesir sangat berkurang dan tidak pernah lagi mendapatkan kembali statusnya sebagai kekuatan utama dunia. Allah telah menghakiminya.

 

Tanda 3 dari Ibrahim: Pengorbanan

Nabi Ibrahim (A.S.) dijanjikan seorang anak laki-laki di Tanda sebelumnya. Dan Allah telah menepati janjinya. Sebenarnya Taurat meneruskan kisah Ibrahim (A.S.) untuk menggambarkan bagaimana dia mendapatkan dua anak laki-laki. Dalam Kejadian 16 Taurat menceritakan bagaimana dia mendapatkan Ismail (AS) anaknya dengan Siti Hajar dan kemudian Kejadian 21 menceritakan bagaimana dia membawa anaknya Ishaq bersama Siti Sarah sekitar 14 tahun kemudian. Sayangnya rumah tangganya ini menghasilkan persaingan besar antara kedua wanita tersebut, Siti Hajar dan Siti Sarah, dan berakhir dengan Ibrahim mengirim Siti Hajar dan anaknya pergi. Anda bisa membaca di sini bagaimana ini terjadi dan bagaimana Allah memberkati Siti Hajar dan Ismail dengan cara yang lain.

Pengorbanan Nabi Ibrahim: Dasar untuk Idul Adha

Jadi dengan hanya satu anak laki-laki yang tinggal di rumahnya Ibrahim menemui ujian terbesarnya, namun ini adalah salah satu yang membuka pemahaman yang lebih besar tentang Jalan Lurus (Kebenaran). Anda bisa membaca akun di Taurat dan Al Qur’an tentang ujian pengorbanan anaknya di sini. Cerita dari Kitab-kitab Suci ini adalah alasan mengapa Idul Adha dirayakan. Tapi ini bukan hanya peristiwa sejarah. Ini lebih dari itu.

Kita dapat melihat dari catatan di dalam Kitab Suci bahwa ini adalah tidak hanya ujian bagi Ibrahim (A.S.), tapi lebih dari sekedar itu. Karena Ibrahim adalah seorang nabi, ujian ini juga merupakan tanda bagi kita, jadi kita bisa belajar lebih banyak tentang kepedulian Tuhan terhadap kita. Dengan cara apa ini merupakan pertanda? Harap diperhatikan nama yang diberikan Ibrahim ke tempat anaknya yang harus dikorbankan. Bagian Taurat tersebut ditampilkan di sini sehingga Anda bisa membacanya secara langsung.

Ibrahim melihat ke atas dan di tengah semak belukar ia melihat seekor domba jantan terperangkap oleh tanduknya. Ia pergi mengambil domba jantan itu dan mempersembahkannya sebagai korban, sebagai pengganti anaknya. Jadi Ibrahim menamai tempat itu ‘TUHAN akan menyediakan’. Dan sampai hari ini dikatakan, “Di atas gunung TUHAN itu akan disediakan.” (Kejadian 22: 13-14)

Perhatikan nama yang Ibrahim (‘Abraham’ dalam Taurat) berikan ke tempat itu. Dia menamakannya ‘TUHAN akan menyediakan’. Apakah nama itu dalam bentuk kata kerja lampau, sekarang atau waktu yang akan datang? Ini jelas di waktu yang akan datang (masa depan). Dan untuk lebih jelas lagi komentar yang mengikutinya (yang mana Nabi Musa AS masukkan saat dia mengumpulkan akun ini ke Taurat sekitar 500 tahun kemudian) itu mengulangi “… itu akan disediakan”. Sekali lagi ini di masa depan dan melihat ke masa depan. Kebanyakan orang berpikir bahwa Ibrahim sedang merujuk tentang domba jantan yang tertangkap di semak belukar dan dikorbankan menggantikan anaknya. Tapi ketika Ibrahim menamai tempat itu, domba jantan itu telah mati, telah dikorbankan dan telah dibakar. Jika Ibrahim memikirkan domba jantan itu – telah mati, telah dikorbankan dan telah dibakar – dia akan menamakannya ‘TUHAN telah menyediakan’, yaitu dalam bentuk kata kerja lampau. Dan Musa (AS), jika dia memikirkan domba jantan yang menggantikan nama anak laki-laki Ibrahim tentunya akan berkomentar ‘Dan sampai hari ini dikatakan “Di atas gunung TUHAN itu disediakan”‘. Tapi Ibrahim dan Musa dengan jelas memberi nama dalam bentuk masa depan dan karena itu tidak memikirkan domba jantan yang telah mati dan telah dikorbankan.

