Isa Al-Masih (PBUH) mengajarkan – dengan Perumpamaan

Kita lihat bagaimana Isa Al-Masih (AS) mengajar dengan otoritas yang unik. Dia juga mengajar menggunakan kisah-kisah yang menggambarkan prinsip-prinsip yang benar. Sebagai contoh, kita melihat bagaimana dia mengajar tentang Kerajaan Allah menggunakan kisah Perjamuan Besar, dan bagaimana dia mengajar tentang pengampunan melalui kisah Hamba yang Tidak Berbelaskasih. Kisah-kisah ini disebut perumpamaan, dan Isa Al-Masih (AS) adalah termasuk unik di antara para nabi dalam seberapa banyak ia menggunakan perumpamaan untuk mengajar, dan seberapa mencolok perumpamaannya.

 

Surat Al-Ankabut (Surat 29) memberi tahu kita bahwa Allah juga menggunakan perumpamaan. Ia mengatakan

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu.

Surat Al-Ankabut 29: 43

Surat Ibrahim (Surat 14) memberi tahu kita bagaimana Allah menggunakan perumpamaan tentang pohon untuk mengajar kita.

 Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,(pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.

Surat Ibrahim 14: 24-26

Perumpamaan Isa Al-Masih

Pada suatu kesempatan murid-muridnya bertanya kepadanya mengapa ia mengajar dengan menggunakan perumpamaan. Injil mencatat penjelasannya:

10 Kemudian, para pengikut Isa datang dan bertanya kepada-Nya, “Ya Junjungan, mengapa Engkau mengajar mereka melalui ibarat?”

11 Sabda Isa, “Kepadamu diberikan anugerah untuk mengetahui rahasia-rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak.

12 *Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan ditambahkan sehingga ia mempunyainya berlimpah-limpah. Tetapi, setiap orang yang tidak mempunyai, apa yang dipunyainya pun akan diambil darinya.

13 Itulah sebabnya, Aku mengajar mereka dengan ibarat. Karena ketika mereka memandang, mereka tidak melihat, dan ketika mereka mendengar, mereka tidak menyimak, apalagi mengerti.

(Matius 13: 10-13)

Kalimat terakhirnya adalah pembacaan nabi Yesaya (AS) yang hidup 700 SM dan telah memperingatkan terhadap pengerasan hati kita. Dengan kata lain, kadang-kadang kita tidak memahami sesuatu karena kita melewatkan penjelasan atau terlalu rumit untuk dipahami. Dalam situasi seperti itu, penjelasan yang diperjelas akan menghilangkan kebingungan. Tetapi ada saat-saat lain ketika kita tidak mengerti karena jauh di lubuk hati kita tidak menginginkannya. Kita mungkin tidak mengakui ini, jadi kita terus bertanya seolah-olah kurangnya pemahaman mental menjadi penghalang kita. Tetapi jika kebingungan ada di hati kita dan bukan di pikiran kita maka tidak ada penjelasan yang cukup. Masalahnya kemudian adalah bahwa kita tidak mau berserah diri, bukan karena kita tidak dapat memahami secara mental.

Ketika nabi Isa Al-Masih (AS) mengajar dalam perumpamaan, efeknya pada orang banyak itu dramatis. Mereka yang tidak mengerti dengan pikiran mereka akan menjadi penasaran dari cerita dan bertanya lebih lanjut, mendapatkan pemahaman, sementara mereka yang tidak mau tunduk akan memperlakukan cerita dengan penghinaan dan tidak tertarik dan mereka tidak akan mendapatkan pemahaman lebih lanjut. Menggunakan perumpamaan adalah cara bagi sang guru untuk memisahkan orang-orang seperti ketika petani memisahkan gandum dari sekam dengan menampi. Mereka yang mau tunduk dipisahkan dari mereka yang tidak mau. Orang-orang yang tidak mau tunduk akan menganggap perumpamaan itu membingungkan karena hati mereka tidak mau tunduk pada kebenarannya. Meskipun melihat, mereka tidak akan melihat intinya.

