Mengapa Ada Banyak ‘Versi’ Kitab Suci Nasrani?

Baru-baru ini, saya ada di masjid, mendengarkan pengajaran seorang imam. Sayangnya, Beliau mengatakan hal yang tidak benar. Apa yang Beliau katakan sudah berulang kali saya dengar sebelumnya dari teman-teman baik saya. Mungkin Anda juga pernah mendengarnya dan hal itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran Anda. Jadi, mari kita membahas hal ini.

Imam itu berkata bahwa ada banyak versi Kitab Suci Nasrani. Beliau mencontohkan beberapa versi dalam bahasa Inggris, seperti: versi King James, versi New International, versi New American Standard, versi New English, dan lain sebagainya. Beliau kemudian juga berkata bahwa karena ada begitu banyak versi yang berbeda, maka hal ini menunjukkan bahwa isi Kitab Suci Nasrani sudah tidak lagi sesuai dengan aslinya, atau setidaknya kita tidak dapat mengetahui mana Kitab Suci Nasrani yang ‘sejati’. Memang ada beragam versi, tetapi hal ini sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan ‘sesuai atau tidak sesuainya Kitab Suci Nasrani dengan naskah aslinya’ dan tidak juga berarti bahwa setiap terjemahan tersebut menjadi Kitab Suci Nasrani lain, karena pada keyataannya, hanya ada satu Kitab Suci Nasrani.

Ketika kita membicarakan versi New International, sebagai contoh, maka kita sedang membicarakan terjemahan tertentu naskah asli berbahasa Yunani (Injil) dan berbahasa Ibrani (Taurat & Zabur) dalam bahasa Inggris. Demikian juga dengan versi The New American Standard yang merupakan terjemahan bahasa Inggris lain dari naskah asli yang sama.

Situasi yang sama terjadi juga pada Alquran. Biasanya, saya menggunakan terjemahan Yusuf Ali, namun kadang-kadang, saya juga menggunakan terjemahan Pickthall. Pickthall dan Yusuf Ali menerjemahkan Alquran berbahasa Arab yang sama, tetapi pilihan kata dalam bahasa Inggris yang digunakan oleh keduanya tidak selalu sama. Itu sebabnya, terjemahan mereka berbeda. Meski demikian, tidak ada seorang pun baik orang Kristen, Yahudi, bahkan ateis sekalipun yang berkata, “Karena ada dua terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris (terjemahan Pickthall dan Yusuf Ali) , maka artinya ada dua Alquran dan keduanya berbeda.” atau berkata, “Terjemahan Alquran tidak sesuai naskah aslinya.”

Hal yang sama juga terjadi dalam penerjemahan Kitab Suci Nasrani. Naskah asli Injil ditulis dalam bahasa Yunani (lihat di sini) dan naskah asli Taurat dan Zabur ditulis dalam bahasa Ibrani (lihat di sini). Masalahnya, kebanyakan orang tidak berbahasa ataupun membaca dalam kedua bahasa ini. Itu sebabnya, ada berbagai terjemahan dalam bahasa Inggris (dan bahasa-bahasa lainnya) dengan maksud supaya orang dapat memahami pesan dalam kitab-kitab tersebut dalam bahasa mereka sendiri. Beragam versi Kitab Suci Nasrani hanyalah terjemahan yang berbeda, dengan tujuan agar pesan yang tertulis dapat dipahami dengan lebih baik.

Lalu, bagaimana dengan kemungkinan munculnya kesalahan-kesalahan penerjemahan? Bukankah terjemahan yang beragam memunculkan kemungkinan tidak akuratnya penerjemahan tulisan penulis asli? Namun, keraguan di atas tidak perlu muncul, sebab luasnya literatur klasik yang ditulis dalam bahasa Yunani telah memungkinkan penerjemah menerjemahkan dengan tepat setiap pemikiran dan setiap kata yang ditulis penulis asli. Berbagai versi baru Kitab Suci Nasrani bahkan menunjukkan kesesuaian dengan argumen di atas. Contohnya adalah tulisan asli dalam bahasa Yunani 1 Timotius 2: 5

εις γαρ θεος εις και μεσιτης θεου και ανθρωπων ανθρωπος χριστος ιησους

Berikut adalah beberapa terjemahan yang umum dipakai untuk ayat di atas:

For there is one God and one mediator between God and mankind, the man Christ Jesus…

New International Version

For there is one God, and one mediator between God and men, the man Christ Jesus…

King James Version 

For there is one God, and one mediator also between God and men, the man Christ Jesus…

New American Standard Version

Seperti dapat Anda lihat, terjemahan-terjamahan itu sangat mirip, hanya dibedakan dengan beberapa kata. Meskipun sedikit berbeda dalam penggunaan kata,  ketiganya mempunyai arti yang tepat sama. Hal ini terjadi karena hanya ada satu Kitab Suci Nasrani dan oleh sebab itu terjemahan-terjemahannya pun menjadi sangat mirip. Terjemahan-terjemahan itu bukanlah Kitab Suci Nasrani yang ‘lain’. Seperti yang saya tulis pada awal tulisan ini, tidak benar apabila ada orang yang berkata bahwa karena ada banyak versi, maka ada bermacam-macam Kitab Suci Nasrani.

Saya menganjurkan setiap orang memilih dan membaca versi Kitab Suci Nasrani dalam bahasa mereka sendiri. Hal ini layak untuk dilakukan.

Tanda Putra Perawan

Dalam Pengantar Zabur , saya sebutkan bahwa Nabi dan Raja Daud (AS) memulai Zabur dengan tulisan-tulisan inspiratif dari kitab Mazmur , dan yang mana buku-buku lain kemudian ditambahkan oleh para nabi sesudahnya. Seorang nabi yang sangat penting, yang dianggap sebagai salah satu nabi utama (karena bukunya begitu panjang) adalah Yesaya . Dia hidup sekitar 750 SM. Garis waktu di bawah ini menunjukkan kapan Yesaya hidup dibandingkan dengan nabi-nabi Zabur yang lainnya.

Garis Waktu Sejarah Nabi Yesaya (AS) dengan beberapa nabi lainnya di Zabur

Meskipun Yesaya hidup dahulu kala (sekitar 2800 tahun yang lalu), dia membuat banyak nubuwat (ramalan) yang meramalkan peristiwa masa depan, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi Musa AS sebelumnya. Nubuatnya meramalkan mukjizat yang begitu mencengangkan sehingga Surah At-Tahrim (Surah 66 – Mengharamkan) ayat 12 meringkasnya:

Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.