Jadi apa yang mereka pikirkan saat itu? Jika kita mencari petunjuk, kita melihat bahwa tempat di mana Allah menyuruh Ibrahim untuk pergi pada awal pertanda ini adalah:

Kemudian Tuhan berkata, “Ambillah anakmu laki-laki satu-satunya, Ishak, yang kamu cintai, dan pergilah ke daerah Moria. Korbankan dia di sana sebagai korban bakaran di salah satu gunung yang akan saya katakan.” (v.2)

Ini terjadi di ‘Moriah‘. Dan dimana itu? Meskipun itu adalah daerah padang gurun di masa Ibrahim (2000 SM), seribu tahun kemudian (1000 SM), Raja Daud (David) yang terkenal itu mendirikan kota Yerusalem di sana, dan anaknya Sulaiman (Solomon) membangun Tempat Ibadah di sana. Kita membaca di Zabur tentang ini bahwa:

Kemudian Solomon (Sulaiman) mulai membangun tempat ibadah di Yerusalem di Gunung Moria, di mana TUHAN menampakkan diri kepada ayahnya Daud. Tawarikh 3: 1

Dengan kata lain, ‘Gunung Moria’ pada masa Ibrahim (dan kemudian Musa) adalah puncak gunung yang terisolasi di padang belantara namun 1000 tahun kemudian bersama Daud dan Sulaiman, menjadi pusat dan ibu kota orang Israel di mana mereka membangun Tempat Ibadah kepada TUHAN. Dan sampai hari ini juga merupakan tempat suci bagi orang-orang Yahudi.

Isa al Masih dan pengorbanan di Gunung Moria

Dan di sini kita menemukan hubungan langsung dengan Isa al Masih dan Injil. Kita melihat hubungan ini ketika kita tahu tentang salah satu panggilan Isa. Isa memiliki banyak gelar yang diberikan kepadanya. Mungkin yang paling terkenal adalah panggilan ‘Al Masih’ (yang juga ‘Kristus’). Tapi ada panggilan lain yang diberikan kepadanya yang tidak begitu dikenal, tapi sangat penting. Kita melihat ini di dalam Injil ketika dalam Injil Yohanes kita menemukan bahwa nabi Yahya (Yohanes Pembaptis dalam Injil) mengatakan:

Keesokan harinya Yohanes (Yahya) melihat Yesus (Isa) mendatanginya dan berkata, “Lihatlah, Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Inilah yang saya maksudkan saat saya mengatakan ‘Seorang pria yang datang setelah saya telah melampaui saya karena dia ada di hadapanku’ “. (Yohanes 1: 29-30)

Panggilan Isa yang penting, tapi kurang dikenal, yang diberikan kepadanya oleh Yahya adalah ‘Domba Allah’. Sekarang perhatikan akhir kehidupan Isa. Dimana dia ditangkap dan dihukum eksekusi? Itu di Yerusalem (seperti yang kita lihat sama dengan ‘Gunung Moria’). Hal ini sangat jelas dinyatakan dalam penangkapannya bahwa:

Ketika dia [Pilatus] mengetahui bahwa Yesus berada di bawah yurisdiksi Herodes, dia mengirimnya ke Herodes, yang juga berada di Yerusalem pada waktu itu. “(Lukas 23: 7)

Dengan kata lain, penangkapan, pengadilan dan hukuman Isa terjadi di Yerusalem (= Gunung Moria).

Kembali ke Ibrahim. Mengapa dia memberi nama tempat itu dalam kata kerja masa depan ‘TUHAN akan menyediakan’? Dia adalah seorang nabi dan tahu bahwa ada sesuatu yang akan ‘disediakan’ di sana. Dan dalam kejadian tersebut, putra Ibrahim diselamatkan dari kematian pada saat terakhir karena seekor anak domba dijadikan sebagai penggantinya. Dua ribu tahun kemudian, Isa disebut ‘Domba Allah’ dan ditangkap dan dijatuhi hukuman mati di tempat yang sama!

