Lailatul Qadar, Hari Kemuliaan & Sabda Para Nabi

Surat Al-Qadar [97] menggambarkan Malam Kemuliaan ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.Pada malam itu turun para malaikat dan Rµh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

Surat Al-Qadr 97:1-5

 

Surat Al-Qadar, meskipun menggambarkan Lailatul Qadar (Malam Kemuliaan) sebagai ‘lebih baik dari seribu bulan’ masih menanyakan apakah Malam Kemuliaan itu. Apa yang Menyemangati yang membuat Malam Kemuliaan lebih baik dari seribu bulan?

Surat Al-Lail [92] memiliki tema yang sangat mirip tentang Siang dan Cahaya yang mengikuti Malam. Hari itu datang dengan kemuliaan, dan Allah membimbing karena Dia mengetahui segalanya dari Awal hingga Akhir. Karena itu Dia memperingatkan kita tentang Api di Akhir.

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),demi siang apabila terang benderang,

 

Surat Al-Lail 92:1-2

Sesungguhnya Kamilah yang memberi petunjuk,dan sesungguhnya milik Kamilah akhirat dan dunia itu.Maka Aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala,

Surat Al-Lail 92:12-14

Bandingkan Surat Al-Qadar dan Surah Al-Lail dengan yang berikut ini:

Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.
Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.
Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,
dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,
dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.
Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.
Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.
Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.
Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Karena itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima.
Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini.
Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu.
Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.
Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.
Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.

2Petrus 1:19

Apakah Anda melihat kesamaan? Ketika saya membaca Surat Al-Qadar dan Surah Al-Lail saya teringat kutipan ini. Itu juga menyatakan Hari yang terbit setelah Malam. Pada malam hari wahyu diberikan kepada para nabi. Itu juga memperingatkan kita untuk tidak mengabaikan pesan kenabian. Jika tidak, kita menghadapi konsekuensi yang parah.

Ini ditulis oleh Rasul Petrus, murid terkemuka dan sahabat Nabi Isa al Masih AS. Surah As-Saf [61] mengatakan tentang murid Isa al Masih:

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah,” lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami berikan kekuatan ke-pada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.

Surat As-Saf 61:14

Surat As-Saf menyatakan bahwa murid Isa al Masih adalah ‘pembantu Tuhan’. Mereka yang percaya pesan para murid menerima kekuatan yang dibicarakan ini. Sebagai murid utama, Petrus, adalah pemimpin dari orang-orang yang membantu Tuhan. Meskipun ia adalah murid Nabi Isa al Masih AS, menyaksikan banyak mukjizatnya, mendengar banyak ajarannya, dan melihat wewenagnya dijalankan, Petrus masih menyatakan di atas bahwa perkataan para nabi bahkan ‘lebih pasti’. Mengapa dia lebih yakin pada para nabi daripada apa yang dia sendiri saksikan? Dia melanjutkan:

1:20 Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri,

1:21 sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

2 Petrus 1:20-21

Ini memberitahu kita bahwa Roh Kudus Tuhan ‘membawa’ para nabi, sehingga apa yang mereka baca dan tulis adalah ‘dari Tuhan’. Inilah mengapa Malam seperti ini lebih baik daripada seribu bulan karena itu berakar di dalam Roh Kudus daripada pada ‘kehendak manusia’. Surah As-Saf menceritakan kita bahwa mereka yang memperhatikan pesan Petrus akan menerima Kuasa yang dijalankan pada Malam Kemuliaan dan akan menang.

Hidup di zaman Nabi Isa al Masih, para ‘nabi’ yang ditulis oleh Petrus adalah nabi-nabi yang sekarang disebut dalam Perjanjian Lama – Kitab Suci yang datang sebelum Injil. Dalam Taurat Nabi Musa ada catatan dari Adam, Qabil & Habil, Nuh, Luth dan Ibrahim. Juga termasuk kisah ketika Musa menghadapi Fira’un dan kemudian menerima Hukum Syariah, dan juga pengorbanan saudaranya Harun, dari mana Surat Al- Baqarah disebutkan.

Setelah Taurat ditutup, datanglah Zabur di mana Dawudterinspirasi untuk berbicara tentang Masih yang akan datang. Nabi-nabi berturut-turut kemudian meramalkan tentang Masih datang dari seorang Perawan, Kerajaan Allah terbuka untuk semua, dan juga penderitaan besar untuk Hamba yang akan datang. Kemudian nama Masih dinubuatkan, bersamaan dengan waktu kedatangannya, juga Janji Sang Penyedia.

Banyak dari kita yang belum sempat membaca tulisan ini untuk diri kita sendiri. Di sini, dengan tautan-tautan yang berbeda ini, ada kesempatan. Surat Al-Lail memperingatkan akan datangnya Api. Surat Al-Qadar menyatakan bahwa Roh Tuhan sedang bekerja di Malam Kemuliaan. Surat As-Saf menjanjikan Kemuliaan bagi mereka yang mempercayai pesan para murid. Petrus, pemimpin dari murid-murid ini, kemudian menasihati kita untuk ‘memperhatikan’ wahyu dari para nabi paling awal, yang diberikan pada Malam, yang menantikan Hari. Bukankah bijaksana untuk mengetahui pesan-pesan mereka?

 

Apa pesan dari ‘al Kitab’ – Buku?

Al Kitab secara harfiah berarti ‘Buku’. Alkitab adalah tulisan pertama dalam sejarah yang dimasukkan ke dalam bentuk buku yang kita lihat hari ini. Alkitab adalah buku klasik dunia yang memasukkan dalam cakupannya semua orang dan bangsa di bumi. Dengan demikian, buku yang luar biasa ini telah diterjemahkan ke dalam hampir semua bahasa di bumi. Alkitab telah memiliki pengaruh besar terhadap banyak bangsa, dan merupakan buku yang paling banyak dibaca di planet ini. Namun buku ini juga merupakan buku yang panjang, dengan cerita yang kompleks. Begitu banyak dari kita yang tidak tahu atau mengerti tema buku ini. Artikel ini akan mengambil satu kalimat dari buku Alkitab untuk menjelaskan kisah buku klasik ini – karya Nabi Isa al Masih (AS).

Alkitab diberikan untuk mengatasi masalah nyata di masa depan kita. Masalah ini dijelaskan dalam Surat al-Mujadila [58] dalam mencari Hari Penghakiman yang akan datang

Pada hari itu mereka dibangkitkan Allah, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya (semua amal perbuatan itu), meskipun mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Surat al-Mujadila 58: 6-7

Surat al-Mujadila memberi tahu kita bahwa tidak mungkin Allah tidak tahu tentang kita, dan dia akan menggunakan pengetahuan ini untuk menghakimi kita.

Surat al-Qiyamah [75] mengatakan hari ini ‘Hari Kebangkitan’ dan juga memperingatkan bagaimana manusia akan dibawa ke depan untuk mempertanggungjawabkan hidupnya.

pada hari itu manusia berkata, “Ke mana tempat lari?”Tidak! Tidak ada tempat berlindung!Hanya kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu.Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri,dan meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.

Surat al-Qiyamah 75: 10-15

Jadi apa yang kita lakukan jika ada niat dan tindakan dalam hidup kita yang membuat kita merasa malu? Pesan Alkitab adalah untuk mereka yang membawa keprihatinan ini.

Pesan Buku

Kita telah membahas minggu terakhir nabi Isa al Masih AS. Injil mencatat bahwa ia disalibkan pada Hari 6 – Jumat Agung, dan ia dibangkitkan kembali pada hari Minggu berikutnya. Ini diramalkan baik dalam Taurat dan Mazmur dan para Nabi. Tetapi mengapa ini terjadi dan apa artinya bagi Anda dan saya hari ini? Di sini kita berusaha memahami apa yang ditawarkan oleh Nabi Isa al Masih, dan bagaimana kita dapat menerima belas kasihan dan pengampunan. Ini akan membantu kita bahkan memahami tebusan Ibrahim yang dijelaskan dalam Surat As-Saffat [37], Surat al Fatihah [1] ketika meminta kepada Allah untuk ‘menunjukkan kita ke Jalan Yang Lurus’, serta memahami mengapa ‘Muslim’ berarti ‘orang yang berserah diri’, dan mengapa ketaatan beragama seperti berwudhu, zakat dan makan makanan yang halal adalah baik tetapi tidak mencukupi untuk Hari Penghakiman.