( Surah At-Tahrim 66:12)

Apa yang digambarkan surah at-Tahrim? Kita kembali ke Yesaya untuk menjelaskan nubuat itu.

Seperti dijelaskan dalam Pengantar Zabur, raja-raja setelah Sulaiman (AS) kebanyakan lalim, dan ini berlaku untuk para Raja pada zaman Yesaya. Jadi bukunya penuh dengan peringatan tentang penghakiman yang akan datang (yang terjadi sekitar 150 tahun kemudian ketika Yerusalem dihancurkan oleh Babilonia – lihat di sini untuk sejarahnya). Namun, ia juga bernubuat jauh melebihi itu dan melihat jauh ke masa depannya ketika Allah akan mengirim tanda khusus – yang belum pernah dikirim ke umat manusia. Yesaya berbicara kepada Raja Israel, yang merupakan keturunan Daud (AS), itulah sebabnya mengapa Tanda ini ditujukan kepada ‘Rumah Daud’

Lalu Nabi Yesaya berkata, “Kalau begitu, dengarlah hai keturunan Raja Daud! Tidak cukupkah kamu menguji kesabaran manusia, sehingga kamu menguji kesabaran Allahku juga? Sekarang, TUHAN sendiri akan memberi tanda kepadamu: Seorang gadis yang mengandung akan melahirkan seorang putra yang dinamakannya Imanuel. Pada waktu ia cukup besar untuk dapat mengambil keputusan sendiri, negeri itu akan makmur. (Yesaya 7:13-15)

Ini tentu prediksi yang berani! Siapa yang pernah mendengar seorang wanita perawan memiliki seorang putra? Tampaknya ini prediksi yang luar biasa sehingga selama bertahun- tahun orang bertanya-tanya apakah ada kekeliruan. Tentu saja, seorang pria yang hanya menerka-nerka tentang masa depan tidak akan menyatakan – dan menulis untuk dibaca oleh semua orang di generasi selanjutnya – prediksi yang tampaknya mustahil. Tapi itu dia. Dan dari Gulungan Laut Mati yang ada saat ini kita tahu bahwa nubuat ini sebenarnya telah ditulis sejak lama – ratusan tahun sebelum Isa AS lahir.

Isa al Masih (AS) dinubuatkan untuk dilahirkan dari seorang perawan

Kita hari ini, yang hidup setelah Isa al Masih (AS), dapat melihat bahwa itu adalah ramalan kedatangannya. Tidak ada nabi lain, termasuk Ibrahim (AS), Musa (AS) dan Muhammad (SAW) yang lahir dari seorang perawan. Hanya Isa AS, diantara semua manusia yang pernah lahir, yang datang ke dunia dengan cara ini. Jadi Allah, ratusan tahun sebelum kelahirannya, memberi kita tanda kedatangannya dan juga mempersiapkan kita untuk mempelajari hal-hal tentang putra dari seorang perawan yang akan datang ini. Kita catat dua hal secara khusus.

Dipanggil ‘Immanuel’ oleh ibunya

Pertama, putra seorang perawan yang akan datang ini akan dipanggil ‘Imanuel’ oleh ibunya. Nama ini secara harfiah berarti ‘Tuhan bersama kita ‘. Tapi apa artinya itu ? Ini mungkin memiliki beberapa makna, tetapi karena ramalan ini disebutkan kepada raja-raja lalim yang akan segera dihukum oleh Allah, satu makna penting yaitu ketika anak ini akan lahir itu adalah tanda bahwa Tuhan tidak lagi menentang mereka dalam penghakiman tetapi ‘bersama mereka’. Ketika Isa AS lahir, kelihatan sepertinya orang Israel telah ditinggalkan oleh Allah sejak musuh mereka memerintah mereka. Kelahiran putra perawan adalah tanda bahwa Tuhan menyertai mereka, bukan melawan mereka. Injil Lukas mencatat bahwa ibunya Siti Maryam menyanyikan lagu sakral ketika malaikat memberi pesan dari anaknya yang akan lahir itu. Lagu ini berisi:

…”Hatiku memuji Tuhan, dan jiwaku bersukaria karena Allah Penyelamatku. Ia ingat daku, hamba-Nya yang hina! Keturunan demi keturunan Tuhan menaruh belas kasihan kepada orang yang takut kepada-Nya. Ia menolong Israel hamba-Nya …Tuhan tidak lupa janji-Nya, Ia bermurah hati kepada Abraham dan keturunannya sampai selamanya.” (Lukas 1:46-55)

Anda dapat lihat bahwa Siti Maryam, ketika ia diberitahu bahwa ia akan memiliki seorang putra meskipun ia masih perawan, memahami hal ini berarti bahwa Tuhan sedang mengingatkan rahmat-Nya untuk Ibrahim dan keturunannya selamanya. Penghakiman tidak berarti Allah tidak akan pernah bersama orang Israel lagi.

Anak dara ‘menolak yang salah dan memilih yang benar’

Bagian yang menakjubkan dari nubuat ini dalam Yesaya yaitu anak ini ‘akan memakan susu mentega dan madu ketika dia cukup dewasa untuk menolak yang salah dan memilih yang benar’. Apa yang dikatakan Yesaya adalah bahwa putra ini , begitu dia cukup dewasa untuk membuat keputusan secara sadar, akan ‘menolak yang salah dan memilih yang benar’. Saya punya anak laki-laki. Saya mencintainya, tetapi tentu saja tidak mungkin ia sendiri menolak yang salah dan memilih yang benar. Saya dan istri saya harus bekerja, mengajar, mengingatkan, menasihati, memberi contoh, disiplin, menyediakan teman yang tepat, memastikan dia melihat panutan yang tepat, dll. Untuk mengajarinya menolak yang salah dan memilih yang benar – dan bahkan dengan semua usaha kami lakukan tidak ada jaminan. Sebagai orang tua ketika saya mencoba melakukan ini, itu membawa kembali kenangan masa kecil saya ketika orang tua saya berada dalam perjuangan yang sama dalam mengajar saya untuk ‘menolak yang salah dan memilih yang benar’. Jika orang tua tidak menghabiskan semua upaya dan kerja itu, tetapi membiarkan saja secara alami – anak menjadi orang yang tidak ‘menolak yang salah dan memilih yang benar’. Seolah-olah kita sedang berjuang melawan ‘gravitasi moral’ di mana begitu kita menghentikan upaya itu maka akan menurun. 

