Bulan Suci Ramadan – Bagaimana cara berpuasa?

Saat bulan puasa tiba, saya mendengar teman-teman saya mendiskusikan cara terbaik untuk berpuasa. Perbincangan ini biasanya berpusat pada kapan waktu terbaik untuk sahur dan berbuka. Saat Ramadan jatuh pada musim panas,  ketika matahari bersinar selama16 jam atau bahkan lebih di tempat kami tinggal, di bagian utara, muncul pertanyaan tentang apakah kita bisa memakai standar waktu siang yang lain (seperti selang waktu antara matahari terbit dan terbenam yang berlaku di Mekah) untuk berpuasa. Dalam hal ini, teman-teman saya mengikuti  aturan yang berbeda-beda menurut berbagai ulama, juga tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama bulan puasa.

Pertanyaan yang tidak kalah pentingnya dari diskusi di atas adalah, bagimana cara kita hidup supaya puasa kita menyenangkan hati Allah. Para Nabi telah menuliskan bahwa cara hidup yang benar akan menghasilkan puasa yang menyenangkan hati Allah. Hal ini tidak hanya penting pada masa nabi-nabi namun juga pada masa ini..

Nabi Yesaya A.S hidup pada masa orang-orang percaya melakukan kewajiban-kewajiban keagamaan mereka (seperti puasa dan doa) dengan sangat ketat. Mereka sangat religius.

Dawood writes Psalm, starting Zabur = Dawud menulis Mazmur, memulai Zabu

Tetapi, masa itu juga adalah masa kebobrokan (lihat Mengenalkan Zabur). Orang-orang pada saat itu terus berkelahi, berselisih, dan bertengkar. Oleh karena itu,  nabi membawa pesan ini kepada mereka.

True Fasting

 Puasa yang Sejati

1 “Berserulah kuat-kuat, jangan tahan-tahan!
Nyaringkanlah suaramu seperti sangkakala!
Beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran-pelanggaran mereka
dan kepada kaum keturunan Yakub dosa-dosa mereka!
2 Mereka memang mencari hadirat-Ku hari demi hari
dan suka mengetahui jalan-jalan-Ku.
Seolah-olah bangsa yang melakukan kebenaran
dan tidak mengabaikan peraturan-peraturan Tuhannya,
mereka bertanya kepada-Ku tentang peraturan-peraturan yang benar,
mereka suka menghadap Allah.
3 Kata mereka, ‘Untuk apa kami berpuasa, padahal Engkau tidak melihatnya?
Untuk apa kami merendahkan diri, padahal Engkau tidak memperhatikannya?’
Sesungguhnya, pada hari puasamu kamu mencari kesenangan sendiri
dan menindas semua pekerjamu.
4 Sesungguhnya, kamu berpuasa hanya untuk berbantah, bertengkar,
dan memukul dengan tinju kefasikan.
Puasa seperti yang kamu lakukan hari ini
tidak akan membuat suaramu didengar di tempat tinggi.
5 Beginikah puasa yang Kukehendaki,
suatu hari bagi seseorang untuk merendahkan diri,
menundukkan kepalanya seperti gelagah,
dan menghamparkan kain kabung dan abu sebagai alas tidurnya?
Inikah yang kausebut puasa,
suatu hari yang dikenan Allah?
6 Bukankah puasa yang Kukehendaki
adalah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kefasikan
dan melepaskan tali-tali kuk
supaya engkau melepas orang yang tertindas sebagai orang merdeka
dan mematahkan setiap kuk?
7 Bukankah supaya engkau membagikan rotimu kepada orang lapar
dan membawa ke rumahmu orang miskin yang terbuang—
apabila engkau melihat orang telanjang, engkau memberi dia pakaian,
dan tidak menyembunyikan diri dari darah dagingmu sendiri?
8 Maka, barulah terangmu akan merekah seperti fajar
dan kesembuhanmu akan datang dengan segera.
Kebenaranmu akan berjalan di depanmu
dan kemuliaan Allah akan menjadi penutup barisanmu.
9 Pada waktu itulah engkau akan berseru dan Allah akan menjawab,
engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berfirman, ‘Ini Aku!’
Jika engkau menyingkirkan dari tengah-tengahmu kuk,
jari yang menuding-nuding, dan perkataan yang jahat;
10 jika engkau mengorbankan diri bagi orang lapar
dan memuaskan hati orang yang tertindas,
maka terangmu akan terbit di dalam gelap
dan kekelamanmu akan seperti tengah hari.
11 Allah akan selalu memimpin engkau,
akan memuaskan hatimu di tanah yang kering kerontang,
dan akan menguatkan tulang-tulangmu.
Engkau akan seperti taman yang diairi,
dan seperti mata air yang airnya tidak pernah mengecewakan.
12 Orang-orangmu akan membangun kembali tempat-tempat yang sudah lama rusak.
Engkau akan menegakkan kembali dasar yang sudah turun-temurun,
dan engkau akan disebut ‘yang menutup lubang-lubang tembok,’
‘yang membetulkan lorong-lorong tempat kediaman.’

 

Yesaya 58: 1-12

Bukankah janji mengenai hidup yang berkelimpahan karena puasa yang sejati itu luar biasa? Namun, orang-orang pada zaman itu tidak mendengarkan sang nabi dan tidak bertobat ( Pengajaran Nabi Yahya A.S tentang Pertobatan). Oleh karena itu, mereka dihakimi sesuai dengan nubuatan Nabi Musa A.S. Pesan ini tetap menjadi peringatan bagi kita sebab deskripsi Nabi Yesaya tentang perilaku mereka saat berpuasa mirip dengan yang kita lihat saat ini.

Puasa kita menjadi tidak berguna, meskipun kita sudah mengikuti aturan-aturan yang diizinkan oleh para imam kita, kalau kita masih gagal menyenangkan hati Allah melalui cara hidup kita yang menyakiti hati-Nya. Jadi, pahamilah cara untuk menerima belas kasih-Nya melalui Nabi Isa al Masih A.S.

Lailatul Qadar, Hari Kemuliaan & Sabda Para Nabi

Surat Al-Qadar [97] menggambarkan Malam Kemuliaan ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.Pada malam itu turun para malaikat dan Rµh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

Surat Al-Qadr 97:1-5

 

Surat Al-Qadar, meskipun menggambarkan Lailatul Qadar (Malam Kemuliaan) sebagai ‘lebih baik dari seribu bulan’ masih menanyakan apakah Malam Kemuliaan itu. Apa yang Menyemangati yang membuat Malam Kemuliaan lebih baik dari seribu bulan?

Surat Al-Lail [92] memiliki tema yang sangat mirip tentang Siang dan Cahaya yang mengikuti Malam. Hari itu datang dengan kemuliaan, dan Allah membimbing karena Dia mengetahui segalanya dari Awal hingga Akhir. Karena itu Dia memperingatkan kita tentang Api di Akhir.

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),demi siang apabila terang benderang,

 

Surat Al-Lail 92:1-2

Sesungguhnya Kamilah yang memberi petunjuk,dan sesungguhnya milik Kamilah akhirat dan dunia itu.Maka Aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala,

Surat Al-Lail 92:12-14

Bandingkan Surat Al-Qadar dan Surah Al-Lail dengan yang berikut ini:

1 Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Isa Al-Masih. Kepada semua orang yang telah memperoleh iman yang sama indahnya dengan iman kami karena apa yang benar, yang berasal dari Tuhan kita dan Penyelamat kita Isa Al-Masih.

2 Bagimu dilimpahkan anugerah dan sejahtera sementara kamu mengenal Allah dan Isa, Junjungan kita Yang Ilahi.

3 Segala sesuatu yang berguna untuk hidup dan kesalehan telah dianugerahkan kepada kita oleh kuasa Ilahi-Nya melalui pengenalan terhadap Dia, yang telah memanggil kita kepada kemuliaan dan kebaikan-Nya.