Berita Buruk – apa yang para nabi katakan tentang hubungan kita dengan Allah

Taurat mengajarkan bahwa ketika Allan menciptakan manusia Dia


Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Genesis1:27

“Gambar” tidak dimaksudkan dalam arti fisik, melainkan bahwa kita dibuat untuk mencerminkan Dia dalam cara kita berfungsi secara emosional, mental, sosial dan spiritual. Kita diciptakan untuk berada dalam hubungan dengan-Nya. Kita dapat menggambarkan hubungan ini di slide di bawah ini. Sang Pencipta, sebagai penguasa tanpa batas, ditempatkan di bagian atas sementara pria dan wanita ditempatkan di bagian bawah slide karena kita adalah makhluk yang terbatas. Hubungan ditunjukkan oleh panah penghubung.

 

Diciptakan dalam gambar-Nya, manusia diciptakan untuk berhubungan dengan Sang Pencipta

 

Allah itu sempurna dalam karakter – Dia Maha Suci. Karena hal ini Zabur berkata

Sebab Engkau bukan Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat tidak akan menumpang untuk Anda.Mazmur5: 4-5

Adam melakukan satu perbuatan ketidaktaatan – hanya satu – dan Kesucian Allah menuntutnya untuk menghakimi. Taurat dan Al Qur’an mencatat bahwa Allah menjadikannya manusia dan mengusirnya dari hadhirat-Nya. Situasi yang sama ada untuk kita. Ketika kita berbuat dosa atau tidak taat dengan cara apa pun kita tidak menghormati Allah karena kita tidak bertindak sesuai dengan gambaran kita yang diciptakan. Hubungan kita terputus. Ini menghasilkan penghalang sekokoh dinding batu diantara kita dan Sang Pencipta.

 

Dosa kita menciptakan penghalang yang kuat antara kita dan Allah yang Maha Suci

Menusuk Penghalang Dosa dengan Keta’atan Keagamaan

Banyak dari kita mencoba untuk menembus penghalang antara kita dan Allah ini dengan perbuatan keagamaan atau pekerjaan yang menghasilkan cukup banyak kepatutan untuk menghancurkan penghalang itu. Doa, puasa, haji, pergi ke masjid, zakat, sedekah adalah cara-cara yang kita upayakan untuk mendapatkan pahala untuk menembus penghalang seperti digambarkan berikut. Harapannya adalah pahala keagamaan akan menghapuskan beberapa dosa. Jika banyak perbuatan kita menghasilkan pahala yang cukup, kita berharap untuk menghapuskan semua dosa kita dan menerima belas kasihan dan pengampunan.

 

Kita mencoba untuk menembus penghalang ini dengan melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan pahala di hadapan Allah

Tetapi berapa banyak pahala yang kita butuhkan untuk menghapuskan dosa? Apa jaminan kita bahwa perbuatan baik kita akan cukup untuk menghapuskan dosa dan menembus penghalang yang telah terjadi di antara kita dan Sang Pencipta? Apakah kita tahu jika upaya kita untuk niat baik akan cukup? Kita tidak memiliki jaminan dan karenanya kita berusaha melakukan sebanyak yang kita bisa dan berharap itu akan cukup pada Hari Penghakiman.

Bersamaan dengan perbuatan untuk mendapatkan pahala, upaya-upaya untuk niat baik, banyak dari kita bekerja keras untuk tetap bersih. Kita rajin melakukan wudhu sebelum shalat. Kita bekerja keras untuk menjauh dari orang-orang, perbuatan-perbuatan dan makanan yang membuat kita tidak bersih. Tetapi nabi Yesaya mengungkapkan bahwa:

Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.

Yesaya64: 6

Nabi memberi tahu kita bahwa bahkan jika kita menghindari segala sesuatu yang membuat kita tidak suci, dosa-dosa kita akan membuat ‘tindakan benar’ kita sama tidak bergunanya dengan ‘kain kotor’ dalam membuat kita bersih. Itu berita buruk. Dan bertambah buruk.

Berita Lebih Buruk: kekuatan Dosa dan Kematian

Nabi Musa AS dengan jelas menetapkan standar dalam Hukum bahwa kepatuhan total diperlukan. Hukum tidak pernah mengatakan sesuatu seperti “upaya untuk mengikuti sebagian besar perintah”. Kenyataannya Hukum berulang kali menyatakan bahwa satu-satunya pekerjaan yang menjamin penebusan dosa adalah kematian. Kita lihat pada masa Nuh AS dan bahkan dengan istri Lut AS bahwa kematian dihasilkan dari dosa.

Injil merangkum kebenaran ini dengan cara berikut:

Karena upah dosa adalah maut…Roma 6:23

“Kematian” secara harfiah berarti ‘pemisahan’. Ketika jiwa kita terpisah dari tubuh kita, kita mati secara fisik. Demikian pula kita sekarang bahkan terpisah dari Allah secara rohani dan mati serta najis di hadapan-Nya.

Ini mengungkapkan masalah dari harapan kita dalam mendapatkan jasa untuk menebus dosa. Masalahnya adalah bahwa upaya keras, pahala, niat baik, dan perbuatan kita, meskipun tidak salah, tidak cukup karena pembayaran yang diperlukan (‘upah’) untuk dosa-dosa kita adalah ‘kematian’. Hanya kematian yang akan menembus tembok ini karena itu memenuhi keadilan Tuhan. Upaya kita untuk mendapatkan pahala seperti mencoba menyembuhkan kanker (yang berakibat kematian) dengan makan makanan halal. Makan makanan halal itu tidak buruk, itu baik – dan seharusnya makan makanan yang halal – tetapi itu tidak akan menyembuhkan kanker. Untuk kanker Anda membutuhkan perawatan yang sama sekali berbeda yaitu yang mematikan sel kanker.

Jadi, bahkan dalam upaya dan niat baik kita untuk menghasilkan keta’atan keagamaan kita sebenarnya mati dan najis sebagai mayat di hadapan Sang Pencipta.

 

Dosa kita menghasilkan kematian – Kita seperti mayat yang najis di hadapan Allah

Ibrahim – menunjukkan Jalan Yang Lurus

Lain halnya dengan Nabi Ibrahim AS. Dia ‘dianggap sebagai kebenaran’, bukan karena jasa-jasanya tetapi karena dia percaya dan percaya janji kepadanya. Dia memercayai Tuhan untuk memenuhi penebusan yang diminta, daripada menghasilkan untuk dirinya sendiri. Kita lihat dalam pengorbanannya yang besar bahwa kematian (penebusan dosa) dibayarkan, tetapi bukan oleh putranya melainkan oleh seekor domba yang disediakan oleh Allah.

 

Ibrahim ditunjukkan Jalan Lurus – Dia hanya mempercayai Janji Tuhan dan Tuhan Menyediakan pembayaran kematian untuk dosa

Al-Quran berbicara tentang ini dalam Surat As-Saffat [37] di mana dikatakan:

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,”Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”

Surat As-Saffat37: 107-109

Allah ‘menebus’ (membayar harga) dan Ibrahim menerima berkah, rahmat dan pengampunan, termasuk ‘kedamaian’.

Kabar Baik: Karya Isa al Masih atas nama kita

Teladan dari nabi ada di sana untuk menunjukkan kepada kita Jalan Lurus sesuai dengan permintaan Surat Al-Fatihah [1 – Pembukaan]

Pemilik hari pembalasan.Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.Tunjukilah kami jalan yang lurus(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Surat al-Fatihah 1: 4-7

Injil menjelaskan bahwa ini adalah gambaran untuk menunjukkan bagaimana Allah akan menebus dosa dan menyediakan obat untuk kematian dan kenajisan dengan cara yang sederhana namun kuat.

Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Roma 6:23

Sejauh ini semuanya merupakan ‘berita buruk’. Tetapi ‘injil’ secara harfiah berarti ‘kabar baik’ dan dalam menyatakan bahwa pengorbanan kematian Isa sudah cukup untuk menembus penghalang antara kita dan Tuhan, kita dapat melihat mengapa itu adalah kabar baik seperti yang ditunjukkan.

 

Pengorbanan Isa al Masih – anak domba Allah – melakukan pembayaran mati terhadap dosa atas nama kita seperti yang dilakukan dalam dombanya Ibrahim.

Nabi Isa al Masih dikorbankan dan kemudian bangkit dari kematian sebagai buah sulung sehingga ia sekarang menawarkan kepada kita kehidupan barunya. Kita tidak perlu lagi menjadi tahanan atas kematian dosa.

 

Kebangkitan Isa al Masih adalah ‘buah sulung’. Kita dapat dibebaskan dari kematian dan menerima kehidupan kebangkitan yang sama.

Dalam pengrobanan dan kebangkitannya, Isa al Masih menjadi gerbang yang menerobos penghalang dosa yang memisahkan kita dari Allah. Inilah sebabnya nabi berkata:

Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.
Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Yohannes 10:9-10

 

Dengan demikian Isa al Masih adalah Gerbang yang menerobos penghalang dosa dan kematian

Karena gerbang ini, kita sekarang dapat memperoleh kembali hubungan yang kita miliki dengan Sang Pencipta sebelum dosa kita menjadi penghalang dan kita dapat diyakinkan menerima kemurahan dan pengampunan atas dosa-dosa kita.

 

Dengan Gerbang terbuka kita sekarang dipulihkan dalam Hubungan dengan Sanf Pencipta

Seperti yang dinyatakan Injil:

Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,ng telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.

1 Timotius 2: 5-6

Karunia Tuhan untuk Anda

Nabi ‘memberikan dirinya sendiri’ untuk ‘semua orang’. Jadi ini pasti termasuk Anda dan juga saya. Melalui kematian dan kebangkitannya, dia telah membayar harganya untuk menjadi ‘penengah’ dan memberi kita kehidupan. Bagaimana kehidupan ini diberikan?

Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Roma 6:23

Perhatikan bagaimana itu diberikan kepada kita. Ini ditawarkan sebagai sebuah… ‘hadiah‘. Pikirkan tentang hadiah. Tidak peduli apa hadiahnya, jika itu benar-benar sebuah hadiah, itu adalah sesuatu yang tidak Anda usahakan dan tidak dapatkan berdasarkan prestasi. Jika Anda mengusahakan untuk mendapatkannya hadiah tidak akan lagi menjadi hadiah – itu akan menjadi upah! Dengan cara yang sama Anda tidak bisa mengusahakan untuk mendapatkan pengorbanan Isa al Masih. Itu diberikan kepada Anda sebagai hadiah. Sesederhana itu.

Dan apa hadiahnya? Itu adalah ‘kehidupan abadi’. Itu berarti bahwa dosa yang membuat Anda dan saya mati sekarang sudah ditebus. Tuhan sangat mencintai Anda dan saya. Ini sangatlah kuat.

Jadi bagaimana Anda dan saya mendapatkan kehidupan kekal? Sekali lagi, pikirkan hadiah-hadiah. Jika seseorang ingin memberi Anda hadiah, Anda harus ‘menerimanya’. Kapan saja hadiah ditawarkan, hanya ada dua pilihan. Entah hadiah ditolak (“Tidak, terima kasih”) atau diterima (“Terima kasih atas hadiah Anda. Saya akan menerimanya”). Begitu juga hadiah ini harus diterima. Tidak bisa secara mental dipercaya, dipelajari atau dipahami. Agar bermanfaat, hadiah apa pun yang ditawarkan kepada Anda harus ‘diterima’.

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nyorang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Yohannes 1: 12-13

Faktanya, Injil mengatakan tentang Tuhan itu

Tuhan Juruselamat kita, yang ingin semua orang diselamatkan …

1 Timotius 2: 3-4

Dia adalah seorang Juru Selamat dan keinginan-Nya adalah agar ‘semua orang’ menerima hadiahnya dan diselamatkan dari dosa dan kematian. Jika ini adalah kehendak-Nya, maka untuk menerima hadiahnya hanya akan berserah pada kehendak-Nya – makna dari kata ‘Muslim’ – orang yang berserah diri.

Bagaimana kita menerima hadiah ini? Injil mengatakan itu

Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.

Roma 10:12

Perhatikan bahwa janji ini adalah untuk ‘semua orang’. Sejak dia bangkit dari kematian, Isa al Masih masih hidup sampai sekarang. Jadi jika Anda memanggilnya dia akan mendengar dan memberikan hadiahnya kepada Anda. Anda memanggilnya dan bertanya kepadanya. Mungkin Anda belum pernah melakukan ini. Di bawah ini adalah panduan yang dapat membantu Anda. Itu bukan mantra sihir. Bukan kata-kata khusus yang memberi kekuatan. Ini adalah kepercayaan seperti yang dimiliki Ibrahim yang kita tempatkan di Isa al Masih untuk memberi kita hadiah ini. Saat kita percaya padanya, Dia akan mendengarkan kita dan menjawab. Injil itu kuat, namun juga sangat sederhana. Jangan ragu untuk mengikuti panduan ini jika Anda merasa terbantu.

Nabi dan Tuhan terkasih Isa al Masih. Saya mengerti bahwa dengan dosa-dosa saya saya terpisah dari Allah Sang Pencipta. Meskipun saya bisa berusaha keras, usaha saya tidak menembus penghalang ini. Tetapi saya mengerti bahwa kematian Anda adalah pengorbanan untuk membasuh semua dosa saya dan membuat saya bersih. Saya tahu bahwa Anda bangkit dari kematian setelah pengorbanan Anda, jadi saya percaya bahwa pengorbanan Anda sudah cukup dan saya tunduk kepada Anda. Saya meminta Anda untuk membersihkan saya dari dosa-dosa saya dan menengahi dengan Pencipta saya sehingga saya dapat memiliki kehidupan yang kekal. Terima kasih, Isa the Masih, untuk melakukan semua ini untukku dan maukah kamu sekarang terus membimbingku dalam hidupku sehingga aku dapat mengikuti kamu sebagai Tuhanku.

Atas nama Tuhan, Maha Penyayang

 

Siapakah Nabi Ilyas? Bagaimana Ia menuntun kita saat ini?

Nabi Ilyas disebutkan tiga kali dalam Surah Al-Anam dan As-Saffat. Surah-surah ini berkata:

dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih,

Al-Anam 6:85

Dan sungguh, Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul.(Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu tidak bertakwa?Patutkah kamu menyembah Ba’l dan kamu tinggalkan (Allah) sebaik-baik pencipta.(Yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu?”Tetapi mereka mendustakannya (Ilyas), maka sungguh, mereka akan diseret (ke neraka),kecuali hamba-hamba Allah yang disucikan (dari dosa),Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.”Selamat sejahtera bagi Ilyas.”Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

(As-Saffat 37:123-132)

Ilyas disebut bersamaan dengan Yahya dan Isa Almasih karena Ia juga salah satu nabi dalam Alkitab. Dalam Surah-Surah tersebut dikatakan bahwa Nabi Ilyas menantang nabi-nabi Baal. Pertarungan ini dituliskan dengan sangat detail dalam Akitab di sini. Di bawah ini kita akan melihat apa saja berkah bagi kita (‘generasi yang akan datang kemudian’ seperti yang dijanjikan dalam Surah As-Saffat).