Inilah sebabnya kita semua mengunci pintu rumah dan apartemen kita; mengapa setiap negara membutuhkan polisi; mengapa kita memiliki enkripsi dan kata sandi dalam perbankan; dan mengapa kita terus menerus perlu membuat undang-undang baru di semua negara – karena kita perlu melindungi diri kita sendiri terhadap satu sama lain karena kita tidak ‘menolak yang salah dan memilih yang benar’.

Para nabi bahkan tidak selalu menolak yang salah dan memilih yang benar

Dan ini berlaku bahkan bagi para nabi. Taurat mencatat dua kejadian Nabi Ibrahim (AS) berbohong tentang istrinya yaitu mengatakan bahwa dia hanya adiknya (dalam Kejadian 12: 10-13 & Kejadian 20: 1-2). Juga tercatat Nabi Musa (AS) membunuh seorang Mesir (Keluaran 02:12) dan pada satu kesempatan tidak persis mengikuti perintah Allah (Bilangan 20: 6-12). Nabi Muhammad (SAW) diperintahkan untuk memohon ampunan dalam Al Qur’an (Surah Muhammad 47:19) – menunjukkan bahwa ia juga tidak selalu menolak yang salah dan memilih yang benar.

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. ( Surat 47:19 – Muhammad)

Hadits berikut dari Muslim menunjukkan betapa ia sungguh-sungguh berdoa untuk memohon ampunan.

Abu Musa Ash’ari melaporkan atas otoritas ayahnya bahwa Rasul Allah (SAW) berdoa dengan kata-kata ini: “Ya Allah, ampunilah aku kesalahan saya, ketidaktahuan saya, ketidaksopanan saya dalam keprihatinan saya. Dan Engkau lebih sadar (tentang urusan saya) daripada diri saya sendiri. Ya Allah, ampunilah saya (atas kesalahan yang saya lakukan) dengan serius atau sebaliknya (dan yang saya lakukan secara tidak sengaja dan sengaja. Semua ini (kegagalan) ada dalam diri saya. Ya Allah, ampunilah saya dari kesalahan yang saya lakukan dengan tergesa-gesa atau tertunda, yang saya lakukan diam-diam atau di depan umum dan Engkau lebih sadar akan itu semua daripada diri saya sendiri. Engkau adalah yang Pertama dan Terakhir dan atas semua hal Engkau Mahakuasa. ” (Muslim 35:6563)

Ini sangat mirip dengan doa Nabi Daud (AS) ketika dia berdoa memohon ampunan atas dosa-dosanya:

Kasihanilah aku, ya Tuhan, sesuai dengan kasihmu yang tak pernah gagal; menurut belas kasihmu yang besar menghapus pelanggaranku. Bersihkan semua kesalahan saya dan bersihkan saya dari dosa saya … Bersihkan saya dengan hisop, dan saya akan bersih; basuhlah aku, dan aku akan lebih putih dari pada salju …. Sembunyikanlah wajahmu dari dosa-dosaku dan hilangkan semua kesalahanku. (Mazmur 51:1-9)

Jadi kita melihat bahwa orang-orang ini – meskipun mereka adalah para nabi – berjuang melawan dosa dan perlu meminta pengampunan. Ini tampaknya merupakan kondisi manusia universal dari semua keturunan Adam.

Putra suci dari perawan

Tetapi putra ini dinubuatkan oleh Yesaya menolak yang salah dan memilih yang benar secara alami sejak usia dini. Itu adalah naluri alamiah untuknya. Agar itu mungkin, ia harus memiliki garis keturunan yang berbeda. Semua nabi lain, melalui ayah mereka, mulai dari Adam, dan dia tidak ‘menolak yang salah dan memilih yang benar’ seperti yang kita lihat . Sebagaimana secara genetika sifat ayah diwariskan kepada keturunannya, demikian pula sifat ketidakpatuhan Adam ini diturunkan kepada kita semua dan bahkan kepada para nabi. Tetapi anak yang lahir dari seorang perawan, menurut definisi, tidak akan memiliki Adam dalam garis keturunannya sebagai seorang ayah. Garis orangtua anak ini akan berbeda, jadi ia akan menjadi suci. Inilah mengapa Alquran, ketika menceritakan pesan malaikat kepada Siti Maryam tentang putranya yang masih perawan, menyebut putranya ‘suci ‘ 

Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku…” Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”. Maka Maryam mengandungnya… (Surat 19:19-22 Maryam)

Nabi Yesaya (AS) jelas, dan Kitab Suci setelahnya setuju – ada anak datang yang akan lahir dari seorang perawan, sehingga tidak memiliki ayah duniawi dan tidak akan memiliki sifat dosa alami ini, dan dengan demikian akan Kudus.

Kilas balik ke Adam di Surga

Tetapi bukan hanya kitab-kitab kemudian yang berbicara tentang putra perawan yang akan datang ini. Itu juga sudah ada sejak awal. Kita lihat dalam Tanda Adam bahwa Allah telah Memberikan Janji kepada Setan. Saya ulangi di sini

Engkau dan perempuan itu akan saling membenci, keturunannya dan keturunanmu akan selalu bermusuhan. Keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan menggigit tumit mereka.” (Genesis 3:15)

Allah akan mengatur bahwa Iblis / Setan dan wanita itu akan memiliki ‘keturunan’. Akan ada ‘permusuhan’ atau kebencian diantara keturunan ini dan diantara wanita itu dan Setan. Setan akan ‘memukul tumit’ anak perempuan itu sedangkan anak perempuan itu akan ‘menghancurkan kepala’ Setan. Hubungan ini terlihat dalam diagram ini.   

Karakter dan hubungan mereka dalam Janji Allah yang diberikan di surga

Harap dicatat bahwa Allah tidak pernah menjanjikan kepada pria itu keturunan seperti dia janjikan kepada wanita itu. Ini sangat luar biasa terutama mengingat penekanan pada anak laki-laki yang datang melalui ayah melalui Taurat , Zabur & Injil (Alkitab). Faktanya, satu kritik terhadap Buku-buku ini oleh orang Barat modern adalah mereka mengabaikan garis-garis darah yang melewati wanita. Itu ‘seksis’ di mata mereka karena hanya menganggap anak laki-laki. Tetapi dalam kasus ini berbeda – tidak ada janji keturunan (‘dia laki-laki) datang dari seorang pria. Dikatakan hanya bahwa akan ada keturunan yang berasal dari wanita itu, tanpa menyebutkan seorang pria .

