Tanda 2 Nabi Musa: Hukum Taurat

Dalam Tanda Pertama Nabi Musa ‒ Paskah ‒ kita melihat bahwa Allah telah menetapkan kematian semua anak sulung, kecuali mereka yang berada di rumah-rumah di mana seekor anak domba dikorbankan dan darahnya dibubuhkan pada tiang pintu rumah. Firaun tidak tunduk pada perintah tersebut, sehingga anaknya mati dan Musa (AS) memimpin bani Israil keluar dari Mesir, sementara Firaun tenggelam ketika mengejar mereka di Laut Merah.

Namun, peran Musa sebagai Nabi tidak hanya untuk memimpin mereka keluar dari Mesir, melainkan juga untuk memimpin mereka ke dalam cara hidup yang baru‒ yaitu dengan hidup menurut Hukum Syariat yang ditetapkan Allah. Oleh karena itu, tidak lama setelah meninggalkan Mesir, Musa (AS) dan bani Israil tiba di Gunung Sinai. Musa (AS) naik ke gunung dan berada di sana selama 40 hari untuk menerima Hukum Syariat. Alquran menunjukkan peristiwa ini melalui ayat:

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang telah Kami berikan kepadamu dan ingatlah apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.” (Surat 2:63-The Cow)

Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat) tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam… (Surat 7:142-The Heights)

Jadi, Hukum apa yang diterima Musa (AS)? Meskipun Hukum tersebut‒kalau lengkap‒cukup panjang (terdiri dari 613 perintah dan peraturan tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan‒seperti peraturan tentang apa yang haram dan yang halal) dan perintah-perintah ini menyusun sebagian besar isi Kitab Taurat, Musa‒pada awalnya‒menerima seperangkat perintah  yang ditulis Allah di atas loh batu. Perintah ini dikenal sebagai Sepuluh Perintah Allah, yang menjadi dasar untuk semua peraturan lainnya. Kesepuluh perintah ini adalah pokok-pokok yang mutlak penting dari Hukum Taurat‒prasyarat bagi semua peraturan yang lain‒. Alquran menunjukkan hal ini dalam ayat:

Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan untuk segala hal; maka (Kami berfirman), “Berpegangteguhlah kepadanya dan suruhlah kaummu berpegang kepadanya dengan sebaik-baiknya, Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang fasik.”

Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya. (Surat 7:145-146-The  Heights)

Sepuluh Perintah Allah

Jadi, Alquran menyatakan bahwa Sepuluh Perintah Allah yang ditulis di atas loh batu ini adalah tanda-tanda dari Allah sendiri. Namun, apa saja perintah-perintah itu? Perintah-perintah yang ditulis di sini diambil dari Kitab Keluaran‒bagian dari Taurat Musa‒, yang sebelumnya disalin dari loh batu. (Saya hanya menambahkan angka untuk menghitung banyaknya perintah)

Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:

“Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

1) Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

2) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

3) Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

4) Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

5) Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

6) Jangan membunuh.

7) Jangan berzinah.

8) Jangan mencuri.

9) Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

10) Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

Seluruh bangsa itu menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Maka bangsa itu takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh. (Keluaran 20: 1-18)

Seringkali terlihat bahwa kebanyakan dari kita‒yang tinggal di negara-negara sekuler‒lupa bahwa Sepuluh Perintah Allah ini adalah perintah, bukan saran, bukan rekomendasi, bukan pula perintah yang dapat dinegosiasikan. Perintah ini adalah perintah untuk ditaati, kita harus tunduk padanya. Itulah Hukum Syariat dan bani Israil takut akan kekudusan Allah.

Standar Ketaatan

Namun, masih ada pertanyaan penting. Berapa banyak perintah yang harus mereka taati? Ayat di bawah ini ada tepat sebelum pemberian Sepuluh Perintah Allah.

Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepadanya…

Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa… (Keluaran 19:3, 5)

Dan ayat di bawah ini ada tepat setelah pemberian Sepuluh Perintah Allah.

Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.” (Keluaran 24:7)

Dalam kitab terakhir Taurat (Taurat terdiri atas lima kitab) yang adalah pesan terakhirnya, Musa merangkum ketaatan terhadap Hukum Taurat dalam ayat di bawah ini.

TUHAN, Allah kita, memerintahkan kepada kita untuk melakukan segala ketetapan itu dan untuk takut akan TUHAN, Allah kita, supaya senantiasa baik keadaan kita dan supaya Ia membiarkan kita hidup, seperti sekarang ini. Dan kita akan menjadi benar, apabila kita melakukan segenap perintah itu dengan setia di hadapan TUHAN, Allah kita, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita.” (Ulangan 6:24-25)

Memperoleh Kebenaran

Di sini muncul lagi kata ‘kebenaran‘. Kata ini sangat penting. Pertama kali kita melihatnya dalam Tanda Nabi Adam ketika Allah bersabda kepada anak-anak Nabi Adam (kita!),

Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat. [Surat 7:26 (The Heights)]

Kemudian, kata ini muncul lagi dalam Tanda 2 Nabi Ibrahim ketika Allah menjanjikan seorang anak laki-laki baginya, dan Nabi Ibrahim (AS) memercayai janji tersebut sehingga dikatakan,

Abram percaya kepada Allah, dan Dia [Allah] memperhitungkan hal itu kepadanya [Ibrahim] sebagai kebenaran. (Kejadian 15: 6)

(Lihatlah Tanda 2 Nabi Ibrahim untuk penjelasan lengkap tentang kebenaran).

Di sini kita melihat Hukum Taurat menyediakan cara untuk memeroleh kebenaran karena sebagaimana dikatakan “jika kita melakukan dengan setia segala perintah itu … kita akan dinyatakan benar.” (Ulangan 6:25)

Namun, syarat untuk memeroleh kebenaran sangat berat. Dikatakan bahwa kita perlu ‘melakukan dengan setia segala perintah ini’ dan hanya dengan cara itu kita memperoleh kebenaran. Hal ini mengingatkan kita pada Tanda Nabi Adam. Hanya satu ketidaktaatan maka Allah menjatuhkan hukuman dan mengusir mereka dari Firdaus. Allah tidak menunggu sampai terjadi beberapa ketidaktaatan. Hal yang sama terjadi dengan istri Nabi Lut dalam Tanda Nabi Lut. Agar kita sungguh-sungguh memahami betapa seriusnya hal tersebut, maka dalam tautan ini terdapat banyak ayat dalam Taurat yang menekankan ketepatan tingkat ketaatan terhadap Hukum Taurat.

Mari kita pikirkan apa maksudnya. Dalam ujian mata kuliah saya dulu, kadang-kadang, dosen memberikan banyak pertanyaan kepada kami, misalnya 25 pertanyaan, kemudian kami boleh memilih beberapa pertanyaan di antaranya untuk kami jawab. Sebagai contoh, kami bisa menjawab 20 dari 25 pertanyaan yang ada. Jadi, seorang mahasiswa bisa melewatkan pertanyaan yang sulit baginya dan memilih pertanyaan yang lain. Sementara, mahasiswa yang lain bisa melakukan hal yang sama untuk pertanyaan yang berbeda. Dengan cara ini, dosen membuat ujian tersebut lebih mudah bagi kami.

Banyak orang menganggap Sepuluh Perintah Allah seperti ujian mata kuliah saya. Mereka berpikir bahwa Allah memberikan Sepuluh Perintah-Nya dengan maksud supaya kita bisa memilih dan menaati lima saja dari Sepuluh Perintah ini. Namun, tidak seperti itu maksudnya. Perintah-perintah ini diberikan untuk ditaati dan dipatuhi SEMUANYA, bukan beberapa yang kita pilih saja. Hanya dengan mematuhi seluruh Hukum Taurat, maka ‘ mereka akan dinyatakan benar’.

Namun, mengapa beberapa orang menganggap Hukum Taurat seperti soal ujian mata kuliah saya? Karena Hukum Taurat sangat sulit untuk dipatuhi, mengingat hal ini bukan hanya untuk satu hari, melainkan sepanjang hidup kita. Jadi, mudah bagi kita mengelabui diri kita sendiri dan menurunkan standar yang sudah Tuhan tetapkan. Lihatlah kembali perintah-perintah ini dan tanyakan kepada diri Anda sendiri, “Dapatkah saya menaati perintah-perintah ini? Semuanya? Setiap hari? Tanpa pernah gagal?” Alasan mengapa kita perlu menanyakan hal ini kepada diri kita sendiri adalah karena Sepuluh Perintah Allah itu masih berlaku. Allah tidak membatalkannya, seperti terlihat dari nabi-nabi lainnya setelah Nabi Musa (AS) (termasuk Isa Almasih dan Nabi Muhammad ‒SAW‒ lihat di sini). Mengingat perintah-perintah ini adalah perintah mendasar yang berurusan dengan pemujaan berhala, penyembahan kepada Satu Allah, perzinaan, pencurian, pembunuhan, dusta, dsb., maka perintah-perintah ini bersifat kekal, jadi kita harus menaatinya. Tidak seorang pun bisa menjawab pertanyaan ini untuk orang lain‒ orang hanya bisa menjawabnya untuk diri sendiri dan akan menjawab pertanyaan itu lagi pada Hari Penghakiman di hadapan Allah.

Pertanyaan Terpenting di Hadapan Allah

Jadi, saya akan mengajukan sebuah pertanyaan. Pertanyaan ini diambil dari Ulangan 6: 25 dengan sedikit penyesuaian. Pertanyaan ini bersifat pribadi, jadi Anda menjawabnya untuk diri Anda sendiri. Hukum Taurat berbicara kepada setiap orang dengan cara yang berbeda, demikian juga respon Anda terhadap ayat tersebut. Pilihlah jawaban yang paling menggambarkan diri Anda. Klik jawaban yang sesuai dengan Anda.

Dari Ulangan 6: 24-25 dengan mengganti kata ‘kita’ menjadi ‘saya’

“ALLAH memerintahkan agar saya melaksanakan segala ketetapan ini dengan bertakwa kepada ALLAH, Tuhan kita, supaya keadaan saya senantiasa baik dan supaya saya tetap hidup seperti pada hari ini. Saya akan dinyatakan benar, jika saya melakukan dengan setia segala perintah itu di hadapan ALLAH, Tuhan saya, seperti yang diperintahkanNya kepada saya.”

Ya – ini menggambarkan diri saya

Tidak – Saya belum menaati semuanya dan hal ini tidak menggambarkan diri saya.

