Al Masih: Datang untuk memerintah … atau ‘tersingkirkan’?

Dalam artikel terakhir kita, telah kita lihat bagaimana para nabi memberikan tanda-tanda yang meramalkan nama Masih (ramalannya adalah Yesus ) dan memperkirakan waktu kedatangannya . Ini adalah ramalan yang luar biasa khusus, direkam dan ditulis ratusan tahun sebelum kedatangan Yesus (Isa al Masih – AS) dan mereka dengan benar meramalkannya. Ramalan-ramalan ini ditulis, dan masih ada di sana (!), dalam kitab suci bangsa Yahudi – bukan dalam Injil atau Al-Qur’an. Pertanyaannya kemudian muncul mengapa orang-orang Yahudi tidak dan (kebanyakan) masih tidak menerima Yesus sebagai Kristus ( Masih ) meskipun ini ditulis dalam buku mereka. 

Sebelum kita melihat persoalan ini, saya harus mengklarifikasi bahwa mengajukan pertanyaan dengan cara yang saya baru saja lakukan tidaklah cukup akurat. Banyak orang Yahudi di masa Yesus hidup (Isa – AS) menerima dia sebagai Masih. Dan hari ini ada juga banyak yang menerimanya sebagai Masih. Tetapi faktanya tetap, sebagai suatu bangsa, mereka tidak menerimanya. Jadi kenapa?

Mengapa orang-orang Yahudi tidak menerima Isa (AS) sebagai Masih ?

Injil Matius mencatat pertemuan antara Isa AS dan guru-guru agama Yahudi (disebut orang Farisi dan Saduki – mereka memiliki peran yang sama seperti yang dimiliki para imam saat ini). Mereka telah memancing pertanyaan jebakan kepadanya dan inilah jawaban Yesus:

 Yesus menjawab mereka: “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!

Matius22: 29

Pertukaran pemikiran ini memberi kita petunjuk penting. Meskipun meraka adalah para pemimpin yang mengajarkan Taurat dan Zabur kepada orang-orang, Yesus menuduh mereka tidak memahami tulisan-tulisan di kitab suci dan tidak mengetahui kuasa Allah . Apa yang dia maksudkan dengan ini? Bagaimana mungkin para ahli tidak ‘memahami tulisan-tulisan di kitab suci’?

Orang-orang Yahudi tidak tahu SEMUA tulisan di   kitab suci

Ketika Anda mempelajari apa yang para pemimpin bicarakan dan rujuk dalam Taurat dan Zabur, Anda akan lihat bahwa mereka sangat menyadari ramalan tertentu saja – dan bukan yang lainnya. Jadi kita lihat, misalnya, dalam Tanda Putra Perawan, bahwa para ahli tahu ramalan bahwa Masih akan datang dari Betlehem. Berikut adalah ayat yang dikutip oleh para ahli Hukum kepada Raja Herodes pada saat kelahiran Isa untuk menunjukkan di mana Masih akan dilahirkan: 

 Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.

Mikha5: 2

Anda akan lihat bahwa mereka mengetahui ayat yang merujuk pada Kristus (= Masih – lihat di sini atau mengapa ada kesamaam istilah-istilah) yang mana ayat ini merujuk kepadanya sebagai ‘penguasa’ . Bagian lain yang terkenal bagi para ahli Yahudi adalah Mazmur 2, diilhami oleh Dawud(AS)yang pertama kali memperkenalkan gelar ‘ Kristus’ dan yang mengatakan bahwa ‘Kristus’ akan ‘dinobatkan sebagai Raja di Sion’ (= Yerusalem atau Al Quds) seperti yang kita lihat dalam ayat ini. 

Raja-raja di bumi mengambil pendirian mereka … melawan TUHAN dan melawan Masih- Nya … Yang bertakhta di surga tertawa; Tuhan mengejek mereka … mengatakan, “Aku telah menobatkan Rajaku di Sion, bukit suci-Ku …

Mazmur 2 Zabur 

Para guru Yahudi juga sangat menyadari bagian-bagian berikut dari Zabur

O Tuhan, … Demi Dawud hamba-Mu, tidak menolak  Masih Mu . Tuhan bersumpah pada Dawud , sebuah sumpah pasti bahwa dia tidak akan mencabut: “Salah satu keturunanmu sendiri aku akan tempatkan di atas takhta kamu -…“ Di sini aku akan membuat tanduk tumbuh untuk Dawud dan mendirikan lampu untuk Masih-Ku .

Mazmur 132: 10-18 dari Zabur

Orang-orang Yahudi tidak tahu kekuasaan Allah dengan membatasinya dengan logika mereka

Jadi mereka tahu bagian-bagian tertentu, yang semuanya menuju ke satu arah –yang mana Masih akan memerintah dengan kekuasaan. Mengingat bahwa pada masa Isa (AS) orang-orang Yahudi hidup di bawah pendudukan Romawi di tanah Israel (lihat di sini untuk sejarah orang-orang Yahudi) ini adalah satu – satunya jenis Masih yang mereka inginkan. Mereka menginginkan Masih yang akan datang dengan kekuatan dan mengusir orang-orang Romawi yang dibenci dan mendirikan Kerajaan yang kuat yang telah didirikan oleh Raja Dawud 1000 tahun sebelumnya (lihat di sini untuk latar belakang Raja Dawud ). Dambaan untuk memiliki Masih yang terbentuk dari keinginan mereka sendiri dan bukan dari rencana Allah membuat mereka tidak mempelajari semua tulisan-tulisan dikitab suci mereka.  

Kemudian mereka menggunakan logika akal mereka untuk membatasi kuasa Tuhan dalam pemikiran mereka. Ramalan telah mengatakan bahwa Masih akan memerintah di Yerusalem. Yesus tidak memerintah dengan kekuasaan di Yerusalem. Jadi dia tidak mungkin menjadi Masih ! Itu logika sederhana. Mereka membatasi kekuasaan Allah dengan membatasi Dia pada logika sederhana dan manusiawi dari mereka.

Orang Yahudi sampai hari ini sebagian besar tidak tahu ramalan yang ada di Zabur. Meskipun ada dalam buku mereka, yang disebut Tanakh (= Taurat + Zabur ) tetapi jika mereka membacanya mereka hanya membaca Taurat . Mereka mengabaikan perintah Tuhan untuk memahami SEMUA tulisan di kitab suci dan karena itu mengabaikan ramalan lainnya, dan dengan membatasi Allah dengan logika manusia mereka, mereka beralasan bahwa karena Masih yang akan memerintah, dan Isa tidak memerintah, ia tidak mungkin menjadi Masih . Titik! Tidak perlu menyelidiki lebih jauh! Sampai hari ini kebanyakan orang Yahudi tidak melihat lebih jauh dalam masalah ini.