‘Putra seorang perawan’ Yesaya adalah ‘anak perempuan’

Sekarang dari sudut pandang nubuat Yesaya yang jelas tentang seorang anak laki-laki dari seorang perawan, jelas bahwa apa yang telah lama dimaksudkan di Taman (surge) adalah bahwa keturunan (anak laki-laki) akan datang hanya dari seorang perempuan (dengan demikian seorang perawan). Saya mendorong Anda untuk kembali dan membaca diskusi ini dalam Tanda Adam dari perspektif ini dan Anda akan melihat bahwa itu ‘cocok’. Semua putra Adam sejak awal sejarah menderita masalah yang sama yaitu tidak ‘menolak yang salah dan memilih yang benar’ seperti yang dilakukan nenek moyang kita Adam. Jadi Allah, saat itu ketika dosa datang ke dunia, membuat janji bahwa seseorang yang suci dan bukan dari Adam akan datang dan ‘menghancurkan’ kepala Setan.

Tetapi bagaimana anak suci ini akan melakukan ini? Jika itu tentang memberikan pesan dari Allah, para nabi lain seperti Ibrahim (AS) dan Musa (AS) sudah setia memberikan pesan. Tidaklah demikain, peran putra kudus ini berbeda, tetapi untuk memahami ini kita perlu menggali lebih lanjut dalam Zabur.

Memperkenalkan Zabur

Keberadaan Dawood atau Dawud (atau Daud, AS) sangat penting di antara para nabi. Nabi Ibrahim (AS) memulai cara hidup yang baru (di mana Allah menjalin hubungan dengan manusia)  dengan janji bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar ‒ dan kemudian memberikan kurban yang agung. Nabi Musa (AS) membebaskan bani Israil dari perbudakan‒ melalui kurban Paskah ‒ dan kemudian memberi mereka Hukum Taurat sehingga mereka bisa menjadi sebuah bangsa. Akan tetapi ada yang kurang, yaitu seorang Raja yang akan memerintah sedemikian rupa sehingga mereka bisa menerima berkah, alih-alih kutuk dari Allah. Dawud (AS)-lah raja dan nabi itu. Dia memulai cara hidup baru yang berbeda‒yaitu: Raja-raja mulai memerintah dari Yerusalem.

Siapakah Raja Dawud (Daud-AS)?

Anda dapat melihat dari kerangka Sejarah bani Israil, bahwa Dawud (AS) hidup sekitar tahun 1000 SM, seribu tahun setelah Ibrahim (AS) dan 500 tahun setelah Musa (AS). Dawud (AS) mengawali karirnya sebagai gembala yang menggembalakan domba keluarganya. Raksasa dan musuh besar bani Israil‒Goliat‒memimpin pasukan untuk menaklukkan mereka. Bani Israil merasa kecil hati dan kalah sebelum bertanding. Namun, Dawud (AS) menantang Goliat dan membunuhnya dalam pertarungan. Pertarungan itu begitu luar biasa karena seorang penggembala domba yang masih muda bisa membunuh seorang tentara raksasa, Dawud (AS) pun menjadi terkenal. Sejak saat itu, bani Israil terus mengalahkan musuh-musuh mereka dalam pertempuran. Alquran mengisahkan pertarungan antara Dawud (AS) dan Goliat ini dalam ayat berikut

Berkat izin Allah, mereka berhasil mengalahkan musuh. Dan Dâwûd, salah seorang tentara Thâlût, berhasil membunuh Jâlût, pemimpin pasukan mereka. Allah telah memberikan Dâwûd kekuasaan, kenabian dan ilmu yang bermanfaat, serta mengajarkan apa saja kepadanya… Jika saja Allah tidak memenangkan tentara-Nya untuk mencegah perusakan, dan tidak mengalahkan orang-orang jahat dengan mengadu sesama mereka, niscaya bumi ini tidak akan terpelihara. Akan tetapi Allah selalu memberikan kebaikan dan karunia kepada hamba-hamba-Nya. (Surah 2:251)

Ketenaran Dawud sebagai kesatria menanjak setelah pertempuran ini. Namun demikian, dia baru menjadi Raja bertahun-tahun kemudian, sesudah berbagai pengalaman yang sulit yang dilewatinya. karena dia memiliki banyak musuh yang menentangnya, baik di luar maupun di antara bani Israil sendiri. Kitab 1 dan 2 Samuel dalam Alkitab menceritakan kembali pergumulan-pergumulan dan kemenangan-kemenangan Dawud (AS). Samuel (AS) adalah nabi yang mengurapi Dawud (AS) sebagai Raja.

Dawud juga tenar sebagai pemusik yang mengarang lagu-lagu dan puisi-puisi yang indah bagi Allah. Hal ini disebutkan dalam Alquran, dalam surah Sad (surah 38 – Shaad):

Bersabarlah… atas apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrik kepadamu. Ingatlah hamba Kami, Dâwûd, yang memiliki kekuatan agama… dia selalu kembali kepada Allah dalam setiap keadaan.

Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung agar manfaat yang terkandung di dalamnya dapat dieksploitasi oleh Dâwûd, dan agar gunung-gunung itu bertasbih bersama Dâwûd… Seluruh burung dan gunung itu tunduk pada kemauan Dâwûd. Kami pun menguatkan kerajaannya… ia Kami berikan kenabian dan kemampuan membedakan antara yang benar dan batil. (Surah Sad 38:17-20)

Ayat-ayat ini menegaskan keperkasaan Dawud (AS) sebagai kesatria, di samping “Pujian” yang seindah nyanyian burung-burung bagi Sang Pencipta mereka. Lagi pula sebagai Raja, Dawud (AS) “dianugerahi” hikmat oleh Allah sendiri dalam “perkataan-perkataannya”. Lagu-lagu dan puisi-puisinya, dicatat dan dibukukan menjadi jilid pertama Zabur‒yang dikenal sebagai Mazmur. Oleh karena hikmat perkataan yang dianugerahkan Allah kepadanya, catatan-catatan Dawud (AS) ini juga Suci dan diilhamkan oleh Allah sendiri, seperti halnya Taurat. Alquran menjelaskannya sebagai berikut

Tuhanmu lebih tahu tentang siapa dan bagaimana keadaan yang ada di langit dan di bumi.  Allah mengutamakan sebagian nabi dari yang lainnya… Sedangkan Dâwûd, keutamaannya adalah bahwa ia diberi Zabûr… (Surah 17:55)