Tanda (Kenabian) Musa: Paskah

Sekitar 500 tahun telah berlalu sejak Nabi Ibrahim AS dan itu sekitar 1500 Sebelum Masehi (SM). Setelah Ibrahim meninggal, keturunannya melalui putranya Ishak, sekarang disebut kaum Israel, telah berkembang manjadi sejumlah besar orang, dan mereka juga menjadi budak di Mesir. Ini terjadi karena Yusuf, cicit Ibrahim (AS) dijual sebagai budak ke Mesir dan setelah bertahun-tahun kemudian, keluarganya mengikuti.   Ini semua dijelaskan dalam Kejadian 45-46 – Kitab Pertama Musa dalam Taurat .

Jadi sekarang kita sampai pada Tanda-tanda Nabi besar lainnya – Musa (AS) – diceritakan dalam Kitab Taurat kedua . Musa (AS) telah diperintahkan oleh TUHAN untuk menemui Firaun di Mesir dan hal itu mengakibatkan persaingan antara Musa (AS) dan para ahli sihir dari Firaun. Kontes ini telah menghasilkan sembilan wabah terkenal atau bencana terhadap Firaun yang merupakan tanda baginya. Tetapi Firaun belum menyerahkan diri pada kehendak TUHAN dan tidak menaati tanda-tanda ini.

Wabah ke-10

Jadi Allah akan membawa wabah (bencana) ke 10 dan yang paling menakutkan. Pada titik ini Taurat memberikan persiapan dan penjelasan sebelum wabah ke-10 datang. Al-Qur’an juga merujuk pada poin ini dalam catatan dengan ayat berikut

Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa sembilan mukjizat yang nyata maka tanyakanlah kepada Bani Israil, ketika Musa datang kepada mereka lalu Fir‘aun berkata kepadanya, “Wahai Musa! Sesungguhnya aku benar-benar menduga engkau terkena sihir.”

Dia (Musa) menjawab, ”Sungguh, engkau telah mengetahui, bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sungguh, aku benar-benar menduga engkau akan binasa, wahai Fir‘aun.” (Surah 17 Isra, The Night Journey: 101-102)

Jadi Firaun ‘ditakdirkan untuk dihancurkan’. Tetapi bagaimana ini bisa terjadi? Allah sebelumnya telah mengirim kehancuran dengan berbagai cara. Bagi orang-orang pada zaman Nuh seluruh dunia tenggelam dalam banjir, dan bagi istri Lut itu berubah menjadi tiang garam. Tetapi kehancuran ini berbeda karena itu juga harus menjadi Tanda bagi semua orang – suatu Tanda Besar. Seperti yang dikatakan Alquran

Lalu (Musa) memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. (Surat 79:20)

Anda dapat membaca penjelasan tentang Wabah ke-10 dalam Keluaran Taurat di tautan sini . Ini adalah akun yang sangat lengkap dan ini akan membantu Anda dalam lebih memahami penjelasan di bawah ini.

Domba Paskah Menyelamatkan dari Maut

Kitab suci ini memberi tahu kita bahwa kehancuran yang ditetapkan oleh Allah yaitu bahwa setiap anak sulung harus mati malam itu kecuali yang ada di sebuah rumah dimana tempat seekor anak domba dikorbankan dan darahnya dicat di tiang pintu rumah itu. Kehancuran Firaun, jika dia tidak patuh, yaitu bahwa putranya dan pewaris takhta akan mati. Dan setiap rumah di Mesir akan kehilangan putra sulungnya – jika mereka tidak patuh dengan mengorbankan seekor domba dan mengecat darahnya di tiang-tiang pintu mereka. Jadi Mesir menghadapi bencana nasional.

Tetapi di rumah-rumah di mana seekor anak domba telah dikorbankan dan darahnya dicat di tiang-tiang pintu, janjinya adalah bahwa setiap orang akan selamat. Penghakiman Allah akan melewati ataui melampaui rumah itu. Jadi hari ini Tanda disebut Paskah (karena kematian melampaui semua rumah di mana darah domba telah dicat di pintu-pintu). Tetapi bagi siapakah darah di pintu adalah suatu Tanda? Taurat mengatakan:

Tuhan berkata kepada Musa … ” … Akulah TUHAN. Darah [domba Paskah] akan menjadi tanda bagi kamu di rumah-rumah di mana kamu berada; dan ketika Saya melihat darah, Saya akan melewati (melampaui) kamu. (Keluaran 12:13)

Jadi, meskipun TUHAN sedang mencari darah di pintu, dan ketika Dia melihatnya, Dia akan melampauinya, darah itu bukanlah suatu Tanda bagi-Nya. Dikatakan bahwa darah adalah ‘tanda untuk kamu’ – orang-orang. Lebih jauhnya yaitu itu adalah Tanda bagi kita semua yang membaca akun ini di Taurat . Jadi bagaimana itu sebuah Tanda bagi kita? Setelah malam yang menentukan ini , TUHAN memerintahkan mereka untuk:

… Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.” Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah. (Keluaran 12:27)

Paskah Memulai Kalender Yahudi

Maka orang Israel diperintahkan untuk merayakan Paskah pada hari yang sama setiap tahun. Kalender Israel sedikit berbeda dari kalender Barat, jadi hari pada tahun itu berubah sedikit setiap tahun jika Anda melacaknya dengan kalender Barat, mirip dengan bagaimana Ramadhan bergeser, karena didasarkan pada panjang tahun yang berbeda, bergerak setiap tahun pada Kalender Barat. Tetapi sampai hari ini, masih 3500 tahun kemudian, orang-orang Yahudi terus merayakan Paskah setiap tahun untuk mengenang peristiwa ini sejak zaman Musa (AS) sebagai bentuk kepatuhan terhadap perintah yang diberikan oleh TUHAN di Taurat.

Gambaran kejadian modern ketika banyak anak domba disembelih untuk perayaan Paskah Yahudi mendatang
Gambaran kejadian modern ketika banyak anak domba disembelih untuk perayaan Paskah Yahudi mendatang

Berikut ini adalah gambaran modern tentang orang-orang Yahudi yang menyembelih domba untuk Paskah yang akan datang.   Ini mirip dengan perayaan Idul Adha.

Dalam melacak perayaan ini melalui sejarah, kita dapat mencatat sesuatu yang sangat luar biasa. Anda dapat melihat ini dalam Kitab Injil di mana ia mencatat rincian penangkapan dan pengadilan Nabi Isa al Masih (AS):

“Kemudian orang-orang Yahudi membawa Isa … ke istana gubernur Romawi [Pilatus] … untuk menghindari kenajisan seremonial, orang-orang Yahudi tidak memasuki istana; mereka ingin dapat makan Paskah “… [Pilatus] berkata [kepada para pemimpin Yahudi]” … Tetapi sudah menjadi kebiasaanmu bagiku untuk melepaskan kepadamu seorang tahanan pada saat Paskah . Apakah kamu ingin saya melepaskan ‘raja orang Yahudi’? [yaitu Yang Masih] “Mereka berteriak kembali,” Bukan bukan dia …”(Yohanes 18:28, 39-40)

Dengan kata lain, Isa al Masih (AS) ditangkap dan dikirim untuk dieksekusi pada hari Paskah dalam kalender Yahudi. Jika Anda ingat dari  Tanda 3 Ibrahim , salah satu sebutan (gelar) Isa diberikan kepadanya oleh Nabi Yahya (SAW) yaitu

Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.

Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. (Yohanes 1:29-30)

Isa (AS) Dikutuk pada Paskah

Di sini kita melihat keunikan dari Tanda ini. Isa (AS), ‘ Anak Domba Allah ‘, dikirim untuk dieksekusi (dikorbankan) pada hari yang sama ketika semua orang Yahudi yang hidup pada saat itu (33 M dalam kalender Barat) mengorbankan seekor domba untuk mengenang Paskah pertama yang terjadi 1500 tahun sebelumnya. Inilah sebabnya mengapa perayaan Paskah Yahudi biasanya terjadi setiap tahun di minggu yang sama dengan Paskah – kenangan akan meninggalnya Isa al Masih – karena Isa (AS) dikirim untuk berkurban pada hari yang sama. (Paskah-Easter dan Paskah-Passover tidak pada tanggal yang sama persis karena kalender Yahudi dan Barat memiliki cara berbeda untuk menyesuaikan panjang tahun, tetapi biasanya pada minggu yang sama).

Sekarang pikirkan sebentar tentang apa yang ‘Tanda‘ bisa berikan. Anda dapat melihat beberapa tanda di bawah sini.

Apa yang dilakukan 'Tanda'? Mereka adalah petunjuk dalam pikiran kita untuk membuat kita memikirkan sesuatu yang lain
Apa yang dilakukan ‘Tanda’? Mereka adalah petunjuk dalam pikiran kita untuk membuat kita memikirkan sesuatu yang lain

 Ketika kita melihat tanda ‘tengkorak dan tulang’ itu membuat kita berpikir tentang kematian dan bahaya .Tanda ‘Lengkungan Emas’ seharusnya membuat kita berpikir tentang McDonalds . Tanda ‘√’ pada ikat kepala pemain tenis Nadal adalah tanda untuk Nike . Nike ingin kita memikirkan mereka ketika kita melihat tanda ini pada Nadal. Dengan kata lain, Tanda adalah petunjuk dalam pikiran kita untuk mengarahkan pemikiran kita ke objek yang diinginkan. Dengan tanda Musa (AS) ini, Allahlah yang telah memberikan tanda itu untuk kita. Mengapa Dia memberikan tanda ini? Nah tandanya, dengan waktu yang luar biasa dari domba yang dikorbankan pada hari yang sama dengan Isa harus menjadi petunjuk untuk pengorbanan Isa al Masih (AS).

BC: Sebelum Masehi (SM), AD: Masehi (M) Paskah adalah 'Tanda' dengan menunjuk pada pengorbanan Isa al Masih
BC: Sebelum Masehi (SM), AD: Masehi (M)
Paskah adalah ‘Tanda’ dengan menunjuk pada pengorbanan Isa al Masih

Ini bekerja di pikiran kita seperti yang saya tunjukkan dalam diagram itu. Tanda itu ada di sana untuk mengarahkan kita pada penyerahan Isa al Masih. Pada Paskah pertama itu, domba-domba dikorbankan dan darah mengalir dan menyebar sehingga orang-orang dapat hidup.   Dan dengan demikian, Tanda yang menunjuk kepada Isa ini adalah untuk memberi tahu kita bahwa dia, ‘Anak Domba Allah’, juga diberikan kepada kematian agar kita dapat menemukan kehidupan.