Ilyas dan ujian bagi nabi-nabi Baal

Ilyas adalah orang yang bertabiat keras, yang menantang 450 nabi Baal. Bagaimana ia bisa menantang begitu banyak nabi? Alkitab menjelaskan bahwa ia menguji mereka dengan cara yang cerdik. Nabi Ilyas dan nabi-nabi Baal harus mempersembahkan satu hewan kurban, tetapi mereka tidak boleh menyalakan api untuk membakar kurban tersebut. Masing-masing pihak akan memanggil dan meminta Allahnya untuk menyalakan api dari surga.  Allah mana pun yang bisa membakar kurban tersebut dengan api dari surga, Dialah Allah yang sejati dan hidup. Jadi, 450 nabi Baal itu memanggil-manggil dan meminta Baal sepanjang hari supaya ia membakar kurban mereka dari surga, tetapi ternyata tidak ada api yang turun dari surga. Kemudian Ilyas, seorang diri, memanggil dan meminta Sang Pencipta untuk membakar kurbannya. Dengan segera, api turun dari langit dan membakar habis kurbannya. Orang-orang yang menyaksikan  pertarungan itu akhirnya tahu siapa Allah yang sejati dan siapa Allah yang palsu. Baal terbukti palsu.

Kita tidak menyaksikan pertarungan ini secara langsung, tetapi kita bisa memakai strategi yang dipakai oleh Ilyas untuk menguji apakah suatu pesan atau seorang nabi benar-benar berasal dari Allah. Strateginya adalah dengan mengujinya sedemikian rupa sehingga nyata bahwa hanya Allah dan utusan-utusan-Nyalah yang akan berhasil membuktikannya. Sementara itu, mereka yang bergantung pada kemampuan manusia tidak akan sanggup, sama halnya dengan nabi-nabi Baal yang tidak sanggup mendatangkan api dari surga.

 Ujian Ilyas saat ini

Bagaimana penerapan ujian seperti ini pada masa sekarang?

Surah An-Najm berkata:

(Tidak!) Maka milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia

.An-Najm 53:25

Hanya Allah yang mengetahui Akhir dari segala sesuatu, bahkan sebelum Akhir tersebut terjadi. Manusia hanya bisa mengetahui Akhir dari sesuatu setelah semua itu terjadi. Oleh karena itu, ujian ini bertujuan untuk melihat apakah pesan yang disampaikan meramalkan masa depan dengan tepat jauh sebelum hal tersebut terjadi. Tidak ada seorang manusia ataupun berhala yang bisa melakukannya. Hanya Allah yang bisa.

Banyak yang bertanya-tanya apakah Nabi Isa Almasih AS, sebagaimana dinyatakan dalam Injil, adalah  memang pesan Allah yang sejati, ataukah semata-mata adalah rekayasa kaum cerdik cendekia. Kita bisa menerapkan ujian yang dipakai Ilyas untuk menjawab pertanyaan ini. Kitab Taurat dan Zabur, bersama dengan kitab para nabi seperti Ilyas, ditulis ratusan bahkan ribuan tahun sebelum masa Isa Almasih AS. Kitab-kitab ini ditulis oleh para nabi Yahudi. Dengan demikian, jelas bahwa tulisan-tulisan ini bukanlah tulisan ‘Kristen.’ Apakah tulisan-tulisan awal ini berisi nubuat-nubuat yang dengan tepat memprediksi peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Isa Almasih? Berikut ringkasan nubuat-nubuat yang tertulis dalam Taurat. Berikut ringkasan berikutnya. Sekarang Anda bisa mengujinya seperti Ilyas unnubuat-nubuat yang tertulis dalam Zabur dan para nabi tuk mengetahui apakah Nabi Isa Almasih AS, sebagaimana dinyatakan dalam Injil, adalah benar-benar dari Allah atau merupakan penyimpangan  yang dilakukan oleh manusia.

Surah Al-Anam menyebut Ilyas bersamaan dengan Yahya dan Isa Almasih. Menariknya, dalam kitab terakhir Perjanjian Lama, Ilyas dinubuatkan datang dan mempersiapkan hati kita untuk kedatangan Sang Masih. Dalam Injil, kita melihat bagaimana Nabi Yahya datang seperti Ilyas untuk memberi teguran dan mempersiapkan orang bagi kedatangan Sang Masih. Pribadi Ilyas sendiri juga terikat dengan nubuat-nubuat mengenai Yahya dan Sang Masih.

 

Al-Qur’an: Tidak Ada Variasi! Apa yang dikatakan hadits?

“Al-Qur’an adalah kitab suci asli – bahasa, huruf dan bacaan yang sama. Tidak ada tempat untuk interpretasi manusia atau terjemahan yang berubah … Jika Anda mengambil salinan Al-Qur’an dari rumah mana pun di seluruh dunia, saya ragu Anda bahkan akan menemukan perbedaan di antara mereka. “

Seorang teman mengirimi saya catatan ini. Dia membandingkan teks Al-Qur’an dengan Injil / Alkitab. Ada dua puluh empat ribu naskah Injil kuno dan mereka memiliki variasi-variasi kecil, di mana hanya beberapa kata yang berbeda. Meskipun semua tema dan ide adalah sama dari seluruh 24000 naskah, termasuk tema Isa al Masih menebus kita dalam kematian dan kebangkitannya, klaim sering dibuat, seperti di atas, bahwa tidak ada variasi dalam Al-Qur’an. Ini dilihat sebagai indikasi keunggulan Al-Qur’an atas Alkitab, dan bukti perlindungan ajaibnya. Tapi apakah hadits memberitahu kita tentang pembentukan dan kompilasi Al-Qur’an?

Pembentukan Al-Qur’an dari Nabi ke para Khalifah

Diriwayatkan oleh `Umar bin Khattab:

Saya mendengar Hisham bin Hakim bin Hizam membaca Surat-al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan saya. Utusan Allah telah mengajarkannya kepada saya (dengan cara yang berbeda). Jadi, saya akan berdebat dengannya (saat sholat) tetapi saya menunggu sampai dia selesai, kemudian saya mengikatkan pakaiannya di lehernya dan menangkapnya dengan itu dan membawanya ke Rasulullah dan berkata, “Saya telah mendengar dia membaca Surat -al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan caramu mengajarkannya padaku. ” Nabi memerintahkan saya untuk membebaskannya dan meminta Hisham untuk melafalkannya. Ketika dia membacanya, Rasul Allah berkata, “Hal itu diungkapkan dengan cara ini.” Dia kemudian meminta saya untuk melafalkannya. Ketika saya membacanya, dia berkata, “Itu diturunkan dengan cara ini. Al-Qur’an telah diturunkan dalam tujuh cara berbeda, jadi bacalah dengan cara yang lebih mudah bagimu.”

Sahih al-Bukhari 2419 : Book 44, Hadith 9

Diriwayatkan oleh Ibnu Mas`ud:

Saya mendengar seseorang membacakan ayat (Al-Qur’an) dengan cara tertentu, dan saya telah mendengar Nabi melafalkan ayat yang sama dengan cara yang berbeda. Jadi aku membawanya menemui Nabi dan memberitahunya tentang hal itu tetapi aku melihat tanda ketidaksetujuan di wajahnya, dan kemudian dia berkata, “Kalian berdua benar, jadi jangan berbeda, untuk bangsa-bangsa sebelum kalian yang berbeda, mereka hancur.”

Sahih al-Bukhari 3476 : Book 60, Hadith 143

Keduanya dengan jelas memberitahu kita bahwa selama masa hidup Nabi Muhammad (SAW) ada beberapa versi bacaan Al-Qur’an yang digunakan dan disetujui oleh Muhammad (SAW). Jadi apa yang terjadi setelah kematiannya?