4 Melalui hal itu, Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan luar biasa besarnya supaya dengan itu kamu memperoleh bagian dalam keilahian-Nya dan terlepas dari kebinasaan di dunia akibat keinginan jahat.

5 Oleh karena itu, dengan segala upaya, tambahkanlah pada imanmu kebaikan, dan pada kebaikanmu pengetahuan,

6 pada pengetahuan penguasaan diri, pada penguasaan diri ketekunan, pada ketekunan kesalehan,

7 pada kesalehan kasih persaudaraan, dan pada kasih persaudaraanmu kasih terhadap semua orang.

8 Karena jika semua hal itu ada di dalam dirimu dengan berlimpah-limpah, maka kamu akan berhasil dan berbuah dalam mengenal Isa Al-Masih, Junjungan kita Yang Ilahi.

9 Sedangkan orang yang tidak memiliki semua hal itu sama seperti orang yang buta dan berpandangan picik. Ia lupa bahwa ia telah disucikan dari dosa-dosanya yang dahulu.

10 Oleh sebab itu, hai Saudara-saudaraku, berusahalah lebih lagi agar panggilan dan pilihan-Nya atas kamu menjadi teguh

11 karena jika kamu melakukan semua itu, maka sekali-kali kamu tidak akan tersandung. Dengan demikian, oleh kemurahan-Nya kelak kamu akan diberi hak penuh untuk masuk ke dalam kerajaan kekal, yaitu kerajaan yang diperintah oleh Isa Al-Masih, Junjungan Yang Ilahi dan Penyelamat kita.

12 Oleh sebab itu, aku bermaksud untuk selalu mengingatkan kamu mengenai semua hal itu walaupun kamu sudah mengetahuinya dan tetap teguh di dalam kebenaran yang telah kamu terima.

13 Lagi pula, menurut anggapanku, selama aku masih mendiami kemah ini sudah sepatutnyalah apabila aku terus-menerus mengingatkan kamu

14 sebab aku tahu bahwa aku akan segera menanggalkan kemahku, seperti telah diberitahukan kepadaku oleh Isa Al-Masih, Junjungan kita Yang Ilahi.

15 Namun, aku akan berusaha supaya sepeninggalku kelak kamu dapat mengingat semua hal itu setiap saat.
Nubuat tentang Kemuliaan Al-Masih Telah Digenapi

16 Kami sudah memberitahukan kepadamu mengenai kuasa dan kedatangan Isa Al-Masih, Junjungan kita Yang Ilahi itu. Semua itu bukanlah dongeng yang dibuat oleh kecerdikan manusia karena kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.

17 *Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah, Sang Bapa, ketika suara dari Yang Mahamulia datang kepada-Nya, “Inilah Sang Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

18 Suara itulah yang kami dengar dari surga ketika kami sedang bersama-sama dengan-Nya di atas gunung yang suci itu.

19 Selain itu, pada kami juga ada kata-kata nubuat yang lebih meneguhkan. Sebaiknya, kamu pun memperhatikannya karena kata-kata nubuat itu sama seperti pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai hari menjadi terang dan bintang timur terbit di dalam hatimu.

(2 Petrus 1:1-19)

Apakah Anda melihat kesamaan? Ketika saya membaca Surat Al-Qadar dan Surah Al-Lail saya teringat kutipan ini. Itu juga menyatakan Hari yang terbit setelah Malam. Pada malam hari wahyu diberikan kepada para nabi. Itu juga memperingatkan kita untuk tidak mengabaikan pesan kenabian. Jika tidak, kita menghadapi konsekuensi yang parah.

Ini ditulis oleh Rasul Petrus, murid terkemuka dan sahabat Nabi Isa Al-Masih AS. Surah As-Saf [61] mengatakan tentang murid Isa Al-Masih:

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah,” lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami berikan kekuatan ke-pada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.

Surat As-Saf 61:14

Surat As-Saf menyatakan bahwa murid Isa al Masih adalah ‘pembantu Tuhan’. Mereka yang percaya pesan para murid menerima kekuatan yang dibicarakan ini. Sebagai murid utama, Petrus, adalah pemimpin dari orang-orang yang membantu Tuhan. Meskipun ia adalah murid Nabi Isa al Masih AS, menyaksikan banyak mukjizatnya, mendengar banyak ajarannya, dan melihat wewenagnya dijalankan, Petrus masih menyatakan di atas bahwa perkataan para nabi bahkan ‘lebih pasti’. Mengapa dia lebih yakin pada para nabi daripada apa yang dia sendiri saksikan? Dia melanjutkan:

20 Hal terutama yang harus kamu ketahui ialah bahwa tidak ada satu nubuat pun dalam Kitab Suci yang berasal dari penafsiran manusia

21 karena tidak pernah ada nubuat yang muncul atas kehendak manusia, melainkan karena didorong oleh Ruh Allah, orang-orang menyampaikan firman yang asalnya dari Allah.

(2 Petrus 1:20-21)

Ini memberitahu kita bahwa Roh Kudus Tuhan ‘membawa’ para nabi, sehingga apa yang mereka baca dan tulis adalah ‘dari Tuhan’. Inilah mengapa Malam seperti ini lebih baik daripada seribu bulan karena itu berakar di dalam Roh Kudus daripada pada ‘kehendak manusia’. Surah As-Saf menceritakan kita bahwa mereka yang memperhatikan pesan Petrus akan menerima Kuasa yang dijalankan pada Malam Kemuliaan dan akan menang.

Hidup di zaman Nabi Isa Al-Masih, para ‘nabi’ yang ditulis oleh Petrus adalah nabi-nabi yang sekarang disebut dalam Perjanjian Lama – Kitab Suci yang datang sebelum Injil. Dalam Taurat Nabi Musa ada catatan dari Adam, Qabil & Habil, Nuh, Luth dan Ibrahim. Juga termasuk kisah ketika Musa menghadapi Fira’un dan kemudian menerima Hukum Syariah, dan juga pengorbanan saudaranya Harun, dari mana Surat Al- Baqarah disebutkan.

Setelah Taurat ditutup, datanglah Zabur di mana Dawudterinspirasi untuk berbicara tentang Al-Masih yang akan datang. Nabi-nabi berturut-turut kemudian meramalkan tentang Al-Masih datang dari seorang Perawan, Kerajaan Allah terbuka untuk semua, dan juga penderitaan besar untuk Hamba yang akan datang. Kemudian nama Masih dinubuatkan, bersamaan dengan waktu kedatangannya, juga Janji Sang Penyedia.

Banyak dari kita yang belum sempat membaca tulisan ini untuk diri kita sendiri. Di sini, dengan tautan-tautan yang berbeda ini, ada kesempatan. Surat Al-Lail memperingatkan akan datangnya Api. Surat Al-Qadar menyatakan bahwa Roh Tuhan sedang bekerja di Malam Kemuliaan. Surat As-Saf menjanjikan Kemuliaan bagi mereka yang mempercayai pesan para murid. Petrus, pemimpin dari murid-murid ini, kemudian menasihati kita untuk ‘memperhatikan’ wahyu dari para nabi paling awal, yang diberikan pada Malam, yang menantikan Hari. Bukankah bijaksana untuk mengetahui pesan-pesan mereka?

 

Apa pesan dari ‘Al-Kitab’ – Buku?

Al Kitab secara harfiah berarti ‘Buku’. Alkitab adalah tulisan pertama dalam sejarah yang dimasukkan ke dalam bentuk buku yang kita lihat hari ini. Alkitab adalah buku klasik dunia yang memasukkan dalam cakupannya semua orang dan bangsa di bumi. Dengan demikian, buku yang luar biasa ini telah diterjemahkan ke dalam hampir semua bahasa di bumi. Alkitab telah memiliki pengaruh besar terhadap banyak bangsa, dan merupakan buku yang paling banyak dibaca di planet ini. Namun buku ini juga merupakan buku yang panjang, dengan cerita yang kompleks. Begitu banyak dari kita yang tidak tahu atau mengerti tema buku ini. Artikel ini akan mengambil satu kalimat dari buku Alkitab untuk menjelaskan kisah buku klasik ini – karya Nabi Isa Al-Masih (AS).