Pengorbanan putra Ibrahim adalah untuk mengarahkan kita dalam pemikiran kita kepada Isa al Masih

Pengorbanan putra Ibrahim adalah untuk mengarahkan kita dalam pemikiran kita kepada Isa al Masih

Kita lihat di Tanda 3 Ibrahim bahwa tempat Ibrahim (AS) diuji dengan pengorbanan putranya adalah Gunung Moriah. Tetapi seekor domba pada saat terakhir dikorbankan sebagai ganti putranya.   Seekor domba mati agar putra Ibrahim bisa hidup.   Gunung Moriah adalah tempat yang sama di mana Isa (AS) diberikan untuk pengorbanan. Itu adalah sebuah Tanda untuk membuat kita berpikir tentang Isa Al Masih (AS) yang diberikan untuk pengorbanan dengan menunjuk ke lokasi . Di sini dalam Tanda Musa ini kita menemukan petunjuk lain untuk peristiwa yang sama – penyerahan Isa (SAW) untuk pengorbanan – dengan menunjuk pada hari di kalender Kurban Paskah.   Pengorbanan anak domba sekali lagi digunakan untuk menunjuk pada peristiwa yang sama. Mengapa? Kita lanjutkan dengan Tanda Musa berikutnya untuk mendapatkan pemahaman lebih lanjut. Tanda ini adalah pengukuhann Hukum di Gunung Sinai.

Tetapi untuk menyelesaikan cerita ini, apa yang terjadi pada Firaun?   Seperti yang kita baca dalam petikan dari Taurat , dia tidak mengindahkan peringatan itu dan putra sulungnya (pewaris tahta kerajaan) meninggal malam itu.  Jadi dia akhirnya membiarkan orang Israel meninggalkan Mesir.   Tapi kemudian dia berubah pikiran dan mengejar mereka ke Laut Merah.  Di sana TUHAN membuat orang Israel melewati Laut, tetapi Firaun tenggelam bersama pasukannya.   Setelah sembilan wabah, kematian Paskah, dan hilangnya pasukan, Mesir sangat berkurang dan tidak pernah lagi mendapatkan kembali statusnya sebagai kekuatan utama dunia. Allah telah menghakiminya.

 

Tanda 3 dari Ibrahim: Pengorbanan

Nabi Ibrahim (A.S.) dijanjikan seorang anak laki-laki di Tanda sebelumnya. Dan Allah telah menepati janjinya. Sebenarnya Taurat meneruskan kisah Ibrahim (A.S.) untuk menggambarkan bagaimana dia mendapatkan dua anak laki-laki. Dalam Kejadian 16 Taurat menceritakan bagaimana dia mendapatkan Ismail (AS) anaknya dengan Siti Hajar dan kemudian Kejadian 21 menceritakan bagaimana dia membawa anaknya Ishaq bersama Siti Sarah sekitar 14 tahun kemudian. Sayangnya rumah tangganya ini menghasilkan persaingan besar antara kedua wanita tersebut, Siti Hajar dan Siti Sarah, dan berakhir dengan Ibrahim mengirim Siti Hajar dan anaknya pergi. Anda bisa membaca di sini bagaimana ini terjadi dan bagaimana Allah memberkati Siti Hajar dan Ismail dengan cara yang lain.

Pengorbanan Nabi Ibrahim: Dasar untuk Idul Adha

Jadi dengan hanya satu anak laki-laki yang tinggal di rumahnya Ibrahim menemui ujian terbesarnya, namun ini adalah salah satu yang membuka pemahaman yang lebih besar tentang Jalan Lurus (Kebenaran). Anda bisa membaca akun di Taurat dan Al Qur’an tentang ujian pengorbanan anaknya di sini. Cerita dari Kitab-kitab Suci ini adalah alasan mengapa Idul Adha dirayakan. Tapi ini bukan hanya peristiwa sejarah. Ini lebih dari itu.

Kita dapat melihat dari catatan di dalam Kitab Suci bahwa ini adalah tidak hanya ujian bagi Ibrahim (A.S.), tapi lebih dari sekedar itu. Karena Ibrahim adalah seorang nabi, ujian ini juga merupakan tanda bagi kita, jadi kita bisa belajar lebih banyak tentang kepedulian Tuhan terhadap kita. Dengan cara apa ini merupakan pertanda? Harap diperhatikan nama yang diberikan Ibrahim ke tempat anaknya yang harus dikorbankan. Bagian Taurat tersebut ditampilkan di sini sehingga Anda bisa membacanya secara langsung.

Ibrahim melihat ke atas dan di tengah semak belukar ia melihat seekor domba jantan terperangkap oleh tanduknya. Ia pergi mengambil domba jantan itu dan mempersembahkannya sebagai korban, sebagai pengganti anaknya. Jadi Ibrahim menamai tempat itu ‘TUHAN akan menyediakan’. Dan sampai hari ini dikatakan, “Di atas gunung TUHAN itu akan disediakan.” (Kejadian 22: 13-14)

Perhatikan nama yang Ibrahim (‘Abraham’ dalam Taurat) berikan ke tempat itu. Dia menamakannya ‘TUHAN akan menyediakan’. Apakah nama itu dalam bentuk kata kerja lampau, sekarang atau waktu yang akan datang? Ini jelas di waktu yang akan datang (masa depan). Dan untuk lebih jelas lagi komentar yang mengikutinya (yang mana Nabi Musa AS masukkan saat dia mengumpulkan akun ini ke Taurat sekitar 500 tahun kemudian) itu mengulangi “… itu akan disediakan”. Sekali lagi ini di masa depan dan melihat ke masa depan. Kebanyakan orang berpikir bahwa Ibrahim sedang merujuk tentang domba jantan yang tertangkap di semak belukar dan dikorbankan menggantikan anaknya. Tapi ketika Ibrahim menamai tempat itu, domba jantan itu telah mati, telah dikorbankan dan telah dibakar. Jika Ibrahim memikirkan domba jantan itu – telah mati, telah dikorbankan dan telah dibakar – dia akan menamakannya ‘TUHAN telah menyediakan’, yaitu dalam bentuk kata kerja lampau. Dan Musa (AS), jika dia memikirkan domba jantan yang menggantikan nama anak laki-laki Ibrahim tentunya akan berkomentar ‘Dan sampai hari ini dikatakan “Di atas gunung TUHAN itu disediakan”‘. Tapi Ibrahim dan Musa dengan jelas memberi nama dalam bentuk masa depan dan karena itu tidak memikirkan domba jantan yang telah mati dan telah dikorbankan.

Jadi apa yang mereka pikirkan saat itu? Jika kita mencari petunjuk, kita melihat bahwa tempat di mana Allah menyuruh Ibrahim untuk pergi pada awal pertanda ini adalah:

Kemudian Tuhan berkata, “Ambillah anakmu laki-laki satu-satunya, Ishak, yang kamu cintai, dan pergilah ke daerah Moria. Korbankan dia di sana sebagai korban bakaran di salah satu gunung yang akan saya katakan.” (v.2)

Ini terjadi di ‘Moriah‘. Dan dimana itu? Meskipun itu adalah daerah padang gurun di masa Ibrahim (2000 SM), seribu tahun kemudian (1000 SM), Raja Daud (David) yang terkenal itu mendirikan kota Yerusalem di sana, dan anaknya Sulaiman (Solomon) membangun Tempat Ibadah di sana. Kita membaca di Zabur tentang ini bahwa:

Kemudian Solomon (Sulaiman) mulai membangun tempat ibadah di Yerusalem di Gunung Moria, di mana TUHAN menampakkan diri kepada ayahnya Daud. Tawarikh 3: 1

Dengan kata lain, ‘Gunung Moria’ pada masa Ibrahim (dan kemudian Musa) adalah puncak gunung yang terisolasi di padang belantara namun 1000 tahun kemudian bersama Daud dan Sulaiman, menjadi pusat dan ibu kota orang Israel di mana mereka membangun Tempat Ibadah kepada TUHAN. Dan sampai hari ini juga merupakan tempat suci bagi orang-orang Yahudi.

Isa al Masih dan pengorbanan di Gunung Moria

Dan di sini kita menemukan hubungan langsung dengan Isa al Masih dan Injil. Kita melihat hubungan ini ketika kita tahu tentang salah satu panggilan Isa. Isa memiliki banyak gelar yang diberikan kepadanya. Mungkin yang paling terkenal adalah panggilan ‘Al Masih’ (yang juga ‘Kristus’). Tapi ada panggilan lain yang diberikan kepadanya yang tidak begitu dikenal, tapi sangat penting. Kita melihat ini di dalam Injil ketika dalam Injil Yohanes kita menemukan bahwa nabi Yahya (Yohanes Pembaptis dalam Injil) mengatakan:

Keesokan harinya Yohanes (Yahya) melihat Yesus (Isa) mendatanginya dan berkata, “Lihatlah, Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Inilah yang saya maksudkan saat saya mengatakan ‘Seorang pria yang datang setelah saya telah melampaui saya karena dia ada di hadapanku’ “. (Yohanes 1: 29-30)

Panggilan Isa yang penting, tapi kurang dikenal, yang diberikan kepadanya oleh Yahya adalah ‘Domba Allah’. Sekarang perhatikan akhir kehidupan Isa. Dimana dia ditangkap dan dihukum eksekusi? Itu di Yerusalem (seperti yang kita lihat sama dengan ‘Gunung Moria’). Hal ini sangat jelas dinyatakan dalam penangkapannya bahwa:

Ketika dia [Pilatus] mengetahui bahwa Yesus berada di bawah yurisdiksi Herodes, dia mengirimnya ke Herodes, yang juga berada di Yerusalem pada waktu itu. “(Lukas 23: 7)

Dengan kata lain, penangkapan, pengadilan dan hukuman Isa terjadi di Yerusalem (= Gunung Moria).

Kembali ke Ibrahim. Mengapa dia memberi nama tempat itu dalam kata kerja masa depan ‘TUHAN akan menyediakan’? Dia adalah seorang nabi dan tahu bahwa ada sesuatu yang akan ‘disediakan’ di sana. Dan dalam kejadian tersebut, putra Ibrahim diselamatkan dari kematian pada saat terakhir karena seekor anak domba dijadikan sebagai penggantinya. Dua ribu tahun kemudian, Isa disebut ‘Domba Allah’ dan ditangkap dan dijatuhi hukuman mati di tempat yang sama!