Abu Bakar dan Qur’an

Dikisahkan oleh Zaid bin Tsabit:

Abu Bakar As-Siddiq memanggilku ketika orang Yamama telah terbunuh (yaitu, sejumlah sahabat Nabi yang berperang melawan Musailama). (Saya pergi kepadanya) dan menemukan `Umar bin Khattab duduk bersamanya. Abu Bakar kemudian berkata (kepada saya), “Umar telah datang kepada saya dan berkata:” Korban banyak di antara Al-Qur’an (yaitu mereka yang hafal Al-Qur’an) pada hari Pertempuran Yamama, dan saya khawatir bahwa korban yang lebih banyak mungkin terjadi di antara Al-Qur’an di medan perang lain, di mana sebagian besar Al-Qur’an mungkin hilang. Oleh karena itu saya sarankan, Anda (Abu Bakar) memerintahkan agar Alquran menjadi “Bagaimana Anda dapat melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasul Allah? ”Dikumpulkan. ”Saya berkata kepada` Umar, `Umar berkata,” Demi Allah, itu adalah proyek yang bagus. “Umar terus mendesak saya untuk menerima lamarannya sampai Allah membukakan dada saya untuk itu dan saya mulai menyadari kebaikan dalam gagasan yang telah disadari oleh Umar. Lalu Abu Bakar berkata (padaku). ‘Anda adalah pria muda yang bijak dan kami tidak memiliki kecurigaan tentang Anda, dan Anda biasa menulis Inspirasi Ilahi untuk Rasulullah (SAW). Jadi kamu harus mencari (naskah-naskah yang terpisah) dari Alquran dan mengumpulkannya dalam satu buku. “Demi Allah Jika mereka memerintahkan saya untuk memindahkan salah satu gunung, tidak akan lebih berat bagi saya daripada hal memerintahkan saya untuk mengumpulkan Al Qur’an. Lalu aku berkata kepada Abu Bakar, “Bagaimana kamu akan melakukan sesuatu yang Rasul Allah (SAW) tidak lakukan?” Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, ini adalah proyek yang bagus.” Abu Bakar terus mendesak aku menerima idenya sampai Allah membuka dadaku untuk apa yang telah Dia buka dada Abu Bakar dan Umar. Jadi aku mulai mencari Al Qur’an dan mengumpulkannya dari (apa yang tertulis di) batang palem, batu putih tipis dan juga dari orang-orang yang hafal, sampai aku menemukan Ayat terakhir Surat at-Taubah (Taubat) dengan Abi Khuzaima Al-Ansari, dan aku tidak menemukannya dengan siapa pun selain dia. Ayatnya adalah: ‘Sesungguhnya di sana telah datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari golongan kamu sendiri. Ini menyedihkan dia bahwa kamu harus menerima luka atau kesulitan (sampai akhir Surat-Baraa ‘ (at-Taubah) (9:128-129). Kemudian naskah lengkap (salinan) Al-Qur’an tetap ada pada Abu Bakar sampai dia meninggal, kemudian dengan `Umar sampai akhir hayatnya, dan kemudian dengan Hafsa, putri`

Umar.Sahih al-Bukhari 4986 : Book 66, Hadith 8

Itu terjadi ketika Abu Bakar menjadi khalifah, yang langsung menggantikan Muhammad (SAW). Ini memberitahukan kita bahwa Muhammad (SAW) tidak pernah mengumpulkan Al-Qur’an menjadi teks yang baku atau memberikan petunjuk bahwa hal seperti itu harus dilakukan. Dengan banyaknya korban peperangan di antara mereka yang hafal Al-Qur’an, Abu Bakar dan Umar (Khalifah ke-2) membujuk Zaid untuk mulai mengumpulkan Al-Qur’an dari berbagai sumber. Zaid awalnya enggan karena Muhammad (SAW) tidak pernah menunjukkan keperluan untuk membakukan teks. Dia telah mempercayai beberapa temannya untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada pengikut mereka seperti yang diceritakan dalam hadits berikut ini.

Diriwayatkan Masriq:

`Abdullah bin` Amr menyebut `Abdullah bin Masud dan berkata,” Aku akan selalu mencintai orang itu, karena aku mendengar Nabi (SAW) berkata, ‘Ambil (pelajari) Alquran dari empat: `Abdullah bin Mas’ud, Salim, Mu`adh dan Ubai bin Ka`ab. ‘ ”

Sahih al-Bukhari 4999 : Book 66, Hadith 21

Namun, setelah kematian Nabi (SAW) perselisihan muncul di antara para sahabat karena varian bacaan ini. Hadits di bawah ini menceritakan tentang ketidaksepakatan atas Surat [92]: 1-3 (Al-Lail)

Diriwayatkan oleh Ibrahim:

Para sahabat `Abdullah (bin Mas`ud) datang ke Abu Darda’, (dan sebelum mereka tiba di rumahnya), dia mencari mereka dan menemukan mereka. Kemudian dia bertanya kepada mereka: ‘Siapa di antara kamu yang bisa melafalkan (Al-Qur’an) sebagaimana `Abdullah membacanya?” Mereka menjawab, “Kita semua.” Dia bertanya, “Siapa di antara kamu yang hafal itu?” Mereka menunjuk ke ‘Alqama. Kemudian dia bertanya kepada `Alqama. “Bagaimana kamu mendengar` Abdullah bin Mas`ud membaca Surat Al-Lail (Malam)? ”Alqama membacakan: ‘Demi pria dan wanita.’ Abu Ad-Darda berkata, “Saya bersaksi bahwa saya mendengar Nabi membacanya juga, tetapi orang-orang ini ingin saya membacanya: – ‘Dan demi Dia yang menciptakan pria dan wanita.’ tapi demi Allah, aku tidak akan mengikuti mereka.”

Vol. 6, Book 60, Hadith 468

Al-Qur’an hari ini memiliki bacaan kedua untuk Surat Al-Lail 92: 3. Menariknya, Abdullah, yang merupakan salah satu dari empat hadits sebelumnya yang secara khusus dipilih oleh Nabi Muhammad (SAW) sebagai otoritas pembacaan Alquran, dan Abu Ad-Darda menggunakan bacaan yang berbeda untuk ayat ini dan tidak bersedia untuk mengikuti yang lain.

Hadits berikut menunjukkan bahwa seluruh wilayah kerajaan Islam mengikuti bacaan yang berbeda, sejauh seseorang dapat memverifikasi dari mana seseorang berasal dengan bacaan apa yang dia gunakan. Dalam kasus di bawah ini, orang Irak di Kufah mengikuti pembacaan Surah 92: 1-3 oleh Abdullah bin Mas’ud.

‘Alqama melaporkan:

Saya bertemu Abu Darda ‘, dan dia berkata kepada saya: Kamu dari negara mana? Saya berkata: Saya adalah salah satu orang Irak. Dia kembali bertanya: Di kota mana? Saya menjawab: Kota Kufah. Dia kembali berkata: Apakah Anda membaca sesuai dengan bacaan ‘Abdullah bin Mas’ud? Saya bilang iya. Dia berkata: Ucapkan ayat ini (Pada malam saat tertutup) Jadi aku membacanya: (Pada malam saat itu menutupi, dan hari ketika bersinar, dan penciptaan laki-laki dan perempuan). Dia tertawa dan berkata: Saya telah mendengar Rasulullah (SAW) membaca seperti ini.

Sahih Muslim 824 c: Book 6, Hadith 346

Diriwayatkan oleh Ibn `Abbas:

Umar berkata, Ubai adalah yang terbaik di antara kami dalam mengaji (Al-Qur’an) namun kami meninggalkan sebagian dari apa yang dia baca. ‘Ubai berkata, Aku telah mengambilnya dari mulut Rasulullah (SAW) dan tidak akan meninggalkan apapun untuk apapun. “Tapi Allah berfirman” Tidak satupun dari Wahyu Kami yang Kami batalkan atau menyebabkan untuk dilupakan tanpa Kami mengganti sesuatu yang lebih baik atau serupa. ”

2.106Sahih al-Bukhari 5005
Book 66, Hadith 27

Meskipun Ubai dianggap ‘yang terbaik’ dalam membaca Al-Qur’an (Dia adalah salah satu dari yang dicatat sebelumnya oleh Muhammad SAW), orang lain di komunitas tersebut meninggalkan sebagian dari apa yang dia baca. Ada ketidaksepakatan tentang apa yang harus dibatalkan dan apa yang tidak. Ketidaksepakatan tentang varian bacaan dan pembatalan menyebabkan ketegangan. Kita lihat dalam hadits di bawah ini bagaimana masalah ini diselesaikan.