Al Masih : datang …. untuk ‘tersingkirkan’

Tetapi jika mereka memeriksa tulisan-tulisan di kitab suci, mereka akan belajar sesuatu yang sekarang akan kita pelajari. Dalam artikel terakhir kita lihat bahwa nabi Daniel (AS) dengan benar meramalkan waktu kedatangan Masih . Tetapi sekarang perhatikan apa lagi yang dia katakan tentang Mesias ini ( = Yang Diurapi = Masih = Kristus )

Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan.
Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah rakyat seorang raja memusnahkan kota dan tempat kudus itu, tetapi raja itu akan menemui ajalnya dalam air bah; dan sampai pada akhir zaman akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan.

Daniel 9: 25-26

Perhatikan apa yang dikatakan Daniel akan terjadi pada Masih ketika dia tiba. Apakah Daniel meramalkan bahwa Masih akan memerintah? Bahwa ia akan menduduki takhta leluhurnya, Dawud dan menghancurkan kekuatan pendudukan Romawi? Tidak! Bahkan dikatakan, cukup jelas, bahwa Masih akan ‘ tersingkirkan dan tidak memiliki apa-apa ‘. Kemudian dikatakan bahwa orang asing akan menghancurkan tempat suci (Kuil Yahudi) dan kota (Yerusalem) dan itu akan menjadikannya sunyi sepi. Jika Anda melihat sejarah orang Israel, Anda akan melihat bahwa ini memang terjadi. Empat puluh tahun setelah wafatnya Yesus, orang-orang Romawi datang dan membakar Rumah Allah, menghancurkan Yerusalem dan mengirim orang-orang Yahudi ke pengasingan di seluruh dunia sehingga mereka terusir dari tanah itu. Peristiwa itu terjadi pada 70 M persis seperti diramalkan oleh Daniel sekitar 537 SM, dan diramalkan sebelumnya oleh Nabi Musa (AS) dalam Kutukan .   

Jadi Daniel meramalkan Masih itu tidak akan memerintah! Sebaliknya dia akan ‘tersingkirkan dan tidak memiliki apa-apa’. Para pemimpin Yahudi melewatkan ini karena mereka tidak ‘tahu tulisan-tulisan di kitab suci’. Tapi ini menimbulkan masalah lain. Apakah tidak ada kontradiksi antara ramalan Daniel (‘tersingkirkan’) dan orang-orang yang akrab dengan orang Yahudi ( Masih akan memerintah). Lagipula, jika semua nabi memiliki pesan dari Allah, mereka semua harus menjadi kenyataan sebagaimana ditentukan oleh Musa (AS) dalam Taurat . Bagaimana mungkin Masih tersingkirkan DAN bahwa ia akan memerintah?;Tampaknya logika manusia mereka telah mengakali ‘kekuatan Tuhan’. 

Kontradiksi antara ‘Memerintah’ dan ‘Tersingkirkan’ dijelaskan

Tetapi tentu saja logika mereka dibawah kuasa Tuhan. Mereka hanya, seperti kita manusia, tidak mengenali asumsi yang mereka buat. Mereka berasumsi bahwa Masih akan datang hanya sekali. Jika itu yang terjadi maka memang akan ada kontradiksi antara pemerintahan Masih dan dia yang ‘tersingkirkan’. Jadi mereka membatasi kekuatan Tuhan dalam pikiran mereka karena logika mereka, tetapi pada akhirnya logika mereka yang salah.      Al Masih akan datang dua kali. Dalam kedatangan pertama dia akan memenuhi ramalan ‘ tersingkirkan dan tidak memiliki apa-apa ‘ dan hanya pada kedatangan kedua dia akan memenuhi ramalan ‘ memerintah ‘. Dari perspektif itu, ‘kontradiksi’ dengan mudah diselesaikan.

Apakah kita juga melalaikan SEMUA tulisan suci dan membatasi kuasa Allah?

Tetapi apakah artinya bahwa Masih akan ‘tersingkirkan dan tidak memiliki apa-apa’ ? Kita akan lihat pertanyaan ini dengan segera. Tetapi untuk sekarang mungkin akan lebih berguna untuk merenungkan bagaimana orang-orang Yahudi melalaikan tanda-tanda itu. Kita telah lihat dua alasan mengapa orang-orang Yahudi tidak melihat tanda-tanda Masih . Ada juga alasan ketiga, yang tercatat bagi kita dalam Injil Yohanes dalam pertukaran pemikiran lain antara Yesus (Isa – AS) dan para pemimpin agama di mana dia berkata kepada mereka.  

Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku,
namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.
Aku tidak memerlukan hormat dari manusia.Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih akan Allah. Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia.Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?

Yohanes 5: 39-4 0 , 44

Dengan kata lain, alasan ketiga mengapa orang-orang Yahudi melalaikan tanda-tanda Masih adalah karena mereka hanya ‘menolak’ untuk menerimanya karena mereka lebih tertarik untuk mendapatkan persetujuan satu sama lain daripada persetujuan dari Tuhan!

Orang-orang Yahudi tidak lebih sesat dan keras kepala daripada orang lain. Memang mudah bagi kita untuk menghakimi mereka karena melewatkan tanda-tanda bahwa Yesus adalah Masih . Tetapi sebelum kita menghakimi mereka mungkin kita harus melihat diri kita sendiri. Bisakah kita dengan jujur ​​mengatakan bahwa kita tahu ‘semua tulisan di kitab suci’? Bukankah kita, seperti orang-orang Yahudi, hanya melihat pada tulisan suci yang kita sukai, kita nyaman denganya, dan kita mengerti? Dan apakah kita tidak sering menggunakan logika manusiawi kita untuk membatasi kuasa Allah dalam pikiran kita? Atau apakah kita kadang-kadang menolak untuk menerima tulisan suci karena kita khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan lebih dari apa yang dikatakan Tuhan?  

Cara orang-orang Yahudi melewatkan tanda-tanda itu harus menjadi peringatan bagi kita. Kita tega membatasi diri hanya pada tulisan suci yang kita kenal dan kebetulan kita sukai. Kita tega membatasi kekuatan Tuhan dengan logika manusia kita. Dan kita tega menolak untuk menerima apa yang diajarkan tulisan suci. Dilengkapi dengan peringatan-peringatan tentang bagaimana orang-orang Yahudi melewatkan tanda-tanda kedatangan Masih, sekarang kita beralih untuk memahami kedatangan orang kunci – Sang Hamba.

Tanda Tunas: Penamaan Masih Yang Akan Datang

Surah Al-Ahzab (Surah 33‒Golongan Yang Bersekutu) memberikan solusi untuk situasi umum manusia‒bagaimana kita memanggil seseorang ketika kita tidak tahu nama mereka.

 Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Surah Al-Ahzab 33: 5

Hal ini mengingatkan kita bahwa pengetahuan manusia terbatas‒bahkan kita sering tidak tahu nama-nama orang di sekitar kita. Surah An-Najm (Surah 53‒Bintang) yang membahas beberapa berhala umum pada zaman Nabi Muhammad SAW (Lat, ‘Uzza, dan Manat) menyatakan:

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka.