Sulaiman-melanjutkan Zabur

Namun, tulisan-tulisan yang diilhamkan oleh Allah ini tidak berakhir saat Dawud (AS) meninggal sebagai Raja pada usia lanjut. Putra dan pewaris tahtanya, yaitu Sulaiman (atau Salomo, AS), juga diilhami Allah dengan hikmat. Surah Sad menggambarkannya sebagai berikut:

Kami mengaruniakan Sulaimân kepada Dâwûd. Sulaimân adalah orang yang patut dipuji dan dijuluki “hamba terbaik”. Sebab ia memang selalu kembali kepada Allah dalam segala permasalahan. (Surah 38:30)

Dan

Sampaikanlah… kisah Dâwûd dan Sulaymân. Suatu ketika, mereka berselisih dalam menyelesaikan masalah tanaman yang dimakan oleh sekawanan kambing orang lain di waktu malam. Kami Maha Mengetahui keputusan yang mereka berdua ambil dalam masalah itu.

Lalu Kami memahamkan kepada Sulaymân bagaimana seharusnya berfatwa. Dan keduanya Kami beri ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan tentang segala hal ihwal kehidupan. Kami menundukkan bersama Dâwûd gunung dan burung untuk menyucikan Allah dari segala sesuatu yang tidak pantas untuk-Nya. Semua itu Kami lakukan dengan kekuasaan Kami yang tidak terkalahkan. (Surah 21:78-79)

Kami telah mengajarkan kepada mereka ilmu yang luas menyangkut pengetahuan agama dan pengetahuan tentang hukum. Mereka berdua menegakkan keadilan, memuji Allah yang telah memberikan karunia kepada mereka sebagai kelebihan mereka atas hamba-hamba lain yang jujur dan tunduk pada kebenaran. (Surah 27:15)

Jadi, Sulaiman (AS) melanjutkan dengan menambahkan kitab-kitab hikmat yang diilhamkan oleh Allah ke dalam Zabur. Kitab-kitab tersebut adalah Pepatah, Pengajar, dan Syair Sulaiman.

Zabur berlanjut dengan nabi-nabi berikutnya

Namun, sepeninggal Sulaiman (AS), Raja-raja yang menggantikannya tidak menaati Taurat dan tidak seorang pun dari raja-raja ini yang diberi pesan yang diilhamkan Allah. Dari semua Raja Israil, hanya Dawud (AS) dan Sulaiman (AS) yang tulisan-tulisannya yang diilhamkan Allah ‒ mereka adalah nabi sekaligus raja. Namun kepada raja-raja setelah Sulaiman, Allah mengutus para nabi untuk menyampaikan peringatan-peringatan kepada mereka. Yunus, nabi yang ditelan ikan besar adalah salah satu nabi ini (Surah 37: 139-144). Hal ini berlanjut selama kira-kira 300 tahun ‒ dengan banyak nabi diutus. Peringatan, tulisan, dan nubuatan para nabi ini juga ditambahkan ke dalam Kitab Zabur yang diilhamkan Allah. Sebagaimana dijelaskan di sini, akhirnya bani Israil  ditaklukkan dan dibuang oleh bangsa Babilonia ke negaranya, lalu dikembalikan ke Yerusalem di bawah pemerintahan Sirus, pendiri Kekaisaran Persia. Sepanjang waktu itu, nabi-nabi terus diutus menyampaikan pesan‒dan pesan-pesan ini ditulis dalam bagian terakhir Kitab Zabur.

Zabur – menantikan datangnya Masih

Nabi-nabi ini penting bagi kita karena di tengah peringatan-peringatan yang mereka sampaikan, mereka juga meletakkan dasar untuk Injil. Sebenarnya, gelar ‘Masih’ diperkenalkan oleh Dawud (AS) pada bagian awal Mazmur (bagian Zabur, yang ditulis olehnya) dan nabi-nabi berikutnya menubuatkan dengan lebih rinci tentang Masih yang akan datang. Hal ini khususnya sangat penting mengingat kegagalan para Raja berikutnya dalam menaati Taurat dan kegagalan bani Israil  untuk mematuhi Perintah Allah. Janji, harapan, dan kerinduan akan datangnya Masih dinubuatkan dalam konteks kegagalan bani Israil waktu itu. Sebagai nabi, mereka melihat masa yang akan datang, sebagaimana yang telah disyaratkan Musa (AS) dalam Taurat. Nubuatan-nubuatan ini pun berbicara kepada kita pada zaman modern ini, yang juga gagal menjalani hidup sebagaimana seharusnya. Masih telah menjadi sumber pengharapan di tengah kegagalan.

Bagaimana Isa Almasih (AS) memandang dan menggunakan Zabur

Kenyataannya, nabi Isa Almasih sendiri menggunakan Zabur untuk membantu murid-murid serta para pengikutnya untuk memahami Injil dan peran Masih. Dinyatakan tentang Isa bahwa

Kemudian Yesus menerangkan kepada mereka apa yang tertulis di dalam seluruh Alkitab mengenai diri-Nya, mulai dari buku-buku Musa dan buku para nabi. (Lukas 24:27)

Frasa ‘dan semua Nabi’ mengacu pada nabi-nabi dari Zabur yang mengikuti Taurat Musa (AS). Isa Almasih (AS) menginginkan murid-murid-Nya memahami bagaimana Zabur mengajarkan dan menubuatkan dia. Isa Almasih (AS) lalu lanjut mengajar mereka dengan

Setelah itu Ia berkata kepada mereka, “Inilah hal-hal yang sudah Kuberitahukan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kalian: bahwa setiap hal yang tertulis mengenai Aku di dalam Buku-buku Musa, Para Nabi, dan Mazmur, harus terjadi.” Kemudian Yesus membuka pikiran mereka untuk mengerti maksud Alkitab. (Lukas 24:44-45)

Nabi-nabi dan Mazmur’ dalam ayat-ayat di atas berarti jilid pertama Zabur yang ditulis oleh Dawud (Mazmur) dan kitab-kitab selanjutnya yang disertakan (Nabi-Nabi). Isa Almasih (AS) perlu “membuka pikiran mereka” dan hanya dengan demikian mereka mampu “memahami tulisan” (yaitu kitab-kitab yang diilhamkan oleh Allah, Taurat dan Zabur). Tujuan kami dalam seri artikel berikutnya adalah untuk mengikuti apa yang ditunjukkan oleh Isa Almasih (AS) dari kitab-kitab ini, sehingga pikiran kita juga bisa terbuka dan memahami Injil.