Perumpamaan tentang Penabur dan Empat Tanah

Ketika para murid bertanya kepada Nabi Isa (AS) pertanyaan tentang ajarannya dalam perumpamaan, ia telah mengajar tentang Kerajaan Allah dan pengaruhnya terhadap manusia. Inilah yang pertama:

3 Banyak hal yang disampaikan-Nya kepada mereka melalui ibarat. Sabda-Nya, “Dengarlah! Ada seorang penabur yang keluar untuk menabur benih.

4 Pada waktu benih itu ditabur, sebagian jatuh di tepi jalan. Lalu, datanglah burung-burung dan memakan benih itu sampai habis.

5 Kemudian, sebagian lagi jatuh di tempat berbatu-batu yang tidak banyak tanahnya. Benih itu pun segera tumbuh karena tanahnya tidak dalam.

6 Tetapi, setelah matahari terbit dan panasnya semakin terik, layulah tumbuhan itu karena tidak berakar.

7 Sebagian lagi jatuh ke tengah-tengah semak duri. Semak-semak itu bertambah besar, lalu mengimpitnya.

8 Sedangkan benih-benih lainnya jatuh di tanah yang baik, lalu menghasilkan banyak buah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada pula yang tiga puluh kali lipat.

9 Siapa bertelinga, dengarlah!”

(Matius 13: 3-9)

Jadi apa arti perumpamaan ini? Kita tidak perlu menebak, karena mereka yang mau tunduk tertarik oleh perumpamaan dan menanyakan maknanya, yang dia berikan:

18 Sebab itu, dengarlah arti ibarat tentang orang yang menabur benih itu.

19 Ketika seseorang mendengar firman mengenai Kerajaan Surga, tetapi tidak memahaminya, maka si jahat datang dan merampas apa yang telah tertabur di hatinya. Ini adalah benih yang tertabur di tepi jalan.

20 Kemudian, benih yang tertabur di tempat berbatu-batu menceritakan tentang orang yang menerima firman dan segera menerimanya dengan senang hati.

21 Meskipun begitu, firman itu tidak berakar di hatinya dan hanya bertahan sebentar. Ketika kesusahan atau aniaya yang disebabkan oleh firman itu datang menimpanya, ia pun segera murtad.

22 Lalu, benih yang tertabur di antara semak duri menceritakan tentang orang yang menerima firman, tetapi kekhawatiran tentang perkara dunia dan tipu daya kekayaan mengimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

23 Sedangkan benih yang tertabur di tanah yang baik menceritakan tentang orang yang menerima firman dan memahaminya, lalu menghasilkan buah berlipat ganda, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang tiga puluh kali lipat.”

(Matius 13: 18-23)

Ada empat tanggapan terhadap pesan tentang Kerajaan Allah. Yang pertama tidak memiliki ‘pengertian’ dan setan (Iblis) mengambil pesan itu menjauh dari hati mereka. Tiga tanggapan yang tersisa semuanya awalnya sangat positif dan mereka menerima pesan itu dengan gembira. Tetapi pesan ini harus tumbuh dalam hati kita dengan melalui masa-masa sulit. Bukan hanya untuk diakui dalam pikiran kita untuk kemudian melanjutkan menjalani hidup kita seperti yang kita inginkan. Jadi dua tanggapan ini, meskipun mereka awalnya menerima pesan, tidak membiarkannya tumbuh di hati mereka. Hanya hati keempat, yang ‘mendengar kata dan memahaminya’ akan benar-benar tunduk pada cara yang Allah cari.

Salah satu poin dari perumpamaan ini adalah membuat kita bertanya; ‘Siapakah di antara orang-orang ini mencerminkan saya?’ Hanya mereka yang benar-benar ‘mengerti’ akan menjadi tanaman yang baik. Salah satu cara untuk memperkuat pemahaman adalah dengan dengan jelas melihat apa yang diungkapkan para nabi sebelumnya, dimulai dengan Adam, tentang rencana Allah melalui Taurat dan Zabur. Setelah Adam, Tanda-tanda penting dalam Taurat datang dari janji kepada Ibrahim (AS) dan pengorbanannya, Musa (AS), Sepuluh Perintah, Harun (AS). Dalam Zabur, memahami asal usul ‘Al-Masih‘, dan wahyu dari Yesaya, Yeremia, Zakaria, Daniel dan Maleakhi juga akan mempersiapkan kita untuk memahami “pesan Kerajaan Allah”.