Garis-garis waktu kejadian di Yesrussalem/Gunung Moriah
Garis-garis waktu kejadian di Yesrussalem/Gunung Moriah

Korban tebusan Ibrahim: dari kematian

Apakah ini penting bagi kita? Saya perhatikan bagaimana Tanda Ibrahim ini berakhir. Dalam ayat 107 dari Al Qur’an dikatakan Ibrahim (A.S.) itu

Dan Kami menebusnya dengan pengorbanan yang penting

Apa artinya menjadi ‘ditebus’? Membayar uang tebusan adalah untuk melakukan pembayaran kepada seseorang yang ditahan sebagai tahanan/tawanan untuk bisa dibebaskan. Karena Ibrahim (AS) ‘ditebus’ berarti bahwa dia adalah tawanan sesuatu (ya bahkan seorang nabi besar!). Sebagai apa dia ditahan? Kejadian dengan anaknya memberitahu kita. Dia adalah tawanan kematian. Meskipun dia adalah seorang nabi, kematian menahannya sebagai tawanan. Kita lihat dari Tanda Adam bahwa Allah telah menjadikan Adam dan Anak-anaknya (semua orang termasuk para nabi) fana – mereka sekarang adalah tawanan kematian. Tapi entah bagaimana dalam kejadian domba yang dikorbankan Ibrahim (AS) ini ‘ditebus’ dengan hal ini. Jika Anda meninjau urutan Tanda (Adam, Habil & Qabil, Nuh, Ibrahim 1) sejauh ini Anda akan melihat bahwa pengorbanan dengan binatang hampir selalu dilakukan oleh para nabi. Mereka tahu sesuatu tentang hal ini yang mungkin luput dari perhatian kita. Dan kita dapat melihat bahwa karena tindakan ini juga menunjukkan ke masa depan kepada Isa ‘Domba Tuhan’ bahwa hal itu ada hubungannya dengan dia.

Pengorbanan: Berkat bagi kita

Dan pengorbanan domba di Gunung Moria juga penting bagi kita. Pada akhir pertukaran Allah menyatakan kepada Ibrahim bahwa

“… dan melalui keturunanmusemua bangsa di bumi akan diberkati karena engkau telah menaatiku” (Kejadian 22:18)

Jika Anda termasuk salah satu ‘bangsa di bumi’ (dan tentunya Anda!),  ini harus menjadi perhatian Anda karena janjiNya adalah bahwa Anda kemudian bisa mendapatkan ‘berkah’ dari Allah sendiri! Apakah itu tidak bermanfaat ?! Bagaimana hubungan cerita Ibrahim dengan Isa ini bisa menjadi berkat bagi kita? Dan mengapa? Kita mencatat bahwa Ibrahim (AS) ‘ditebus’ dan ini juga bisa menjadi petunjuk bagi kita, namun selain itu jawabannya tidak mudah terlihat disini jadi kami akan melanjutkan dengan Tanda-tanda Musa (dia memiliki dua) dan mereka akan menjelaskan pertanyaan ini untuk kita.

Tapi untuk saat ini saya hanya ingin menunjukkan bahwa kata ‘keturunan’ disini ada dalam bentuk tunggal. Ini bukan ‘keturunan-keturunan (offspring)’ seperti pada banyak keturunan atau masyarakat. Janji berkah adalah melalui ‘keturunan’ dari Ibrahim dalam bentuk tunggal – sama seperti pada ‘dia’, tidak melalui banyak orang atau sekelompok orang seperti kata jamak ‘mereka’. Tanda Paskah Musa sekarang akan membantu kita memahami lebih jauh.

Mengapa Ada Empat Kitab Untuk Satu Injil?

Kadang saya ditanya, kalau hanya ada satu Injil dalam Kitab Suci Nasrani, mengapa Injil itu tersusun atas empat kitab, dan ditulis oleh empat penulis? Apakah hal ini tidak membuat keempatnya rentan memuat kesalahan dan menimbulkan kontradiksi bahwa kitab ini ditulis oleh manusia, bukan oleh Allah?

Tentang hal tersebut, Kitab Suci Nasrani berkata:

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. (2 Timotius 3: 16-17)

Jadi, Kitab Suci Nasrani menyatakan bahwa Allah adalah penulis utama dan Dia menginspirasi para penulis kitab. Alquran sepenuhnya setuju dengan hal ini – seperti yang dapat kita lihat pada unggahan Apa yang dikatakan Alquran tentang Kitab Suci Nasrani?

Jadi sekarang, bagaimana kita bisa memahami adanya empat kitab untuk satu pesan Injil? Dalam Alquran, seringkali ada beberapa bagian yang menceritakan satu peristiwa yang sama. Apabila kita membaca semua bagian itu, kita akan mendapat gambaran yang lebih lengkap tentang peristiwa tersebut. Sebagai contoh, tulisan tentang Tanda Adam terdapat dalam Surah 7: 19-26 (The Heights), yang memberitahu kita tentang Adam di Taman Firdaus, dan juga Surah 20: 121-123 (Ta Ha), yang memberikan pemahaman tambahan tentang Adam dengan menjelaskan bahwa dia ‘digoda’. Keterangan tentang godaan tersebut tidak disebutkan dalam The Heights. Karena itu, kalau kita membaca keduanya, kita akan mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang apa yang terjadi. Jadi, itulah tujuannya, yaitu supaya tulisan-tulisan itu saling melengkapi.

Demikian halnya dengan empat kitab Injil dalam Kitab Suci Nasrani, keempatnya selalu dan hanya berbicara tentang satu Injil. Dengan membaca keempat kitab tersebut, kita akan mendapat pemahaman yang lebih lengkap tentang Injil, yaitu Injil Nabi Isa Al Masih-AS. Selain itu, masing-masing kitab tersebut memuat keterangan yang tidak terdapat dalam ketiga kitab lainnya. Oleh karena itu, dengan membaca keempat-empatnya, kita tahu bahwa kitab-kitab tersebut menawarkan gambaran yang lebih lengkap tentang Injil.

Itu sebabnya, – khususnya dalam Bahasa Inggris- ketika suatu pembicaraan merujuk pada Injil, maka kata “Injil” akan selalu disebut dalam bentuk tunggal, tidak jamak, karena memang hanya ada satu Injil. Galatia 1: 11-12 mencontohkan hal ini, bahwa Injil itu tunggal.

Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia.

Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus. (Galatia 1: 11-12)

Alquran juga menulis “Injil’ dalam bentuk tunggal (lihat Pola Injil dalam Alquran). Namun ketika kita membicarakan saksi-saksi mata atau kitab-kitab yang ada dalam Injil, maka memang ada empat kitab. Sebenarnya, dalam Kitab Taurat, suatu perkara hanya dapat diselesaikan jika ada lebih dari satu saksi. Hukum Musa menuntut sedikitnya ‘dua atau tiga saksi’ (Ulangan 19: 15) untuk bersaksi tentang satu peristiwa atau perkara. Dengan adanya empat kitab yang ditulis para saksi, maka keabsahan Injil telah melampaui syarat minimum yang ditetapkan oleh Hukum Musa.

Mengapa Ada Banyak ‘Versi’ Kitab Suci Nasrani?

Baru-baru ini, saya ada di masjid, mendengarkan pengajaran seorang imam. Sayangnya, Beliau mengatakan hal yang tidak benar. Apa yang Beliau katakan sudah berulang kali saya dengar sebelumnya dari teman-teman baik saya. Mungkin Anda juga pernah mendengarnya dan hal itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran Anda. Jadi, mari kita membahas hal ini.

Imam itu berkata bahwa ada banyak versi Kitab Suci Nasrani. Beliau mencontohkan beberapa versi dalam bahasa Inggris, seperti: versi King James, versi New International, versi New American Standard, versi New English, dan lain sebagainya. Beliau kemudian juga berkata bahwa karena ada begitu banyak versi yang berbeda, maka hal ini menunjukkan bahwa isi Kitab Suci Nasrani sudah tidak lagi sesuai dengan aslinya, atau setidaknya kita tidak dapat mengetahui mana Kitab Suci Nasrani yang ‘sejati’. Memang ada beragam versi, tetapi hal ini sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan ‘sesuai atau tidak sesuainya Kitab Suci Nasrani dengan naskah aslinya’ dan tidak juga berarti bahwa setiap terjemahan tersebut menjadi Kitab Suci Nasrani lain, karena pada keyataannya, hanya ada satu Kitab Suci Nasrani.

Ketika kita membicarakan versi New International, sebagai contoh, maka kita sedang membicarakan terjemahan tertentu naskah asli berbahasa Yunani (Injil) dan berbahasa Ibrani (Taurat & Zabur) dalam bahasa Inggris. Demikian juga dengan versi The New American Standard yang merupakan terjemahan bahasa Inggris lain dari naskah asli yang sama.

Situasi yang sama terjadi juga pada Alquran. Biasanya, saya menggunakan terjemahan Yusuf Ali, namun kadang-kadang, saya juga menggunakan terjemahan Pickthall. Pickthall dan Yusuf Ali menerjemahkan Alquran berbahasa Arab yang sama, tetapi pilihan kata dalam bahasa Inggris yang digunakan oleh keduanya tidak selalu sama. Itu sebabnya, terjemahan mereka berbeda. Meski demikian, tidak ada seorang pun baik orang Kristen, Yahudi, bahkan ateis sekalipun yang berkata, “Karena ada dua terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris (terjemahan Pickthall dan Yusuf Ali) , maka artinya ada dua Alquran dan keduanya berbeda.” atau berkata, “Terjemahan Alquran tidak sesuai naskah aslinya.”

Hal yang sama juga terjadi dalam penerjemahan Kitab Suci Nasrani. Naskah asli Injil ditulis dalam bahasa Yunani (lihat di sini) dan naskah asli Taurat dan Zabur ditulis dalam bahasa Ibrani (lihat di sini). Masalahnya, kebanyakan orang tidak berbahasa ataupun membaca dalam kedua bahasa ini. Itu sebabnya, ada berbagai terjemahan dalam bahasa Inggris (dan bahasa-bahasa lainnya) dengan maksud supaya orang dapat memahami pesan dalam kitab-kitab tersebut dalam bahasa mereka sendiri. Beragam versi Kitab Suci Nasrani hanyalah terjemahan yang berbeda, dengan tujuan agar pesan yang tertulis dapat dipahami dengan lebih baik.

