Memperkenalkan Zabur

Keberadaan Dawood atau Dawud (atau Daud, AS) sangat penting di antara para nabi. Nabi Ibrahim (AS) memulai cara hidup yang baru (di mana Allah menjalin hubungan dengan manusia)  dengan janji bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar ‒ dan kemudian memberikan kurban yang agung. Nabi Musa (AS) membebaskan bani Israil dari perbudakan‒ melalui kurban Paskah ‒ dan kemudian memberi mereka Hukum Taurat sehingga mereka bisa menjadi sebuah bangsa. Akan tetapi ada yang kurang, yaitu seorang Raja yang akan memerintah sedemikian rupa sehingga mereka bisa menerima berkah, alih-alih kutuk dari Allah. Dawud (AS)-lah raja dan nabi itu. Dia memulai cara hidup baru yang berbeda‒yaitu: Raja-raja mulai memerintah dari Yerusalem.

Siapakah Raja Dawud (Daud-AS)?

Anda dapat melihat dari kerangka Sejarah bani Israil, bahwa Dawud (AS) hidup sekitar tahun 1000 SM, seribu tahun setelah Ibrahim (AS) dan 500 tahun setelah Musa (AS). Dawud (AS) mengawali karirnya sebagai gembala yang menggembalakan domba keluarganya. Raksasa dan musuh besar bani Israil‒Goliat‒memimpin pasukan untuk menaklukkan mereka. Bani Israil merasa kecil hati dan kalah sebelum bertanding. Namun, Dawud (AS) menantang Goliat dan membunuhnya dalam pertarungan. Pertarungan itu begitu luar biasa karena seorang penggembala domba yang masih muda bisa membunuh seorang tentara raksasa, Dawud (AS) pun menjadi terkenal. Sejak saat itu, bani Israil terus mengalahkan musuh-musuh mereka dalam pertempuran. Alquran mengisahkan pertarungan antara Dawud (AS) dan Goliat ini dalam ayat berikut

Berkat izin Allah, mereka berhasil mengalahkan musuh. Dan Dâwûd, salah seorang tentara Thâlût, berhasil membunuh Jâlût, pemimpin pasukan mereka. Allah telah memberikan Dâwûd kekuasaan, kenabian dan ilmu yang bermanfaat, serta mengajarkan apa saja kepadanya… Jika saja Allah tidak memenangkan tentara-Nya untuk mencegah perusakan, dan tidak mengalahkan orang-orang jahat dengan mengadu sesama mereka, niscaya bumi ini tidak akan terpelihara. Akan tetapi Allah selalu memberikan kebaikan dan karunia kepada hamba-hamba-Nya. (Surah 2:251)

Ketenaran Dawud sebagai kesatria menanjak setelah pertempuran ini. Namun demikian, dia baru menjadi Raja bertahun-tahun kemudian, sesudah berbagai pengalaman yang sulit yang dilewatinya. karena dia memiliki banyak musuh yang menentangnya, baik di luar maupun di antara bani Israil sendiri. Kitab 1 dan 2 Samuel dalam Alkitab menceritakan kembali pergumulan-pergumulan dan kemenangan-kemenangan Dawud (AS). Samuel (AS) adalah nabi yang mengurapi Dawud (AS) sebagai Raja.

Dawud juga tenar sebagai pemusik yang mengarang lagu-lagu dan puisi-puisi yang indah bagi Allah. Hal ini disebutkan dalam Alquran, dalam ayat berikut

Bersabarlah… atas apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrik kepadamu. Ingatlah hamba Kami, Dâwûd, yang memiliki kekuatan agama… dia selalu kembali kepada Allah dalam setiap keadaan.

Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung agar manfaat yang terkandung di dalamnya dapat dieksploitasi oleh Dâwûd, dan agar gunung-gunung itu bertasbih bersama Dâwûd… Seluruh burung dan gunung itu tunduk pada kemauan Dâwûd. Kami pun menguatkan kerajaannya… ia Kami berikan kenabian dan kemampuan membedakan antara yang benar dan batil. (Surah 38:17-20)

Ayat-ayat ini menegaskan keperkasaan Dawud (AS) sebagai kesatria, di samping “Pujian” yang seindah nyanyian burung-burung bagi Sang Pencipta mereka. Lagi pula sebagai Raja, Dawud (AS) “dianugerahi” hikmat oleh Allah sendiri dalam “perkataan-perkataannya”. Lagu-lagu dan puisi-puisinya, dicatat dan dibukukan menjadi jilid pertama Zabur‒yang dikenal sebagai Mazmur. Oleh karena hikmat perkataan yang dianugerahkan Allah kepadanya, catatan-catatan Dawud (AS) ini juga Suci dan diilhamkan oleh Allah sendiri, seperti halnya Taurat. Alquran menjelaskannya sebagai berikut

Tuhanmu lebih tahu tentang siapa dan bagaimana keadaan yang ada di langit dan di bumi.  Allah mengutamakan sebagian nabi dari yang lainnya… Sedangkan Dâwûd, keutamaannya adalah bahwa ia diberi Zabûr… (Surah 17:55)

Sulaiman-melanjutkan Zabur

Namun, tulisan-tulisan yang diilhamkan oleh Allah ini tidak berakhir saat Dawud (AS) meninggal sebagai Raja pada usia lanjut. Putra dan pewaris tahtanya, yaitu Sulaiman (atau Salomo, AS), juga diilhami Allah dengan hikmat. Alquran menggambarkannya sebagai berikut

Kami mengaruniakan Sulaimân kepada Dâwûd. Sulaimân adalah orang yang patut dipuji dan dijuluki “hamba terbaik”. Sebab ia memang selalu kembali kepada Allah dalam segala permasalahan. (Surah 38:30)

Dan

Sampaikanlah… kisah Dâwûd dan Sulaymân. Suatu ketika, mereka berselisih dalam menyelesaikan masalah tanaman yang dimakan oleh sekawanan kambing orang lain di waktu malam. Kami Maha Mengetahui keputusan yang mereka berdua ambil dalam masalah itu.

Lalu Kami memahamkan kepada Sulaymân bagaimana seharusnya berfatwa. Dan keduanya Kami beri ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan tentang segala hal ihwal kehidupan. Kami menundukkan bersama Dâwûd gunung dan burung untuk menyucikan Allah dari segala sesuatu yang tidak pantas untuk-Nya. Semua itu Kami lakukan dengan kekuasaan Kami yang tidak terkalahkan. (Surah 21:78-79)

Kami telah mengajarkan kepada mereka ilmu yang luas menyangkut pengetahuan agama dan pengetahuan tentang hukum. Mereka berdua menegakkan keadilan, memuji Allah yang telah memberikan karunia kepada mereka sebagai kelebihan mereka atas hamba-hamba lain yang jujur dan tunduk pada kebenaran. (Surah 27:15)

Jadi, Sulaiman (AS) melanjutkan dengan menambahkan kitab-kitab hikmat yang diilhamkan oleh Allah ke dalam Zabur. Kitab-kitab tersebut adalah Pepatah, Pengajar, dan Syair Sulaiman.