Alkitab diberikan untuk mengatasi masalah nyata di masa depan kita. Masalah ini dijelaskan dalam Surat al-Mujadila [58] dalam mencari Hari Penghakiman yang akan datang

Pada hari itu mereka dibangkitkan Allah, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya (semua amal perbuatan itu), meskipun mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Surat al-Mujadila 58: 6-7

Surat al-Mujadila memberi tahu kita bahwa tidak mungkin Allah tidak tahu tentang kita, dan dia akan menggunakan pengetahuan ini untuk menghakimi kita.

Surat al-Qiyamah [75] mengatakan hari ini ‘Hari Kebangkitan’ dan juga memperingatkan bagaimana manusia akan dibawa ke depan untuk mempertanggungjawabkan hidupnya.

pada hari itu manusia berkata, “Ke mana tempat lari?”Tidak! Tidak ada tempat berlindung!Hanya kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu.Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri,dan meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.

Surat al-Qiyamah 75: 10-15

Jadi apa yang kita lakukan jika ada niat dan tindakan dalam hidup kita yang membuat kita merasa malu? Pesan Alkitab adalah untuk mereka yang membawa keprihatinan ini.

Pesan Buku

Kita telah membahas minggu terakhir nabi Isa Al-Masih AS. Injil mencatat bahwa ia disalibkan pada Hari 6 – Jumat Agung, dan ia dibangkitkan kembali pada hari Minggu berikutnya. Ini diramalkan baik dalam Taurat dan Mazmur dan para Nabi. Tetapi mengapa ini terjadi dan apa artinya bagi Anda dan saya hari ini? Di sini kita berusaha memahami apa yang ditawarkan oleh Nabi Isa al Masih, dan bagaimana kita dapat menerima belas kasihan dan pengampunan. Ini akan membantu kita bahkan memahami tebusan Ibrahim yang dijelaskan dalam Surat As-Saffat [37], Surat al Fatihah [1] ketika meminta kepada Allah untuk ‘menunjukkan kita ke Jalan Yang Lurus’, serta memahami mengapa ‘Muslim’ berarti ‘orang yang berserah diri’, dan mengapa ketaatan beragama seperti berwudhu, zakat dan makan makanan yang halal adalah baik tetapi tidak mencukupi untuk Hari Penghakiman.

Berita Buruk – apa yang para nabi katakan tentang hubungan kita dengan Allah

Taurat mengajarkan bahwa ketika Allan menciptakan manusia Dia


27 Maka, Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya. Menurut citra-Nya, Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan.

(Kejadian 1:27)

“Gambar” tidak dimaksudkan dalam arti fisik, melainkan bahwa kita dibuat untuk mencerminkan Dia dalam cara kita berfungsi secara emosional, mental, sosial dan spiritual. Kita diciptakan untuk berada dalam hubungan dengan-Nya. Kita dapat menggambarkan hubungan ini di slide di bawah ini. Sang Pencipta, sebagai penguasa tanpa batas, ditempatkan di bagian atas sementara pria dan wanita ditempatkan di bagian bawah slide karena kita adalah makhluk yang terbatas. Hubungan ditunjukkan oleh panah penghubung.

 

Diciptakan dalam gambar-Nya, manusia diciptakan untuk berhubungan dengan Sang Pencipta

 

Allah itu sempurna dalam karakter – Dia Maha Suci. Karena hal ini Zabur berkata

5 Engkau bukanlah Tuhan yang berkenan akan kefasikan.
Orang jahat tidak dapat tinggal di hadirat-Mu.

(Zabur 5: 5)

Adam melakukan satu perbuatan ketidaktaatan – hanya satu – dan Kesucian Allah menuntutnya untuk menghakimi. Taurat dan Al Qur’an mencatat bahwa Allah menjadikannya manusia dan mengusirnya dari hadhirat-Nya. Situasi yang sama ada untuk kita. Ketika kita berbuat dosa atau tidak taat dengan cara apa pun kita tidak menghormati Allah karena kita tidak bertindak sesuai dengan gambaran kita yang diciptakan. Hubungan kita terputus. Ini menghasilkan penghalang sekokoh dinding batu diantara kita dan Sang Pencipta.

 

Dosa kita menciptakan penghalang yang kuat antara kita dan Allah yang Maha Suci

Menusuk Penghalang Dosa dengan Keta’atan Keagamaan

Banyak dari kita mencoba untuk menembus penghalang antara kita dan Allah ini dengan perbuatan keagamaan atau pekerjaan yang menghasilkan cukup banyak kepatutan untuk menghancurkan penghalang itu. Doa, puasa, haji, pergi ke masjid, zakat, sedekah adalah cara-cara yang kita upayakan untuk mendapatkan pahala untuk menembus penghalang seperti digambarkan berikut. Harapannya adalah pahala keagamaan akan menghapuskan beberapa dosa. Jika banyak perbuatan kita menghasilkan pahala yang cukup, kita berharap untuk menghapuskan semua dosa kita dan menerima belas kasihan dan pengampunan.

 

Kita mencoba untuk menembus penghalang ini dengan melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan pahala di hadapan Allah

Tetapi berapa banyak pahala yang kita butuhkan untuk menghapuskan dosa? Apa jaminan kita bahwa perbuatan baik kita akan cukup untuk menghapuskan dosa dan menembus penghalang yang telah terjadi di antara kita dan Sang Pencipta? Apakah kita tahu jika upaya kita untuk niat baik akan cukup? Kita tidak memiliki jaminan dan karenanya kita berusaha melakukan sebanyak yang kita bisa dan berharap itu akan cukup pada Hari Penghakiman.

Bersamaan dengan perbuatan untuk mendapatkan pahala, upaya-upaya untuk niat baik, banyak dari kita bekerja keras untuk tetap bersih. Kita rajin melakukan wudhu sebelum shalat. Kita bekerja keras untuk menjauh dari orang-orang, perbuatan-perbuatan dan makanan yang membuat kita tidak bersih. Tetapi nabi Yesaya mengungkapkan bahwa:

6 Kami semua seperti orang najis,
dan segala kebenaran kami seperti kain cemar.
Kami semua layu seperti daun,
dan kesalahan-kesalahan kami menerbangkan kami
seperti angin.

(Yesaya 64: 6)

Nabi memberi tahu kita bahwa bahkan jika kita menghindari segala sesuatu yang membuat kita tidak suci, dosa-dosa kita akan membuat ‘tindakan benar’ kita sama tidak bergunanya dengan ‘kain kotor’ dalam membuat kita bersih. Itu berita buruk. Dan bertambah buruk.

Berita Lebih Buruk: kekuatan Dosa dan Kematian

Nabi Musa AS dengan jelas menetapkan standar dalam Hukum bahwa kepatuhan total diperlukan. Hukum tidak pernah mengatakan sesuatu seperti “upaya untuk mengikuti sebagian besar perintah”. Kenyataannya Hukum berulang kali menyatakan bahwa satu-satunya pekerjaan yang menjamin penebusan dosa adalah kematian. Kita lihat pada masa Nuh AS dan bahkan dengan istri Lut AS bahwa kematian dihasilkan dari dosa.

Injil merangkum kebenaran ini dengan cara berikut:

Karena upah dosa adalah maut…(Rum 6:23)

“Kematian” secara harfiah berarti ‘pemisahan’. Ketika jiwa kita terpisah dari tubuh kita, kita mati secara fisik. Demikian pula kita sekarang bahkan terpisah dari Allah secara rohani dan mati serta najis di hadapan-Nya.