Surah An-Najm 53: 23

Dewa-dewa palsu dinamai oleh orang-orang biasa. Ayat-ayat ini memberikan pedoman untuk memisahkan ibadah palsu dari ibadah yang benar. Mengingat, terkadang kita tidak mengetahui  nama-nama orang di sekitar kita, manusia tentu saja tidak dapat mengetahui nama seorang nabi yang datang jauh di masa depan. Jika nama Masih diberikan jauh sebelumnya maka hal ini akan menjadi pertanda bahwa inilah rencana sejati Allah dan bukan datang dari sesuatu yang salah. Di sini, kita melihat bagaimana nama Isa Almasih dinubuatkan.

Tanda dalam Sebuah Nama

Telah kita lihat bahwa Allah sudah menjanjikan Kerajaan yang Akan Datang. Kerajaan ini akan berbeda dari kerajaan-kerajaan manusia. Lihatlah berita hari ini dan perhatikan apa yang terjadi dalam kerajaan manusia. Pertempuran, korupsi, kekejaman, pembunuhan, yang kuat mengeksploitasi yang lemah‒hal-hal ini terjadi dalam semua kerajaan manusia baik mereka Muslim, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu maupun Sekularisme Barat. Permasalahan yang terdapat dalam semua kerajaan ini adalah bahwa kita yang hidup di dalamnya memiliki rasa haus yang tak berkesudahan‒sebagaimana kita lihat dengan Nabi Yeremia (AS)‒yang menuntun kita pada dosa dan segala permasalahan ini dalam segala bentuknya (yaitu korupsi, pembunuhan, pelecehan seksual, dll.) adalah hasil dari dosa. Jadi kendala utama yang menghambat kedatangan Kerajaan Allah adalah kita. Jika Allah mendirikan Kerajaan baru-Nya sekarang, tidak seorang pun dari kita yang dapat memasukinya karena dosa kita akan menghancurkan Kerajaan itu sama halnya menghancurkan kerajaan-kerajaan yang ada sekarang. Yeremia (AS) juga menubuatkan hari di mana Allah akan menegakkan suatu Perjanjian Baru. Perjanjian ini akan menjadi baru karena akan ditulis dalam hati kita dan bukan pada loh batu seperti Hukum Musa. Hal itu akan mengubah diri kita dari dalam ke luar untuk menjadikan kita layak sebagai warga Kerajaan ini.

Bagaimana hal ini akan terlaksana? Rencana Allah seperti harta terpendam. Namun, petunjuk telah disampaikan melalui pesan-pesan Zabur sehingga mereka yang mencari Kerajaan-Nya akan mengerti‒sementara yang lain, yang tidak tertarik, akan tetap tidak tahu. Kita melihat pesan-pesan tersebut sekarang. Rencana tersebut berpusat pada Masih yang akan datang (seperti yang kita lihat di sini = Mesias = Kristus). Kita telah melihat dalam Mazmur Zabur (diilhami oleh Raja Dawud) bahwa Masih yang dinubuatkan ini harus berasal dari garis Raja Dawud (lihat tinjauan di sini).

Nabi Yesaya tentang Pohon, Tunggul… dan Tunas

Nabi Yesaya (AS) mengungkapkan bagaimana rencana Allah ini akan terjadi. Kitab Yesaya dalam Zabur ditulis selama periode dinasti Kerajaan Dawud (sekitar 1000-600 SM). Ketika ditulis (750 SM), dinasti tersebut dan seluruh kerajaan Israil menyimpang‒disebabkan kehausan hati mereka.

When Isaiah lived

Historical Timeline of Prophet Isaiah (PBUH) with some other prophets in Zabur

Dinasti Dawud – seperti Pohon

Yesaya (SAW) diilhami untuk menulis permohonan agar orang Israel kembali kepada Allah dan kepada praktik dan semangat Hukum Musa. Yesaya juga tahu bahwa pertobatan dan kembalinya ini tidak akan terjadi sehingga ia meramalkan bahwa bangsa Israel akan dihancurkan dan dinasti kerajaan akan hancur berkeping-keping. Kami melihat di sini bagaimana ini terjadi. Dalam ramalannya ia menggunakan metafora atau gambar dinasti yang seperti pohon besar yang akan segera ditebang dan hanya tunggul yang tersisa. Ini terjadi sekitar 600 SM ketika Babel menghancurkan Yerusalem dan sejak saat itu tidak ada keturunan Raja

David / Dawud pernah memerintah di Yerusalem.

Tetapi bersama dengan semua nubuat tentang kehancuran yang akan datang dalam bukunya ini, muncul pesan khusus ini:

“Tembakan akan muncul dari tunggul Isai; dari akarnya Cabang akan menghasilkan buah. Roh Tuhan akan bersemayam padanya – Roh kebijaksanaan dan pengertian, Roh nasihat dan kuasa, Roh pengetahuan.

Yesaya 11: 1-2

Dinasti Dawud (SAW) – sekarang menembak muncul dari tunggul mati

Jesse adalah ayah dari Raja David / Dawud, dan dengan demikian akar dari Dinasti. Karenanya, ‘tunggul Isai’ adalah ramalan kehancuran yang akan datang atas dinasti raja-raja dari David / Dawud. Tetapi Yesaya, sebagai seorang nabi, juga melihat melewati masa ini dan meramalkan bahwa meskipun tunggul (garis raja) akan terlihat mati, itu tidak akan sepenuhnya benar. Suatu hari di masa depan, sebuah pemotretan, yang dikenal sebagai Cabang, akan muncul dari tunggul yang sama yang dia nyatakan. Cabang ini disebut ‘dia’ sehingga Yesaya bernubuat tentang seorang pria yang akan datang dari garis keturunan Daud. Orang ini akan memiliki kualitas kebijaksanaan, kekuatan, dan pengetahuan seperti itu hanya dapat berasal dari Roh Allah yang bersandar padanya. Sekarang ingat bagaimana kita melihat bahwa Masih juga dinubuatkan datang dari garis keturunan Daud – ini yang paling penting. Cabang dan Masih keduanya dari David / Dawud? Mungkinkah ini dua gelar untuk orang yang akan datang yang sama? Mari kita terus menjelajah melalui Zabur.

Nabi Yeremia … tentang Ranting

Nabi Yeremia (SAW), datang 150 tahun setelah Yesaya, ketika dinasti Daud benar-benar ditebang di depan matanya sendiri menulis:

The Prophet Jeremiah shown in Timeline with other Prophets of Zabur

“Hari-hari akan datang,” demikianlah firman TUHAN, “pada waktu Aku akan membangkitkan bagi Daud Cabang yang adil, seorang Raja yang akan memerintah dengan bijak dan melakukan apa yang adil dan benar di negeri itu. Pada zamannya Yehuda akan diselamatkan dan Israel akan hidup dengan aman. Inilah nama yang dengannya dia disebut: TUHAN, Kebenaran kita ”.