Lalu, bagaimana dengan kemungkinan munculnya kesalahan-kesalahan penerjemahan? Bukankah terjemahan yang beragam memunculkan kemungkinan tidak akuratnya penerjemahan tulisan penulis asli? Namun, keraguan di atas tidak perlu muncul, sebab luasnya literatur klasik yang ditulis dalam bahasa Yunani telah memungkinkan penerjemah menerjemahkan dengan tepat setiap pemikiran dan setiap kata yang ditulis penulis asli. Berbagai versi baru Kitab Suci Nasrani bahkan menunjukkan kesesuaian dengan argumen di atas. Contohnya adalah tulisan asli dalam bahasa Yunani 1 Timotius 2: 5

εις γαρ θεος εις και μεσιτης θεου και ανθρωπων ανθρωπος χριστος ιησους

Berikut adalah beberapa terjemahan yang umum dipakai untuk ayat di atas:

For there is one God and one mediator between God and mankind, the man Christ Jesus – New International Version;

For there is one God, and one mediator between God and men, the man Christ Jesus – King James Version;

For there is one God, and one mediator also between God and men, the man Christ Jesus – New American Standard Version.

Seperti dapat Anda lihat, terjemahan-terjamahan itu sangat mirip, hanya dibedakan dengan beberapa kata. Meskipun sedikit berbeda dalam penggunaan kata,  ketiganya mempunyai arti yang tepat sama. Hal ini terjadi karena hanya ada satu Kitab Suci Nasrani dan oleh sebab itu terjemahan-terjemahannya pun menjadi sangat mirip. Terjemahan-terjemahan itu bukanlah Kitab Suci Nasrani yang ‘lain’. Seperti yang saya tulis pada awal tulisan ini, tidak benar apabila ada orang yang berkata bahwa karena ada banyak versi, maka ada bermacam-macam Kitab Suci Nasrani.

Saya menganjurkan setiap orang memilih dan membaca versi Kitab Suci Nasrani dalam bahasa mereka sendiri. Hal ini layak untuk dilakukan.

Tanda Kenabian Ibrahim (A.S): Kebenaran – Bagian 2

Apa sebenarnya yang kita butuhkan dari Allah? Ada beberapa jawaban untuk pertanyaan ini, tapi Tanda Kenabian Adam mengingatkan kita bahwa kebutuhan pertama dan terbesar kita adalah kebenaran. Di sana kita temukan Kata-kata (firman) yang ditujukan langsung kepada kita (anak-anak Adam).

Hai anak Adam! Kami telah menganugerahkan pakaian kepadamu untuk menutupi rasa malu, serta menjadi perhiasan untukmu. Tapi pakaian kebenaran – adalah yang terbaik. Itu adalah tanda-tanda dari Allah, untuk mejadi nasihat bagi mereka. (Surat 07:26)

Jadi apa ‘kebenaran’? Taurat (dalam Ulangan 32: 4) memberitahu kita tentang Allah yaitu

Aku akan memberitakan nama Tuhan.

Oh, puji kebesaran Allah kita!

Dia adalah Perkasa, karya-karyanya yang sempurna,

dan semua jalan-Nya adil.

Allah yang setia yang tidak berbuat jahat,

tegak dan hanya dia.

Ini adalah gambar dari Kebenaran Allah yang diberikan dalam Taurat. Kebenaran berarti bahwa satu-sempurna; bahwa semua (bukan hanya beberapa atau sebagian besar tapi semua) cara dilakukan dengan adil, yang tidak ada (sekecil apapun) yang salah; satu yang tegak. Ini adalah kebenaran dan ini adalah bagaimana Taurat menggambarkan Allah. Tapi mengapa kita perlu kebenaran? Kita lompat ke depan untuk melihat sebuah bagian dalam Zabur yang dapat memberikan jawabannya. Dalam Mazmur 15 (ditulis oleh Nabi Daud A.S.) kita membaca:

Tuhan, yang dapat tinggal di tenda sucimu?

Yang mungkin hidup di gunung-Mu yang kudus?

2 Orang yang berjalan adalah tidak bersalah,

yang melakukan apa yang benar,

yang berbicara kebenaran dari hati mereka;

3 yang lidahnya tidak ada fitnah,

yang tidak berbuat jahat terhadap sesama,

dan tidak mencerca pada orang lain;

4 yang membenci orang yang keji

tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN;

yang terus memegang sumpah bahkan ketika sedang sakit,

dan tidak mengubah pikiran mereka;

5 yang meminjamkan uang kepada orang miskin tanpa bunga;

yang tidak menerima suap untuk melawan orang yang tak berdosa …

Ketika ditanyakan siapa yang bisa hidup di ‘Gunung Suci’ Allah, yang merupakan cara lain mengatakan hidup dengan Allah di surga. Dan dapat kita lihat dari jawaban bahwa orang yang tidak berdosa dan dalam kebenaran‘ (v2) – adalah orang yang dapat masuk surga dan bersama Allah. Inilah sebabnya mengapa kita perlu kebenaran. Kebenaran diperlukan untuk bersama Allah karena Dia adalah sempurna.

Sekarang perhatikan Tanda kedua Ibrahim (A.S). Klik di sini untuk membuka bagian dari Kitab Suci tentangnya. Kita lihat dari membaca Taurat dan Al Qur’an bahwa Ibrahim (A.S) mengikuti jalan Nya (Surat 37:83) dan dengan demikian ia memperoleh ‘kebenaran’ (Kejadian 15: 6) – hal penting dalam Tanda Adam memberitahukan apa yang kita butuhkan. Jadi pertanyaan penting bagi kita adalah: Bagaimana dia mendapatkannya?

Sering saya berpikir bahwa saya mendapatkan kebenaran dengan salah satu dari dua cara. Dengan cara yang pertama (dalam pemikiran saya) saya mendapatkan kebenaran dengan percaya atau mengakui keberadaan Allah. Saya percaya ‘kepada Allah. Dengan mendukung pemikiran ini, tidakkah Ibrahim (A.S.) ‘percaya TUHAN’ seperti disebutkan dalam Kejadian 15: 6? Tapi dengan pemikiran yang dalam saya menyadari bahwa ini tidak berarti dia hanya percaya saja pada keberadaan satu Tuhan. Tidak ada janji Allah – bahwa ia akan menerima anak. Dan itu adalah janji yang mana Ibrahim (A.S) harus memilih apakah untuk percaya atau tidak. Coba pikirkan hal ini lebih dalam, Iblis (yang juga dikenal sebagai Setan) meyakini keberadaan Allah – dan ia tentu tidak ada kebenaran di dalamnya. Jadi hanya percaya pada keberadaan Allah tidak otomatis membuka ‘Jalan’ kebenaran tersebut. Percaya saja tidak cukup.

Cara kedua, saya sering berpikir bisa mendapatkan kebenaran yang pantas mendapatkannya dari Allah dengan melakukan hal-hal baik yang agama perintahkan. Melakukan banyak hal-hal baik dan meninggalkan hal-hal yang buruk, banyak berdoa (shalat), puasa, atau melakukan jenis ibadah tertentu yang memungkinkan saya layak untuk mendapatkan kebenaran. Tetapi perhatikan bahwa ini bukan yang Taurat maksudkan sama sekali.

Abram percaya TUHAN, dan Ia [yaitu Allah] berikan (credited) kepadanya [yaitu Ibrahim] sebagai kebenaran. (Kejadian 15: 6)

Ibrahim tidak ‘mendapatkan’ kebenaran; itu ‘dikreditkan’ kepadanya. Jadi apa bedanya? Nah, jika ada sesuatu yang ‘diperoleh’ dan anda bekerja atau berusaha untuk itu – anda layak mendapatkannya. Hal ini seperti menerima upah untuk pekerjaan yang anda lakukan. Tapi ketika ada sesuatu yang ‘dikreditkan’ kepada anda, itu dianugrahkan kepada anda. Hal yang diterima tanpa usaha yang semestinya.

Ibrahim (A.S) adalah orang yang benar-benar percaya akan adanya satu Allah. Dan dia adalah seorang yang rajin berdoa, rajin beribadah, dan suka membantu orang-orang (seperti membantu dan berdoa untuk keponakannya Nabi Lut A.S). Ini tidak berarti bahwa kita harus membuang hal-hal seperti ini. Tapi ‘Jalan’ yang dijelaskan Ibrahim di sini begitu sederhananya sehingga kita bisa saja melewatkannya. Taurat mengatakan bahwa Ibrahim (A.S) diberi kebenaran karena ia percaya pada janji yang diberikan oleh Allah kepadanya. Ini menjungkirbalikkan pemahaman umum bahwa kita akan memperoleh ‘kebenaran’ baik dengan beriman dengan keberadaan Allah yang dirasa cukup, atau dengan melakukan kegiatan ritual keagamaan (shalat, puasa dll) yang mana dengan itu saya bisa mendapatkan kebenaran. Ini bukan cara yang Ibrahim ambil. Dia hanya memilih untuk percaya Janji Allah tersebut.

Memilih percaya pada janji tentang akan mendapatkan anak itu mungkin perkara sederhana, tapi itu pasti tidaklah mudah dijalani. Ibrahim (A.S) bisa dengan mudah mengabaikan janji dengan alasan bahwa jika Allah benar-benar memiliki keinginan serta kekuatan untuk memberinya seorang putra maka Dia harus melakukannya sekarang. Karena pada titik ini dalam hidupnya, Ibrahim dan Siti Sarah (istrinya) yang lama – sudah melewati usia untuk bias mendapatkan anak. Dalam Tanda pertama didapat bahwa Ibrahim sudah berusia 75 tahun yaitu ketika ia meninggalkan negeri asalnya untuk pergi ke Kanaan. Pada saat itu Allah telah berjanji kepadanya bahwa dia akan mendapatkan ‘Bangsa atau Kerajaan yang besar’. Bertahun-tahun berlalu hingga Ibrahim dan istrinya Siti Sarah sudah berusia lanjut dan sudah menunggu lama. Dan mereka masih juga tidak memiliki satu anak – dan tentu saja tidak ada yang namanya ‘Bangsa’ kalau tidak mempunyai putra. “Mengapa Allah tidak segera memberi kita anak sedangkan Dia dengan mudah bisa memberikannya” ?, dia bertanya-tanya. Dengan kata lain, ia percaya tentang janji kedatangan putranya meskipun mungkin dibenaknya ada pertanyaan yang belum bisa terjawab tentang janji tersebut. Dia percaya akan janji itu sebab ia percaya Allah akan memberi janji tersebut – meskipun ia tidak mengerti sepenuhnya tentang janji itu. Dan percaya pada janji itu (anak yang akan datang meskipun sudah melewati usia subur) membutuhkan kepercayaan bahwa Allah akan melakukan keajaiban untuk dia dan istrinya.