Khalifah Utsman dan Qur’an

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik:

Hudhaifa bin Al-Yaman datang ke `Utsman pada saat rakyat Syam dan rakyat Irak sedang berperang untuk menaklukkan Arminya dan Adharbijan. Hudhaifa takut dengan mereka (orang Syam dan Irak) dalam perbedaan pembacaan Al-Qur’an, jadi dia berkata kepada `Utsman,” Wahai pemimpin orang-orang beriman! Selamatkan bangsa ini sebelum mereka berbeda tentang Kitab (Al-Qur’an) seperti yang dilakukan orang Yahudi dan Kristen sebelumnya. “Maka `Utsman mengirim pesan kepada Hafsa dengan mengatakan,”Kirimkan kepada kami naskah Al-Qur’an agar kami dapat menyusun materi Al-Qur’an dalam salinan yang sempurna dan mengembalikannya kepada Anda. “Hafsa mengirimkannya ke `Utsman. `Utsman kemudian memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin AzZubair, Sa`id bin Al-As dan `AbdurRahman bin Harith bin Hisham untuk menulis ulang naskah-naskah itu dalam salinan yang sempurna. `Utsman berkata kepada tiga orang Quraisy,” Jika Anda tidak setuju dengan Zaid bin Tsabit pada poin mana pun dalam Alquran, maka tulislah dalam dialek Quraisy, Alquran diturunkan dalam bahasa mereka. “Mereka melakukannya, dan ketika mereka telah menulis banyak salinan, ‘Utsman mengembalikan manuskrip aslinya ke Hafsa. `Utsman mengirim ke setiap provinsi Muslim satu salinan dari apa yang telah mereka salin, dan memerintahkan agar semua materi Alquran lainnya, baik yang tertulis dalam naskah yang terpisah-pisah atau salinan yang utuh, dibakar.

Sahih al-Bukhari 4987 : Book 66, Hadith 9

Inilah mengapa tidak ada pembacaan yang bervarisi saat ini. Itu bukan karena Nabi Muhammad (SAW) hanya menerima atau menggunakan satu bacaan (dia tidak, dia menggunakan tujuh), atau karena dia menyusun Al-Qur’an yang resmi. Dia tidak melakukannya. Faktanya, jika Anda mencari   ‘bacaan berbeda’ di sunnah online ada 61 hadits yang membahas bacaan Alquran yang berbeda. Al-Qur’an hari ini tidak berbeda karena Utsman (khalifah ke-3) mengambil salah satu bacaan, mengeditnya, dan membakar semua bacaan lainnya. Hadits berikut menunjukkan bagaimana pengeditan ini tetap ada dalam Al-Qur’an saat ini.

Dikisahkan oleh Ibnu `Abbas:

Umar berkata, “Saya khawatir setelah waktu yang lama berlalu, orang-orang mungkin berkata,” Kami tidak menemukan Ayat-ayat Rajam (dirajam sampai mati) dalam Kitab Suci, “dan akibatnya mereka mungkin tersesat dengan meninggalkan kewajiban yang Allah turunkan. Sesungguhnya saya tegaskan bahwa hukuman Rajam dijatuhkan kepada orang yang melakukan hubungan seksual haram, jika dia sudah menikah dan kejahatan itu dibuktikan dengan saksi atau kehamilan atau pengakuan. ” Sufyan menambahkan, “Saya telah menghafal narasi ini dengan cara ini.” Umar menambahkan, “Sesungguhnya Rasulullah (SAW) melaksanakan hukuman Rajam, dan begitu juga kami setelah dia.”

Sahih al-Bukhari 6829 : Book 86, Hadith 56

Dikisahkan oleh Ibnu `Abbas:

… Allah mengutus Muhammad dengan Kebenaran dan mengungkapkan Kitab Suci kepadanya, dan di antara apa yang Allah nyatakan, adalah Ayat Rajam (merajam orang yang menikah (pria & wanita) yang melakukan hubungan seksual ilegal, dan kami melafalkan Ayat ini dan memahami dan menghafalnya. Rasulullah (SAW) melakukan hukuman rajam dan begitu juga kami setelah dia….

Bukhari  Book 86, Hadith 57

Saat ini tidak ada ayat tentang hukum rajam untuk perzinahan dalam Al-Qur’an. Itu telah diedit.

Dikisahkan oleh Ibnu Az-Zubair: Saya berkata kepada ‘Utsman, “Ayat ini yang ada dalam Surat-al-Baqarah:” Kalian yang meninggal dan meninggalkan janda … tanpa mengeluarkan mereka. “Telah dibatalkan oleh Ayat lain. Lalu mengapa Anda menulisnya (dalam Al-Qur’an)? ” ‘Kata Utsman. “Biarkan (di mana itu),…, karena aku tidak akan menggeser apapun darinya (yaitu Al-Qur’an) dari posisi aslinya.”

Vol. 6, Book 60, Hadith 60

Di sini kita melihat ketidaksepakatan antara Utsman dan Ibn Az-Zubair tentang apakah pembatalan sebuah ayat berarti harus atau tidak harus disimpan dalam Al-Qur’an. Utsman memiliki caranya sendiri dan ayat ini ada dalam Al-Qur’an hari ini. Namun ada kontroversi tentang itu.

Utsman dan Judul Surat ke-9 (at-Taubah)

Diriwayatkan oleh Utsman ibn Affan:

Yazid al-Farisi berkata: Aku mendengar Ibnu Abbas berkata: Aku bertanya kepada Utsman bin Affan: Apa yang menggerakkanmu untuk meletakkan (Surah) al-Bara’ah yang merupakan milik mi’in (surat berisi seratus ayat) dan (Surat) al-Anfal yang termasuk dalam mathani (Surat-surat) dalam kategori as-sab’u at-tiwal (surah panjang pertama atau bab Alquran), dan Anda tidak menulis “Atas nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Penyayang “di antara mereka?

Utsman menjawab: Ketika ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi (SAW), dia memanggil seseorang untuk menuliskannya untuknya dan berkata kepadanya: Masukkan ayat ini ke dalam surat di mana ini dan itu telah disebutkan; dan ketika satu atau dua ayat diturunkan, dia biasa mengatakan hal yang sama (mengenai mereka). (Surat) al-Anfal adalah surah pertama yang diturunkan di Madinah, dan (Surat) al-Bara’ah diturunkan terakhir dalam Al-Qur’an, dan isinya mirip dengan al-Anfal. Oleh karena itu, saya pikir itu adalah bagian dari al-Anfal. Oleh karena itu saya menempatkan mereka dalam kategori as-sab’u at-tiwal (tujuh surat panjang), dan saya tidak menulis “Dengan nama Allah, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Penyayang” di antara mereka.

Sunan Abi Dawud 786 : Book 2, Hadith 396

Surat ke-9 (At-Taubah atau Al Bara’ah) adalah satu-satunya Surat dalam Al-Qur’an yang tidak dimulai dengan ‘Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Penyayang’. Hadits menjelaskan mengapa. Utsman menganggap Surat ke-9 adalah bagian dari Surat ke-8 karena isi materinya mirip. Dari mempertanyakan hal ini kita dapat melihat bahwa ini kontroversial dalam komunitas awal Muslim zaman itu. Hadits berikutnya menunjukkan reaksi salah seorang sahabat terhadap Al-Qur’annya Utsman

‘Abdullah (bin Mas’ud) melaporkan bahwa dia (berkata kepada sahabatnya untuk menyembunyikan Alquran mereka) dan selanjutnya berkata:

Dia yang menyembunyikan apa pun dia harus membawa apa yang telah dia sembunyikan pada hari pembalasan, dan kemudian berkata: Cara pelafalan siapakah yang Anda perintahkan untuk saya ucapkan? Sebenarnya saya membaca di hadapan Rasulullah (SAW) lebih dari tujuh puluh surat Al-Qur’an dan para sahabat Rasulullah (SAW) tahu bahwa saya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang Kitab Allah (daripada yang mereka lakukan), dan jika saya mengetahui bahwa seseorang memiliki pemahaman yang lebih baik daripada saya, saya akan pergi kepadanya. Shaqiq berkata: Saya duduk di antara para Sahabat Muhammad (SAW) tetapi saya tidak mendengar ada yang menolak itu (yaitu, bacaannya) atau menemukan kesalahan dengannya

.Sahih Muslim 2462: Book 44, Hadith 162

Beberapa hal menonjol:

  1. Abdullah bin Mas’ud menyuruh pengikutnya untuk menyembunyikan Al-Qur’an mereka karena suatu alasan.
  2. Dia sepertinya diperintahkan oleh seseorang untuk menggunakan bacaan yang berbeda. Hal ini paling baik dipahami sebagaimana merujuk pada saat Utsman membakukan versinya tentang Al-Qur’an.
  3. Keberatan Ibnu Mas’ud untuk mengubah cara dia membaca Al-Qur’an adalah bahwa: Saya (Mas’ud) memiliki pemahaman yang lebih baik tentang Kitab
  4. Shaqiq mengatakan bahwa para sahabat Muhammad tidaklah bersebrangan dengan Mas’ud.