Yeremia 23: 5-6

Yeremia (PBUH) langsung berlanjut dari nubuat Cabang yang dimulai oleh nabi Yesaya (PBUH) 150 tahun sebelumnya. Cabang akan menjadi Raja. Kami melihat bahwa Masih juga harus menjadi raja. Kesamaan antara Masih dan Cabang tumbuh.

Nabi Zakharia … memberi nama Cabang

Nabi Zakharia (AS) lanjut dengan pesan untuk kita. Dia hidup 520 SM, tepat setelah orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem dari pembuangan pertama mereka ke Babilonia, tetapi ketika mereka berada di bawah kekuasaan Persia

The dynasty of Dawud - like a Tree

Yesaya (AS) menerima ilham untuk menuliskan permohonan agar orang Israil kembali kepada Allah dan pada praktik serta spirit Hukum Musa. Yesaya juga tahu bahwa mereka tidak akan bertobat dan kembali, sehingga ia meramalkan bahwa bani Israil akan dihancurkan dan dinasti kerajaannya akan hancur berkeping-keping. Kita telah melihat di sini bagaimana hal itu terjadi. Dalam nubuatnya, ia menggambarkan dinastinya seperti sebuah pohon besar yang akan segera ditebang sehingga hanya tersisa tunggulnya. Hal ini terjadi sekitar 600 SM ketika bangsa Babilonia menghancurkan Yerusalem, dan sejak saat itu tidak ada keturunan Raja Daud/Dawud yang pernah memerintah di Yerusalem.

http://al-injil.net/wp-content/uploads/2013/02/david-stump-300x167.jpg

Nabi Zakharia … mengungkapkan nama Sang Tunas

Nabi Zakharia (AS) lanjut dengan pesan untuk kita. Dia hidup 520 SM, tepat setelah orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem dari pembuangan pertama mereka ke Babilonia, tetapi ketika mereka berada di bawah kekuasaan Persia.

http://al-injil.net/wp-content/uploads/2013/02/zechariah-in-timeline.jpg

The Prophet Zechariah in Timeline with other prophets of Zabur

(Jangan bingung antara nabi Zakharia yang dimaksud di sini dan imam Zakharia yang adalah ayah Yahya/Yohanes Pembaptis. Nabi Zakharia hidup 500 tahun sebelum imam Zakharia, bahkan nama imam Zakharia diambil dari nama nabi Zakharia, sama seperti pada hari-hari ini, ada banyak orang bernama Muhammad dan nama mereka diambil dari Nabi Muhammad SAW). Pada waktu itu (520 SM) orang-orang Yahudi bekerja untuk membangun kembali bait suci mereka yang hancur dan mulai lagi mempersembahkan Kurban Harun (AS). Keturunan Harun yang adalah Imam Besar (dan hanya keturunan Harun yang bisa menjadi Imam Besar) pada zaman nabi Zakharia dipanggil Joshua (atau Yosua dalam Alkitab Terjemahan Baru, atau Yusak dalam Kitab Suci). Jadi pada waktu itu (sekitar 520 SM) Zakharia adalah nabi dan Joshua adalah Imam Besar. Inilah yang Allah nyatakan‒melalui nabi Zakharia‒tentang Imam Besar Joshua (atau Yosua dalam Alkitab Terjemahan Baru, atau Yusakdalam Kitab Suci):

“’Dengarlah, hai Imam Besar Yusak, baik engkau maupun kawan-kawanmu yang duduk di hadapanmu-karena merekalah orang-orang yang menjadi lambang dari masa depan yang baik-sesungguhnya, Aku akan mendatangkan hamba-Ku, Sang Tunas. Lihatlah permata yang telah Kuletakkan di hadapan Yusak itu!’ …, demikianlah firman ALLAH, Tuhan semesta alam, ‘dan Aku akan menghapuskan kesalahan negeri ini dalam satu hari saja.’”

Zakharia 3: 8-9

Lagi-lagi Tunas! Namun kali ini dia juga disebut ‘hamba-Ku’. Dan dalam beberapa hal, Imam Besar Joshua adalah simbol dari Tunas yang akan datang ini. Dengan demikian Imam Besar Joshua adalah suatu Tanda. Tetapi dalam hal apa? Dan apa yang dimaksud dengan dalam ‘satu hari’ kesalahan akan dihapuskan oleh TUHAN (“Aku akan menghapus …”)? Kita lanjut dengan nabi Zakharia dan akan belajar sesuatu yang menakjubkan.

‘Turunlah firman ALLAH kepadaku demikian: “… [tentang] Imam Besar Joshua. Katakan kepadanya: Beginilah Firman Allah, Tuhan semesta alam, ‘Inilah orang yang bernama Tunas….’

Zakharia 6: 9-10

Perhatikan bahwa Joshua, sesungguhnya, adalah nama Tunas. Ingat apa yang sudah kita pelajari tentang transliterasi dan alih bahasa dari bahasa Ibrani ke bahasa Inggris. Di sini, kita membaca ‘Joshua’ karena kita membaca terjemahan bahasa Inggris. Tetapi siapa nama aslinya dalam bahasa Ibrani? Gambar di bawah ini memberitahu kita.

http://al-injil.net/wp-content/uploads/2013/02/translation-of-Joshua.jpg

Joshua = Jesus because both are transliterations from same Hebrew name

Dari Kuadran 1 -> 3 (seperti yang kita lakukan dalam memahami dari mana asal gelar ‘Mesias’ atau ‘Masih’) kita melihat bahwa nama ‘Joshua’ (‘Yosua’ dalam Alkitab Terjemahan Baru, ‘Yusak’dalam Kitab Suci) ditransliterasikan dari nama Ibrani ‘Yhowshuwa’. Nama ini ditransliterasikan ke ‘Joshua’ ketika Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Ingat pula bahwa Taurat/Zabur diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sekitar 250 SM. Ini adalah Kuadran 1 -> 2. Para penerjemah ini juga mentransliterasikan nama Ibrani ‘Yhowshuwa’ pada waktu mereka menerjemahkan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani. Transliterasi Yunani mereka adalah Iesous. Dengan demikian ‘Yhowshuwa’ dari Perjanjian Lama bahasa Ibrani disebut Iesous dalam Perjanjian Lama bahasa Yunani. Ketika Perjanjian Baru bahasa Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris nama Iesous ditransliterasikan menjadi ‘Jesus’. Dengan kata lain,  Masih = Mesias = Kristus = Yang Diurapi,

‘Yhowshuwa’ = Iesous = Joshua = Jesus (= Isa)

Seperti halnya nama Muhammad = محمد, Yosua (atau Yusakdalam Kitab Suci) = Yesus (atau Isa). Apa yang luar biasa, yang patut diketahui oleh semua orang? Yaitu bahwa 500 tahun sebelum Isa Almasih‒Nabi Injil‒hidup, hal ini telah dinubuatkan oleh nabi Zakharia bahwa nama Sang Tunas adalah Yesus (atau Isa‒transliterasi dari bahasa Arab). Yesus (atau Isa) adalah Sang Tunas! Sang Tunas dan Masih (atau Kristus) adalah dua gelar untuk orang yang sama! Tetapi mengapa dia membutuhkan dua gelar yang berbeda? Hal teramat penting apa yang akan dilakukannya? Para nabi Zabur kemudian menjelaskan lebih jauh dan lebih rinci‒dalam artikel berikutnya.