Zabur berlanjut dengan nabi-nabi berikutnya

Namun, sepeninggal Sulaiman (AS), Raja-raja yang menggantikannya tidak menaati Taurat dan tidak seorang pun dari raja-raja ini yang diberi pesan yang diilhamkan Allah. Dari semua Raja Israil, hanya Dawud (AS) dan Sulaiman (AS) yang tulisan-tulisannya yang diilhamkan Allah ‒ mereka adalah nabi sekaligus raja. Namun kepada raja-raja setelah Sulaiman, Allah mengutus para nabi untuk menyampaikan peringatan-peringatan kepada mereka. Yunus, nabi yang ditelan ikan besar adalah salah satu nabi ini (Surah 37: 139-144). Hal ini berlanjut selama kira-kira 300 tahun ‒ dengan banyak nabi diutus. Peringatan, tulisan, dan nubuatan para nabi ini juga ditambahkan ke dalam Kitab Zabur yang diilhamkan Allah. Sebagaimana dijelaskan di sini, akhirnya bani Israil  ditaklukkan dan dibuang oleh bangsa Babilonia ke negaranya, lalu dikembalikan ke Yerusalem di bawah pemerintahan Sirus, pendiri Kekaisaran Persia. Sepanjang waktu itu, nabi-nabi terus diutus menyampaikan pesan‒dan pesan-pesan ini ditulis dalam bagian terakhir Kitab Zabur.

Zabur – menantikan datangnya Masih

Nabi-nabi ini penting bagi kita karena di tengah peringatan-peringatan yang mereka sampaikan, mereka juga meletakkan dasar untuk Injil. Sebenarnya, gelar ‘Masih’ diperkenalkan oleh Dawud (AS) pada bagian awal Mazmur (bagian Zabur, yang ditulis olehnya) dan nabi-nabi berikutnya menubuatkan dengan lebih rinci tentang Masih yang akan datang. Hal ini khususnya sangat penting mengingat kegagalan para Raja berikutnya dalam menaati Taurat dan kegagalan bani Israil  untuk mematuhi Perintah Allah. Janji, harapan, dan kerinduan akan datangnya Masih dinubuatkan dalam konteks kegagalan bani Israil waktu itu. Sebagai nabi, mereka melihat masa yang akan datang, sebagaimana yang telah disyaratkan Musa (AS) dalam Taurat. Nubuatan-nubuatan ini pun berbicara kepada kita pada zaman modern ini, yang juga gagal menjalani hidup sebagaimana seharusnya. Masih telah menjadi sumber pengharapan di tengah kegagalan.

Bagaimana Isa Almasih (AS) memandang dan menggunakan Zabur

Kenyataannya, nabi Isa Almasih sendiri menggunakan Zabur untuk membantu murid-murid serta para pengikutnya untuk memahami Injil dan peran Masih. Dinyatakan tentang Isa bahwa

Kemudian Yesus menerangkan kepada mereka apa yang tertulis di dalam seluruh Alkitab mengenai diri-Nya, mulai dari buku-buku Musa dan buku para nabi. (Lukas 24:27)

Frasa ‘dan semua Nabi’ mengacu pada nabi-nabi dari Zabur yang mengikuti Taurat Musa (AS). Isa Almasih (AS) menginginkan murid-murid-Nya memahami bagaimana Zabur mengajarkan dan menubuatkan dia. Isa Almasih (AS) lalu lanjut mengajar mereka dengan

Setelah itu Ia berkata kepada mereka, “Inilah hal-hal yang sudah Kuberitahukan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kalian: bahwa setiap hal yang tertulis mengenai Aku di dalam Buku-buku Musa, Para Nabi, dan Mazmur, harus terjadi.” Kemudian Yesus membuka pikiran mereka untuk mengerti maksud Alkitab. (Lukas 24:44-45)

Nabi-nabi dan Mazmur’ dalam ayat-ayat di atas berarti jilid pertama Zabur yang ditulis oleh Dawud (Mazmur) dan kitab-kitab selanjutnya yang disertakan (Nabi-Nabi). Isa Almasih (AS) perlu “membuka pikiran mereka” dan hanya dengan demikian mereka mampu “memahami tulisan” (yaitu kitab-kitab yang diilhamkan oleh Allah, Taurat dan Zabur). Tujuan kami dalam seri artikel berikutnya adalah untuk mengikuti apa yang ditunjukkan oleh Isa Almasih (AS) dari kitab-kitab ini, sehingga pikiran kita juga bisa terbuka dan memahami Injil.

Dawud (AS) dan Nabi-Nabi Zabur dalam Kerangka Sejarah

Gambar di bawah ini merangkum sebagian besar (tetapi tidak seluruhnya karena tidak ada tempat untuk itu) nabi ini. Panjang batang di bawah nama nabi menunjukkan masa hidup tiap-tiap nabi. Sedangkan kode warna menunjukkan status bani Israil, sebagaimana kalau kita mengikuti sejarah mereka dari Berkah dan Kutuk Musa.

Kerangka Sejarah Nabi Dawud (AS) dan Nabi-Nabi Kitab Zabur

Taurat Tutup dengan Berkah-berkah & Kutukan-kutukan

Dalam posting terakhir kami, kita lihat ketetapan  yang Allah berikan sehingga kita bisa mengenali nabi sejati – bahwa mereka meramalkan masa depan sebagai bagian dari pesan mereka.   Nabi Musa (AS) sendiri menerapkan aturan ini – membuat prediksi tentang masa depan bangsa Israel – yang akan menjadi kenyataan jika pesannya berasal dari Allah. Prediksi-prediksi ini datang melalui Kutukan-kutukan dan Berkah-berkah atas bangsa Israel. Anda dapat membaca Berkah-berkah dan Kutukan-kutukan lengkap di sini. Poin-poin utamanya ada di bawah ini.

Berkah-berkah Musa

Nabi Musa (AS) memulai dengan menggambarkan berkah-berkah luar biasa yang akan diterima orang Israel jika mereka mematuhi Perintah-perintah. Berkah-berkah ini akan ada di hadapan bangsa-bangsa lain sehingga mereka akan mengakui berkah-Nya. Seperti yang tertulis di

Maka semua bangsa di bumi akan melihat bahwa kamu bangsa pilihan TUHAN, dan mereka akan menyegani kamu. (Ulangan 28:10)

Namun, jika mereka gagal mematuhi Perintah-perintah maka mereka akan menerima Kutukan-kutukan yang merupakan kebalikan dari Berkah-berkah. Kutukan-kutukan akan mencocokkan dan mencerminkan Berkah-berkah. Kutukan-kutukan ini juga akan dilihat oleh negara-negara sekitarnya

Di negeri-negeri tempat kamu diceraiberaikan TUHAN, orang-orang akan ngeri melihat kamu; kamu akan diolok-olok dan ditertawakan mereka. (Ulangan 28:37)

Dan Kutukan-kutukan itu untuk kaum Israel sendiri

Bencana-bencana itu merupakan bukti dari hukuman TUHAN atas kamu dan keturunanmu untuk selama-lamanya. (Ulangan 28:46)

Dan Allah memperingatkan bahwa bagian terburuk dari Kutukan-kutukan akan datang dari orang lain.