Dawud (AS) dan Nabi-Nabi Zabur dalam Kerangka Sejarah

Gambar di bawah ini merangkum sebagian besar (tetapi tidak seluruhnya karena tidak ada tempat untuk itu) nabi ini. Panjang batang di bawah nama nabi menunjukkan masa hidup tiap-tiap nabi. Sedangkan kode warna menunjukkan status bani Israil, sebagaimana kalau kita mengikuti sejarah mereka dari Berkah dan Kutuk Musa.

Kerangka Sejarah Nabi Dawud (AS) dan Nabi-Nabi Kitab Zabur

Taurat Tutup dengan Berkah-berkah & Kutukan-kutukan

Dalam posting terakhir kami, kita lihat ketetapan  yang Allah berikan sehingga kita bisa mengenali nabi sejati – bahwa mereka meramalkan masa depan sebagai bagian dari pesan mereka.   Nabi Musa (AS) sendiri menerapkan aturan ini – membuat prediksi tentang masa depan bangsa Israel – yang akan menjadi kenyataan jika pesannya berasal dari Allah. Prediksi-prediksi ini datang melalui Kutukan-kutukan dan Berkah-berkah atas bangsa Israel. Anda dapat membaca Berkah-berkah dan Kutukan-kutukan lengkap di sini. Poin-poin utamanya ada di bawah ini.

Berkah-berkah Musa

Nabi Musa (AS) memulai dengan menggambarkan berkah-berkah luar biasa yang akan diterima orang Israel jika mereka mematuhi Perintah-perintah. Berkah-berkah ini akan ada di hadapan bangsa-bangsa lain sehingga mereka akan mengakui berkah-Nya. Seperti yang tertulis di

Maka semua bangsa di bumi akan melihat bahwa kamu bangsa pilihan TUHAN, dan mereka akan menyegani kamu. (Ulangan 28:10)

Namun, jika mereka gagal mematuhi Perintah-perintah maka mereka akan menerima Kutukan-kutukan yang merupakan kebalikan dari Berkah-berkah. Kutukan-kutukan akan mencocokkan dan mencerminkan Berkah-berkah. Kutukan-kutukan ini juga akan dilihat oleh negara-negara sekitarnya

Di negeri-negeri tempat kamu diceraiberaikan TUHAN, orang-orang akan ngeri melihat kamu; kamu akan diolok-olok dan ditertawakan mereka. (Ulangan 28:37)

Dan Kutukan-kutukan itu untuk kaum Israel sendiri

Bencana-bencana itu merupakan bukti dari hukuman TUHAN atas kamu dan keturunanmu untuk selama-lamanya. (Ulangan 28:46)

Dan Allah memperingatkan bahwa bagian terburuk dari Kutukan-kutukan akan datang dari orang lain.

49 Suatu bangsa yang tidak kamu mengerti bahasanya akan didatangkan TUHAN dari ujung bumi untuk melawan kamu. Seperti burung rajawali mereka akan menyambar kamu. 50 Mereka kejam dan tidak menaruh kasihan kepada orang tua-tua maupun anak-anak. 51 Mereka akan menghabiskan ternak dan hasil tanahmu… 52 Mereka akan menyerang setiap kota di negeri yang diberikan TUHAN Allahmu kepadamu sehingga tembok-temboknya yang tinggi dan diperkuat yang kamu andalkan itu runtuh. (Ulangan 28:49-52)

Dan itu akan berubah dari buruk menjadi lebih buruk

Kamu akan dicabut dari negeri yang tak lama lagi kamu duduki. TUHAN akan menceraiberaikan kamu di antara bangsa-bangsa di seluruh muka bumi. Di antara bangsa-bangsa itu kamu tak akan menemukan ketentraman, dan tak ada tempat yang dapat kamu sebut milikmu; TUHAN akan membuat kamu sangat cemas dan putus asa tanpa harapan. (Ulangan 28:63-65)

Berkah-berkah dan Kutukan-kutukan ini dikukuhkan oleh sebuah perjanjian (sebuah akad).

… TUHAN hari ini mengukuhkan kamu menjadi bangsa-Nya, dan Ia menjadi Allahmu seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu dan kepada nenek moyangmu Abraham, Ishak dan Yakub. Perjanjian itu dengan segala kewajibannya … dengan setiap orang yang pada hari ini berdiri di sini… dan juga dengan keturunan kita di masa depan.” (Ulangan 29:13-15)

Dengan kata lain perjanjian ini akan mengikat anak-anak, atau generasi mendatang. Sebenarnya perjanjian ini diarahkan untuk generasi masa depan – baik Israel maupun bangsa asing

22 Di kemudian hari, keturunanmu dan orang asing dari negeri jauh akan melihat bencana-bencana dan penderitaan yang didatangkan TUHAN atas negerimu… Tanahnya tak dapat ditanami dan rumput tak mau tumbuh di situ. Maka seluruh dunia akan bertanya, ‘Mengapa TUHAN berbuat begitu dengan negeri mereka? Apa sebab Ia marah sehebat itu?’  

25 Dan jawabnya ialah, ‘Karena mereka mengingkari perjanjian TUHAN, Allah nenek moyang mereka; perjanjian yang dibuat-Nya dengan mereka pada waktu Ia membawa mereka keluar dari Mesir… 27 Itulah sebabnya TUHAN marah kepada umat-Nya dan mendatangkan atas negeri mereka semua bencana yang tertulis di dalam buku ini. (Ulangan 29:22-27)

Apakah Berkah-berkah dan Kutukan-kutukan Musa terjadi?

Berkah-berkah yang dijanjikan itu luar biasa, tetapi Kutukan-kutukan yang diancamkan sangat berat. Namun, pertanyaan paling penting yang dapat kita tanyakan adalah: ‘Apakah semua ini terjadi?’ Dalam menjawab ini kita akan melihat apakah Musa (AS) adalah seorang nabi sejati dan kita akan mendapatkan petunjuk untuk kehidupan kita hari ini.

Jawabannya ada di tangan kita. Banyak Perjanjian Lama Al Kitab merupakan catatan sejarah orang Israel dan dari situ kita dapat melihat apa yang terjadi. Kita juga memiliki catatan di luar Perjanjian Lama, dari sejarawan Yahudi seperti Josephus , sejarawan Graeco- Romawi seperti Tacitus dan kita telah menemukan banyak monumen arkeologis. Semua sumber ini menyetujui dan melukiskan gambaran yang konsisten tentang sejarah bangsa Israel. Ini adalah Tanda lain bagi kita. Berikut ini adalah ikhtisar tentang sejarah orang Israel yang digambarkan dengan Garis Waktu untuk membantu kita melihat dengan lebih baik apa yang terjadi dalam sejarah mereka.