Tanda Putra Perawan

Dalam Pengantar Zabur , saya sebutkan bahwa Nabi dan Raja Daud (AS) memulai Zabur dengan tulisan-tulisan inspiratif dari kitab Mazmur , dan yang mana buku-buku lain kemudian ditambahkan oleh para nabi sesudahnya. Seorang nabi yang sangat penting, yang dianggap sebagai salah satu nabi utama (karena bukunya begitu panjang) adalah Yesaya . Dia hidup sekitar 750 SM. Garis waktu di bawah ini menunjukkan kapan Yesaya hidup dibandingkan dengan nabi-nabi Zabur yang lainnya.

Garis Waktu Sejarah Nabi Yesaya (AS) dengan beberapa nabi lainnya di Zabur

Meskipun Yesaya hidup dahulu kala (sekitar 2800 tahun yang lalu), dia membuat banyak nubuwat (ramalan) yang meramalkan peristiwa masa depan, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi Musa AS sebelumnya. Nubuatnya meramalkan mukjizat yang begitu mencengangkan sehingga Surah At-Tahrim (Surah 66 – Mengharamkan) ayat 12 meringkasnya:

Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.

( Surah At-Tahrim 66:12)

Apa yang digambarkan surah at-Tahrim? Kita kembali ke Yesaya untuk menjelaskan nubuat itu.

Seperti dijelaskan dalam Pengantar Zabur, raja-raja setelah Sulaiman (AS) kebanyakan lalim, dan ini berlaku untuk para Raja pada zaman Yesaya. Jadi bukunya penuh dengan peringatan tentang penghakiman yang akan datang (yang terjadi sekitar 150 tahun kemudian ketika Yerusalem dihancurkan oleh Babilonia – lihat di sini untuk sejarahnya). Namun, ia juga bernubuat jauh melebihi itu dan melihat jauh ke masa depannya ketika Allah akan mengirim tanda khusus – yang belum pernah dikirim ke umat manusia. Yesaya berbicara kepada Raja Israel, yang merupakan keturunan Daud (AS), itulah sebabnya mengapa Tanda ini ditujukan kepada ‘Rumah Daud’

Lalu Nabi Yesaya berkata, “Kalau begitu, dengarlah hai keturunan Raja Daud! Tidak cukupkah kamu menguji kesabaran manusia, sehingga kamu menguji kesabaran Allahku juga? Sekarang, TUHAN sendiri akan memberi tanda kepadamu: Seorang gadis yang mengandung akan melahirkan seorang putra yang dinamakannya Imanuel. Pada waktu ia cukup besar untuk dapat mengambil keputusan sendiri, negeri itu akan makmur. (Yesaya 7:13-15)

Ini tentu prediksi yang berani! Siapa yang pernah mendengar seorang wanita perawan memiliki seorang putra? Tampaknya ini prediksi yang luar biasa sehingga selama bertahun- tahun orang bertanya-tanya apakah ada kekeliruan. Tentu saja, seorang pria yang hanya menerka-nerka tentang masa depan tidak akan menyatakan – dan menulis untuk dibaca oleh semua orang di generasi selanjutnya – prediksi yang tampaknya mustahil. Tapi itu dia. Dan dari Gulungan Laut Mati yang ada saat ini kita tahu bahwa nubuat ini sebenarnya telah ditulis sejak lama – ratusan tahun sebelum Isa AS lahir.

Isa al Masih (AS) dinubuatkan untuk dilahirkan dari seorang perawan

Kita hari ini, yang hidup setelah Isa al Masih (AS), dapat melihat bahwa itu adalah ramalan kedatangannya. Tidak ada nabi lain, termasuk Ibrahim (AS), Musa (AS) dan Muhammad (SAW) yang lahir dari seorang perawan. Hanya Isa AS, diantara semua manusia yang pernah lahir, yang datang ke dunia dengan cara ini. Jadi Allah, ratusan tahun sebelum kelahirannya, memberi kita tanda kedatangannya dan juga mempersiapkan kita untuk mempelajari hal-hal tentang putra dari seorang perawan yang akan datang ini. Kita catat dua hal secara khusus.

Dipanggil ‘Immanuel’ oleh ibunya

Pertama, putra seorang perawan yang akan datang ini akan dipanggil ‘Imanuel’ oleh ibunya. Nama ini secara harfiah berarti ‘Tuhan bersama kita ‘. Tapi apa artinya itu ? Ini mungkin memiliki beberapa makna, tetapi karena ramalan ini disebutkan kepada raja-raja lalim yang akan segera dihukum oleh Allah, satu makna penting yaitu ketika anak ini akan lahir itu adalah tanda bahwa Tuhan tidak lagi menentang mereka dalam penghakiman tetapi ‘bersama mereka’. Ketika Isa AS lahir, kelihatan sepertinya orang Israel telah ditinggalkan oleh Allah sejak musuh mereka memerintah mereka. Kelahiran putra perawan adalah tanda bahwa Tuhan menyertai mereka, bukan melawan mereka. Injil Lukas mencatat bahwa ibunya Siti Maryam menyanyikan lagu sakral ketika malaikat memberi pesan dari anaknya yang akan lahir itu. Lagu ini berisi:

…”Hatiku memuji Tuhan, dan jiwaku bersukaria karena Allah Penyelamatku. Ia ingat daku, hamba-Nya yang hina! Keturunan demi keturunan Tuhan menaruh belas kasihan kepada orang yang takut kepada-Nya. Ia menolong Israel hamba-Nya …Tuhan tidak lupa janji-Nya, Ia bermurah hati kepada Abraham dan keturunannya sampai selamanya.” (Lukas 1:46-55)

Anda dapat lihat bahwa Siti Maryam, ketika ia diberitahu bahwa ia akan memiliki seorang putra meskipun ia masih perawan, memahami hal ini berarti bahwa Tuhan sedang mengingatkan rahmat-Nya untuk Ibrahim dan keturunannya selamanya. Penghakiman tidak berarti Allah tidak akan pernah bersama orang Israel lagi.