Ini mengungkapkan masalah dari harapan kita dalam mendapatkan jasa untuk menebus dosa. Masalahnya adalah bahwa upaya keras, pahala, niat baik, dan perbuatan kita, meskipun tidak salah, tidak cukup karena pembayaran yang diperlukan (‘upah’) untuk dosa-dosa kita adalah ‘kematian’. Hanya kematian yang akan menembus tembok ini karena itu memenuhi keadilan Tuhan. Upaya kita untuk mendapatkan pahala seperti mencoba menyembuhkan kanker (yang berakibat kematian) dengan makan makanan halal. Makan makanan halal itu tidak buruk, itu baik – dan seharusnya makan makanan yang halal – tetapi itu tidak akan menyembuhkan kanker. Untuk kanker Anda membutuhkan perawatan yang sama sekali berbeda yaitu yang mematikan sel kanker.

Jadi, bahkan dalam upaya dan niat baik kita untuk menghasilkan keta’atan keagamaan kita sebenarnya mati dan najis sebagai mayat di hadapan Sang Pencipta.

 

Dosa kita menghasilkan kematian – Kita seperti mayat yang najis di hadapan Allah

Ibrahim – menunjukkan Jalan Yang Lurus

Lain halnya dengan Nabi Ibrahim AS. Dia ‘dianggap sebagai kebenaran’, bukan karena jasa-jasanya tetapi karena dia percaya dan percaya janji kepadanya. Dia memercayai Tuhan untuk memenuhi penebusan yang diminta, daripada menghasilkan untuk dirinya sendiri. Kita lihat dalam pengorbanannya yang besar bahwa kematian (penebusan dosa) dibayarkan, tetapi bukan oleh putranya melainkan oleh seekor domba yang disediakan oleh Allah.

 

Ibrahim ditunjukkan Jalan Lurus – Dia hanya mempercayai Janji Tuhan dan Tuhan Menyediakan pembayaran kematian untuk dosa

Al-Quran berbicara tentang ini dalam Surat As-Saffat [37] di mana dikatakan:

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,”Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”

Surat As-Saffat37: 107-109

Allah ‘menebus’ (membayar harga) dan Ibrahim menerima berkah, rahmat dan pengampunan, termasuk ‘kedamaian’.

Kabar Baik: Karya Isa al Masih atas nama kita

Teladan dari nabi ada di sana untuk menunjukkan kepada kita Jalan Lurus sesuai dengan permintaan Surat Al-Fatihah [1 – Pembukaan]

Pemilik hari pembalasan.Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.Tunjukilah kami jalan yang lurus(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Surat al-Fatihah 1: 4-7

Injil menjelaskan bahwa ini adalah gambaran untuk menunjukkan bagaimana Allah akan menebus dosa dan menyediakan obat untuk kematian dan kenajisan dengan cara yang sederhana namun kuat.

23 Karena upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Isa Al-Masih, Junjungan kita Yang Ilahi.

(Roma 6:23)

Sejauh ini semuanya merupakan ‘berita buruk’. Tetapi ‘injil’ secara harfiah berarti ‘kabar baik’ dan dalam menyatakan bahwa pengorbanan kematian Isa sudah cukup untuk menembus penghalang antara kita dan Tuhan, kita dapat melihat mengapa itu adalah kabar baik seperti yang ditunjukkan.

 

Pengorbanan Isa al Masih – anak domba Allah – melakukan pembayaran mati terhadap dosa atas nama kita seperti yang dilakukan dalam dombanya Ibrahim.

Nabi Isa al Masih dikorbankan dan kemudian bangkit dari kematian sebagai buah sulung sehingga ia sekarang menawarkan kepada kita kehidupan barunya. Kita tidak perlu lagi menjadi tahanan atas kematian dosa.

 

Kebangkitan Isa al Masih adalah ‘buah sulung’. Kita dapat dibebaskan dari kematian dan menerima kehidupan kebangkitan yang sama.

Dalam pengrobanan dan kebangkitannya, Isa al Masih menjadi gerbang yang menerobos penghalang dosa yang memisahkan kita dari Allah. Inilah sebabnya nabi berkata:

9 Akulah pintu. Jika seseorang masuk melalui Aku, ia akan selamat dan akan keluar masuk serta mendapatkan makanan.

10 Pencuri datang hanya untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Sebaliknya, Aku datang dengan maksud supaya domba-domba itu mempunyai hidup, dan mempunyainya berlimpah-limpah.

(Yahya 10:9-10)

 

Dengan demikian Isa al Masih adalah Gerbang yang menerobos penghalang dosa dan kematian

Karena gerbang ini, kita sekarang dapat memperoleh kembali hubungan yang kita miliki dengan Sang Pencipta sebelum dosa kita menjadi penghalang dan kita dapat diyakinkan menerima kemurahan dan pengampunan atas dosa-dosa kita.

 

Dengan Gerbang terbuka kita sekarang dipulihkan dalam Hubungan dengan Sanf Pencipta

Seperti yang dinyatakan Injil:

5 Sebab, hanya ada satu Tuhan dan satu Pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Isa Al-Masih,

6 yang telah menyerahkan diri-Nya menjadi tebusan bagi semua orang. Kesaksian itu dinyatakan pada saat yang tepat,

(1 Timotius 2: 5-6)

Karunia Tuhan untuk Anda

Nabi ‘memberikan dirinya sendiri’ untuk ‘semua orang’. Jadi ini pasti termasuk Anda dan juga saya. Melalui kematian dan kebangkitannya, dia telah membayar harganya untuk menjadi ‘penengah’ dan memberi kita kehidupan. Bagaimana kehidupan ini diberikan?

23 Karena upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Isa Al-Masih, Junjungan kita Yang Ilahi.

(Rum 6:23)

Perhatikan bagaimana itu diberikan kepada kita. Ini ditawarkan sebagai sebuah… ‘hadiah‘. Pikirkan tentang hadiah. Tidak peduli apa hadiahnya, jika itu benar-benar sebuah hadiah, itu adalah sesuatu yang tidak Anda usahakan dan tidak dapatkan berdasarkan prestasi. Jika Anda mengusahakan untuk mendapatkannya hadiah tidak akan lagi menjadi hadiah – itu akan menjadi upah! Dengan cara yang sama Anda tidak bisa mengusahakan untuk mendapatkan pengorbanan Isa al Masih. Itu diberikan kepada Anda sebagai hadiah. Sesederhana itu.

Dan apa hadiahnya? Itu adalah ‘kehidupan abadi’. Itu berarti bahwa dosa yang membuat Anda dan saya mati sekarang sudah ditebus. Tuhan sangat mencintai Anda dan saya. Ini sangatlah kuat.

Jadi bagaimana Anda dan saya mendapatkan kehidupan kekal? Sekali lagi, pikirkan hadiah-hadiah. Jika seseorang ingin memberi Anda hadiah, Anda harus ‘menerimanya’. Kapan saja hadiah ditawarkan, hanya ada dua pilihan. Entah hadiah ditolak (“Tidak, terima kasih”) atau diterima (“Terima kasih atas hadiah Anda. Saya akan menerimanya”). Begitu juga hadiah ini harus diterima. Tidak bisa secara mental dipercaya, dipelajari atau dipahami. Agar bermanfaat, hadiah apa pun yang ditawarkan kepada Anda harus ‘diterima’.

12 Tetapi, orang-orang yang menerima-Nya diberi-Nya hak untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya kepada nama-Nya.

13 Kelahiran mereka bukan dari darah, bukan dari keinginan daging, dan bukan dari keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

(Yahya 1: 12-13)

Faktanya, Injil mengatakan tentang Tuhan itu

3 Hal yang demikian itu baik dan berkenan kepada Allah, Penyelamat kita.

4 Ia menghendaki supaya semua orang memperoleh keselamatan serta dapat mengenal kebenaran.

(1 Timotius 2: 3-4)

Dia adalah seorang Juru Selamat dan keinginan-Nya adalah agar ‘semua orang’ menerima hadiahnya dan diselamatkan dari dosa dan kematian. Jika ini adalah kehendak-Nya, maka untuk menerima hadiahnya hanya akan berserah pada kehendak-Nya – makna dari kata ‘Muslim’ – orang yang berserah diri.