49 Suatu bangsa yang tidak kamu mengerti bahasanya akan didatangkan TUHAN dari ujung bumi untuk melawan kamu. Seperti burung rajawali mereka akan menyambar kamu. 50 Mereka kejam dan tidak menaruh kasihan kepada orang tua-tua maupun anak-anak. 51 Mereka akan menghabiskan ternak dan hasil tanahmu… 52 Mereka akan menyerang setiap kota di negeri yang diberikan TUHAN Allahmu kepadamu sehingga tembok-temboknya yang tinggi dan diperkuat yang kamu andalkan itu runtuh. (Ulangan 28:49-52)

Dan itu akan berubah dari buruk menjadi lebih buruk

Kamu akan dicabut dari negeri yang tak lama lagi kamu duduki. TUHAN akan menceraiberaikan kamu di antara bangsa-bangsa di seluruh muka bumi. Di antara bangsa-bangsa itu kamu tak akan menemukan ketentraman, dan tak ada tempat yang dapat kamu sebut milikmu; TUHAN akan membuat kamu sangat cemas dan putus asa tanpa harapan. (Ulangan 28:63-65)

Berkah-berkah dan Kutukan-kutukan ini dikukuhkan oleh sebuah perjanjian (sebuah akad).

… TUHAN hari ini mengukuhkan kamu menjadi bangsa-Nya, dan Ia menjadi Allahmu seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu dan kepada nenek moyangmu Abraham, Ishak dan Yakub. Perjanjian itu dengan segala kewajibannya … dengan setiap orang yang pada hari ini berdiri di sini… dan juga dengan keturunan kita di masa depan.” (Ulangan 29:13-15)

Dengan kata lain perjanjian ini akan mengikat anak-anak, atau generasi mendatang. Sebenarnya perjanjian ini diarahkan untuk generasi masa depan – baik Israel maupun bangsa asing

22 Di kemudian hari, keturunanmu dan orang asing dari negeri jauh akan melihat bencana-bencana dan penderitaan yang didatangkan TUHAN atas negerimu… Tanahnya tak dapat ditanami dan rumput tak mau tumbuh di situ. Maka seluruh dunia akan bertanya, ‘Mengapa TUHAN berbuat begitu dengan negeri mereka? Apa sebab Ia marah sehebat itu?’  

25 Dan jawabnya ialah, ‘Karena mereka mengingkari perjanjian TUHAN, Allah nenek moyang mereka; perjanjian yang dibuat-Nya dengan mereka pada waktu Ia membawa mereka keluar dari Mesir… 27 Itulah sebabnya TUHAN marah kepada umat-Nya dan mendatangkan atas negeri mereka semua bencana yang tertulis di dalam buku ini. (Ulangan 29:22-27)

Apakah Berkah-berkah dan Kutukan-kutukan Musa terjadi?

Berkah-berkah yang dijanjikan itu luar biasa, tetapi Kutukan-kutukan yang diancamkan sangat berat. Namun, pertanyaan paling penting yang dapat kita tanyakan adalah: ‘Apakah semua ini terjadi?’ Dalam menjawab ini kita akan melihat apakah Musa (AS) adalah seorang nabi sejati dan kita akan mendapatkan petunjuk untuk kehidupan kita hari ini.

Jawabannya ada di tangan kita. Banyak Perjanjian Lama Al Kitab merupakan catatan sejarah orang Israel dan dari situ kita dapat melihat apa yang terjadi. Kita juga memiliki catatan di luar Perjanjian Lama, dari sejarawan Yahudi seperti Josephus , sejarawan Graeco- Romawi seperti Tacitus dan kita telah menemukan banyak monumen arkeologis. Semua sumber ini menyetujui dan melukiskan gambaran yang konsisten tentang sejarah bangsa Israel. Ini adalah Tanda lain bagi kita. Berikut ini adalah ikhtisar tentang sejarah orang Israel yang digambarkan dengan Garis Waktu untuk membantu kita melihat dengan lebih baik apa yang terjadi dalam sejarah mereka.

Apa yang kita lihat dari sejarah ini? Memang Kutukan-kutukan Musa benar-benar mengerikan karena BENAR-BENAR terjadi – dan persis seperti yang ditulisnya ribuan tahun yang lalu – sebelum semuanya terjadi (Ingat prediksi ini tidak ditulis setelah terjadi tetapi sebelumnya).

Tetapi Kutukan Musa tidak berakhir di sana. Itu berlanjut. Inilah bagaimana Musa (AS) menyimpulkan kutukan-kutukan ini.

1 … Kalau kamu sudah mengalami semua penderitaan itu dan hidup di antara bangsa-bangsa asing tempat kamu diceraiberaikan TUHAN Allahmu, kamu akan teringat kepada pilihan yang saya berikan kepadamu. 2 Kalau kamu dan keturunanmu mau kembali kepada TUHAN Allahmu, dan dengan sepenuh hati mentaati perintah-perintah-Nya yang saya berikan kepadamu hari ini, 3 maka TUHAN Allahmu akan mengasihani kamu. Kamu akan dibawa-Nya kembali dari bangsa-bangsa di mana kamu diceraiberaikan, dan dijadikan makmur kembali. 4 Sekalipun kamu terpencar ke mana-mana di seluruh bumi, TUHAN Allahmu akan mengumpulkan kamu dan membawa kamu kembali. 5 Maka kamu dapat memiliki lagi tanah yang dahulu didiami nenek moyangmu. …Dan jumlahmu jauh lebih besar daripada leluhurmu.  (Ulangan 30:1-5)

Pertanyaan yang jelas untuk  dipertanyakan (lagi) adalah: Apakah itu terjadi? Klik disini   untuk melihat kelanjutan sejarah mereka.

Penutup Taurat – Diantisipasi oleh Zabur

Dengan Berkah-berkah dan Kutukan-kutukan ini, Taurat disimpulkan. Nabi Musa (AS) meninggal tak lama setelah itu selesai. Kemudian orang Israel, di bawah penerus Musa – Yosua – memasuki Tanah. Sebagaimana dijelaskan dalam Sejarah Israel, mereka tinggal di sana tanpa Raja dan tanpa ibu kota sampai Raja Dawud (atau Nabi Daud) yang berkuasa naik ke tampuk kekuasaan. Dia memulai bagian baru dari Perjanjian Lama yang ditegaskan Al-Qur’an sebagai Zabur . Kita perlu memahami Zabur karena itu melanjutkan Tanda-tanda yang dimulai dalam Taurat – yang akan membantu kita memahami Injil. Selanjutnya kita melihat bagaimana Alquran dan Isa al Masih berbicara tentang Dawud ( AS ) dan Zabur.