Anak dara ‘menolak yang salah dan memilih yang benar’

Bagian yang menakjubkan dari nubuat ini dalam Yesaya yaitu anak ini ‘akan memakan susu mentega dan madu ketika dia cukup dewasa untuk menolak yang salah dan memilih yang benar’. Apa yang dikatakan Yesaya adalah bahwa putra ini , begitu dia cukup dewasa untuk membuat keputusan secara sadar, akan ‘menolak yang salah dan memilih yang benar’. Saya punya anak laki-laki. Saya mencintainya, tetapi tentu saja tidak mungkin ia sendiri menolak yang salah dan memilih yang benar. Saya dan istri saya harus bekerja, mengajar, mengingatkan, menasihati, memberi contoh, disiplin, menyediakan teman yang tepat, memastikan dia melihat panutan yang tepat, dll. Untuk mengajarinya menolak yang salah dan memilih yang benar – dan bahkan dengan semua usaha kami lakukan tidak ada jaminan. Sebagai orang tua ketika saya mencoba melakukan ini, itu membawa kembali kenangan masa kecil saya ketika orang tua saya berada dalam perjuangan yang sama dalam mengajar saya untuk ‘menolak yang salah dan memilih yang benar’. Jika orang tua tidak menghabiskan semua upaya dan kerja itu, tetapi membiarkan saja secara alami – anak menjadi orang yang tidak ‘menolak yang salah dan memilih yang benar’. Seolah-olah kita sedang berjuang melawan ‘gravitasi moral’ di mana begitu kita menghentikan upaya itu maka akan menurun. 

Inilah sebabnya kita semua mengunci pintu rumah dan apartemen kita; mengapa setiap negara membutuhkan polisi; mengapa kita memiliki enkripsi dan kata sandi dalam perbankan; dan mengapa kita terus menerus perlu membuat undang-undang baru di semua negara – karena kita perlu melindungi diri kita sendiri terhadap satu sama lain karena kita tidak ‘menolak yang salah dan memilih yang benar’.

Para nabi bahkan tidak selalu menolak yang salah dan memilih yang benar

Dan ini berlaku bahkan bagi para nabi. Taurat mencatat dua kejadian Nabi Ibrahim (AS) berbohong tentang istrinya yaitu mengatakan bahwa dia hanya adiknya (dalam Kejadian 12: 10-13 & Kejadian 20: 1-2). Juga tercatat Nabi Musa (AS) membunuh seorang Mesir (Keluaran 02:12) dan pada satu kesempatan tidak persis mengikuti perintah Allah (Bilangan 20: 6-12). Nabi Muhammad (SAW) diperintahkan untuk memohon ampunan dalam Al Qur’an (Surah Muhammad 47:19) – menunjukkan bahwa ia juga tidak selalu menolak yang salah dan memilih yang benar.

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. ( Surat 47:19 – Muhammad)

Hadits berikut dari Muslim menunjukkan betapa ia sungguh-sungguh berdoa untuk memohon ampunan.

Abu Musa Ash’ari melaporkan atas otoritas ayahnya bahwa Rasul Allah (SAW) berdoa dengan kata-kata ini: “Ya Allah, ampunilah aku kesalahan saya, ketidaktahuan saya, ketidaksopanan saya dalam keprihatinan saya. Dan Engkau lebih sadar (tentang urusan saya) daripada diri saya sendiri. Ya Allah, ampunilah saya (atas kesalahan yang saya lakukan) dengan serius atau sebaliknya (dan yang saya lakukan secara tidak sengaja dan sengaja. Semua ini (kegagalan) ada dalam diri saya. Ya Allah, ampunilah saya dari kesalahan yang saya lakukan dengan tergesa-gesa atau tertunda, yang saya lakukan diam-diam atau di depan umum dan Engkau lebih sadar akan itu semua daripada diri saya sendiri. Engkau adalah yang Pertama dan Terakhir dan atas semua hal Engkau Mahakuasa. ” (Muslim 35:6563)

Ini sangat mirip dengan doa Nabi Daud (AS) ketika dia berdoa memohon ampunan atas dosa-dosanya:

Kasihanilah aku, ya Tuhan, sesuai dengan kasihmu yang tak pernah gagal; menurut belas kasihmu yang besar menghapus pelanggaranku. Bersihkan semua kesalahan saya dan bersihkan saya dari dosa saya … Bersihkan saya dengan hisop, dan saya akan bersih; basuhlah aku, dan aku akan lebih putih dari pada salju …. Sembunyikanlah wajahmu dari dosa-dosaku dan hilangkan semua kesalahanku. (Mazmur 51:1-9)

Jadi kita melihat bahwa orang-orang ini – meskipun mereka adalah para nabi – berjuang melawan dosa dan perlu meminta pengampunan. Ini tampaknya merupakan kondisi manusia universal dari semua keturunan Adam.

Putra suci dari perawan

Tetapi putra ini dinubuatkan oleh Yesaya menolak yang salah dan memilih yang benar secara alami sejak usia dini. Itu adalah naluri alamiah untuknya. Agar itu mungkin, ia harus memiliki garis keturunan yang berbeda. Semua nabi lain, melalui ayah mereka, mulai dari Adam, dan dia tidak ‘menolak yang salah dan memilih yang benar’ seperti yang kita lihat . Sebagaimana secara genetika sifat ayah diwariskan kepada keturunannya, demikian pula sifat ketidakpatuhan Adam ini diturunkan kepada kita semua dan bahkan kepada para nabi. Tetapi anak yang lahir dari seorang perawan, menurut definisi, tidak akan memiliki Adam dalam garis keturunannya sebagai seorang ayah. Garis orangtua anak ini akan berbeda, jadi ia akan menjadi suci. Inilah mengapa Alquran, ketika menceritakan pesan malaikat kepada Siti Maryam tentang putranya yang masih perawan, menyebut putranya ‘suci ‘ 

Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku…” Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”. Maka Maryam mengandungnya… (Surat 19:19-22 Maryam)

Nabi Yesaya (AS) jelas, dan Kitab Suci setelahnya setuju – ada anak datang yang akan lahir dari seorang perawan, sehingga tidak memiliki ayah duniawi dan tidak akan memiliki sifat dosa alami ini, dan dengan demikian akan Kudus.

Kilas balik ke Adam di Surga

Tetapi bukan hanya kitab-kitab kemudian yang berbicara tentang putra perawan yang akan datang ini. Itu juga sudah ada sejak awal. Kita lihat dalam Tanda Adam bahwa Allah telah Memberikan Janji kepada Setan. Saya ulangi di sini

Engkau dan perempuan itu akan saling membenci, keturunannya dan keturunanmu akan selalu bermusuhan. Keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan menggigit tumit mereka.” (Genesis 3:15)

Allah akan mengatur bahwa Iblis / Setan dan wanita itu akan memiliki ‘keturunan’. Akan ada ‘permusuhan’ atau kebencian diantara keturunan ini dan diantara wanita itu dan Setan. Setan akan ‘memukul tumit’ anak perempuan itu sedangkan anak perempuan itu akan ‘menghancurkan kepala’ Setan. Hubungan ini terlihat dalam diagram ini.   

Karakter dan hubungan mereka dalam Janji Allah yang diberikan di surga

Harap dicatat bahwa Allah tidak pernah menjanjikan kepada pria itu keturunan seperti dia janjikan kepada wanita itu. Ini sangat luar biasa terutama mengingat penekanan pada anak laki-laki yang datang melalui ayah melalui Taurat , Zabur & Injil (Alkitab). Faktanya, satu kritik terhadap Buku-buku ini oleh orang Barat modern adalah mereka mengabaikan garis-garis darah yang melewati wanita. Itu ‘seksis’ di mata mereka karena hanya menganggap anak laki-laki. Tetapi dalam kasus ini berbeda – tidak ada janji keturunan (‘dia laki-laki) datang dari seorang pria. Dikatakan hanya bahwa akan ada keturunan yang berasal dari wanita itu, tanpa menyebutkan seorang pria .