Bagaimana kita menerima hadiah ini? Injil mengatakan itu

12 karena tidak ada pembedaan antara bani Israil dengan orang-orang Yunani. Allah yang sama jugalah yang menjadi Tuhan atas semuanya. Ia sangat bermurah hati kepada semua orang yang berseru kepada-Nya,

(Rum 10:12)

Perhatikan bahwa janji ini adalah untuk ‘semua orang’. Sejak dia bangkit dari kematian, Isa Al-Masih masih hidup sampai sekarang. Jadi jika Anda memanggilnya dia akan mendengar dan memberikan hadiahnya kepada Anda. Anda memanggilnya dan bertanya kepadanya. Mungkin Anda belum pernah melakukan ini. Di bawah ini adalah panduan yang dapat membantu Anda. Itu bukan mantra sihir. Bukan kata-kata khusus yang memberi kekuatan. Ini adalah kepercayaan seperti yang dimiliki Ibrahim yang kita tempatkan di Isa al Masih untuk memberi kita hadiah ini. Saat kita percaya padanya, Dia akan mendengarkan kita dan menjawab. Injil itu kuat, namun juga sangat sederhana. Jangan ragu untuk mengikuti panduan ini jika Anda merasa terbantu.

Nabi dan Tuhan terkasih Isa Al-Masih. Saya mengerti bahwa dengan dosa-dosa saya saya terpisah dari Allah Sang Pencipta. Meskipun saya bisa berusaha keras, usaha saya tidak menembus penghalang ini. Tetapi saya mengerti bahwa kematian Anda adalah pengorbanan untuk membasuh semua dosa saya dan membuat saya bersih. Saya tahu bahwa Anda bangkit dari kematian setelah pengorbanan Anda, jadi saya percaya bahwa pengorbanan Anda sudah cukup dan saya tunduk kepada Anda. Saya meminta Anda untuk membersihkan saya dari dosa-dosa saya dan menengahi dengan Pencipta saya sehingga saya dapat memiliki kehidupan yang kekal. Terima kasih, Isa the Masih, untuk melakukan semua ini untukku dan maukah kamu sekarang terus membimbingku dalam hidupku sehingga aku dapat mengikuti kamu sebagai Tuhanku.

Atas nama Tuhan, Maha Penyayang

 

Siapakah Nabi Ilyas? Bagaimana Ia menuntun kita saat ini?

Nabi Ilyas disebutkan tiga kali dalam Surah Al-Anam dan As-Saffat. Surah-surah ini berkata:

dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih,

Al-Anam 6:85

Dan sungguh, Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul.(Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu tidak bertakwa?Patutkah kamu menyembah Ba’l dan kamu tinggalkan (Allah) sebaik-baik pencipta.(Yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu?”Tetapi mereka mendustakannya (Ilyas), maka sungguh, mereka akan diseret (ke neraka),kecuali hamba-hamba Allah yang disucikan (dari dosa),Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.”Selamat sejahtera bagi Ilyas.”Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

(As-Saffat 37:123-132)

Ilyas disebut bersamaan dengan Yahya dan Isa Almasih karena Ia juga salah satu nabi dalam Alkitab. Dalam Surah-Surah tersebut dikatakan bahwa Nabi Ilyas menantang nabi-nabi Baal. Pertarungan ini dituliskan dengan sangat detail dalam Akitab di sini. Di bawah ini kita akan melihat apa saja berkah bagi kita (‘generasi yang akan datang kemudian’ seperti yang dijanjikan dalam Surah As-Saffat).

Ilyas dan ujian bagi nabi-nabi Baal

Ilyas adalah orang yang bertabiat keras, yang menantang 450 nabi Baal. Bagaimana ia bisa menantang begitu banyak nabi? Alkitab menjelaskan bahwa ia menguji mereka dengan cara yang cerdik. Nabi Ilyas dan nabi-nabi Baal harus mempersembahkan satu hewan kurban, tetapi mereka tidak boleh menyalakan api untuk membakar kurban tersebut. Masing-masing pihak akan memanggil dan meminta Allahnya untuk menyalakan api dari surga.  Allah mana pun yang bisa membakar kurban tersebut dengan api dari surga, Dialah Allah yang sejati dan hidup. Jadi, 450 nabi Baal itu memanggil-manggil dan meminta Baal sepanjang hari supaya ia membakar kurban mereka dari surga, tetapi ternyata tidak ada api yang turun dari surga. Kemudian Ilyas, seorang diri, memanggil dan meminta Sang Pencipta untuk membakar kurbannya. Dengan segera, api turun dari langit dan membakar habis kurbannya. Orang-orang yang menyaksikan  pertarungan itu akhirnya tahu siapa Allah yang sejati dan siapa Allah yang palsu. Baal terbukti palsu.

Kita tidak menyaksikan pertarungan ini secara langsung, tetapi kita bisa memakai strategi yang dipakai oleh Ilyas untuk menguji apakah suatu pesan atau seorang nabi benar-benar berasal dari Allah. Strateginya adalah dengan mengujinya sedemikian rupa sehingga nyata bahwa hanya Allah dan utusan-utusan-Nyalah yang akan berhasil membuktikannya. Sementara itu, mereka yang bergantung pada kemampuan manusia tidak akan sanggup, sama halnya dengan nabi-nabi Baal yang tidak sanggup mendatangkan api dari surga.

 Ujian Ilyas saat ini

Bagaimana penerapan ujian seperti ini pada masa sekarang?

Surah An-Najm berkata:

(Tidak!) Maka milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia

.An-Najm 53:25

Hanya Allah yang mengetahui Akhir dari segala sesuatu, bahkan sebelum Akhir tersebut terjadi. Manusia hanya bisa mengetahui Akhir dari sesuatu setelah semua itu terjadi. Oleh karena itu, ujian ini bertujuan untuk melihat apakah pesan yang disampaikan meramalkan masa depan dengan tepat jauh sebelum hal tersebut terjadi. Tidak ada seorang manusia ataupun berhala yang bisa melakukannya. Hanya Allah yang bisa.

Banyak yang bertanya-tanya apakah Nabi Isa Almasih AS, sebagaimana dinyatakan dalam Injil, adalah  memang pesan Allah yang sejati, ataukah semata-mata adalah rekayasa kaum cerdik cendekia. Kita bisa menerapkan ujian yang dipakai Ilyas untuk menjawab pertanyaan ini. Kitab Taurat dan Zabur, bersama dengan kitab para nabi seperti Ilyas, ditulis ratusan bahkan ribuan tahun sebelum masa Isa Al-Masih AS. Kitab-kitab ini ditulis oleh para nabi Yahudi. Dengan demikian, jelas bahwa tulisan-tulisan ini bukanlah tulisan ‘Kristen.’ Apakah tulisan-tulisan awal ini berisi nubuat-nubuat yang dengan tepat memprediksi peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Isa Almasih? Berikut ringkasan nubuat-nubuat yang tertulis dalam Taurat. Berikut ringkasan berikutnya. Sekarang Anda bisa mengujinya seperti Ilyas unnubuat-nubuat yang tertulis dalam Zabur dan para nabi tuk mengetahui apakah Nabi Isa Al-Masih AS, sebagaimana dinyatakan dalam Injil, adalah benar-benar dari Allah atau merupakan penyimpangan  yang dilakukan oleh manusia.

Surah Al-Anam menyebut Ilyas bersamaan dengan Yahya dan Isa Almasih. Menariknya, dalam kitab terakhir Perjanjian Lama, Ilyas dinubuatkan datang dan mempersiapkan hati kita untuk kedatangan Sang Al-Masih. Dalam Injil, kita melihat bagaimana Nabi Yahya datang seperti Ilyas untuk memberi teguran dan mempersiapkan orang bagi kedatangan Sang Al-Masih. Pribadi Ilyas sendiri juga terikat dengan nubuat-nubuat mengenai Yahya dan Sang Al-Masih.