Perumpamaan tentang Gulma

Setelah penjelasan perumpamaan ini, nabi Isa Al-Masih (AS) mengajarkan perumpamaan tentang gulma.

24 Ada satu ibarat lain lagi yang disampaikan Isa kepada mereka. Sabda-Nya, “Kerajaan Surga itu dapat diibaratkan dengan orang yang menabur benih yang baik di ladangnya.

25 Tetapi, pada saat semua orang tidur, datanglah musuhnya untuk menaburkan benih lalang di antara benih gandum itu, kemudian pergi.

26 Ketika benih gandum itu tumbuh dan mulai menghasilkan buah, barulah lalang itu kelihatan.

27 Lalu, hamba-hamba pemilik ladang itu datang dan bertanya kepadanya, ‘Tuan, bukankah Tuan menabur benih yang baik di ladang ini? Dari manakah lalang-lalang itu?’

28 Jawab tuan itu, ‘Itu perbuatan musuh.’ Kemudian, kata hamba-hamba itu, ‘Apakah Tuan menghendaki agar kami mencabut lalang-lalang itu?’

29 Jawabnya, ‘Tidak perlu! Karena jangan-jangan gandum-gandum pun turut tercabut ketika kamu mencabut lalang-lalang itu.

(Matius 13: 24-29)

Inilah penjelasan yang dia berikan

36 Setelah itu, Isa pergi meninggalkan orang banyak, lalu masuk ke sebuah rumah. Kemudian, datanglah para pengikut-Nya dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami ibarat tentang lalang yang di ladang itu.”

37 Sabda Isa kepada mereka, “Orang yang menabur benih yang baik itu adalah Anak Manusia,

38 dan ladang itu adalah dunia ini. Benih yang baik itu adalah anak-anak Kerajaan, dan lalang itu adalah anak-anak si jahat.

39 Sedangkan musuh yang menabur benih lalang itu adalah Iblis. Musim menuai adalah hari kiamat, dan orang-orang yang menuai itu adalah para malaikat.

40 Jadi, ibarat lalang-lalang dikumpulkan, kemudian dibakar dengan api, demikian jugalah akan terjadi pada hari kiamat nanti.

41 Anak Manusia akan menyuruh semua malaikat-Nya untuk mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan serta semua orang durhaka, mengeluarkan mereka dari dalam Kerajaan-Nya,

42 dan melemparkan mereka ke dapur api. Di tempat itu ada ratapan dan kertak gigi.

43 Pada waktu itu, orang-orang saleh akan bercahaya seperti matahari di dalam Kerajaan Sang Bapa. Siapa bertelinga, dengarlah!”

(Matius 13: 36-43)

Perumpamaan tentang Biji Sesawi dan Ragi

Nabi Isa Al-Masih (PBUH) juga mengajarkan beberapa perumpamaan yang sangat singkat.

31 Isa pun menyampaikan ibarat yang lain lagi kepada mereka. Sabda-Nya, “Kerajaan Surga itu dapat diibaratkan dengan benih sesawi yang diambil seseorang untuk ditabur di ladangnya.

32 Benih ini adalah benih yang terkecil di antara semua benih yang ditabur. Tetapi, apabila benih itu telah tumbuh, besarnya melebihi tumbuhan yang lain, bahkan kemudian menjadi pohon sehingga burung-burung pun berdatangan dan hinggap pada cabang-cabangnya.”

33 Isa pun menyampaikan ibarat lainnya kepada mereka. Sabda-Nya, “Kerajaan Surga itu dapat diibaratkan dengan ragi yang diambil oleh seorang perempuan untuk kemudian dicampurkan dengan empat puluh liter tepung sampai semuanya menjadi khamir.”

(Matius 13: 31-33)

Kerajaan Allah akan mulai kecil dan tidak berarti di dunia ini tetapi kemudian akan tumbuh di seluruh dunia seperti ragi yang bekerja melalui adonan dan seperti benih kecil yang tumbuh menjadi tanaman besar. Itu tidak terjadi dengan paksa, atau sekaligus, pertumbuhannya tidak terlihat tetapi di mana-mana dan tak terhentikan.