Garis-garis waktu kejadian di Yesrussalem/Gunung Moriah
Garis-garis waktu kejadian di Yesrussalem/Gunung Moriah

Korban tebusan Ibrahim: dari kematian

Apakah ini penting bagi kita? Saya perhatikan bagaimana Tanda Ibrahim ini berakhir. Dalam ayat 107 dari Al Qur’an dikatakan Ibrahim (A.S.) itu

Dan Kami menebusnya dengan pengorbanan yang penting

Apa artinya menjadi ‘ditebus’? Membayar uang tebusan adalah untuk melakukan pembayaran kepada seseorang yang ditahan sebagai tahanan/tawanan untuk bisa dibebaskan. Karena Ibrahim (AS) ‘ditebus’ berarti bahwa dia adalah tawanan sesuatu (ya bahkan seorang nabi besar!). Sebagai apa dia ditahan? Kejadian dengan anaknya memberitahu kita. Dia adalah tawanan kematian. Meskipun dia adalah seorang nabi, kematian menahannya sebagai tawanan. Kita lihat dari Tanda Adam bahwa Allah telah menjadikan Adam dan Anak-anaknya (semua orang termasuk para nabi) fana – mereka sekarang adalah tawanan kematian. Tapi entah bagaimana dalam kejadian domba yang dikorbankan Ibrahim (AS) ini ‘ditebus’ dengan hal ini. Jika Anda meninjau urutan Tanda (Adam, Habil & Qabil, Nuh, Ibrahim 1) sejauh ini Anda akan melihat bahwa pengorbanan dengan binatang hampir selalu dilakukan oleh para nabi. Mereka tahu sesuatu tentang hal ini yang mungkin luput dari perhatian kita. Dan kita dapat melihat bahwa karena tindakan ini juga menunjukkan ke masa depan kepada Isa ‘Domba Tuhan’ bahwa hal itu ada hubungannya dengan dia.

Pengorbanan: Berkat bagi kita

Dan pengorbanan domba di Gunung Moria juga penting bagi kita. Pada akhir pertukaran Allah menyatakan kepada Ibrahim bahwa

“… dan melalui keturunanmusemua bangsa di bumi akan diberkati karena engkau telah menaatiku” (Kejadian 22:18)

Jika Anda termasuk salah satu ‘bangsa di bumi’ (dan tentunya Anda!),  ini harus menjadi perhatian Anda karena janjiNya adalah bahwa Anda kemudian bisa mendapatkan ‘berkah’ dari Allah sendiri! Apakah itu tidak bermanfaat ?! Bagaimana hubungan cerita Ibrahim dengan Isa ini bisa menjadi berkat bagi kita? Dan mengapa? Kita mencatat bahwa Ibrahim (AS) ‘ditebus’ dan ini juga bisa menjadi petunjuk bagi kita, namun selain itu jawabannya tidak mudah terlihat disini jadi kami akan melanjutkan dengan Tanda-tanda Musa (dia memiliki dua) dan mereka akan menjelaskan pertanyaan ini untuk kita.

Tapi untuk saat ini saya hanya ingin menunjukkan bahwa kata ‘keturunan’ disini ada dalam bentuk tunggal. Ini bukan ‘keturunan-keturunan (offspring)’ seperti pada banyak keturunan atau masyarakat. Janji berkah adalah melalui ‘keturunan’ dari Ibrahim dalam bentuk tunggal – sama seperti pada ‘dia’, tidak melalui banyak orang atau sekelompok orang seperti kata jamak ‘mereka’. Tanda Paskah Musa sekarang akan membantu kita memahami lebih jauh.

Mengapa Ada Empat Kitab Untuk Satu Injil?

Kadang saya ditanya, kalau hanya ada satu Injil dalam Kitab Suci Nasrani, mengapa Injil itu tersusun atas empat kitab, dan ditulis oleh empat penulis? Apakah hal ini tidak membuat keempatnya rentan memuat kesalahan dan menimbulkan kontradiksi bahwa kitab ini ditulis oleh manusia, bukan oleh Allah?