 

Al-Qur’an: Tidak Ada Variasi! Apa yang dikatakan hadits?

“Al-Qur’an adalah kitab suci asli – bahasa, huruf dan bacaan yang sama. Tidak ada tempat untuk interpretasi manusia atau terjemahan yang berubah … Jika Anda mengambil salinan Al-Qur’an dari rumah mana pun di seluruh dunia, saya ragu Anda bahkan akan menemukan perbedaan di antara mereka. “

Seorang teman mengirimi saya catatan ini. Dia membandingkan teks Al-Qur’an dengan Injil / Alkitab. Ada dua puluh empat ribu naskah Injil kuno dan mereka memiliki variasi-variasi kecil, di mana hanya beberapa kata yang berbeda. Meskipun semua tema dan ide adalah sama dari seluruh 24000 naskah, termasuk tema Isa al Masih menebus kita dalam kematian dan kebangkitannya, klaim sering dibuat, seperti di atas, bahwa tidak ada variasi dalam Al-Qur’an. Ini dilihat sebagai indikasi keunggulan Al-Qur’an atas Alkitab, dan bukti perlindungan ajaibnya. Tapi apakah hadits memberitahu kita tentang pembentukan dan kompilasi Al-Qur’an?

Pembentukan Al-Qur’an dari Nabi ke para Khalifah

Diriwayatkan oleh `Umar bin Khattab:

Saya mendengar Hisham bin Hakim bin Hizam membaca Surat-al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan saya. Utusan Allah telah mengajarkannya kepada saya (dengan cara yang berbeda). Jadi, saya akan berdebat dengannya (saat sholat) tetapi saya menunggu sampai dia selesai, kemudian saya mengikatkan pakaiannya di lehernya dan menangkapnya dengan itu dan membawanya ke Rasulullah dan berkata, “Saya telah mendengar dia membaca Surat -al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan caramu mengajarkannya padaku. ” Nabi memerintahkan saya untuk membebaskannya dan meminta Hisham untuk melafalkannya. Ketika dia membacanya, Rasul Allah berkata, “Hal itu diungkapkan dengan cara ini.” Dia kemudian meminta saya untuk melafalkannya. Ketika saya membacanya, dia berkata, “Itu diturunkan dengan cara ini. Al-Qur’an telah diturunkan dalam tujuh cara berbeda, jadi bacalah dengan cara yang lebih mudah bagimu.”

Sahih al-Bukhari 2419 : Book 44, Hadith 9

Diriwayatkan oleh Ibnu Mas`ud:

Saya mendengar seseorang membacakan ayat (Al-Qur’an) dengan cara tertentu, dan saya telah mendengar Nabi melafalkan ayat yang sama dengan cara yang berbeda. Jadi aku membawanya menemui Nabi dan memberitahunya tentang hal itu tetapi aku melihat tanda ketidaksetujuan di wajahnya, dan kemudian dia berkata, “Kalian berdua benar, jadi jangan berbeda, untuk bangsa-bangsa sebelum kalian yang berbeda, mereka hancur.”

Sahih al-Bukhari 3476 : Book 60, Hadith 143

Keduanya dengan jelas memberitahu kita bahwa selama masa hidup Nabi Muhammad (SAW) ada beberapa versi bacaan Al-Qur’an yang digunakan dan disetujui oleh Muhammad (SAW). Jadi apa yang terjadi setelah kematiannya?

Abu Bakar dan Qur’an

Dikisahkan oleh Zaid bin Tsabit:

Abu Bakar As-Siddiq memanggilku ketika orang Yamama telah terbunuh (yaitu, sejumlah sahabat Nabi yang berperang melawan Musailama). (Saya pergi kepadanya) dan menemukan `Umar bin Khattab duduk bersamanya. Abu Bakar kemudian berkata (kepada saya), “Umar telah datang kepada saya dan berkata:” Korban banyak di antara Al-Qur’an (yaitu mereka yang hafal Al-Qur’an) pada hari Pertempuran Yamama, dan saya khawatir bahwa korban yang lebih banyak mungkin terjadi di antara Al-Qur’an di medan perang lain, di mana sebagian besar Al-Qur’an mungkin hilang. Oleh karena itu saya sarankan, Anda (Abu Bakar) memerintahkan agar Alquran menjadi “Bagaimana Anda dapat melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasul Allah? ”Dikumpulkan. ”Saya berkata kepada` Umar, `Umar berkata,” Demi Allah, itu adalah proyek yang bagus. “Umar terus mendesak saya untuk menerima lamarannya sampai Allah membukakan dada saya untuk itu dan saya mulai menyadari kebaikan dalam gagasan yang telah disadari oleh Umar. Lalu Abu Bakar berkata (padaku). ‘Anda adalah pria muda yang bijak dan kami tidak memiliki kecurigaan tentang Anda, dan Anda biasa menulis Inspirasi Ilahi untuk Rasulullah (SAW). Jadi kamu harus mencari (naskah-naskah yang terpisah) dari Alquran dan mengumpulkannya dalam satu buku. “Demi Allah Jika mereka memerintahkan saya untuk memindahkan salah satu gunung, tidak akan lebih berat bagi saya daripada hal memerintahkan saya untuk mengumpulkan Al Qur’an. Lalu aku berkata kepada Abu Bakar, “Bagaimana kamu akan melakukan sesuatu yang Rasul Allah (SAW) tidak lakukan?” Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, ini adalah proyek yang bagus.” Abu Bakar terus mendesak aku menerima idenya sampai Allah membuka dadaku untuk apa yang telah Dia buka dada Abu Bakar dan Umar. Jadi aku mulai mencari Al Qur’an dan mengumpulkannya dari (apa yang tertulis di) batang palem, batu putih tipis dan juga dari orang-orang yang hafal, sampai aku menemukan Ayat terakhir Surat at-Taubah (Taubat) dengan Abi Khuzaima Al-Ansari, dan aku tidak menemukannya dengan siapa pun selain dia. Ayatnya adalah: ‘Sesungguhnya di sana telah datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari golongan kamu sendiri. Ini menyedihkan dia bahwa kamu harus menerima luka atau kesulitan (sampai akhir Surat-Baraa ‘ (at-Taubah) (9:128-129). Kemudian naskah lengkap (salinan) Al-Qur’an tetap ada pada Abu Bakar sampai dia meninggal, kemudian dengan `Umar sampai akhir hayatnya, dan kemudian dengan Hafsa, putri`

Umar.Sahih al-Bukhari 4986 : Book 66, Hadith 8

Itu terjadi ketika Abu Bakar menjadi khalifah, yang langsung menggantikan Muhammad (SAW). Ini memberitahukan kita bahwa Muhammad (SAW) tidak pernah mengumpulkan Al-Qur’an menjadi teks yang baku atau memberikan petunjuk bahwa hal seperti itu harus dilakukan. Dengan banyaknya korban peperangan di antara mereka yang hafal Al-Qur’an, Abu Bakar dan Umar (Khalifah ke-2) membujuk Zaid untuk mulai mengumpulkan Al-Qur’an dari berbagai sumber. Zaid awalnya enggan karena Muhammad (SAW) tidak pernah menunjukkan keperluan untuk membakukan teks. Dia telah mempercayai beberapa temannya untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada pengikut mereka seperti yang diceritakan dalam hadits berikut ini.