Perumpamaan tentang Harta Karun Tersembunyi dan Mutiara yang Sangat Berharga

44 “Kerajaan Surga itu ibarat harta karun yang terpendam di ladang. Seseorang menemukannya, lalu menyembunyikannya kembali. Karena sedemikian senangnya, pergilah ia menjual segala miliknya, lalu membeli ladang itu.

45 Kerajaan Surga pun ibarat seorang saudagar yang mencari mutiara yang indah.

46 Ketika ia mendapatkan sebutir mutiara yang bernilai tinggi, maka ia pun menjual segala miliknya, lalu membeli mutiara itu.”

(Matius 13: 44-46)

Perumpamaan ini berfokus pada nilai Kerajaan Allah. Pikirkan harta yang tersembunyi di suatu lahan. Karena disembunyikan setiap orang yang melewati berpikir bahwa lahan itu bernilai kecil sehingga mereka tidak tertarik. Tetapi seseorang menyadari ada harta di sana membuat lahan itu sangat berharga – cukup berharga untuk menjual semuanya untuk membelinya dan mendapatkan harta itu. Begitu juga dengan Kerajaan Allah – nilai yang tidak diperhatikan oleh sebagian besar orang, tetapi bagi sedikit orang yang melihatnya berharga akan mendapatkan nilai besar.

Perumpamaan tentang Jaring (Saringan)

47 “Kerajaan Surga itu dapat pula diibaratkan dengan pukat yang ditebarkan di laut untuk menjaring berbagai jenis ikan.

48 Setelah penuh, pukat itu ditarik ke pantai, lalu ikan-ikan yang didapat dipisah-pisahkan. Ikan-ikan yang baik disimpan dalam keranjang, sedangkan yang tidak baik dibuang.

49 Demikianlah yang akan terjadi pada hari kiamat. Para malaikat akan keluar untuk memisahkan orang-orang durhaka dari orang-orang saleh.

50 Kemudian, orang-orang durhaka itu akan dimasukkan ke dapur api. Di tempat itu akan ada ratapan dan kertak gigi.

(Matius 13: 47-50)

Kerajaan Allah akan memisahkan manusia. Pemisahan ini akan sepenuhnya terungkap pada Hari Pengadilan – ketika hati dibiarkan terbuka.

Kerajaan Allah tumbuh secara misterius, seperti ragi dalam adonan, bahwa ia memiliki nilai besar yang tersembunyi dari kebanyakan orang, dan bahwa hal itu menyebabkan tanggapan yang berbeda di antara orang-orang. Ini juga memisahkan orang-orang diantara mereka yang mengerti dan mereka yang tidak. Setelah mengajarkan perumpamaan ini, nabi Isa Al-Masih kemudian bertanya kepada pendengarnya sebuah pertanyaan penting.

Mengertikah kamu semuanya itu?” Mereka menjawab: “Ya, kami mengerti.”

(Matius 13: 51)

Bagaimana dengan kamu?

Al-Masih Terungkap – melalui Mengajar dengan Otoritas (Wewenang)

Surat Al-‘Alaq (Surat 96) memberi tahu kita bahwa Allah mengajarkan kita hal-hal baru yang tidak kita ketahui sebelumnya.

Yang mengajar (manusia) dengan pena.Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya

Surat al-Alaq96:4-5

Surah Ar-Rum (Surat 30) menjelaskan lebih lanjut bahwa Allah melakukannya dengan memberikan pesan kepada para nabi sehingga kita dapat memahami di mana kesalahan kita dari menyembah Allah dengan benar.

Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan, yang menjelaskan (membenarkan) apa yang (selalu) mereka persekutukan dengan Tuhan?

Surah Ar-Rum30:35

Para nabi ini memiliki wewenang dari Allah untuk menyatakan kepada kita di mana hubungan kita yang salah dengan Allah, baik dalam pikiran, ucapan, atau perilaku kita. Nabi Isa Al-Masih AS adalah guru seperti itu dan memiliki wewenang unik untuk mengungkap pikiran batin kita sehingga kita akan berpaling dari kesalahan apa pun di dalam diri kita. Kita lihat ini di sini. Kemudian kita lihat tanda dari otoritasnya (wewenangnya) yang diberikan melalui mukjizat penyembuhan.