Percaya janji juga akan menuntut kesabaran secara aktif. Perjalanan hidupnya terputus sementara di tenda-tenda di Tanah Perjanjian Kanaan dimana ia menunggu (dan masih bertahun-tahun setelahnya) untuk kedatangan anak yang dijanjikan. Akan lebih mudah baginya untuk mengabaikan janji itu dan ia kembali saja ke rumah peradaban di Mesopotamia (Irak modern) yang ia telah tinggalkan bertahun-tahun sebelumnya di mana kakak dan keluarganya masih hidup dan tinggal. Jadi Ibrahim harus hidup dalam kesulitan dengan terus mengimani janji tersebut – setiap hari – selama bertahun-tahun menunggu janji yang akan diberikan. Kepercayaan pada janji itu begitu besarnya hingga butuh prioritas di atas tujuan normal kehidupan – kenyamanan dan kesejahteraan. Dalam arti sebenarnya, hidup dalam mengantisipasi janji itu berarti ia rela bersusah payah dan hidup prihatin untuk mencapai tujuan hidup normal. Percaya dengan janji tersebut menunjukkan kepercayaan dan cintanya kepada Allah.

Jadi ‘percaya’ dengan janji melampaui rasa kesepakatan dalam dirinya. Ibrahim harus mempertaruhkan hidup, reputasi, keamanan, tindakannya dan berharap untuk masa depan akan janji ini. Karena ia percaya, ia sabar dan patuh dalam menunggu.

Tanda Kenabian disini adalah bagaimana Ibrahim (A.S) percaya akan janji dari Allah bahwa ia akan dikaruniai seorang putra, dan dengan demikian ia juga dianugrahi, atau dikreditkan, kebenaran. Dalam arti sebenarnya Ibrahim menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk janji ini. Dia bisa saja memilih untuk tidak percaya dan kembali kembali ke tanah asalnya (modern Irak). Dan ia bisa saja mengabaikan janji tersebut saat dia masih dalam keimanan akan keberadaan Allah dan masih melanjutkan doanya (shalatnya), puasanya, dan membantu orang lain. Tapi dengan itu kemudian ia akan hanya mempertahankan agamanya saja, dan belum dianugrahi atau dikreditkan ‘kebenaran’. Dan seperti Al-Qur’an ceritakan pada kita semua anak-anak Adam – “pakaian kebenaran – adalah yang terbaik”. Inilah yang disebut Jalan Ibrahim.

Kita telah belajar banyak. Kebenaran, hal yang sangat kita butuhkan untuk masuk Surga tidak diperoleh tetapi dianugrahi atau dikreditkan kepada kita. Dan itu dikreditkan kepada kita dengan mempercayai Janji Allah. Tapi siapa yang kemudian membayar kebenaran ini? Kita lanjutkan di Tanda Kenabian 3.

Kitab Injil yang berubah (terkorupsi)! Apa yang hadits katakan?

Kita telah lihat apa yang dikatakan Al Qur’an tentang Taurat, Zabur & Injil (Al-Kitab). Kita baca bahwa Al Qur’an menyatakan dengan jelas bahwa para pengikut Injil masih memiliki pesan dari Allah pada zaman Nabi Muhammad (SAW), sekitar 600 M – sehingga tidak rusak (berubah) sebelum tanggal tersebut. Al-Qur’an menegaskan bahwa pesan asli dalam Injil adalah Kata-Kata (firman) Allah, dan bahwa Firman-Nya tidak pernah dapat diubah. Jika kedua pernyataan ini benar berarti bahwa tidak mungkin bagi orang untuk merusak atau merubah Kata-Kata Al-Kitab (Taurat, Zabur dan Injil).

Nabi Muhammad (SAW) dan Kitab Injil

Kita teruskan penelitian ini dengan mengamati apa yang hadist atau sunnah katakan tentang topik ini. Perhatikan bagaimana hadis-hadis berikut menegaskan keberadaan dan penggunaan Taurat dan Injil di zaman Nabi Muhammad (SAW).

“Khadijah [istrinya] kemudian menemaninya [Nabi – SAW] untuk sepupunya Waraqah …, yang, selama Periode Sebelum Islamic adalah seorang Kristen yang biasa menulis tulisan dengan huruf Ibrani. Dia menulis Injil dalam bahasa Ibrani sebanyak-banyaknya Allah inginkan dia untuk menulis. “Al-Bukhari Vol 1, Book 1, No 3

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah:..Para Ahli Kitab biasa membaca Taurat dalam bahasa Ibrani dan menjelaskannya kepada umat Islam dalam bahasa Arab. Lalu Rasulullah berkata, “Jangan percaya pada Ahli Kitab, dan jangan menginkari mereka, tetapi katakan,” Kami beriman kepada Allah dan apa yang telah diwahyukan … ‘Al-Bukhari Vol 9, Book 93, No. 632

Orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah dan mengatakan kepadanya bahwa seorang pria dan seorang wanita dari kalangan mereka telah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Rasulullah berkata kepada mereka, “Apa yang kamu dapati di dalam Taurat tentang hukum Ar-rajm (rajam)?” Mereka menjawab, “(Tapi) kami mengumumkan kejahatan mereka dan memukul mereka.” Kata Abdullah bin Salam, “Kalian berbohong; Taurat berisi perintah rajam. “… Ayat dari rajam ditulis di sana. Mereka mengatakan, “Muhammad telah mengatakan yang sebenarnya; Taurat memiliki ayat rajm. Al-Bukhari Vol. 4, Book 56, No. 829

Diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Umar: Sekelompok orang Yahudi datang dan mengundang Rasulullah (SAW) ke Quff. … Mereka berkata: ‘AbulQasim, salah satu dari orang-orang kami telah melakukan percabulan terhadap seorang wanita; maka hukuman apa yang dijatuhkan mereka ‘. Mereka menempatkan bantal untuk Rasulullah (SAW) yang duduk di atasnya dan berkata: “Bawa Taurat”. Kemudian dibawa. Dia kemudian menarik kembali bantal dari bawahnya dan ditempatkan Taurat di atasnya dan mengatakan: “. Saya percaya kepadamu dan kepada-Nya yang mengungkapkan kepadamu” Sunan Abu Dawud Book 38, No. 4434

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah: Rasulullah (SAW) mengatakan: Hari terbaik di mana matahari terbit adalah hari Jumat; dimana Adam diciptakan, …. Ka’b mengatakan: Itulah salah satu hari setiap tahun. Jadi aku berkata: Hal ini ada pada setiap hari Jumat. Ka’b membaca Taurat dan berkata: Rasulallah (SAW) telah berbicara kebenaran. Sunan Abu Dawud Book 3, No. 1041

Ini adalah hadist-hadits yang tak terbantahkan yang memberitahu kita tentang sikap Nabi Muhammad (SAW) terhadap Al Kitab seperti yang ada pada zamannya. Hadits pertama memberitahu kita bahwa Injil telah ada dan tersedia ketika beliau pertama kali menerima panggilannya. Hadits kedua mengatakan bahwa orang-orang Yahudi membaca Taurat dalam bahasa Ibrani untuk komunitas awal Muslim. Nabi (SAW) tidak membantah teks mereka, tapi acuh tak acuh (tidak membenarkan atau menyangkal) terhadap penafsiran dengan bahasa Arab mereka itu. Dua hadis berikutnya memberitahu kita bahwa Nabi Muhammad (SAW) menggunakan Taurat sebagaimana yang ada pada zamannya untuk menengahi keputusan-keputusan. Hadits terakhir menunjukkan kita bahwa Taurat, seperti yang ada pada waktu itu, digunakan untuk membuktikan pernyataan dari Nabi Muhammad (SAW) sendiri tentang hari penciptaan manusia (hari Jumat). Dalam hal ini, Taurat digunakan untuk mengecek sabda Nabi Muhammad (saw) sendiri, sehingga harus diterima sebagai otentik untuk penggunaan pernyataan sepenting itu. Tidak ada satupun dari hadist ini yang mengatakan bahwa ada tanda-tanda bahwa teks Injil diperlakukan sebagai rusak atau berubah. Teks-teks apa adanya tersebut malah diterapkan untuk kejadian penting.

Naskah-naskah awal dari Kitab Injil (Perjanjian Baru)

Saya punya sebuah buku tentang dokumen awal Perjanjian Baru (Injil). Dimulai dengan:

“Buku ini memberikan transkripsi dari 69 naskah Perjanjian Baru yang paling awal … tertanggal dari awal abad ke-2 sampai awal abad ke-4 (100-300 M) … mengandung sekitar 2/3 dari teks Perjanjian baru” (P. Comfort, “The Naskah paling Awal Perjanjian Baru Yunani “. Kata Pengantar hal. 17. 2001).

Hal ini penting karena naskah ini datang sebelum Kaisar Romawi Constantine (sekitar 325 Masehi) yang beberapa kalangan berpikir mungkin telah mengubah teks Al Kitab. Jika Constantine telah merusak atau mengubahnya, kita akan mengetahuinya karena bisa dibandingkan dengan teks sebelum waktunya (karena kita memilikinya) dengan teks-teks yang datang setelah dia. Tapi didapat tidak ada perbedaan.

Demikian pula, salinan-salinan kitab Injil lainnya dibuat jauh sebelum Nabi Muhammad (SAW). Ini semua dan ribuan naskah lainnya sebelum 600 M datang dari berbagai belahan dunia. Karena Nabi Muhammad (saw) di 600 M menggunakan Kitab Injil seperti itu pada masanya sebagai otentik, dan kami memiliki banyak salinan Al Kitab hari ini yang dibuat ratusan tahun sebelum zaman Nabi SAW – dan salinan kitab-kitab tersebut sama seperti Kitab Injil hari ini, maka tentunya Kitab Injil tentu tidak berubah.