Diriwayatkan Masriq:

`Abdullah bin` Amr menyebut `Abdullah bin Masud dan berkata,” Aku akan selalu mencintai orang itu, karena aku mendengar Nabi (SAW) berkata, ‘Ambil (pelajari) Alquran dari empat: `Abdullah bin Mas’ud, Salim, Mu`adh dan Ubai bin Ka`ab. ‘ ”

Sahih al-Bukhari 4999 : Book 66, Hadith 21

Namun, setelah kematian Nabi (SAW) perselisihan muncul di antara para sahabat karena varian bacaan ini. Hadits di bawah ini menceritakan tentang ketidaksepakatan atas Surat [92]: 1-3 (Al-Lail)

Diriwayatkan oleh Ibrahim:

Para sahabat `Abdullah (bin Mas`ud) datang ke Abu Darda’, (dan sebelum mereka tiba di rumahnya), dia mencari mereka dan menemukan mereka. Kemudian dia bertanya kepada mereka: ‘Siapa di antara kamu yang bisa melafalkan (Al-Qur’an) sebagaimana `Abdullah membacanya?” Mereka menjawab, “Kita semua.” Dia bertanya, “Siapa di antara kamu yang hafal itu?” Mereka menunjuk ke ‘Alqama. Kemudian dia bertanya kepada `Alqama. “Bagaimana kamu mendengar` Abdullah bin Mas`ud membaca Surat Al-Lail (Malam)? ”Alqama membacakan: ‘Demi pria dan wanita.’ Abu Ad-Darda berkata, “Saya bersaksi bahwa saya mendengar Nabi membacanya juga, tetapi orang-orang ini ingin saya membacanya: – ‘Dan demi Dia yang menciptakan pria dan wanita.’ tapi demi Allah, aku tidak akan mengikuti mereka.”

Vol. 6, Book 60, Hadith 468

Al-Qur’an hari ini memiliki bacaan kedua untuk Surat Al-Lail 92: 3. Menariknya, Abdullah, yang merupakan salah satu dari empat hadits sebelumnya yang secara khusus dipilih oleh Nabi Muhammad (SAW) sebagai otoritas pembacaan Alquran, dan Abu Ad-Darda menggunakan bacaan yang berbeda untuk ayat ini dan tidak bersedia untuk mengikuti yang lain.

Hadits berikut menunjukkan bahwa seluruh wilayah kerajaan Islam mengikuti bacaan yang berbeda, sejauh seseorang dapat memverifikasi dari mana seseorang berasal dengan bacaan apa yang dia gunakan. Dalam kasus di bawah ini, orang Irak di Kufah mengikuti pembacaan Surah 92: 1-3 oleh Abdullah bin Mas’ud.

‘Alqama melaporkan:

Saya bertemu Abu Darda ‘, dan dia berkata kepada saya: Kamu dari negara mana? Saya berkata: Saya adalah salah satu orang Irak. Dia kembali bertanya: Di kota mana? Saya menjawab: Kota Kufah. Dia kembali berkata: Apakah Anda membaca sesuai dengan bacaan ‘Abdullah bin Mas’ud? Saya bilang iya. Dia berkata: Ucapkan ayat ini (Pada malam saat tertutup) Jadi aku membacanya: (Pada malam saat itu menutupi, dan hari ketika bersinar, dan penciptaan laki-laki dan perempuan). Dia tertawa dan berkata: Saya telah mendengar Rasulullah (SAW) membaca seperti ini.

Sahih Muslim 824 c: Book 6, Hadith 346

Diriwayatkan oleh Ibn `Abbas:

Umar berkata, Ubai adalah yang terbaik di antara kami dalam mengaji (Al-Qur’an) namun kami meninggalkan sebagian dari apa yang dia baca. ‘Ubai berkata, Aku telah mengambilnya dari mulut Rasulullah (SAW) dan tidak akan meninggalkan apapun untuk apapun. “Tapi Allah berfirman” Tidak satupun dari Wahyu Kami yang Kami batalkan atau menyebabkan untuk dilupakan tanpa Kami mengganti sesuatu yang lebih baik atau serupa. ”

2.106Sahih al-Bukhari 5005
Book 66, Hadith 27

Meskipun Ubai dianggap ‘yang terbaik’ dalam membaca Al-Qur’an (Dia adalah salah satu dari yang dicatat sebelumnya oleh Muhammad SAW), orang lain di komunitas tersebut meninggalkan sebagian dari apa yang dia baca. Ada ketidaksepakatan tentang apa yang harus dibatalkan dan apa yang tidak. Ketidaksepakatan tentang varian bacaan dan pembatalan menyebabkan ketegangan. Kita lihat dalam hadits di bawah ini bagaimana masalah ini diselesaikan.

Khalifah Utsman dan Qur’an

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik:

Hudhaifa bin Al-Yaman datang ke `Utsman pada saat rakyat Syam dan rakyat Irak sedang berperang untuk menaklukkan Arminya dan Adharbijan. Hudhaifa takut dengan mereka (orang Syam dan Irak) dalam perbedaan pembacaan Al-Qur’an, jadi dia berkata kepada `Utsman,” Wahai pemimpin orang-orang beriman! Selamatkan bangsa ini sebelum mereka berbeda tentang Kitab (Al-Qur’an) seperti yang dilakukan orang Yahudi dan Kristen sebelumnya. “Maka `Utsman mengirim pesan kepada Hafsa dengan mengatakan,”Kirimkan kepada kami naskah Al-Qur’an agar kami dapat menyusun materi Al-Qur’an dalam salinan yang sempurna dan mengembalikannya kepada Anda. “Hafsa mengirimkannya ke `Utsman. `Utsman kemudian memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin AzZubair, Sa`id bin Al-As dan `AbdurRahman bin Harith bin Hisham untuk menulis ulang naskah-naskah itu dalam salinan yang sempurna. `Utsman berkata kepada tiga orang Quraisy,” Jika Anda tidak setuju dengan Zaid bin Tsabit pada poin mana pun dalam Alquran, maka tulislah dalam dialek Quraisy, Alquran diturunkan dalam bahasa mereka. “Mereka melakukannya, dan ketika mereka telah menulis banyak salinan, ‘Utsman mengembalikan manuskrip aslinya ke Hafsa. `Utsman mengirim ke setiap provinsi Muslim satu salinan dari apa yang telah mereka salin, dan memerintahkan agar semua materi Alquran lainnya, baik yang tertulis dalam naskah yang terpisah-pisah atau salinan yang utuh, dibakar.

Sahih al-Bukhari 4987 : Book 66, Hadith 9

Inilah mengapa tidak ada pembacaan yang bervarisi saat ini. Itu bukan karena Nabi Muhammad (SAW) hanya menerima atau menggunakan satu bacaan (dia tidak, dia menggunakan tujuh), atau karena dia menyusun Al-Qur’an yang resmi. Dia tidak melakukannya. Faktanya, jika Anda mencari   ‘bacaan berbeda’ di sunnah online ada 61 hadits yang membahas bacaan Alquran yang berbeda. Al-Qur’an hari ini tidak berbeda karena Utsman (khalifah ke-3) mengambil salah satu bacaan, mengeditnya, dan membakar semua bacaan lainnya. Hadits berikut menunjukkan bagaimana pengeditan ini tetap ada dalam Al-Qur’an saat ini.

Dikisahkan oleh Ibnu `Abbas:

Umar berkata, “Saya khawatir setelah waktu yang lama berlalu, orang-orang mungkin berkata,” Kami tidak menemukan Ayat-ayat Rajam (dirajam sampai mati) dalam Kitab Suci, “dan akibatnya mereka mungkin tersesat dengan meninggalkan kewajiban yang Allah turunkan. Sesungguhnya saya tegaskan bahwa hukuman Rajam dijatuhkan kepada orang yang melakukan hubungan seksual haram, jika dia sudah menikah dan kejahatan itu dibuktikan dengan saksi atau kehamilan atau pengakuan. ” Sufyan menambahkan, “Saya telah menghafal narasi ini dengan cara ini.” Umar menambahkan, “Sesungguhnya Rasulullah (SAW) melaksanakan hukuman Rajam, dan begitu juga kami setelah dia.”

Sahih al-Bukhari 6829 : Book 86, Hadith 56

Dikisahkan oleh Ibnu `Abbas:

… Allah mengutus Muhammad dengan Kebenaran dan mengungkapkan Kitab Suci kepadanya, dan di antara apa yang Allah nyatakan, adalah Ayat Rajam (merajam orang yang menikah (pria & wanita) yang melakukan hubungan seksual ilegal, dan kami melafalkan Ayat ini dan memahami dan menghafalnya. Rasulullah (SAW) melakukan hukuman rajam dan begitu juga kami setelah dia….