Setelah Isa al Masih (AS) digoda oleh Setan (Iblis), ia mulai melayani sebagai seorang nabi dengan mengajar. Pengajaran terpanjangnya yang dicatat dalam Injil disebut Khotbah di Bukit. Anda dapat membaca lengkap Khotbah di Bukit di sini. Kita berikan sorotan di bawah ini, dan kemudian kita hubungkan dengan ajaran Isa al Masih dengan apa yang Nabi Musa ramalkan dalam Taurat.

Isa Al-Masih (AS) mengajarkan hal berikut:

21 * *Kamu telah mendengar perkataan yang disampaikan melalui nenek moyang kita, ‘Jangan membunuh! Siapa melakukannya harus dihakimi.’

22 Tetapi, Aku berkata kepadamu, siapa marah kepada saudaranya harus dihakimi. Siapa memaki saudaranya dengan berkata, ‘Hai kafir,’ harus dihadapkan ke Mahkamah Agama. Siapa berkata, ‘Hai jahil,’ harus dimasukkan ke neraka jahanam.

23 Sebab itu, jika engkau membawa persembahanmu ke tempat pembakaran kurban, lalu di sana tiba-tiba engkau ingat bahwa saudaramu menganggap engkau bersalah terhadapnya,

24 tinggalkanlah persembahanmu itu di depan tempat pembakaran kurban, lalu pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu. Setelah itu, barulah engkau boleh datang kembali ke tempat pembakaran kurban untuk mempersembahkan persembahanmu.

25 Segeralah berdamai dengan orang yang mendakwa engkau sewaktu engkau masih dalam perjalanan bersamanya supaya ia tidak menyerahkan engkau ke pengadilan, lalu hakim menyerahkan engkau kepada petugasnya dan engkau dimasukkan ke penjara.

26 Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, engkau sekali-kali tidak akan dikeluarkan dari tempat itu sebelum engkau melunasi sisa hutangmu.

27 *Kamu telah mendengar perkataan, ‘Jangan berzina.’

28 Tetapi, Aku berkata kepadamu, siapa memandang perempuan serta menginginkannya, ia telah berbuat zina dengan perempuan itu di dalam hatinya.

29 *Sebab itu, jika mata kananmu menyebabkan engkau bersalah, cungkil dan buanglah! Karena lebih baik engkau kehilangan satu anggota tubuhmu daripada seluruh tubuhmu dimasukkan ke neraka jahanam.

30 *Demikian juga jika tangan kananmu menyebabkan engkau berdosa, potong dan buanglah! Karena lebih baik engkau kehilangan satu anggota tubuhmu daripada seluruh tubuhmu masuk ke neraka jahanam.

31 *Sudah dikatakan pula, ‘Siapa menceraikan istrinya harus memberi surat talak kepadanya.’

32 *Tetapi, Aku berkata kepadamu, siapa menceraikan istrinya, kecuali karena percabulan, ia menyebabkan istrinya itu berzina, dan siapa menikahi istri yang sudah diceraikan itu, ia pun berzina.

33 *Kamu telah mendengar perkataan yang disampaikan kepada nenek moyang kita, ‘Jangan bersumpah palsu, melainkan bayarlah apa yang sudah kamu sumpahkan itu kepada Tuhan.’

34 *Tetapi, Aku berkata kepadamu, jangan engkau bersumpah, baik demi langit karena langit adalah arasy Allah;

35 *atau demi bumi karena bumi adalah tempat tumpuan kaki-Nya; atau demi Yerusalem karena Yerusalem adalah kota tempat Raja Agung tinggal;

36 atau pun demi kepalamu karena kamu tidak dapat memutihkan atau menghitamkan sehelai pun dari rambutmu itu.

37 Jadi, katakanlah ‘Ya’ jika ya, dan ‘Tidak’ jika memang tidak. Selebihnya dari itu berasal dari si jahat.

38 *Kamu juga telah mendengar perkataan, ‘Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.’