‘Putra seorang perawan’ Yesaya adalah ‘anak perempuan’

Sekarang dari sudut pandang nubuat Yesaya yang jelas tentang seorang anak laki-laki dari seorang perawan, jelas bahwa apa yang telah lama dimaksudkan di Taman (surge) adalah bahwa keturunan (anak laki-laki) akan datang hanya dari seorang perempuan (dengan demikian seorang perawan). Saya mendorong Anda untuk kembali dan membaca diskusi ini dalam Tanda Adam dari perspektif ini dan Anda akan melihat bahwa itu ‘cocok’. Semua putra Adam sejak awal sejarah menderita masalah yang sama yaitu tidak ‘menolak yang salah dan memilih yang benar’ seperti yang dilakukan nenek moyang kita Adam. Jadi Allah, saat itu ketika dosa datang ke dunia, membuat janji bahwa seseorang yang suci dan bukan dari Adam akan datang dan ‘menghancurkan’ kepala Setan.

Tetapi bagaimana anak suci ini akan melakukan ini? Jika itu tentang memberikan pesan dari Allah, para nabi lain seperti Ibrahim (AS) dan Musa (AS) sudah setia memberikan pesan. Tidaklah demikain, peran putra kudus ini berbeda, tetapi untuk memahami ini kita perlu menggali lebih lanjut dalam Zabur.

Memperkenalkan Zabur

Keberadaan Dawood atau Dawud (atau Daud, AS) sangat penting di antara para nabi. Nabi Ibrahim (AS) memulai cara hidup yang baru (di mana Allah menjalin hubungan dengan manusia)  dengan janji bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar ‒ dan kemudian memberikan kurban yang agung. Nabi Musa (AS) membebaskan bani Israil dari perbudakan‒ melalui kurban Paskah ‒ dan kemudian memberi mereka Hukum Taurat sehingga mereka bisa menjadi sebuah bangsa. Akan tetapi ada yang kurang, yaitu seorang Raja yang akan memerintah sedemikian rupa sehingga mereka bisa menerima berkah, alih-alih kutuk dari Allah. Dawud (AS)-lah raja dan nabi itu. Dia memulai cara hidup baru yang berbeda‒yaitu: Raja-raja mulai memerintah dari Yerusalem.

Siapakah Raja Dawud (Daud-AS)?

Anda dapat melihat dari kerangka Sejarah bani Israil, bahwa Dawud (AS) hidup sekitar tahun 1000 SM, seribu tahun setelah Ibrahim (AS) dan 500 tahun setelah Musa (AS). Dawud (AS) mengawali karirnya sebagai gembala yang menggembalakan domba keluarganya. Raksasa dan musuh besar bani Israil‒Goliat‒memimpin pasukan untuk menaklukkan mereka. Bani Israil merasa kecil hati dan kalah sebelum bertanding. Namun, Dawud (AS) menantang Goliat dan membunuhnya dalam pertarungan. Pertarungan itu begitu luar biasa karena seorang penggembala domba yang masih muda bisa membunuh seorang tentara raksasa, Dawud (AS) pun menjadi terkenal. Sejak saat itu, bani Israil terus mengalahkan musuh-musuh mereka dalam pertempuran. Alquran mengisahkan pertarungan antara Dawud (AS) dan Goliat ini dalam ayat berikut

Berkat izin Allah, mereka berhasil mengalahkan musuh. Dan Dâwûd, salah seorang tentara Thâlût, berhasil membunuh Jâlût, pemimpin pasukan mereka. Allah telah memberikan Dâwûd kekuasaan, kenabian dan ilmu yang bermanfaat, serta mengajarkan apa saja kepadanya… Jika saja Allah tidak memenangkan tentara-Nya untuk mencegah perusakan, dan tidak mengalahkan orang-orang jahat dengan mengadu sesama mereka, niscaya bumi ini tidak akan terpelihara. Akan tetapi Allah selalu memberikan kebaikan dan karunia kepada hamba-hamba-Nya. (Surah 2:251)

Ketenaran Dawud sebagai kesatria menanjak setelah pertempuran ini. Namun demikian, dia baru menjadi Raja bertahun-tahun kemudian, sesudah berbagai pengalaman yang sulit yang dilewatinya. karena dia memiliki banyak musuh yang menentangnya, baik di luar maupun di antara bani Israil sendiri. Kitab 1 dan 2 Samuel dalam Alkitab menceritakan kembali pergumulan-pergumulan dan kemenangan-kemenangan Dawud (AS). Samuel (AS) adalah nabi yang mengurapi Dawud (AS) sebagai Raja.

Dawud juga tenar sebagai pemusik yang mengarang lagu-lagu dan puisi-puisi yang indah bagi Allah. Hal ini disebutkan dalam Alquran, dalam surah Sad (surah 38 – Shaad):

Bersabarlah… atas apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrik kepadamu. Ingatlah hamba Kami, Dâwûd, yang memiliki kekuatan agama… dia selalu kembali kepada Allah dalam setiap keadaan.

Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung agar manfaat yang terkandung di dalamnya dapat dieksploitasi oleh Dâwûd, dan agar gunung-gunung itu bertasbih bersama Dâwûd… Seluruh burung dan gunung itu tunduk pada kemauan Dâwûd. Kami pun menguatkan kerajaannya… ia Kami berikan kenabian dan kemampuan membedakan antara yang benar dan batil. (Surah Sad 38:17-20)

Ayat-ayat ini menegaskan keperkasaan Dawud (AS) sebagai kesatria, di samping “Pujian” yang seindah nyanyian burung-burung bagi Sang Pencipta mereka. Lagi pula sebagai Raja, Dawud (AS) “dianugerahi” hikmat oleh Allah sendiri dalam “perkataan-perkataannya”. Lagu-lagu dan puisi-puisinya, dicatat dan dibukukan menjadi jilid pertama Zabur‒yang dikenal sebagai Mazmur. Oleh karena hikmat perkataan yang dianugerahkan Allah kepadanya, catatan-catatan Dawud (AS) ini juga Suci dan diilhamkan oleh Allah sendiri, seperti halnya Taurat. Alquran menjelaskannya sebagai berikut

Tuhanmu lebih tahu tentang siapa dan bagaimana keadaan yang ada di langit dan di bumi.  Allah mengutamakan sebagian nabi dari yang lainnya… Sedangkan Dâwûd, keutamaannya adalah bahwa ia diberi Zabûr… (Surah 17:55)

Sulaiman-melanjutkan Zabur

Namun, tulisan-tulisan yang diilhamkan oleh Allah ini tidak berakhir saat Dawud (AS) meninggal sebagai Raja pada usia lanjut. Putra dan pewaris tahtanya, yaitu Sulaiman (atau Salomo, AS), juga diilhami Allah dengan hikmat. Surah Sad menggambarkannya sebagai berikut:

Kami mengaruniakan Sulaimân kepada Dâwûd. Sulaimân adalah orang yang patut dipuji dan dijuluki “hamba terbaik”. Sebab ia memang selalu kembali kepada Allah dalam segala permasalahan. (Surah 38:30)

Dan

Sampaikanlah… kisah Dâwûd dan Sulaymân. Suatu ketika, mereka berselisih dalam menyelesaikan masalah tanaman yang dimakan oleh sekawanan kambing orang lain di waktu malam. Kami Maha Mengetahui keputusan yang mereka berdua ambil dalam masalah itu.