Tanda Taurat tentang Sang Nabi

Nabi Musa (AS) dan Harun (AS) sudah memimpin bani Israil selama 40 tahun. Mereka telah menuliskan 10 Perintah Allah dan menegakkan aturan-aturan tentang mempersembahkan kurban, serta menunjukkan banyak Tanda dalam Taurat. Tidak lama lagi, kedua nabi ini akan meninggal. Mari kita tinjau kembali pola dari Taurat sebelum kita menyelesaikannya.

Meninjau Kembali Pola dalam Taurat

Jadi, seperti apa pola Tanda-Tanda dalam Taurat?

Kurban dalam Taurat

Perhatikan betapa penting dan seringnya kurban dipersembahkan. Perhatikan hal-hal yang sudah kita pelajari berikut ini:

Kurban yang dipakai untuk semua persembahan ini adalah hewan yang halal, baik itu domba, kambing, maupun lembu. Semua hewan kurban itu juga jantan, kecuali lembu betina muda.

Persembahan kurban ini menebus orang yang mempersembahkannya. Ini artinya, persembahan kurban ini menutupi rasa bersalah dan rasa malu orang yang bersangkutan. Pola ini dimulai saat Adam menerima Rahmat Allah dalam bentuk pakaian yang terbuat dari kulit hewan. Kulit ini mensyaratkan kematian hewan untuk menutupi ketelanjangan Adam. Pertanyaan pentingnya adalah: Mengapa kita tidak lagi mempersembahkan kurban? Kita akan menemukan jawabannya sebentar lagi.

Kebenaran dalam Taurat

Kata ‘kebenaran’ muncul berulang kali. Kita melihatnya pertama kali ketika Allah berfirman kepada Adam bahwa ‘jubah kebenaran adalah yang terbaik’. Kita melihat bahwa Ibrahim ‘diperhitungkan’ benar waktu dia memilih percaya pada janji akan hadirnya seorang anak laki-laki. Bani Israil bisa memperoleh kebenaran jika mereka dapat menaati 10 Perintah Allah ‒tetapi mereka harus menaati Perintah ini sepenuhnya‒sepanjang waktu

Penghakiman dalam Taurat

Kita juga melihat bahwa kegagalan untuk menaati perintah Allah mendatangkan Penghakiman-Nya. Hal ini mulai dengan Adam, yang hanya sekali tidak taat lalu menerima penghakiman dari Allah. Penghakiman selalu mengakibatkan kematian. Kematian itu dialami baik oleh orang yang dihakimi maupun oleh hewan yang dikurbankan. Coba pikirkan hal-hal berikut ini:

  • Dengan Adam, hewan yang dikurbankan untuk diambil kulitnya menjadi pakaian, mati.
  • Dengan Habil, kurban hewannya yang diterima oleh Allah, mati.
  • Dengan Nuh, orang-orang mati dilanda air bah, dan bahkan Nuh‒setelah air bah surut‒membunuh hewan untuk dia persembahkan sebagai kurban.
  • Dengan Lut, penduduk Sodom dan Gomora mati dalam Penghakiman, demikian juga istri Lut.
  • Dengan pengorbanan anak laki-laki Ibrahim, anak tersebut seharusnya mati sebagai kurban, tetapi domba jantan mati menggantikannya.
  • Dengan Paskah, anak laki-laki sulung (untuk Firaun dan orang yang tidak percaya) yang mati, atau domba yang darahnya dibubuhkan di ambang pintu, yang mati.
  • Dengan Perintah-perintah Hukum Taurat, orang yang bersalah mati atau seekor kambing mati pada Hari Raya Pendamaian.

Apa artinya semua ini? Kita akan melihatnya nanti. Namun sekarang, Musa (AS) dan Harun (AS) akan menutup Taurat. Mereka menutupnya dengan dua pesan penting, langsung dari Allah, keduanya mengarah ke masa depan dan penting bagi kita saat ini, yaitu kedatangan Nabi, serta kedatangan Kutuk & Berkat. Kita sedang menelaah Sang Nabi di sini.

Nabi yang Akan Datang

Pada waktu Allah memberikan Loh Batu di Gunung Sinai, Dia menunjukkan kekuatan-Nya yang mahadahsyat. Taurat menggambarkan suasana di tempat itu sesaat sebelum Loh Batu diberikan.

Pada hari yang ketiga, diwaktu pagi, ada guruh dan petir. Awan yang tebal muncul di atas gunung dan terdengarlah bunyi trompet yang sangat keras. Semua orang di perkemahan gemetar ketakutan… Seluruh Gunung Sinai ditutupi asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api. Asap itu mengepul seperti asap dari tempat pembakaran, dan seluruh gunung goncang dengan sangat. (Keluaran 19:16-18)

Bani Israil gemetar ketakutan. Taurat menggambarkannya sebagai berikut:

Ketika orang-orang mendengar guruh dan bunyi trompet, serta melihat kilat dan gunung yang berasap, mereka gemetar ketakutan dan berdiri jauh-jauh. Kata mereka kepada Musa, “Engkau saja berbicara kepada kami, kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara kepada kami, nanti kami mati.” (Keluaran 20:18-19)

Peristiwa itu terjadi pada permulaan 40 tahun Musa (AS) memimpin bangsa ini. Pada akhir masa tersebut, Allah berbicara kepada Nabi Musa (AS) tentang situasi tersebut, mengingatkan Bani Israil akan kegentaran mereka waktu itu, dan memberikan janji tentang masa depan. Musa (AS) mencatatnya dalam Taurat:

15 Sebaliknya dari bangsa kita sendiri Ia akan mengutus kepadamu seorang nabi seperti saya ini, dan kamu harus taat kepadanya. 16 Pada hari kamu berkumpul di Gunung Sinai, kamu mohon supaya kamu jangan lagi mendengar TUHAN Allahmu berbicara dan jangan lagi melihat kehadiran-Nya dalam api yang bernyala-nyala, sebab kamu takut mati.

17 Karena itu TUHAN berkata kepada saya, ‘Permintaan mereka itu bijaksana. 18 Dari bangsa mereka sendiri Aku akan mengutus kepada mereka seorang nabi seperti engkau. Aku akan mengatakan kepadanya apa yang harus dikatakannya, lalu ia akan menyampaikan kepada bangsa itu segala yang Kuperintahkan.

19 Ia akan berbicara atas nama-Ku, dan Aku akan menghukum siapa saja yang tidak mau mendengarkan dia. 20 Tetapi kalau seorang nabi berani menyampaikan suatu pesan atas nama-Ku padahal Aku tidak menyuruh dia berbuat begitu, ia harus mati; begitu juga setiap nabi yang berbicara atas nama ilah-ilah lain harus mati.’