39 Tetapi, Aku berkata kepadamu, jangan melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan jika seseorang menampar pipi kananmu, sodorkanlah juga pipi kirimu;

40 jika orang ingin mendakwa engkau karena ia menghendaki bajumu, biarlah ia mengambil jubahmu juga;

41 dan jika orang memaksa engkau berjalan satu setengah kilometer, berjalanlah dengannya sejauh tiga kilometer.

42 Berilah kepada orang yang meminta, dan jika orang hendak meminjam darimu, janganlah menolaknya.

43 *Kamu telah mendengar perkataan, ‘Kasihilah temanmu dan bencilah musuhmu.’

44 Tetapi, Aku berkata kepadamu, kasihilah mereka yang menyeterui kamu dan doakanlah orang-orang yang menganiaya kamu.

45 Dengan demikian, kamu bertindak sebagai anak-anak sejati dari Bapamu yang di surga karena Ia menerbitkan matahari-Nya bukan hanya untuk orang yang baik, tetapi juga bagi orang yang jahat. Ia pun menurunkan hujan tidak hanya untuk orang yang saleh, tetapi juga bagi orang yang fasik.

46 Jika kamu hanya mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah pahalamu? Bukankah pemungut cukai pun melakukan hal yang sama?

47 Demikian pula jika kamu hanya mengucapkan salam kepada saudaramu, apa istimewanya perbuatanmu itu? Bukankah orang-orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?

48 *Sebab itu, hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”

(Matius 5:21-48)

Al-Masih dan Khotbah di Bukit

Isa Al-Masih (AS) mengajarkan dengan bentuk “Anda telah mendengar bahwa dikatakan … Tapi saya katakan …”. Dalam struktur ini ia mengutip pertama-tama dari Taurat, dan kemudian memperluas cakupan perintah ke motif (niat), pemikiran dan kata-kata. Isa Al-Masih mengajar dengan mengambil perintah ketat yang diberikan melalui Nabi Musa (AS) dan membuatnya lebih sulit untuk dilakukan!

Tetapi yang juga luar biasa adalah cara dia memperluas perintah Taurat. Dia melakukannya berdasarkan wewenangnya sendiri. Dia hanya mengatakan, ‘Tapi saya katakan …’ dan dengan itu dia meningkatkan cakupan perintah. Ini adalah satu hal yang sangat unik tentang pengajarannya. Seperti yang dikatakan Injil ketika dia menyelesaikan Khotbah ini

28 *Setelah Isa mengakhiri pengajaran-Nya, orang banyak menjadi heran

29 karena Ia mengajar mereka sebagai seorang yang berwibawa, tidak seperti para ahli Kitab Suci Taurat.

(Matius 7:28-29)

Memang, Isa Al-Masih (AS) mengajar sebagai orang yang memiliki wewenang besar. Sebagian besar nabi hanyalah utusan yang menyampaikan pesan dari Allah, tetapi di sini berbeda. Mengapa Isa Al-Masih bisa melakukan ini? Karena ‘Al-Masih‘ yang kami lihat di sini adalah gelar yang diberikan dalam Zabur tentang kedatangan, ia memiliki otoritas besar. Zabur 2 dari Zabur, di mana Gelar ‘Al-Masih’ pertama kali diberikan menggambarkan Allah berbicara kepada Al-Masih dengan cara berikut

8 Mintalah kepada-Ku
maka Aku akan memberikan bangsa-bangsa menjadi milik pusakamu
dan ujung-ujung bumi menjadi kepunyaanmu.
 
(Zabur 2:8)

Al-Masih diberi wewenang atas bangsa-bangsa, bahkan sampai ke ujung bumi. Jadi sebagai Al-Masih, Isa memiliki wewenang untuk mengajar seperti yang dilakukannya.

Nabi dan Khotbah di Bukit

Kenyataannya, seperti yang kita lihat di sini, di Taurat, nabi Musa (AS) telah meramalkan kedatangan ‘Nabi’, yang akan dicatat dalam cara dia mengajar. Musa telah menulis

 
18 Aku akan membangkitkan bagi mereka seorang nabi seperti engkau dari antara saudara-saudara mereka. Aku akan memberitahukan kepadanya firman-Ku, dan ia akan menyampaikan kepada mereka semua yang Kuperintahkan kepadanya.