Pendapat bahwa ummat Kristiani mengubah Teks-Teks ini tidak masuk akal sama sekali. Tidak akan mungkin bagi mereka di mana-mana untuk menyepakati perubahan yang dibuat. Bahkan jika mereka di masyarakat Arab telah melakukan perubahan, perbedaan antara salinan mereka dan orang-orang dari saudara-saudara mereka, seperti misalnya di Suriah dan Eropa, akan menjadi jelas. Tapi kitab-kitab salinan tersebut sama di seluruh dunia, dari sejak awalnya. Karena Al-Qur’an dan hadits-hadits jelas mendukung teks Injil sebagaimana yang ada di 600 M, dan karena Injil didasarkan pada naskah yang datang jauh sebelum saat ini, maka Alkitab hari ini tidak rusak. Perjalanan waktu di bawah menggambarkan ini, menunjukkan bagaimana dasar teks Injil pra-tanggal 600 M.

Naskah salinan paling awal dari Taurat dan Zabur ditemukan bahkan lebih awal. Koleksi gulungan (lembaran), yang dikenal sebagai Gulungan-gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls), ditemukan pada tahun 1948 di Laut Mati. Gulungan-gulungan ini membentuk seluruh Taurat dan Zabur sekitar 200-100 SM. Ini berarti bahwa kita memiliki salinan dari Taurat bahkan sebelum zaman Nabi Isa (AS) dan Muhammad (SAW). Karena mereka berdua menggunakan dan menyetujui kitab  Taurat dan Zabur yang mereka memiliki (yang sama dengan Gulungan Laut Mati yang kita miliki saat ini), kita bisa jamin bahwa buku-buku pertama dari nabi sebelumnya juga asli atau tidak rusak. Saya mendalami lebih jauh apa makna dari semua ini dari kacamata ilmiah mengenai keaslian kitab-kitab suci dalam artikel saya di sini.

Kesaksian Nabi Muhammad (saw) dalam hadis, ditambah dengan latar belakang pengetahuan dari naskah-naskah  dalam KitabInjil, mengarahkan ke kesimpulan yang sama seperti kesaksian dalam Al-Qur’an – bahwa teks-teks Alkitab belum rusak atau berubah.

Naskah Kitab Injil Hari Ini - dari zaman dulu
Naskah Kitab Injil Hari Ini – dari zaman dulu

Al Qur’an menggantikan Kitab Injil ! Apa kata Al Qur’an?

Kita telah lihat baik di dalam Al Qur’an dan Sunnah yang mengkonfirmasikan bahwa Alkitab (Taurat, Zabur dan Injil yang membentuk Al Kitab) belum diubah atau rusak (lihat di sini dan di sini). Tapi pertanyaan yang masih mengganjal yaitu:  apakah Injil/ Al-Kitab telah terbatalkan, tertiadakan, atau digantikan dengan Al-Qur’an. Apa Qur’an itu sendiri mengatakan tentang pendapat ini?

Kepadamu Kami menurunkan Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab yang datang sebelumnya, dan menjaganya dengan aman ….. Surah Al Maidah 05:48

Dan sebelum Al Qur’an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al Qur’an adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab…..Surat Al Ahqaf 46:12

Dan ini (Al Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya…..Surat Al An’Aam 6:92

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya…. Surat  Al Fathir 35:31

Ayat-ayat ini berbicara tentang Al-Qur’an yang membenarkan (tidak membatalkan, menghapus, atau menggantikan) pesan-pesan sebelumnya dari Injil (Al Kitab). Dengan kata lain, ayat ini tidak mengatakan bahwa orang beriman harus mengabaikan wahyu awal dan hanya perlu mempelajari wahyu yang datang kemudian. Orang beriman juga harus mempelajari dan mengetahui wahyu yand datang sebelumnya.

Lebih jauh lagi, telah ditegaskan oleh ayat yang memberitahukan kita bahwa tidak ‘ada perbedaan’ antara wahyu yang diturunkan sebelumnya (yang berbeda). Berikut dua ayat yang saya amati menegaskan hal tersebut:

Rasul yang telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, dan rasul-rasulNya. “Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya, dan mereka mengatakan: “kami dengar dan kami taat. “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. Surat Al Baqarah 2:285

Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dati Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. Surat Al Baqarah 2:136

Ayat pertama memberitahukan kita bahwa tidak ada perbedaan di antara para rasul – mereka semua harus didengarkan (ditaati), dan ayat kedua mengatakan bahwa tidak ada perbedaan di antara wahyu yang diturunkan kepada para nabi yang berbeda – mereka semua harus ditaati. Tidak ada satupun dari ayat ini yang mengatakan bahwa wahyu sebelumnya harus diabaikan karena wahyu yang datang kemudian telah menggantikannya.

Dan pola dari pesan ini cocok dengan contoh yang diajarkan oleah  Nabi Isa (A.S). Dia sendiri tidak mengatakan bahwa wahyu awal Taurat dan kemudian Zabur telah batal. Bahkan ia mengajarkan sebaliknya. Ada rasa hormat dan perhatian yang berkelanjutan yang ia lakukan kepada kepada Tauratnya Musa dalam mengajar kan sendiri ajaran di Kitab Injil.

“Jangan berpikir bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat (yaitu Taurat) atau kitab para nabi (yaitu Zabur); Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18 Karena Aku berkata kepadamu, sampai langit dan bumi lenyap, bahkan sekecil surat, sekecil goresan pena, akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya tercapai. 19 Oleh karena itu siapa saja yang menyisihkan salah satu perintah ini dan mengajarkan orang lain akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga, tetapi siapa yang mengamalkan dan mengajarkan perintah ini akan disebut besar di Kerajaan Surga. 20 Aku berkata kepadamu bahwa kecuali kebenaran kamu melampaui dari orang-orang Farisi dan ahli Taurat, Anda pasti tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. (Matius 5: 17-20)

Sebenarnya untuk sungguh-sungguh memahami ajarannya, dia mengajarkan bahwa yang pertama harus dilakukan yaitu pergi menengok Taurat dan kemudian Zabur. Berikut adalah bagaimana ia mengajarkan murid-muridnya sendiri:

Dan dimulai dengan Musa dan semua nabi, ia menjelaskan kepada mereka apa yang dikatakan dalam seluruh Kitab Suci tentang dirinya. (Lukas 24:27)

Ia berkata kepada mereka, “Ini adalah apa yang saya katakan ketika saya masih dengan kamu. Semuanya harus dipenuhi apa-apa yang tertulis tentang Aku dalam kitab Tauratnya Musa (yaitu Taurat), nabi-nabi dan kitab Mazmur (yaitu Zabur)” ( Lukas 24:44)

Nabi Isa (A.S) tidak berusaha untuk memotong wahyu sebelumnya. Bahkan ia mulai dari sana sebagai bimbingan dalam mengajarkan ajarannya. Inilah sebabnya mengapa kita juga mengikuti teladannya dimulai dari Taurat untuk memberikan dasar dalam memahami Kitab Injil.

Kitab Injil yang berubah keasliannya! Apa yang Al Qur’an katakan?

Saya punya banyak teman Muslim. Saya juga percaya pada Allah dan sebagai pengikut Injil sudah biasa bagi saya berdiskusi dengan teman-teman Muslim tentang keyakinan dan iman. Pada hakikatnya ada begitu banyak kesamaan yang kita miliki, lebih dari apa yang saya miliki dengan orang-orang sekuler Barat baik yang tidak beriman kepada Allah, atau menemukan iman yang tidak relevan dengan kehidupan mereka. Namun hampir tanpa pengecualian dalam percakapan, saya mendengar klaim bahwa Injil (dan Zabur dan Taurat yang dikenal dengan istilah AlKitab) telah rusak, atau telah berubah, sehingga pesan yang kita baca hari ini sudah terdegradasi dan penuh kesalahan dari apa yang pertama kali terinspirasi dan ditulis oleh para nabi dan pengikut dari Allah. Hal ini bukanlah klaim yang kecil, karena itu berarti bahwa kita tidak bisa lagi mempercayai Alkitab sebagai kitab bacaan untuk mengungkapkan kebenaran Allah. Saya sudah membaca dan mempelajari baik Injil (Al Kitab) dan Al-Qur’an, dan sudah mulai mempelajari Sunnah. Apa yang saya temukan yang ternyata mengejutkan adalah bahwa semangat tentang keraguan Alkitab, meskipun begitu umumnya hari ini, saya tidak menemukannya di Al Qur’an. Bahkan, saya kaget bagaimana serius Al Qur’an mengemukakan Al Kitab. Akan saya tunjukkan disini apa yang saya maksud.

Apa yang Alquran katakan tentang Injil (Al Kitab)

Katakanlah: Hai Ahli Kitab! kamu tidak dipandang sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhamnu. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka. Surah Al Maida 5:68 (Lihat juga 4: 136)

Jika engkau ragu untuk apa yang Kami telah diturunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang yang telah membaca kitab sebelum kamu: Sesungguhnya telah datang Kebenaran yang memang datang kepadamu dari Tuhanmu: jadi janganlah sekali kali termasuk orang yang meragu. Surah Yunus 10:94

Saya amati hal ini menyatakan bahwa wahyu yang diberikan kepada ‘Ahli Kitab’ (Kristen dan Yahudi) datang dari Allah. Sekarang teman-teman Muslim saya mengatakan ini berlaku untuk wahyu asli yang diturunkan, tapi karena aslinya telah berubah maka itu tidak berlaku dengan Kitab Suci hari ini. Tapi pesan bagian kedua menegaskan mereka yang telah membaca (present tense seperti dalam ‘telah membaca’ bukan masa lalu) kitab suci Yahudi. Hal ini tidak berbicara tentang wahyu yang asli, tetapi kitab suci ketika Al Qur’an diturunkan. Hal ini diungkapkan kepada Nabi Muhammad (SAW) selama periode tahun sekitar 600 Masehi. Jadi pesan bagian ini menyetujui kitab suci Yahudi sebagaimana yang ada di 600 Masehi. Ayat-ayat lain juga menunjukkan hal yang serupa. Coba disimak:

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. Surah An Nahl 16:43.

Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu, melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beru wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui. Surah Al Anbiya’ 21: 7

Semua ini menerangkan tentang para rasul sebelum Nabi Muhammad (SAW). Tapi, yang terpenting, mereka menegaskan bahwa pesan yang diberikan oleh Allah untuk rasul-rasul / nabi masih dalam zaman kepemilikan (pada 600 AD) oleh pengikut mereka. Wahyu yang diturunkan sebelumnya belum rusak ketika memasuki waktu kerasulan Nabi Muhammad (SAW).