Apa yang kita lihat dari sejarah ini? Memang Kutukan-kutukan Musa benar-benar mengerikan karena BENAR-BENAR terjadi – dan persis seperti yang ditulisnya ribuan tahun yang lalu – sebelum semuanya terjadi (Ingat prediksi ini tidak ditulis setelah terjadi tetapi sebelumnya).

Tetapi Kutukan Musa tidak berakhir di sana. Itu berlanjut. Inilah bagaimana Musa (AS) menyimpulkan kutukan-kutukan ini.

1 … Kalau kamu sudah mengalami semua penderitaan itu dan hidup di antara bangsa-bangsa asing tempat kamu diceraiberaikan TUHAN Allahmu, kamu akan teringat kepada pilihan yang saya berikan kepadamu. 2 Kalau kamu dan keturunanmu mau kembali kepada TUHAN Allahmu, dan dengan sepenuh hati mentaati perintah-perintah-Nya yang saya berikan kepadamu hari ini, 3 maka TUHAN Allahmu akan mengasihani kamu. Kamu akan dibawa-Nya kembali dari bangsa-bangsa di mana kamu diceraiberaikan, dan dijadikan makmur kembali. 4 Sekalipun kamu terpencar ke mana-mana di seluruh bumi, TUHAN Allahmu akan mengumpulkan kamu dan membawa kamu kembali. 5 Maka kamu dapat memiliki lagi tanah yang dahulu didiami nenek moyangmu. …Dan jumlahmu jauh lebih besar daripada leluhurmu.  (Ulangan 30:1-5)

Pertanyaan yang jelas untuk  dipertanyakan (lagi) adalah: Apakah itu terjadi? Klik disini   untuk melihat kelanjutan sejarah mereka.

Penutup Taurat – Diantisipasi oleh Zabur

Dengan Berkah-berkah dan Kutukan-kutukan ini, Taurat disimpulkan. Nabi Musa (AS) meninggal tak lama setelah itu selesai. Kemudian orang Israel, di bawah penerus Musa – Yosua – memasuki Tanah. Sebagaimana dijelaskan dalam Sejarah Israel, mereka tinggal di sana tanpa Raja dan tanpa ibu kota sampai Raja Dawud (atau Nabi Daud) yang berkuasa naik ke tampuk kekuasaan. Dia memulai bagian baru dari Perjanjian Lama yang ditegaskan Al-Qur’an sebagai Zabur . Kita perlu memahami Zabur karena itu melanjutkan Tanda-tanda yang dimulai dalam Taurat – yang akan membantu kita memahami Injil. Selanjutnya kita melihat bagaimana Alquran dan Isa al Masih berbicara tentang Dawud ( AS ) dan Zabur.

Tanda Taurat tentang Sang Nabi

Nabi Musa (AS) dan Harun (AS) sudah memimpin bani Israil selama 40 tahun. Mereka telah menuliskan 10 Perintah Allah dan menegakkan aturan-aturan tentang mempersembahkan kurban, serta menunjukkan banyak Tanda dalam Taurat. Tidak lama lagi, kedua nabi ini akan meninggal. Mari kita tinjau kembali pola dari Taurat sebelum kita menyelesaikannya.

Meninjau Kembali Pola dalam Taurat

Jadi, seperti apa pola Tanda-Tanda dalam Taurat?

Kurban dalam Taurat

Perhatikan betapa penting dan seringnya kurban dipersembahkan. Perhatikan hal-hal yang sudah kita pelajari berikut ini:

Kurban yang dipakai untuk semua persembahan ini adalah hewan yang halal, baik itu domba, kambing, maupun lembu. Semua hewan kurban itu juga jantan, kecuali lembu betina muda.

Persembahan kurban ini menebus orang yang mempersembahkannya. Ini artinya, persembahan kurban ini menutupi rasa bersalah dan rasa malu orang yang bersangkutan. Pola ini dimulai saat Adam menerima Rahmat Allah dalam bentuk pakaian yang terbuat dari kulit hewan. Kulit ini mensyaratkan kematian hewan untuk menutupi ketelanjangan Adam. Pertanyaan pentingnya adalah: Mengapa kita tidak lagi mempersembahkan kurban? Kita akan menemukan jawabannya sebentar lagi.

Kebenaran dalam Taurat

Kata ‘kebenaran’ muncul berulang kali. Kita melihatnya pertama kali ketika Allah berfirman kepada Adam bahwa ‘jubah kebenaran adalah yang terbaik’. Kita melihat bahwa Ibrahim ‘diperhitungkan’ benar waktu dia memilih percaya pada janji akan hadirnya seorang anak laki-laki. Bani Israil bisa memperoleh kebenaran jika mereka dapat menaati 10 Perintah Allah ‒tetapi mereka harus menaati Perintah ini sepenuhnya‒sepanjang waktu

Penghakiman dalam Taurat

Kita juga melihat bahwa kegagalan untuk menaati perintah Allah mendatangkan Penghakiman-Nya. Hal ini mulai dengan Adam, yang hanya sekali tidak taat lalu menerima penghakiman dari Allah. Penghakiman selalu mengakibatkan kematian. Kematian itu dialami baik oleh orang yang dihakimi maupun oleh hewan yang dikurbankan. Coba pikirkan hal-hal berikut ini:

  • Dengan Adam, hewan yang dikurbankan untuk diambil kulitnya menjadi pakaian, mati.
  • Dengan Habil, kurban hewannya yang diterima oleh Allah, mati.
  • Dengan Nuh, orang-orang mati dilanda air bah, dan bahkan Nuh‒setelah air bah surut‒membunuh hewan untuk dia persembahkan sebagai kurban.
  • Dengan Lut, penduduk Sodom dan Gomora mati dalam Penghakiman, demikian juga istri Lut.
  • Dengan pengorbanan anak laki-laki Ibrahim, anak tersebut seharusnya mati sebagai kurban, tetapi domba jantan mati menggantikannya.
  • Dengan Paskah, anak laki-laki sulung (untuk Firaun dan orang yang tidak percaya) yang mati, atau domba yang darahnya dibubuhkan di ambang pintu, yang mati.
  • Dengan Perintah-perintah Hukum Taurat, orang yang bersalah mati atau seekor kambing mati pada Hari Raya Pendamaian.