Lalu Kami memahamkan kepada Sulaymân bagaimana seharusnya berfatwa. Dan keduanya Kami beri ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan tentang segala hal ihwal kehidupan. Kami menundukkan bersama Dâwûd gunung dan burung untuk menyucikan Allah dari segala sesuatu yang tidak pantas untuk-Nya. Semua itu Kami lakukan dengan kekuasaan Kami yang tidak terkalahkan. (Surah 21:78-79)

Kami telah mengajarkan kepada mereka ilmu yang luas menyangkut pengetahuan agama dan pengetahuan tentang hukum. Mereka berdua menegakkan keadilan, memuji Allah yang telah memberikan karunia kepada mereka sebagai kelebihan mereka atas hamba-hamba lain yang jujur dan tunduk pada kebenaran. (Surah 27:15)

Jadi, Sulaiman (AS) melanjutkan dengan menambahkan kitab-kitab hikmat yang diilhamkan oleh Allah ke dalam Zabur. Kitab-kitab tersebut adalah Pepatah, Pengajar, dan Syair Sulaiman.

Zabur berlanjut dengan nabi-nabi berikutnya

Namun, sepeninggal Sulaiman (AS), Raja-raja yang menggantikannya tidak menaati Taurat dan tidak seorang pun dari raja-raja ini yang diberi pesan yang diilhamkan Allah. Dari semua Raja Israil, hanya Dawud (AS) dan Sulaiman (AS) yang tulisan-tulisannya yang diilhamkan Allah ‒ mereka adalah nabi sekaligus raja. Namun kepada raja-raja setelah Sulaiman, Allah mengutus para nabi untuk menyampaikan peringatan-peringatan kepada mereka. Yunus, nabi yang ditelan ikan besar adalah salah satu nabi ini (Surah 37: 139-144). Hal ini berlanjut selama kira-kira 300 tahun ‒ dengan banyak nabi diutus. Peringatan, tulisan, dan nubuatan para nabi ini juga ditambahkan ke dalam Kitab Zabur yang diilhamkan Allah. Sebagaimana dijelaskan di sini, akhirnya bani Israil  ditaklukkan dan dibuang oleh bangsa Babilonia ke negaranya, lalu dikembalikan ke Yerusalem di bawah pemerintahan Sirus, pendiri Kekaisaran Persia. Sepanjang waktu itu, nabi-nabi terus diutus menyampaikan pesan‒dan pesan-pesan ini ditulis dalam bagian terakhir Kitab Zabur.

Zabur – menantikan datangnya Masih

Nabi-nabi ini penting bagi kita karena di tengah peringatan-peringatan yang mereka sampaikan, mereka juga meletakkan dasar untuk Injil. Sebenarnya, gelar ‘Masih’ diperkenalkan oleh Dawud (AS) pada bagian awal Mazmur (bagian Zabur, yang ditulis olehnya) dan nabi-nabi berikutnya menubuatkan dengan lebih rinci tentang Masih yang akan datang. Hal ini khususnya sangat penting mengingat kegagalan para Raja berikutnya dalam menaati Taurat dan kegagalan bani Israil  untuk mematuhi Perintah Allah. Janji, harapan, dan kerinduan akan datangnya Masih dinubuatkan dalam konteks kegagalan bani Israil waktu itu. Sebagai nabi, mereka melihat masa yang akan datang, sebagaimana yang telah disyaratkan Musa (AS) dalam Taurat. Nubuatan-nubuatan ini pun berbicara kepada kita pada zaman modern ini, yang juga gagal menjalani hidup sebagaimana seharusnya. Masih telah menjadi sumber pengharapan di tengah kegagalan.

Bagaimana Isa Almasih (AS) memandang dan menggunakan Zabur

Kenyataannya, nabi Isa Almasih sendiri menggunakan Zabur untuk membantu murid-murid serta para pengikutnya untuk memahami Injil dan peran Masih. Dinyatakan tentang Isa bahwa

Kemudian Yesus menerangkan kepada mereka apa yang tertulis di dalam seluruh Alkitab mengenai diri-Nya, mulai dari buku-buku Musa dan buku para nabi. (Lukas 24:27)

Frasa ‘dan semua Nabi’ mengacu pada nabi-nabi dari Zabur yang mengikuti Taurat Musa (AS). Isa Almasih (AS) menginginkan murid-murid-Nya memahami bagaimana Zabur mengajarkan dan menubuatkan dia. Isa Almasih (AS) lalu lanjut mengajar mereka dengan

Setelah itu Ia berkata kepada mereka, “Inilah hal-hal yang sudah Kuberitahukan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kalian: bahwa setiap hal yang tertulis mengenai Aku di dalam Buku-buku Musa, Para Nabi, dan Mazmur, harus terjadi.” Kemudian Yesus membuka pikiran mereka untuk mengerti maksud Alkitab. (Lukas 24:44-45)

Nabi-nabi dan Mazmur’ dalam ayat-ayat di atas berarti jilid pertama Zabur yang ditulis oleh Dawud (Mazmur) dan kitab-kitab selanjutnya yang disertakan (Nabi-Nabi). Isa Almasih (AS) perlu “membuka pikiran mereka” dan hanya dengan demikian mereka mampu “memahami tulisan” (yaitu kitab-kitab yang diilhamkan oleh Allah, Taurat dan Zabur). Tujuan kami dalam seri artikel berikutnya adalah untuk mengikuti apa yang ditunjukkan oleh Isa Almasih (AS) dari kitab-kitab ini, sehingga pikiran kita juga bisa terbuka dan memahami Injil.

Dawud (AS) dan Nabi-Nabi Zabur dalam Kerangka Sejarah

Gambar di bawah ini merangkum sebagian besar (tetapi tidak seluruhnya karena tidak ada tempat untuk itu) nabi ini. Panjang batang di bawah nama nabi menunjukkan masa hidup tiap-tiap nabi. Sedangkan kode warna menunjukkan status bani Israil, sebagaimana kalau kita mengikuti sejarah mereka dari Berkah dan Kutuk Musa.

Kerangka Sejarah Nabi Dawud (AS) dan Nabi-Nabi Kitab Zabur