 Al-Qur’an mengatakan bahwa kata Allah tidak dapat diubah

Tetapi dalam arti yang lebih kuat hal yang menerangkan bahwa kemungkinan Al Kitab ini berubah tidak didukung oleh Al-Qur’an. Coba lihat kembali Al Maida 5:68 (The Law … Injil … adalah wahyu yang datang dari Tuhan), dan pertimbangkan hal berikut:

Dan sesungguhnya telah didustakan rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu. Surah Al An’am 6:34

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah kalimat-kalimat-Nya dan dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Surah Al An’am 6: 115

Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat Allah.  Surah Yunus 10:64

Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu. Tidak ada yang dapat merobah kalimat-kalimatNya. Surah Al Kahfi 18:27

Jadi, jika kita sepakat bahwa para nabi sebelumnya Muhammad (SAW) diberi wahyu oleh Allah (seperti Al Maida 5: 68-69 katakan), dan karena ayat-ayat ini, berkali-kali, mengatakan sangat jelas bahwa tidak ada yang dapat mengubah kata-kata Allah, bagaimana orang percaya bahwa Taurat, Zabur dan Injil (Alkitab) telah rusak atau diubah oleh orang? Hal ini akan memerlukan penolakan Al Quran itu sendiri untuk mempercayai bahwa Al Kitab telah rusak atau berubah.

Faktanya, ide yang menilai berbagai macam wahyu dari Allah baik atau lebih buruk daripada yang lain, meskipun diyakini kalangan luas, tidak didukung dalam Al Qur’an.

Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah, dan wahyu yang diberikan kepada kita, dan untuk Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan yang diberikan kepada Musa dan Yesus, dan yang diberikan kepada (semua) nabi dari Tuhan: Kami tidak membuat perbedaan antara satu dan yang lain dari mereka: dan kita tunduk kepada Allah (dalam Islam) “Surah Al Baqarah 2: 136 (Lihat juga 2: 285).

Jadi seharusnya tidak ada perbedaan dalam cara kita memperlakukan semua wahyu. Ini mencakup penelitian kami dari semua itu. Dengan kata lain, kita harus mempelajari semua Kitab suci. Bahkan saya mendesak orang Kristen untuk mempelajari Al Qur’an dan menganjurkan umat Islam untuk mempelajari Al Kitab.

Untuk mempelajari buku-buku ini membutuhkan waktu dan keberanian. Akan banyak pertanyaan yang muncul. Tentunya ini akan berharga buat kita di alam yang fana ini – mempelajari semua buku yang diwahyukan kepada para nabi. Saya faham, meskipun telah mengambil waktu dan keberanian saya untuk mempelajari semua kitab suci, dan itu telah menimbulkan banyak pertanyaan dalam pikiran saya, semua itu menjadi pengalaman yang berharga dan saya merasa ada berkah Allah di dalamnya. Saya harap Anda akan terus mengeksplorasi beberapa artikel dan pelajaran di website ini. Mungkin tempat yang baik untuk memulai adalah artikel tentang apa yang hadits dan Nabi Muhammad (SAW) pikirkan dan gunakan tentang Taurat, Zabur dan Injil (buku-buku yang membentuk Al Kitab = Injil). Klik artikel ini di sini. Jika Anda ingin tahu secara ilmiah tentang bagaimana keandalan buku-buku kuno ditentukan, dan apakah Al Kitab dianggap handal atau rusak secara ilmiah, silahkan lihat artikel di sini.  (segera akan datang)

Tanda Kenabian Ibrahim (A.S): Berkah – Bagian 1

Ibrahim! Beliau juga dikenal dengan nama Abraham atau Abram (A.S). Semua tiga agama monoteistik Yahudi, Kristen dan Islam melihat beliau sebagai idola untuk diikuti. Bangsa Arab dan Yahudi saat ini melacak nenek moyang mereka dari beliau melalui anak-anaknya Ismail dan Ishak. Beliau juga memegang peran penting dalam garis kenabian karena para nabi sesudahnya ada di dalam garis keturunan beliau. Jadi kita akan melihat tanda Ibrahim (A.S) dalam beberapa bagian. Klik di sini untuk membaca tanda kenabian pertama dalam Al-Qur’an dan dalam Taurat.

Kita lihat dalam ayat Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim (A.S) memiliki ‘suku’ yang merupakan kalangan orang-orang beliau. Orang-orang ini kemudian memiliki ‘Kerajaan Besar’. Tapi seorang pria harus memiliki setidaknya satu anak sebelum ia dapat memiliki ‘Suku’, dan ia juga harus memiliki tempat bermukim sebelum kumpulan orang-orang ini dapat disebut memiliki Kerajaan Besar’.

Janji untuk Nabi Ibrahim (A.S)

Bagian dari Taurat (Kejadian 12: 1-7) menunjukkan bagaimana Allah akan memenuhi dua hal penting kepada Ibrahim (A.S) yaitu ‘Suku’ dan ‘Kerajaan Besar’. Allah memberinya janji itu untuk meletakkan dasar bagi masa depan. Mari kita tinjau lebih lanjut secara rinci. Kita lihat bahwa Allah berkata kepada Ibrahim:

2″Aku akan membuat kamu menjadi bangsa yang besar,

Aku akan memberkati kamu;

Aku akan membuat nama kamu besar,

dan kamu akan menjadi berkat.

3Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau,

dan siapapun yang mengutuk kamu, Aku akan mengutuk;

dan semua bangsa di bumi akan diberkati melalui engkau.

 

Kebesaran Nabi Ibrahim (A.S)

Banyak orang saat ini di mana saya tinggal heran jika Allah itu ada dan bagaimana seseorang bisa tahu apakah Dia benar-benar mengungkapkan dirinya melalui Taurat. Perlu disimak bahwa ini adalah janji, yang mana bagiannya kita dapat membuktikannya. Akhir wahyu ini mencatat bahwa Allah langsung berjanji untuk Ibrahim (A.S) bahwa ‘Saya akan membuat namamu besar. Kita berada di abad ke-21 sekarang dan melihat nama Ibrahim / Abraham / Abram adalah salah satu nama yang paling dikenal secara global dalam sejarah. Janji ini benar terwujud dan secara historis menjadi kenyataan. Salinan awal dari Taurat yang ada saat ini adalah dari tempat bernama Gulungan Laut Mati sekitar 200-100 Sebelum Masehi. Ini berarti bahwa janji tersebut, setidaknya, sudah tertulis sejak saat itu. Pada saat itu orang dengan nama Ibrahim tidak terkenal – hanya ada di minoritas Yahudi yang mengikuti Taurat. Tapi hari ini namanya besar, sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa pemenuhan janji terjadi setelah itu ditulis, bukan sebelumnya.

Ini bagian dari janji untuk Ibrahim yang telah terjadi, sangat tampak dan nyata bahkan untuk orang-orang yang tidak percaya, dan ini memberi kita kepercayaan diri lebih besar untuk memahami lebih jauh bagian yang tersisa dari janji Allah untuk Ibrahim. Mari kita terus pelajari.

Berkat bagi kita

Sekali lagi, kita bisa melihat janji ‘bangsa yang besar’ untuk Ibrahim dan ‘berkah’ untuk Ibrahim. Tapi ada sesuatu yang lain juga, berkat tidak hanya untuk Ibrahim saja karena dikatakan bahwa “semua bangsa di bumi akan mendapat berkat” (yaitu melalui Ibrahim). Hal ini seharusnya membuat anda dan saya duduk merenung dan memperhatikan. Karena anda dan saya adalah bagian dari ‘semua bangsa di bumi’ – tidak peduli apa agama kita, latar belakang etnis, di mana kita hidup, status sosial kita, atau bahasa apa yang kita gunakan. Janji ini adalah untuk semua orang termasuk yang hidup hari ini. Ini adalah janji untuk Anda. Meskipun berbeda agama, latar belakang etnis dan bahasa yang kadang membuat terpecah belah hingga menyebabkan konflik, Ini adalah janji yang terlihat untuk mengatasi hal-hal yang biasanya memisahkan kita. Bagaimana? Kapan? Berkah apa? Hal ini tidak jelas terungkap pada saat ini, tapi Tanda yang melahirkan janji itu adalah untuk Anda dan saya melalui Ibrahim (A.S). Karena kita tahu bahwa salah satu bagian dari janji ini telah menjadi kenyataan, kita dapat memiliki keyakinan bahwa bagian lainnya berlaku juga untuk kita yang mana janji itu akan digenapi secara jelas dan literal – kita hanya perlu menemukan kunci untuk membuka itu.

Dapat kita lihat bahwa ketika Ibrahim menerima janji ini ia taat kepada Allah dan …

“Maka Abram pergi sebagaimana telah dikatakan TUHAN kepadanya” (ay. 4)

Ibrahim's journey
Peta perjalanan Ibrahim

Berapa lama perjalanan ini ke Tanah Yang Dijanjikan (Tanah Harapan)? Peta disini menunjukkan perjalanannya. Awalnya dia tinggal di Ur (selatan Irak sekarang) dan kemudian pindah ke Haran (Irak Utara). Ibrahim (A.S) kemudian berangkat ke daerah yang disebut Kanaan pada zamannya. Anda dapat melihat bahwa ini adalah perjalanan panjang. Dia mengembara menggunakan unta, kuda atau keledai dan ini memakan waktu berbulan-bulan. Ibrahim rela meninggalkan keluarganya, kehidupan yang nyaman pada waktu itu (Mesopotamia saat itu adalah pusat peradaban), keamanan dan semua yang dia terbiasa untuk melakukan perjalanan ke tanah yang asing baginya. Dan ini terjadi, seperti Taurat sebutkan kepada kita, ketika ia berusia 75 tahun!

 Persembahan hewan kurban seperti nabi sebelumnya

Taurat juga mengatakan kepada kita bahwa ketika Ibrahim (A.S) tiba di Kanaan denga selamat:

“Makai dia mendirikan altar di situ untuk TUHAN” (ay. 7)

Altar, seperti Habil dan Nuh sebelum dia, adalah sebuah tempat dimana ia mempersembahkan korban darah binatang untuk Allah. Kita lihat bahwa ini merupakan pola bagaimana para nabi menyembah Allah pada waktu itu.

Ibrahim (A.S) telah mempertaruhkan begitu banyak di akhir hidupnya untuk melakukan perjalanan ke tanah harapan ini. Ini adalah bentuk penyerahan diri kepada Janji Allah yang menjadi berkat baginya dan juga berkat bagi semua orang. Itulah sebabnya dia begitu penting bagi kita. Kita teruskan dengan bagian kedua dari Tanda Ibrahim (A.S).