Versi tekstual Al-Qur’an saat ini

Namun, setelah edisi Utsman, variasi bacaan masih ada. Faktanya, tampaknya di abad ke-4 setelah Nabi (SAW) ada sanksi kembali ke bacaan yang berbeda. Jadi meskipun saat ini bacaan tekstual utama Arab adalah Hafs (atau Hofs), ada juga Warsy, yang kebanyakan digunakan di Afrika Utara, Al-Duri, yang kebanyakan digunakan di Afrika Barat dan daerah lainnya. Perbedaan antara bacaan-bacaan ini sebagian besar terletak pada ejaan dan sedikit dalam variasi-variasi kata, biasanya tanpa mempengaruhi makna, tetapi dengan beberapa perbedaan yang memang mempengaruhi makna hanya dalam konteks langsung tetapi tidak dalam pemikiran yang lebih luas.

Jadi ada pilihan tentang versi apa dari Al-Qur’an yang akan digunakan.

Kita telah pelajari bahwa ada variasi bacaan Arab dari Al-Qur’an saat ini, yang melalui proses penyuntingan dan seleksi setelah kematian Nabi Muhammad (SAW). Alasan mengapa ada sedikit variasi dalam teks Al-Qur’an saat ini adalah karena semua varian teks lainnya dibakar pada waktu itu. Al-Qur’an tidak memiliki catatan kaki sebagai bacaan alternatif, bukan karena tidak ada bacaan alternatif, tetapi karena catatan kaki itu dimusnahkan. Utsman mungkin menghasilkan bacaan Al-Qur’an yang bagus, tapi itu bukan satu-satunya, dan itu tidak dibuat tanpa kontroversi. Dengan demikian, gagasan Al-Qur’an yang diterima secara luas sebagai “kitab suci asli – bahasa, huruf, dan bacaan yang sama. Tidak ada tempat untuk interpretasi manusia” tidaklah benar. Meskipun Alkitab dan Al-Qur’an keduanya sama-sama memiliki varian bacaan, keduanya juga memiliki bukti naskah yang kuat yang menunjukkan bahwa teks yang ada saat ini mendekati aslinya. Keduanya dapat memberi kita gambaran yang dapat dipercaya dari yang aslinya. Banyak yang teralihkan dari upaya untuk memahami pesan dari Kitab-kitab dengan melakukan pemujaan yang tidak semestinya terhadap cara pelestarian Al-Qur’an dan penghinaan yang tidak semestinya terhadap cara pelestarian Alkitab. Akan lebih baik jika kita memfokuskan pada pemahaman tentang Kitab-kitab tersebut. Itulah alasan mereka diberikan sejak awal. Tempat yang baik untuk memulai adalah dengan Adam.

Siapakah Yusuf? Apa Tanda yang Ditunjukkannya?

Surah Yusuf (Surah 12 – Yusuf) menceritakan kisah Hazrat Yusuf. Yusuf adalah anak Hazrat Ya’qub, anak Hazrat Ishaq, anak Hazrat Ibrahim. Ya’qub memunyai dua belas anak, dan salah satunya adalah Yusuf. Kesebelas saudara Yusuf bersepakat melawan dia dan rencana perlawanan mereka ini membentuk kisah Yusuf. Cerita ini pertama kali dicatat dalam Taurat Musa lebih dari 3500 tahun yang lalu. Lihat cerita lengkapnya dalam Taurat di sini dan cerita dalam Surah Yusuf (Surah 12 – Yusuf) di sini. Surah Yusuf memberitahu kita bahwa ini bukanlah sekedar cerita, tetapi:

Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya

Surah Yusuf 12:7

Dalam cerita Yusuf dan saudara-saudaranya, apa yang menjadi ‘tanda’ bagi mereka yang sedang mencari kebenaran? Untuk memahami ‘tanda-tanda’ ini, mari kita tinjau kembali ceritanya dalam Taurat dan Surah Yusuf.

Sujud di hadapan …?

Satu tanda yang jelas adalah mimpi Yusuf yang ia ceritakan kepada ayahnya, Ya’qub, seperti yang tertulis dalam surah berikut:

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Surah Yusuf 12:4

Pada akhir ceritanya, kita melihat bahwa

Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.

Surah Yusuf 12:100

Dalam Alquran, kata ‘sujud’ disebutkan berkali-kali. Namun, kata itu hanya digunakan untuk menjelaskan sujud kepada Allah yang Mahakuasa, dalam doa, di Ka’bah, atau di hadapan mujizat Allah (seperti para ahli sihir Mesir dengan Musa). Namun, di sini ada satu pengecualian, yaitu sujud yang diberikan kepada manusia (Yusuf). Satu-satunya kejadian yang serupa terjadi ketika para malaikat diperintahkan untuk ‘bersujud’ di hadapan Hazrat Adam (Ta-Ha 116 dan Al-Araf 11). Akan tetapi, malaikat bukanlah manusia, peraturan umumnya adalah, manusia hanya sujud kepada Tuhan.

ahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung.

Al-Hajj 22:77

Apa yang membuat Yusuf mendapat pengecualian sehingga ayahnya, Ya’qub, dan saudara-saudaranya bersujud di hadapannya?

Anak Manusia

 Historical Timeline showing Prophet Daniel and other prophets of Zabur

Kerangka Sejarah menunjukkan Nabi Daniel bersama dengan nabi-nabi lain Kitab Zabur

Likewise in the Bible we are commanded to only prostrate before, or worship, the LORD, but there is also an exemption.  The prophet Daniel received a vision which looked far forward in time to when the Kingdom of God would be established and in his vision he saw a ‘Son of Man’.

Alkitab juga memberi perintah yang sama, yaitu manusia hanya bersujud atau menyembah TUHAN saja, namun ada juga pengecualian. Nabi Daniel menerima penglihatan tentang masa jauh di depan saat Kerajaan Allah didirikan, dan dalam penglihatan itu, ia melihat seorang ‘Anak Manusia’.

13 Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya.
14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.

Daniel 7:13-14

Dalam penglihatan itu, manusia bersujud di hadapan ‘anak manusia’ sama seperti keluarga Yusuf bersujud di hadapan Yusuf.

‘Anak Manusia’ adalah gelar yang paling sering dipakai oleh Isa Almasih AS untuk menyebut dirinya sendiri. Selama di bumi, dia memang menunjukkan kuasanya yang agung saat mengajar, – saat menyembuhkan, dan saat menaklukkan alam. Namun, dia tidak datang ‘dalam awan-awan surga’ seperti yang dinyatakan dalam ramalan penglihatan Daniel, karena penglihatan itu menunjukkan masa yang lebih jauh dari masa akan datang. Penglihatan itu melewati masa kedatangannya yang pertama sampai pada kedatangannya yang kedua – masa di mana dia kembali lagi ke bumi untuk menghancurkan Dajjal (seperti nubuat yang dinyatakan kepada Hazrat Adam) dan mendirikan Kerajaan Allah.