19 Jadi, setiap orang yang tidak mau mendengarkan firman-Ku yang akan disampaikan nabi itu atas nama-Ku akan Kutuntut pertanggungjawaban.

(Ulangan 18: 18-19)

Dalam mengajarkan cara dia melakukannya, Isa menggunakan wewenangnya sebagai Al-Masih dan memenuhi nubuat Musa tentang Nabi yang akan datang yang akan mengajar dengan wewenang besar. Dia adalah Al-Masih dan Nabi.

Anda & saya dan Khotbah di Bukit

Jika Anda mempelajari dengan seksama Khotbah di Bukit untuk melihat bagaimana Anda harus taat maka Anda mungkin bingung. Bagaimana seseorang dapat menjalankan perintah-perintah semacam ini yang menyentuh hati dan niat kita? Apa maksud Isa al Masih dengan Khotbah ini? Kita bisa lihat jawabannya dari kalimat penutupnya.

48 *Sebab itu, hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”

(Matius 5: 48)

Perhatikan bahwa ini adalah sebuah perintah, bukan sebuah saran. Syaratnya adalah kita menjadi sempurna! Mengapa? Karena Tuhan itu sempurna dan jika kita bersama-sama dengan Dia di Surga tidak ada yang kurang dari sempurna yang bisa dilakukan. Kita sering berpikir bahwa mungkin lebih baik daripada perbuatan buruk – itu sudah cukup. Tetapi jika itu yang terjadi, dan Allah membiarkan kita memasuki Surga, kita akan menghancurkan kesempurnaan Surga dan mengubahnya menjadi kekacauan yang kita miliki di dunia ini. Nafsu, keserakahan, kemarahan kita yang menghancurkan hidup kita di sini hari ini. Jika kita pergi ke Surga masih berpegang pada nafsu, keserakahan dan amarah maka Surga akan dengan cepat menjadi seperti dunia ini – penuh dengan masalah yang kita buat sendiri.

Bahkan, banyak dari pengajaran Isa Al-Masih berfokus pada hati batin kita daripada upacara lahiriah. Pertimbangkan bagaimana, dalam pengajaran lain, dia berfokus pada hati batiniah kita.

20 Sabda-Nya selanjutnya, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.

21 Karena dari dalamlah, yaitu dari hati orang, timbul pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,

22 perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujatan, kesombongan, kebebalan.

23 Segala hal yang jahat itu timbul dari dalam hati dan menajiskan seseorang.”

(Markus 7: 20-23)

Jadi kemurnian di dalam diri kita sangat penting dan standar yang dibutuhkan adalah kesempurnaan. Allah hanya akan membiarkan ‘sempurna’ ke dalam surga yang sempurna. Tetapi meskipun secara teori itu kedengarannya bagus, itu menimbulkan masalah besar: Bagaimana kita akan masuk ke Surga ini jika kita tidak sempurna? Ketidakmungkinan bagi kita untuk menjadi cukup sempurna dapat menyebabkan kita putus asa.

Tapi itulah yang dia inginkan! Ketika kita putus asa untuk menjadi cukup baik, ketika kita berhenti memercayai kebaikan kita sendiri maka kita menjadi ‘miskin dalam semangat’. Dan Isa Al-Masih, dalam memulai seluruh Khotbah ini, berkata:

3 “Berbahagialah mereka yang tidak punya apa-apa di hadapan Allah
karena merekalah yang memiliki Kerajaan Surga.
 
(Matius 5:3)

Awal dari kebijaksanaan bagi kita adalah untuk tidak mengabaikan ajaran-ajaran ini karena tidak berlaku untuk kita. Mereka melakukannya! Standarnya adalah ‘Sempurna‘. Ketika kita membiarkan standar itu meresap ke dalam diri kita, dan menyadari bahwa kita tidak mampu melakukannya, maka kita mulai menyusuri Jalan Lurus. Kita mulai dari Jalan Lurus ini

karena, mengenali kekurangan kita, kita mungkin lebih siap untuk menerima bantuan daripada jika kita berpikir kita bisa melakukannya dengan kemampuan kita sendiri.