Bukhari  Book 86, Hadith 57

Saat ini tidak ada ayat tentang hukum rajam untuk perzinahan dalam Al-Qur’an. Itu telah diedit.

Dikisahkan oleh Ibnu Az-Zubair: Saya berkata kepada ‘Utsman, “Ayat ini yang ada dalam Surat-al-Baqarah:” Kalian yang meninggal dan meninggalkan janda … tanpa mengeluarkan mereka. “Telah dibatalkan oleh Ayat lain. Lalu mengapa Anda menulisnya (dalam Al-Qur’an)? ” ‘Kata Utsman. “Biarkan (di mana itu),…, karena aku tidak akan menggeser apapun darinya (yaitu Al-Qur’an) dari posisi aslinya.”

Vol. 6, Book 60, Hadith 60

Di sini kita melihat ketidaksepakatan antara Utsman dan Ibn Az-Zubair tentang apakah pembatalan sebuah ayat berarti harus atau tidak harus disimpan dalam Al-Qur’an. Utsman memiliki caranya sendiri dan ayat ini ada dalam Al-Qur’an hari ini. Namun ada kontroversi tentang itu.

Utsman dan Judul Surat ke-9 (at-Taubah)

Diriwayatkan oleh Utsman ibn Affan:

Yazid al-Farisi berkata: Aku mendengar Ibnu Abbas berkata: Aku bertanya kepada Utsman bin Affan: Apa yang menggerakkanmu untuk meletakkan (Surah) al-Bara’ah yang merupakan milik mi’in (surat berisi seratus ayat) dan (Surat) al-Anfal yang termasuk dalam mathani (Surat-surat) dalam kategori as-sab’u at-tiwal (surah panjang pertama atau bab Alquran), dan Anda tidak menulis “Atas nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Penyayang “di antara mereka?

Utsman menjawab: Ketika ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi (SAW), dia memanggil seseorang untuk menuliskannya untuknya dan berkata kepadanya: Masukkan ayat ini ke dalam surat di mana ini dan itu telah disebutkan; dan ketika satu atau dua ayat diturunkan, dia biasa mengatakan hal yang sama (mengenai mereka). (Surat) al-Anfal adalah surah pertama yang diturunkan di Madinah, dan (Surat) al-Bara’ah diturunkan terakhir dalam Al-Qur’an, dan isinya mirip dengan al-Anfal. Oleh karena itu, saya pikir itu adalah bagian dari al-Anfal. Oleh karena itu saya menempatkan mereka dalam kategori as-sab’u at-tiwal (tujuh surat panjang), dan saya tidak menulis “Dengan nama Allah, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Penyayang” di antara mereka.

Sunan Abi Dawud 786 : Book 2, Hadith 396

Surat ke-9 (At-Taubah atau Al Bara’ah) adalah satu-satunya Surat dalam Al-Qur’an yang tidak dimulai dengan ‘Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Penyayang’. Hadits menjelaskan mengapa. Utsman menganggap Surat ke-9 adalah bagian dari Surat ke-8 karena isi materinya mirip. Dari mempertanyakan hal ini kita dapat melihat bahwa ini kontroversial dalam komunitas awal Muslim zaman itu. Hadits berikutnya menunjukkan reaksi salah seorang sahabat terhadap Al-Qur’annya Utsman

‘Abdullah (bin Mas’ud) melaporkan bahwa dia (berkata kepada sahabatnya untuk menyembunyikan Alquran mereka) dan selanjutnya berkata:

Dia yang menyembunyikan apa pun dia harus membawa apa yang telah dia sembunyikan pada hari pembalasan, dan kemudian berkata: Cara pelafalan siapakah yang Anda perintahkan untuk saya ucapkan? Sebenarnya saya membaca di hadapan Rasulullah (SAW) lebih dari tujuh puluh surat Al-Qur’an dan para sahabat Rasulullah (SAW) tahu bahwa saya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang Kitab Allah (daripada yang mereka lakukan), dan jika saya mengetahui bahwa seseorang memiliki pemahaman yang lebih baik daripada saya, saya akan pergi kepadanya. Shaqiq berkata: Saya duduk di antara para Sahabat Muhammad (SAW) tetapi saya tidak mendengar ada yang menolak itu (yaitu, bacaannya) atau menemukan kesalahan dengannya

.Sahih Muslim 2462: Book 44, Hadith 162

Beberapa hal menonjol:

  1. Abdullah bin Mas’ud menyuruh pengikutnya untuk menyembunyikan Al-Qur’an mereka karena suatu alasan.
  2. Dia sepertinya diperintahkan oleh seseorang untuk menggunakan bacaan yang berbeda. Hal ini paling baik dipahami sebagaimana merujuk pada saat Utsman membakukan versinya tentang Al-Qur’an.
  3. Keberatan Ibnu Mas’ud untuk mengubah cara dia membaca Al-Qur’an adalah bahwa: Saya (Mas’ud) memiliki pemahaman yang lebih baik tentang Kitab
  4. Shaqiq mengatakan bahwa para sahabat Muhammad tidaklah bersebrangan dengan Mas’ud.

Versi tekstual Al-Qur’an saat ini

Namun, setelah edisi Utsman, variasi bacaan masih ada. Faktanya, tampaknya di abad ke-4 setelah Nabi (SAW) ada sanksi kembali ke bacaan yang berbeda. Jadi meskipun saat ini bacaan tekstual utama Arab adalah Hafs (atau Hofs), ada juga Warsy, yang kebanyakan digunakan di Afrika Utara, Al-Duri, yang kebanyakan digunakan di Afrika Barat dan daerah lainnya. Perbedaan antara bacaan-bacaan ini sebagian besar terletak pada ejaan dan sedikit dalam variasi-variasi kata, biasanya tanpa mempengaruhi makna, tetapi dengan beberapa perbedaan yang memang mempengaruhi makna hanya dalam konteks langsung tetapi tidak dalam pemikiran yang lebih luas.

Jadi ada pilihan tentang versi apa dari Al-Qur’an yang akan digunakan.

Kita telah pelajari bahwa ada variasi bacaan Arab dari Al-Qur’an saat ini, yang melalui proses penyuntingan dan seleksi setelah kematian Nabi Muhammad (SAW). Alasan mengapa ada sedikit variasi dalam teks Al-Qur’an saat ini adalah karena semua varian teks lainnya dibakar pada waktu itu. Al-Qur’an tidak memiliki catatan kaki sebagai bacaan alternatif, bukan karena tidak ada bacaan alternatif, tetapi karena catatan kaki itu dimusnahkan. Utsman mungkin menghasilkan bacaan Al-Qur’an yang bagus, tapi itu bukan satu-satunya, dan itu tidak dibuat tanpa kontroversi. Dengan demikian, gagasan Al-Qur’an yang diterima secara luas sebagai “kitab suci asli – bahasa, huruf, dan bacaan yang sama. Tidak ada tempat untuk interpretasi manusia” tidaklah benar. Meskipun Alkitab dan Al-Qur’an keduanya sama-sama memiliki varian bacaan, keduanya juga memiliki bukti naskah yang kuat yang menunjukkan bahwa teks yang ada saat ini mendekati aslinya. Keduanya dapat memberi kita gambaran yang dapat dipercaya dari yang aslinya. Banyak yang teralihkan dari upaya untuk memahami pesan dari Kitab-kitab dengan melakukan pemujaan yang tidak semestinya terhadap cara pelestarian Al-Qur’an dan penghinaan yang tidak semestinya terhadap cara pelestarian Alkitab. Akan lebih baik jika kita memfokuskan pada pemahaman tentang Kitab-kitab tersebut. Itulah alasan mereka diberikan sejak awal. Tempat yang baik untuk memulai adalah dengan Adam.