21 Mungkin kamu bertanya dalam hati, ‘Bagaimana kami tahu apakah pesan seorang nabi itu berasal dari TUHAN atau tidak?’ 22 Kalau seorang nabi berbicara atas nama TUHAN, tetapi apa yang dikatakannya itu tidak terjadi, maka ramalan itu bukan dari TUHAN. Nabi itu berbicara atas namanya sendiri dan kamu tak usah takut kepadanya.” (Ulangan 18:15-22)

Allah menginginkan orang-orang itu memunyai rasa hormat yang sehat kepada-Nya, sehingga ketika Dia menyampaikan Perintah Allah pada Loh Batu, Dia melakukannya dengan cara yang membangkitkan rasa takut yang besar dalam hati orang-orang itu. Namun kini, Dia memandang ke depan dan menjanjikan bahwa waktunya akan tiba ketika seorang nabi seperti Musa (AS) akan bangkit dari antara bani Israil. Lalu dua panduan diberikan: 

  1. Allah sendiri akan meminta pertanggungjawaban dari orang-orang itu jika mereka tidak memperhatikan Nabi yang akan datang.
  2. Cara untuk menguji apakah Allah telah berbicara melalui seorang nabi adalah dengan melihat apakah pesan yang dia sampaikan mampu menubuatkan masa depan dan apakah nubuatan itu benar-benar terjadi.

Panduan pertama tidak berarti bahwa hanya akan ada satu nabi lagi setelah Musa (AS), melainkan akan datang dia yang secara khusus harus kita dengarkan karena dia memunyai peran yang istimewa berkaitan dengan pesannya‒yang adalah ‘Firman-Ku’. Karena hanya Allah sendiri mengetahui masa depan‒pasti tidak ada seorang manusia pun yang tahu, panduan yang kedua adalah cara agar orang-orang tahu apakah pesan tersebut benar-benar berasal dari Allah atau tidak. Kita lihat kemudian bagaimana Musa (AS) menggunakan panduan kedua ini untuk melihat masa depan bani Israil dalam Berkat dan Kutuk Bani Israil‒yang menutup Taurat.

Namun, bagaimana dengan ‘Nabi yang akan datang’ ini? Siapakah dia? Beberapa ulama berpendapat bahwa frasa ini mengacu pada Nabi Muhammad (SAW). Namun, perhatikan bahwa nubuatan ini menyatakan bahwa nabi ini akan “muncul dari bani Israil”‒yang berarti bahwa nabi ini adalah orang Yahudi. Jadi, pasti nubuatan ini tidak mengacu pada Nabi Muhammad (SAW). Ulama-ulama yang lain sudah bertanya-tanya kalau nubuatan ini mengacu pada Nabi Isa Almasih (AS). Dia adalah seorang Yahudi dan Dia juga mengajar dengan penuh kuasa‒sebagaimana jika perkataan Allah ada ‘dalam mulut-Nya’. Kedatangan Isa Almasih (AS) telah dilihat jauh sebelumnya yaitu dalam Kurban Persembahan Ibrahim, dalam Paskah, dan juga dalam nubuatan ‘sang nabi’ dengan Firman Allah dalam mulut-Nya.

Tanda Harun: 1 Sapi, 2 Kambing

Kita lihat dalam Tanda Musa 2 bahwa Perintah yang diberikan di Gunung Sinai sangat ketat. Saya mangajak Anda untuk bertanya pada diri sendiri (karena ini adalah maksud dari Hukum) apakah Anda selalu taat Perintah atau tidak. Jika Anda tidak selalu menaati Hukum, Anda, seperti saya, berada dalam masalah serius – Penghakiman menggantung.   Tetapi jika demikian apa yang bisa dilakukan? Adalah Harun (juga saudara Musa), dan keturunannya yang membahas pertanyaan ini dengan mengadministrasi (mengelola) Pengorbanan – dan pengorbanan ini menebus, atau menutupi, dosa.   Harun memberikan dua pengorbanan khusus yang merupakan Tanda untuk memahami bagaimana Allah akan menutupi dosa yang dilakukan karena melanggar Hukum. Ini adalah pengorbanan Sapi (Sapi Betina) dan Dua Kambing. Mari kita mulai dengan Kambing.

Kambing Hitam dan Hari Pendamaian

Dari Tanda Musa 1 , Paskah masih (dan sampai sekarang!) dirayakan oleh orang-orang Yahudi untuk mengenang pembebasan mereka dari Firaun. Tapi Taurat memerintahkan untuk merayakan festival lainnya juga. Salah satunya yang sangat penting disebut Hari Pendamaian. Klik di sini untuk membaca pembahasan lengkap di Taurat .

Mengapa petunjuk yang begitu hati-hati dan terinci diberikan untuk Hari Pendamaian? Kita lihat bagaimana mereka dimulai:

Sesudah kedua anak Harun mati pada waktu mempersembahkan api yang tidak dikehendaki TUHAN, TUHAN berbicara kepada Musa, kata-Nya, “Sampaikanlah kepada saudaramu Harun, bahwa hanya pada waktu yang ditentukan ia boleh memasuki Ruang Mahasuci yang dipisahkan dengan tirai, karena di situlah Aku menampakkan diri-Ku dalam awan di atas tutup Peti Perjanjian. Kalau Harun melanggar perintah itu, ia akan mati. (Imamat 16:1-2)

Apa yang terjadi sebelumnya adalah bahwa dua putra dari   Harun meninggal ketika mereka dengan terburu-buru memasuki Kemah tempat Kehadiran TUHAN. Tetapi di Kehadiran-Nya yang suci, kegagalan mereka untuk sepenuhnya mematuhi Hukum (seperti yang kita lihat di sini ) mengakibatkan kematian mereka. Mengapa? Di Kemah tersebut ada Bahtera Perjanjian. Al-Qur’an juga menyebutkan Bahtera Perjanjian ini. Ia mengatakan

Dan nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya Tabut kepadamu, yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, yang dibawa oleh malaikat. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah) bagimu, jika kamu orang beriman. (Surah 2:248 – Sapi)

Seperti dikatakan, ‘Bahtera Perjanjian’ ini adalah Tanda otoritas karena Bahtera adalah simbol perjanjian Hukum Musa . Plakat Batu dengan Sepuluh Perintah disimpan dalam Bahtera ini. Siapa pun yang gagal untuk mematuhi semua Hukum – di hadapan Bahtera ini – akan mati. Dua putra pertama dari   Harun meninggal ketika mereka memasuki Kemah. Begitu banyak perintah yang diberikan, termasuk satu hari di sepanjang tahun ketika Harun harus memasuki Kemah – Hari Pendamaian ini . Jika dia memasuki hari lain dia juga akan mati. Tetapi bahkan pada suatu hari tersebut, sebelum Harun dapat memasuki kehadiran Bahtera Perjanjian, ia harus:

Harun harus mempersembahkan seekor sapi jantan untuk kurban pengampunan dosa bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Dupa itu harus dibakarnya di depan Peti Perjanjian, sehingga asapnya menyelubungi tutup Peti itu dan Harun tidak dapat melihatnya, sebab kalau ia melihatnya, ia akan mati. (Imamat 16:6, 13 )

Jadi, seekor lembu jantan dikorbankan untuk menutupi, atau menebus, dosa-dosa Harun sendiri yang ia lakukan karena melawan Hukum. Dan kemudian segera setelah itu, Harun melakukan upacara luar biasa dari kedua kambing itu.