Kedatangannya yang pertama, lahir melalui perawan Maryam, adalah untuk menebus umat manusia sehingga mereka bisa menjadi warga Kerajaan Allah. Namun, pada saat itu pun, dia telah menyatakan bahwa dia, Sang Anak Manusia, akan memisahkan umat manusia ketika dia datang kembali dalam awan-awan. Dia menubuatkan semua bangsa akan datang dan sujud di hadapannya seperti halnya saudara-saudara Yusuf datang bersujud di hadapan Yusuf. Lihat apa yang diajarkan Sang Masih berikut:

31 “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.
44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?
45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.
46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”

Matius 25: 31-46

Hazrat Yusuf dan Isa Almasih

Selain pengecualian bahwa manusia lain akan bersujud di hadapan mereka, Hazrat Yusuf dan Isa Almasih juga menjalani beberapa pola dan kejadian yang sama dalam hidup mereka. Perhatikanlah berbagai situasi yang menunjukkan persamaan dalam hidup mereka:

Peristiwa-peristiwa dalam hidup Hazrat Yusuf Peristiwa-peristiwa dalam hidup Isa Almasih

 

Saudara-saudaranya, yang kemudian menjadi 12 suku Israil, membenci Yusuf dan menolaknya. Orang Yahudi, sebagai suatu bangsa yang terdiri atas berbagai suku, membenci Isa Almasih dan menolaknya sebagai Sang Masih.
given by God)Yusuf menyatakan kepada Israil (nama Ya’qub yang diberikan oleh Allah) bahwa saudara-saudaranya akan bersujud kepadanya di masa depan. Isa Almasih menyatakan kepada bangsa Israil bahwa saudara-saudaranya (sesamanya orang Yahudi) akan bersujud kepadanya di masa depan (Markus 14:62).
Yusuf diutus oleh Ya’qub, ayahnya, kepada saudara-saudaranya, tetapi mereka menolaknya dan bersepakat untuk membunuhnya. Isa Almasih diutus oleh Bapa-Nya kepada saudara-saudaranya, orang Yahudi, tetapi “umat kepunyaannya tidak menerimanya.” (Yahya 1:11) dan mereka “bersepakat untuk membunuhnya” (Yahya 11:53)

 

Mereka melemparkannya ke dalam sumur tanah yang dalam.

 

Isa Almasih turun ke kedalaman bumi.
Yusuf disingkirkan dengan dijual dan diserahkan kepada orang asing. Isa Almasih disingkirkan dengan dijual dan diserahkan kepada orang asing.

 

Dia dibawa jauh supaya saudara-saudara dan ayahnya berpikir bahwa dia sudah mati. Israil dan saudara-saudaranya, orang Yahudi, berpikir bahwa Isa Almasih masih dalam keadaan mati.

 

Yusuf direndahkan sebagai seorang hamba.

 

Isa Almasih mengambil “rupa sebagai seorang hamba” dan ‘merendahkan dirinya’ sampai mati. (Filipi 2:7)

 

Yusuf dituduh melakukan dosa. Bangsa Yahudi “menuduhnya mengenai banyak hal”. (Markus 15:3)

 

Yusuf dimasukkan ke dalam penjara sebagai seorang budak. Di sana, dia menubuatkan bebasnya seorang tawanan dari kegelapan penjara bawah tanah (tukang roti).

 

Isa Almasih diutus “… untuk membalut hati yang hancur, memaklumkan kebebasan bagi para tawanan dan kelepasan bagi para tahanan…”. (Yesaya 61:1)
Yusuf naik menuju takhta Mesir, mengatasi semua penguasa lain, langsung di bawah Firaun sendiri. Orang-orang yang datang kepadanya bersujud di hadapannya.

 

“Allah sangat menjunjungnya (Almasih) tinggi dan menganugerahkan kepadanya nama di atas segala nama supaya di dalam nama Isa semua akan bertekuk lutut, baik yang ada di langit, di bumi, maupun yang ada di bawah bumi,…”. (Filipi 2:9-11)

 

provide themSementara ia masih ditolak dan dipercaya telah mati oleh saudara-saudaranya, bangsa-bangsa datang kepada Yusuf untuk mendapatkan roti yang bisa ia sediakan bagi mereka. Sementara Dia masih ditolak dan dipercaya telah mati oleh saudara-saudara sebangsanya, orang Yahudi, bangsa-bangsa datang kepada Isa Almasih untuk mendapatkan roti hidup yang hanya bisa disediakan oleh-Nya.
Yusuf menyampaikan pengkhianatan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya.

 

(Kejadian 50: 19-20)

 

Isa Almasih menyampaikan bahwa pengkhianatan yang dilakukan oleh saudara-saudara sebangsanya, orang Yahudi, adalah kehendak Allah dan melaluinya banyak jiwa akan diselamatkan.

 

(Yahya 5:24)

Saudara-saudaranya dan bangsa-bangsa bersujud di hadapan Yusuf. Nubuat Daniel tentang Anak Manusia adalah, “semua bangsa dan kaum, dengan setiap bahasanya, akan menyembahnya”

 

Banyak Pola – Banyak Tanda

Hampir semua nabi dalam Taurat memiliki hidup yang terpola dengan Isa Almasih – pola-pola ini telah tertata ratusan tahun sebelum kedatangan-Nya. Hal ini terjadi untuk menunjukkan bahwa kedatangan Sang Masih merupakan murni rencana Allah, bukan gagasan manusia, karena manusia tidak tahu apa yang akan terjadi jauh di masa depan.

Mulai dari Hazrat Adam sudah ada nubuat mengenai Sang Masih. Alkitab menyatakan bahwa Hazrat Adam

…. adalah gambaran dia yang akan datang (yaitu Isa Almasih)

14 Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.

Roma 5:14

Meskipun pada akhirnya Yusuf menerima sujud dari saudara-saudaranya, yang menjadi penekanan utama dalam hidupnya bukanlah sujud itu, melainkan penolakan, pengorbanan, dan pengasingannya dari saudara-saudaranya. Penekanan pada pengorbanan Sang Masih juga bisa dilihat dalam pola pengorbanan Nabi Ibrahim. Setelah masa Yusuf, kedua belas anak Ya’qub menjadi dua belas suku Israil yang kemudian dipimpin oleh Nabi Musa AS keluar dari Mesir. Cara ia melakukannya juga menunjukkan sebuah pola yang menubuatkan detail-detail pengorbanan Sang Masih. Sebenarnya, dalam Kitab Taurat terdapat banyak tanda mendetail yang ditulis ribuan tahun sebelum kedatangan Sang Masih. Kitab Zabur dan Kitab Nabi-Nabi lainnya, yang berisi detail-detail lebih lanjut yang ditulis ratusan tahun sebelum Sang Masih, menekankan penolakan dalam nubuat tentang Hamba yang Menderita. Tidak ada satu orang pun yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada ratusan tahun ke depan. Lalu, bagaimana nabi-nabi itu mengetahui detail-detail ini? Tentu Allah sendirilah yang mengilhamkannya kepada mereka. Jika demikian adanya, maka penolakan yang dialami oleh Isa Almasih dan pengorbanannya pastilah merupakan rencana Allah.

Sebagian besar pola atau nubuat ini berhubungan dengan kedatangan pertama Sang Masih di mana dia mempersembahkan dirinya sendiri supaya kita bisa diselamatkan dan dapat memasuki Kerajaan Allah.

Namun demikian, gambaran Yusuf juga merujuk lebih jauh pada masa ketika Kerajaan Allah akan didirikan dan semua bangsa akan bersujud saat Isa Almasih datang kembali ke dunia. Sekarang kita hidup pada masa ketika kita diundang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Janganlah kita menjadi seperti orang bodoh dalam Surah Al-Ma’arij yang menunda sampai Hari Penghakiman dalam mencari Sang Penebus – dan terlambat. Pelajari sekarang  hidup yang ditawarkan Sang Masih bagi Anda.

Sang Masih mengajarkan bahwa kedatangannya yang kedua akan seperti ini:

ada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.
2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,
4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.
5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.
6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!
7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.
8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.
9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.
10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.
11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!
12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.
13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”
14 “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
17 Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.
18 Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.
20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.
21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
22 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.
23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
24 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
25 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!
26 Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?
27 Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
28 Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
30 Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Matius 25:1-30