Apa artinya semua ini? Kita akan melihatnya nanti. Namun sekarang, Musa (AS) dan Harun (AS) akan menutup Taurat. Mereka menutupnya dengan dua pesan penting, langsung dari Allah, keduanya mengarah ke masa depan dan penting bagi kita saat ini, yaitu kedatangan Nabi, serta kedatangan Kutuk & Berkat. Kita sedang menelaah Sang Nabi di sini.

Nabi yang Akan Datang

Pada waktu Allah memberikan Loh Batu di Gunung Sinai, Dia menunjukkan kekuatan-Nya yang mahadahsyat. Taurat menggambarkan suasana di tempat itu sesaat sebelum Loh Batu diberikan.

Pada hari yang ketiga, diwaktu pagi, ada guruh dan petir. Awan yang tebal muncul di atas gunung dan terdengarlah bunyi trompet yang sangat keras. Semua orang di perkemahan gemetar ketakutan… Seluruh Gunung Sinai ditutupi asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api. Asap itu mengepul seperti asap dari tempat pembakaran, dan seluruh gunung goncang dengan sangat. (Keluaran 19:16-18)

Bani Israil gemetar ketakutan. Taurat menggambarkannya sebagai berikut:

Ketika orang-orang mendengar guruh dan bunyi trompet, serta melihat kilat dan gunung yang berasap, mereka gemetar ketakutan dan berdiri jauh-jauh. Kata mereka kepada Musa, “Engkau saja berbicara kepada kami, kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara kepada kami, nanti kami mati.” (Keluaran 20:18-19)

Peristiwa itu terjadi pada permulaan 40 tahun Musa (AS) memimpin bangsa ini. Pada akhir masa tersebut, Allah berbicara kepada Nabi Musa (AS) tentang situasi tersebut, mengingatkan Bani Israil akan kegentaran mereka waktu itu, dan memberikan janji tentang masa depan. Musa (AS) mencatatnya dalam Taurat:

15 Sebaliknya dari bangsa kita sendiri Ia akan mengutus kepadamu seorang nabi seperti saya ini, dan kamu harus taat kepadanya. 16 Pada hari kamu berkumpul di Gunung Sinai, kamu mohon supaya kamu jangan lagi mendengar TUHAN Allahmu berbicara dan jangan lagi melihat kehadiran-Nya dalam api yang bernyala-nyala, sebab kamu takut mati.

17 Karena itu TUHAN berkata kepada saya, ‘Permintaan mereka itu bijaksana. 18 Dari bangsa mereka sendiri Aku akan mengutus kepada mereka seorang nabi seperti engkau. Aku akan mengatakan kepadanya apa yang harus dikatakannya, lalu ia akan menyampaikan kepada bangsa itu segala yang Kuperintahkan.

19 Ia akan berbicara atas nama-Ku, dan Aku akan menghukum siapa saja yang tidak mau mendengarkan dia. 20 Tetapi kalau seorang nabi berani menyampaikan suatu pesan atas nama-Ku padahal Aku tidak menyuruh dia berbuat begitu, ia harus mati; begitu juga setiap nabi yang berbicara atas nama ilah-ilah lain harus mati.’

21 Mungkin kamu bertanya dalam hati, ‘Bagaimana kami tahu apakah pesan seorang nabi itu berasal dari TUHAN atau tidak?’ 22 Kalau seorang nabi berbicara atas nama TUHAN, tetapi apa yang dikatakannya itu tidak terjadi, maka ramalan itu bukan dari TUHAN. Nabi itu berbicara atas namanya sendiri dan kamu tak usah takut kepadanya.” (Ulangan 18:15-22)

Allah menginginkan orang-orang itu memunyai rasa hormat yang sehat kepada-Nya, sehingga ketika Dia menyampaikan Perintah Allah pada Loh Batu, Dia melakukannya dengan cara yang membangkitkan rasa takut yang besar dalam hati orang-orang itu. Namun kini, Dia memandang ke depan dan menjanjikan bahwa waktunya akan tiba ketika seorang nabi seperti Musa (AS) akan bangkit dari antara bani Israil. Lalu dua panduan diberikan: 

  1. Allah sendiri akan meminta pertanggungjawaban dari orang-orang itu jika mereka tidak memperhatikan Nabi yang akan datang.
  2. Cara untuk menguji apakah Allah telah berbicara melalui seorang nabi adalah dengan melihat apakah pesan yang dia sampaikan mampu menubuatkan masa depan dan apakah nubuatan itu benar-benar terjadi.

Panduan pertama tidak berarti bahwa hanya akan ada satu nabi lagi setelah Musa (AS), melainkan akan datang dia yang secara khusus harus kita dengarkan karena dia memunyai peran yang istimewa berkaitan dengan pesannya‒yang adalah ‘Firman-Ku’. Karena hanya Allah sendiri mengetahui masa depan‒pasti tidak ada seorang manusia pun yang tahu, panduan yang kedua adalah cara agar orang-orang tahu apakah pesan tersebut benar-benar berasal dari Allah atau tidak. Kita lihat kemudian bagaimana Musa (AS) menggunakan panduan kedua ini untuk melihat masa depan bani Israil dalam Berkat dan Kutuk Bani Israil‒yang menutup Taurat.

Namun, bagaimana dengan ‘Nabi yang akan datang’ ini? Siapakah dia? Beberapa ulama berpendapat bahwa frasa ini mengacu pada Nabi Muhammad (SAW). Namun, perhatikan bahwa nubuatan ini menyatakan bahwa nabi ini akan “muncul dari bani Israil”‒yang berarti bahwa nabi ini adalah orang Yahudi. Jadi, pasti nubuatan ini tidak mengacu pada Nabi Muhammad (SAW). Ulama-ulama yang lain sudah bertanya-tanya kalau nubuatan ini mengacu pada Nabi Isa Almasih (AS). Dia adalah seorang Yahudi dan Dia juga mengajar dengan penuh kuasa‒sebagaimana jika perkataan Allah ada ‘dalam mulut-Nya’. Kedatangan Isa Almasih (AS) telah dilihat jauh sebelumnya yaitu dalam Kurban Persembahan Ibrahim, dalam Paskah, dan juga dalam nubuatan ‘sang nabi’ dengan Firman Allah dalam mulut-Nya.