Kedua ekor kambing jantan dari umat Israel harus dibawanya ke depan pintu Kemah TUHAN. 8 Di situ ia harus membuang undi dengan menggunakan dua batu, yang satu ditandai “untuk TUHAN”, dan yang lain “untuk Azazel”. 9 Kambing yang terpilih bagi TUHAN harus dipersembahkan untuk kurban pengampunan dosa. (Imamat 16:7-9)

Begitu banteng itu dikorbankan untuk dosanya sendiri,   Harun mengambil dua kambing dan membuang banyak. Satu kambing akan ditetapkan sebagai kambing hitam . Kambing yang lain harus dikorbankan sebagai korban penghapus dosa. Mengapa?

Sesudah itu Harun harus menyembelih kambing untuk kurban pengampunan dosa umat Israel… Dengan cara itu ia menyucikan Ruang Mahasuci dari kenajisan bangsa Israel dan dari segala dosa mereka. (Imamat 16:15-16)

Dan apa yang terjadi dengan kambing hitam?

…Harun harus mempersembahkan kepada TUHAN kambing yang hidup yang dipilih bagi Azazel. Ia harus meletakkan kedua tangannya di atas kepala kambing itu sambil mengakui semua kesalahan, dosa dan pelanggaran bangsa Israel… Lalu seorang yang ditugaskan harus mengusir kambing itu ke padang gurun. Kambing itu membawa semua dosa bangsa Israel ke daerah tandus. (Imamat 16:20-22)

Korban banteng adalah untuk dosa Harun sendiri. Pengorbanan kambing pertama adalah untuk dosa kaum Israel.   Harun kemudian meletakkan tangannya di atas kepala kambing hitam yang hidup dan – sebagai tanda – memindahkan dosa-dosa orang ke kambing hitam tersebut. Kambing itu kemudian dilepaskan ke padang belantara sebagai tanda bahwa dosa-dosa orang-orang tersebut sekarang dijauhkan dari manusia. Dengan pengorbanan ini, dosa-dosa mereka ditebus. Ini dilakukan setiap tahun pada Hari Penebusan.

Sapi Betina, atau Sapi di Baqarah dan Taurat

Harun juga memiliki pengorbanan lain yang harus dilakukan termasuk pengorbanan lembu muda (sapi betina, bukannya sapi jantan). Adalah karena sapi yang lebih besar pengorbanannya yang dijadikan alasan untuk menyebut ‘Sapi Betina (Al Baqarah)’ untuk Surat 2. Jadi Al Qur’an berbicara langsung tentang pengorbanan ini. Klik di sini untuk membaca penjelasannya dalam Alquran. Seperti yang Anda lihat, orang-orang terkejut dan bingung ketika diperintahkan bahwa seekor sapi (betina) digunakan untuk pengorbanan ini dan bukan hewan jantan biasa. Dan itu berakhir dengan

Lalu Kami berfirman, “Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi) itu!” Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati, dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti. (Surat 2:73 – Sapi)

Jadi ini juga salah satu Tanda yang perlu kita perhatikan. Tetapi dengan cara apa Sapi Betina ini merupakan suatu Tanda? Kita membaca bahwa itu ada hubungannya dengan kematian dan kehidupan. “Mungkin kita bisa mengerti” ketika kita mempelajari perintah asli dalam Taurat yang diberikan kepada Harun tentang pengorbanan ini. Klik di sini untuk melihat bagian lengkap dari Taurat. Kita lihat bahwa

Seluruh binatang itu, termasuk kulit, daging, darah dan isi perutnya, harus dibakar di depan imam. Selanjutnya imam harus mengambil sedikit kayu aras, setangkai hisop dan seutas tali merah, lalu melemparkannya ke dalam api yang tengah membakar sapi merah itu. (Bilangan 19:5-6)

Hisop adalah cabang dari pohon yang berdaun tertentu. Pada Paskah ketika orang Israel harus melukis darah domba Paskah di pintu mereka sehingga kematian akan berlalu mereka diperintahkan untuk

Ambillah seikat hisop, celupkan ke dalam baskom yang berisi darah domba itu, lalu oleskan pada kedua tiang pintu dan ambang atas pintu rumahmu. (Keluaran 12:22)

Hisop juga digunakan dengan sapi; dan sapi, hisop, wol dan pohon cemara dibakar sampai hanya ada abu yang tersisa. Kemudian

Lalu seseorang yang tidak najis harus mengumpulkan abu sapi itu dan meletakkannya di tempat yang bersih di luar perkemahan. Abu itu disimpan di situ supaya umat Israel dapat memakainya untuk membuat air upacara penyucian bagi penghapusan dosa. (Bilangan 19:9)

Jadi abunya dicampur menjadi ‘air pembersihan’. Seseorang yang najis akan melakukan pencucian ritual (Wudhu) untuk memulihkan kebersihan menggunakan abu yang dicampur dengan air. Tetapi abu itu bukan untuk kenajisan, untuk maksud tertentu.

Orang yang kena mayat menjadi najis selama tujuh hari.
Pada hari yang ketiga dan yang ketujuh ia harus menyucikan diri dengan air upacara; barulah ia bersih. Tetapi kalau pada hari yang ketiga dan yang ketujuh ia tidak membersihkan diri, ia tetap najis.
Orang yang kena mayat dan tidak menyucikan diri adalah najis, karena ia belum disiram dengan air upacara. Ia menajiskan Kemah TUHAN dan karena itu tidak lagi dianggap anggota umat Allah. (Bilangan 19:11-13)

Jadi abu Sapi ini, dicampur dengan air, adalah untuk wudhu (pencucian ritual) ketika seseorang najis karena menyentuh mayat. Tetapi mengapa menyentuh mayat akan menghasilkan kenajisan yang sedemikian parah? Coba pikirkan tentang itu! Adam telah dibuat fana karena ketidaktaatannya, dan semua anak-anaknya (Anda dan saya!) juga. Jadi kematian itu najis karena itu adalah konsekuensi dari dosa – itu dikaitkan dengan kenajisan dosa. Seseorang yang menyentuh mayat akan menjadi najis. Tapi abu ini adalah Tanda – yang akan menghapus kenajisan ini. Orang yang najis, mati dalam ‘kenajisannya’, akan menemukan ‘kehidupan’ dalam pembersihan dari wudhu dengan abu binatang Sapi Betina.

Mengapa binatang betina digunakan dan bukan jantan? Tidak ada penjelasan langsung yang diberikan tetapi kita dapat bernalar dari tulisan di Kitab Suci. Sepanjang Taurat (dan semua Kitab Suci lainnya) Allah dinyatakan sebagai ‘Dia’ – dalam jenis kelamin laki-laki. Dan bangsa Israel diucapkan secara kolektif sebagai ‘dia’ – dalam jenis kelamin perempuan. Seperti dalam hubungan suami-istri, Allah memimpin dan para pengikutnya menanggapi.  Tetapi inisiatif selalu dengan Allah. Dia memprakarsai perintah kepada Ibrahim untuk mengorbankan putranya ; Dia memprakarsai pemberian Perintah pada Plakat; Dia memprakarsai penghakiman Nuh, dll. Ini tidak pernah dimulai dengan manusia (nabi atau lainnya) – pengikutnya hanya tunduk pada pimpinan-Nya.