Tentang hal tersebut, Kitab Suci Nasrani berkata:

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. (2 Timotius 3: 16-17)

Jadi, Kitab Suci Nasrani menyatakan bahwa Allah adalah penulis utama dan Dia menginspirasi para penulis kitab. Alquran sepenuhnya setuju dengan hal ini – seperti yang dapat kita lihat pada unggahan Apa yang dikatakan Alquran tentang Kitab Suci Nasrani?

Jadi sekarang, bagaimana kita bisa memahami adanya empat kitab untuk satu pesan Injil? Dalam Alquran, seringkali ada beberapa bagian yang menceritakan satu peristiwa yang sama. Apabila kita membaca semua bagian itu, kita akan mendapat gambaran yang lebih lengkap tentang peristiwa tersebut. Sebagai contoh, tulisan tentang Tanda Adam terdapat dalam Surah 7: 19-26 (The Heights), yang memberitahu kita tentang Adam di Taman Firdaus, dan juga Surah 20: 121-123 (Ta Ha), yang memberikan pemahaman tambahan tentang Adam dengan menjelaskan bahwa dia ‘digoda’. Keterangan tentang godaan tersebut tidak disebutkan dalam The Heights. Karena itu, kalau kita membaca keduanya, kita akan mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang apa yang terjadi. Jadi, itulah tujuannya, yaitu supaya tulisan-tulisan itu saling melengkapi.

Demikian halnya dengan empat kitab Injil dalam Kitab Suci Nasrani, keempatnya selalu dan hanya berbicara tentang satu Injil. Dengan membaca keempat kitab tersebut, kita akan mendapat pemahaman yang lebih lengkap tentang Injil, yaitu Injil Nabi Isa Al Masih-AS. Selain itu, masing-masing kitab tersebut memuat keterangan yang tidak terdapat dalam ketiga kitab lainnya. Oleh karena itu, dengan membaca keempat-empatnya, kita tahu bahwa kitab-kitab tersebut menawarkan gambaran yang lebih lengkap tentang Injil.

Itu sebabnya, – khususnya dalam Bahasa Inggris- ketika suatu pembicaraan merujuk pada Injil, maka kata “Injil” akan selalu disebut dalam bentuk tunggal, tidak jamak, karena memang hanya ada satu Injil. Galatia 1: 11-12 mencontohkan hal ini, bahwa Injil itu tunggal.

Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia.

Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus. (Galatia 1: 11-12)

Alquran juga menulis “Injil’ dalam bentuk tunggal (lihat Pola Injil dalam Alquran). Namun ketika kita membicarakan saksi-saksi mata atau kitab-kitab yang ada dalam Injil, maka memang ada empat kitab. Sebenarnya, dalam Kitab Taurat, suatu perkara hanya dapat diselesaikan jika ada lebih dari satu saksi. Hukum Musa menuntut sedikitnya ‘dua atau tiga saksi’ (Ulangan 19: 15) untuk bersaksi tentang satu peristiwa atau perkara. Dengan adanya empat kitab yang ditulis para saksi, maka keabsahan Injil telah melampaui syarat minimum yang ditetapkan oleh Hukum Musa.

Mengapa Ada Banyak ‘Versi’ Kitab Suci Nasrani?

Baru-baru ini, saya ada di masjid, mendengarkan pengajaran seorang imam. Sayangnya, Beliau mengatakan hal yang tidak benar. Apa yang Beliau katakan sudah berulang kali saya dengar sebelumnya dari teman-teman baik saya. Mungkin Anda juga pernah mendengarnya dan hal itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran Anda. Jadi, mari kita membahas hal ini.

Imam itu berkata bahwa ada banyak versi Kitab Suci Nasrani. Beliau mencontohkan beberapa versi dalam bahasa Inggris, seperti: versi King James, versi New International, versi New American Standard, versi New English, dan lain sebagainya. Beliau kemudian juga berkata bahwa karena ada begitu banyak versi yang berbeda, maka hal ini menunjukkan bahwa isi Kitab Suci Nasrani sudah tidak lagi sesuai dengan aslinya, atau setidaknya kita tidak dapat mengetahui mana Kitab Suci Nasrani yang ‘sejati’. Memang ada beragam versi, tetapi hal ini sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan ‘sesuai atau tidak sesuainya Kitab Suci Nasrani dengan naskah aslinya’ dan tidak juga berarti bahwa setiap terjemahan tersebut menjadi Kitab Suci Nasrani lain, karena pada keyataannya, hanya ada satu Kitab Suci Nasrani.