Abu dari Sapi Betina adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia – yaitu kenajisan. Jadi untuk menjadi Tanda yang tepat untuk kebutuhan manusia, hewan yang ditawarkan adalah betina. Kenajisan ini menunjuk pada rasa malu yang kita rasakan ketika kita berdosa, bukan rasa bersalah yang kita miliki di hadapan Allah. Ketika saya berdosa, saya tidak hanya melanggar Hukum dan bersalah di hadapan Hakim, tetapi saya juga merasa malu dan menyesal. Bagaimana cara Allah menutupi rasa malu kita? Pertama-tama, Allah menyediakan penutup bagi kita. Manusia pertama menerima pakaian dari kulit untuk menutupi ketelanjangan dan rasa malu mereka. Dan Anak-anak Adam sejak itu selalu menutupi diri mereka dengan pakaian – sebenarnya sangat wajar untuk melakukannya sehingga kita jarang berhenti bertanya ‘mengapa? ‘ Wudhu dengan abu lembu muda ini adalah cara lain sehingga kita bisa merasa ‘bersih’ dari hal-hal yang mencemari kita. Tujuan dari abu sapi betina ini adalah untuk membersihkan kita.

Sebab itu, marilah kita mendekati Allah dengan hati yang tulus dan iman yang teguh; dengan hati yang sudah disucikan dari perasaan bersalah, dan dengan tubuh yang sudah dibersihkan dengan air yang murni. (Ibrani 10:22)

Sebaliknya, pengorbanan kambing jantan pada Hari Pendamaian adalah terutama untuk Allah sehingga binatang jantan digunakan. Dengan Tanda Sepuluh Perintah , kami mencatat bahwa hukuman karena ketidaktaatan berulang kali adalah kematian (klik di sini untuk memeriksa bagian-bagiannya). Allah adalah (dan sampai sekarang!) Hakim dan sebagai Hakim menuntut kematian. Kematian lembu jantan pertama memenuhi persyaratan Allah bahwa kematian harus ditebus untuk dosa Harun. Kemudian kematian kambing jantan pertama memenuhi persyaratan Allah bahwa kematian menebus dosa-dosa orang Israel. Kemudian dosa-dosa komunitas Israel secara simbolis dapat ditempatkan pada kambing hitam oleh Harun, dan ketika kambing hitam dilepaskan ke padang belantara, itu adalah tanda bahwa dosa-dosa komunitas itu dilepaskan.

Pengorbanan ini dirayakan oleh Harun dan keturunannya selama lebih dari seribu tahun. Sepanjang sejarah orang Israel di tanah yang diberikan kepada mereka; ketika Dawood (atau Nabi Dawud) menjadi Raja dan putra-putranya juga memerintah; ketika banyak nabi dengan pesan-pesan peringatan yang datang; bahkan melalui kehidupan Isa al Masih AS pengorbanan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ini.   Tetapi mereka seperti bayangan keselamatan yang datang , menunjuk padanya sebagai Tanda.

Jadi dengan ini Tanda-Tanda terakhir dari Musa dan Harun, Taurat akan berakhir. Segera nabi penggantinya akan datang dan Zabur akan melanjutkan pesan dari Allah. Tapi pertama-tama ada satu pesan terakhir dalam Taurat. Nabi Musa AS akan melihat ke masa depan dengan datangnya seorang Nabi, dan juga melihat berkah dan kutukan di masa depan pada keturunan Israel.

Tanda 2 Nabi Musa: Hukum Taurat

Dalam Tanda Pertama Nabi Musa ‒ Paskah ‒ kita melihat bahwa Allah telah menetapkan kematian semua anak sulung, kecuali mereka yang berada di rumah-rumah di mana seekor anak domba dikorbankan dan darahnya dibubuhkan pada tiang pintu rumah. Firaun tidak tunduk pada perintah tersebut, sehingga anaknya mati dan Musa (AS) memimpin bani Israil keluar dari Mesir, sementara Firaun tenggelam ketika mengejar mereka di Laut Merah.

Namun, peran Musa sebagai Nabi tidak hanya untuk memimpin mereka keluar dari Mesir, melainkan juga untuk memimpin mereka ke dalam cara hidup yang baru‒ yaitu dengan hidup menurut Hukum Syariat yang ditetapkan Allah. Oleh karena itu, tidak lama setelah meninggalkan Mesir, Musa (AS) dan bani Israil tiba di Gunung Sinai. Musa (AS) naik ke gunung dan berada di sana selama 40 hari untuk menerima Hukum Syariat. Alquran menunjukkan peristiwa ini melalui ayat:

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang telah Kami berikan kepadamu dan ingatlah apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.” (Surat 2:63-The Cow)

Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat) tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam… (Surat 7:142-The Heights)

Jadi, Hukum apa yang diterima Musa (AS)? Meskipun Hukum tersebut‒kalau lengkap‒cukup panjang (terdiri dari 613 perintah dan peraturan tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan‒seperti peraturan tentang apa yang haram dan yang halal) dan perintah-perintah ini menyusun sebagian besar isi Kitab Taurat, Musa‒pada awalnya‒menerima seperangkat perintah  yang ditulis Allah di atas loh batu. Perintah ini dikenal sebagai Sepuluh Perintah Allah, yang menjadi dasar untuk semua peraturan lainnya. Kesepuluh perintah ini adalah pokok-pokok yang mutlak penting dari Hukum Taurat‒prasyarat bagi semua peraturan yang lain‒. Alquran menunjukkan hal ini dalam ayat:

Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan untuk segala hal; maka (Kami berfirman), “Berpegangteguhlah kepadanya dan suruhlah kaummu berpegang kepadanya dengan sebaik-baiknya, Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang fasik.”

Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya. (Surat 7:145-146-The  Heights)

Sepuluh Perintah Allah

Jadi, Alquran menyatakan bahwa Sepuluh Perintah Allah yang ditulis di atas loh batu ini adalah tanda-tanda dari Allah sendiri. Namun, apa saja perintah-perintah itu? Perintah-perintah yang ditulis di sini diambil dari Kitab Keluaran‒bagian dari Taurat Musa‒, yang sebelumnya disalin dari loh batu. (Saya hanya menambahkan angka untuk menghitung banyaknya perintah)

Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:

“Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

1) Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

2) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

3) Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

4) Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

5) Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

6) Jangan membunuh.

7) Jangan berzinah.

8) Jangan mencuri.

9) Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

10) Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

Seluruh bangsa itu menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Maka bangsa itu takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh. (Keluaran 20: 1-18)

Seringkali terlihat bahwa kebanyakan dari kita‒yang tinggal di negara-negara sekuler‒lupa bahwa Sepuluh Perintah Allah ini adalah perintah, bukan saran, bukan rekomendasi, bukan pula perintah yang dapat dinegosiasikan. Perintah ini adalah perintah untuk ditaati, kita harus tunduk padanya. Itulah Hukum Syariat dan bani Israil takut akan kekudusan Allah.

Standar Ketaatan

Namun, masih ada pertanyaan penting. Berapa banyak perintah yang harus mereka taati? Ayat di bawah ini ada tepat sebelum pemberian Sepuluh Perintah Allah.

Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepadanya…

Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa… (Keluaran 19:3, 5)

Dan ayat di bawah ini ada tepat setelah pemberian Sepuluh Perintah Allah.

Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.” (Keluaran 24:7)

Dalam kitab terakhir Taurat (Taurat terdiri atas lima kitab) yang adalah pesan terakhirnya, Musa merangkum ketaatan terhadap Hukum Taurat dalam ayat di bawah ini.

TUHAN, Allah kita, memerintahkan kepada kita untuk melakukan segala ketetapan itu dan untuk takut akan TUHAN, Allah kita, supaya senantiasa baik keadaan kita dan supaya Ia membiarkan kita hidup, seperti sekarang ini. Dan kita akan menjadi benar, apabila kita melakukan segenap perintah itu dengan setia di hadapan TUHAN, Allah kita, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita.” (Ulangan 6:24-25)

Memperoleh Kebenaran

Di sini muncul lagi kata ‘kebenaran‘. Kata ini sangat penting. Pertama kali kita melihatnya dalam Tanda Nabi Adam ketika Allah bersabda kepada anak-anak Nabi Adam (kita!),

Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat. [Surat 7:26 (The Heights)]

Kemudian, kata ini muncul lagi dalam Tanda 2 Nabi Ibrahim ketika Allah menjanjikan seorang anak laki-laki baginya, dan Nabi Ibrahim (AS) memercayai janji tersebut sehingga dikatakan,

Abram percaya kepada Allah, dan Dia [Allah] memperhitungkan hal itu kepadanya [Ibrahim] sebagai kebenaran. (Kejadian 15: 6)

(Lihatlah Tanda 2 Nabi Ibrahim untuk penjelasan lengkap tentang kebenaran).

Di sini kita melihat Hukum Taurat menyediakan cara untuk memeroleh kebenaran karena sebagaimana dikatakan “jika kita melakukan dengan setia segala perintah itu … kita akan dinyatakan benar.” (Ulangan 6:25)

Namun, syarat untuk memeroleh kebenaran sangat berat. Dikatakan bahwa kita perlu ‘melakukan dengan setia segala perintah ini’ dan hanya dengan cara itu kita memperoleh kebenaran. Hal ini mengingatkan kita pada Tanda Nabi Adam. Hanya satu ketidaktaatan maka Allah menjatuhkan hukuman dan mengusir mereka dari Firdaus. Allah tidak menunggu sampai terjadi beberapa ketidaktaatan. Hal yang sama terjadi dengan istri Nabi Lut dalam Tanda Nabi Lut. Agar kita sungguh-sungguh memahami betapa seriusnya hal tersebut, maka dalam tautan ini terdapat banyak ayat dalam Taurat yang menekankan ketepatan tingkat ketaatan terhadap Hukum Taurat.

Mari kita pikirkan apa maksudnya. Dalam ujian mata kuliah saya dulu, kadang-kadang, dosen memberikan banyak pertanyaan kepada kami, misalnya 25 pertanyaan, kemudian kami boleh memilih beberapa pertanyaan di antaranya untuk kami jawab. Sebagai contoh, kami bisa menjawab 20 dari 25 pertanyaan yang ada. Jadi, seorang mahasiswa bisa melewatkan pertanyaan yang sulit baginya dan memilih pertanyaan yang lain. Sementara, mahasiswa yang lain bisa melakukan hal yang sama untuk pertanyaan yang berbeda. Dengan cara ini, dosen membuat ujian tersebut lebih mudah bagi kami.

Banyak orang menganggap Sepuluh Perintah Allah seperti ujian mata kuliah saya. Mereka berpikir bahwa Allah memberikan Sepuluh Perintah-Nya dengan maksud supaya kita bisa memilih dan menaati lima saja dari Sepuluh Perintah ini. Namun, tidak seperti itu maksudnya. Perintah-perintah ini diberikan untuk ditaati dan dipatuhi SEMUANYA, bukan beberapa yang kita pilih saja. Hanya dengan mematuhi seluruh Hukum Taurat, maka ‘ mereka akan dinyatakan benar’.

Namun, mengapa beberapa orang menganggap Hukum Taurat seperti soal ujian mata kuliah saya? Karena Hukum Taurat sangat sulit untuk dipatuhi, mengingat hal ini bukan hanya untuk satu hari, melainkan sepanjang hidup kita. Jadi, mudah bagi kita mengelabui diri kita sendiri dan menurunkan standar yang sudah Tuhan tetapkan. Lihatlah kembali perintah-perintah ini dan tanyakan kepada diri Anda sendiri, “Dapatkah saya menaati perintah-perintah ini? Semuanya? Setiap hari? Tanpa pernah gagal?” Alasan mengapa kita perlu menanyakan hal ini kepada diri kita sendiri adalah karena Sepuluh Perintah Allah itu masih berlaku. Allah tidak membatalkannya, seperti terlihat dari nabi-nabi lainnya setelah Nabi Musa (AS) (termasuk Isa Almasih dan Nabi Muhammad ‒SAW‒ lihat di sini). Mengingat perintah-perintah ini adalah perintah mendasar yang berurusan dengan pemujaan berhala, penyembahan kepada Satu Allah, perzinaan, pencurian, pembunuhan, dusta, dsb., maka perintah-perintah ini bersifat kekal, jadi kita harus menaatinya. Tidak seorang pun bisa menjawab pertanyaan ini untuk orang lain‒ orang hanya bisa menjawabnya untuk diri sendiri dan akan menjawab pertanyaan itu lagi pada Hari Penghakiman di hadapan Allah.

Pertanyaan Terpenting di Hadapan Allah

Jadi, saya akan mengajukan sebuah pertanyaan. Pertanyaan ini diambil dari Ulangan 6: 25 dengan sedikit penyesuaian. Pertanyaan ini bersifat pribadi, jadi Anda menjawabnya untuk diri Anda sendiri. Hukum Taurat berbicara kepada setiap orang dengan cara yang berbeda, demikian juga respon Anda terhadap ayat tersebut. Pilihlah jawaban yang paling menggambarkan diri Anda. Klik jawaban yang sesuai dengan Anda.

Dari Ulangan 6: 24-25 dengan mengganti kata ‘kita’ menjadi ‘saya’

“ALLAH memerintahkan agar saya melaksanakan segala ketetapan ini dengan bertakwa kepada ALLAH, Tuhan kita, supaya keadaan saya senantiasa baik dan supaya saya tetap hidup seperti pada hari ini. Saya akan dinyatakan benar, jika saya melakukan dengan setia segala perintah itu di hadapan ALLAH, Tuhan saya, seperti yang diperintahkanNya kepada saya.”

Ya – ini menggambarkan diri saya

Tidak – Saya belum menaati semuanya dan hal ini tidak menggambarkan diri saya.