Ketika kita membicarakan versi New International, sebagai contoh, maka kita sedang membicarakan terjemahan tertentu naskah asli berbahasa Yunani (Injil) dan berbahasa Ibrani (Taurat & Zabur) dalam bahasa Inggris. Demikian juga dengan versi The New American Standard yang merupakan terjemahan bahasa Inggris lain dari naskah asli yang sama.

Situasi yang sama terjadi juga pada Alquran. Biasanya, saya menggunakan terjemahan Yusuf Ali, namun kadang-kadang, saya juga menggunakan terjemahan Pickthall. Pickthall dan Yusuf Ali menerjemahkan Alquran berbahasa Arab yang sama, tetapi pilihan kata dalam bahasa Inggris yang digunakan oleh keduanya tidak selalu sama. Itu sebabnya, terjemahan mereka berbeda. Meski demikian, tidak ada seorang pun baik orang Kristen, Yahudi, bahkan ateis sekalipun yang berkata, “Karena ada dua terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris (terjemahan Pickthall dan Yusuf Ali) , maka artinya ada dua Alquran dan keduanya berbeda.” atau berkata, “Terjemahan Alquran tidak sesuai naskah aslinya.”

Hal yang sama juga terjadi dalam penerjemahan Kitab Suci Nasrani. Naskah asli Injil ditulis dalam bahasa Yunani (lihat di sini) dan naskah asli Taurat dan Zabur ditulis dalam bahasa Ibrani (lihat di sini). Masalahnya, kebanyakan orang tidak berbahasa ataupun membaca dalam kedua bahasa ini. Itu sebabnya, ada berbagai terjemahan dalam bahasa Inggris (dan bahasa-bahasa lainnya) dengan maksud supaya orang dapat memahami pesan dalam kitab-kitab tersebut dalam bahasa mereka sendiri. Beragam versi Kitab Suci Nasrani hanyalah terjemahan yang berbeda, dengan tujuan agar pesan yang tertulis dapat dipahami dengan lebih baik.

Lalu, bagaimana dengan kemungkinan munculnya kesalahan-kesalahan penerjemahan? Bukankah terjemahan yang beragam memunculkan kemungkinan tidak akuratnya penerjemahan tulisan penulis asli? Namun, keraguan di atas tidak perlu muncul, sebab luasnya literatur klasik yang ditulis dalam bahasa Yunani telah memungkinkan penerjemah menerjemahkan dengan tepat setiap pemikiran dan setiap kata yang ditulis penulis asli. Berbagai versi baru Kitab Suci Nasrani bahkan menunjukkan kesesuaian dengan argumen di atas. Contohnya adalah tulisan asli dalam bahasa Yunani 1 Timotius 2: 5

εις γαρ θεος εις και μεσιτης θεου και ανθρωπων ανθρωπος χριστος ιησους

Berikut adalah beberapa terjemahan yang umum dipakai untuk ayat di atas:

For there is one God and one mediator between God and mankind, the man Christ Jesus – New International Version;

For there is one God, and one mediator between God and men, the man Christ Jesus – King James Version;

For there is one God, and one mediator also between God and men, the man Christ Jesus – New American Standard Version.

Seperti dapat Anda lihat, terjemahan-terjamahan itu sangat mirip, hanya dibedakan dengan beberapa kata. Meskipun sedikit berbeda dalam penggunaan kata,  ketiganya mempunyai arti yang tepat sama. Hal ini terjadi karena hanya ada satu Kitab Suci Nasrani dan oleh sebab itu terjemahan-terjemahannya pun menjadi sangat mirip. Terjemahan-terjemahan itu bukanlah Kitab Suci Nasrani yang ‘lain’. Seperti yang saya tulis pada awal tulisan ini, tidak benar apabila ada orang yang berkata bahwa karena ada banyak versi, maka ada bermacam-macam Kitab Suci Nasrani.

Saya menganjurkan setiap orang memilih dan membaca versi Kitab Suci Nasrani dalam bahasa mereka sendiri. Hal ini layak untuk dilakukan.