Zabur Menutup – dengan Janji Kedatangan Penyedia

Surat-Muddatstsir (Surat 74 – Yang Berjubah) menggambarkan Nabi SAW yang terbungkus jubahnya dengan tegas memberikan peringatannya tentang Hari Akhir

 Wahai orang yang berkemul (berselimut)!bangunlah, lalu berilah peringatan!dan agungkanlah Tuhanmu,

Surah al-Mudaththir 74:1-3

 Maka apabila sangkakala ditiup,maka itulah hari yang serba sulit,bagi orang-orang kafir tidak mudah.

Surah al-Mudaththir 74:8-10

Surah Al-Kafirun (Surah 109 – Orang-Orang Kafir) menggambarkan Nabi SAW dengan jelas menyebut jalan yang berbeda dari orang-orang kafir.

 Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir!aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembahdan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”

Surah Al-Kafirun 109:1-6

Zabur ditutup dengan merujuk kembali kepada Nabi Elijah AS yang melakukan persis seperti yang dijelaskan oleh Surah Al-Mudatstsir dan Surat Al-Kafirun. Tetapi Zabur juga menanti kedatangan nabi lain yang akan menjadi seperti Elijah dan mempersiapkan hati kita. Kita mengenalnya sebagai Nabi Yahya AS.

Kedatangan Nabi Yahya (AS) Diramalkan

Kita lihat di Tanda Sang Hamba  bahwa Sang Hamba dijanjikan untuk datang. Tetapi seluruh janji kedatangannya seimbang pada pertanyaan penting. Yesaya 53 dimulai dengan pertanyaan

           Siapa yang percaya dengan pesan kami …? (Isaiah 53:1a)

Yesaya (AS) meramalkan bahwa Sang Hamba ini tidak akan mudah dipercaya, dan masalahnya bukan dengan pesan atau Tanda-Tanda Sang Hamba karena mereka akan tepat dalam waktu dengan siklus ‘Tujuh’ serta dengan nama  dan menentukan bahwa dia akan ‘terputus (terasingkan)‘. Masalahnya bukan karena tidak ada tanda-tanda yang cukup. Tidak, masalahnya adalah hati orang-orang itu keras. Jadi seseorang harus datang sebelum Sang Hamba datang untuk mempersiapkan orang untuk kedatangannya. Oleh karena itu nabi Yesaya (AS) memberikan pesan ini tentang orang yang akan mempersiapkan jalan bagi Sang Hamba. Dia menulis pesan ini dalam bukunya tentang Zabur dengan cara berikut

Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!
Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran;
maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.”

Yesaya 40: 3-5

Yesaya (AS) menulis tentang seseorang yang akan datang ‘di padang belantara’ untuk ‘mempersiapkan jalan bagi TUHAN’. Orang ini akan memuluskan rintangan sehingga ‘kemuliaan TUHAN akan terungkapkan’. Tetapi Yesaya tidak merinci bagaimana hal ini akan dilakukan.

Nabi Maleakhi – Nabi Zabur Terakhir

Nabi Yesaya, Maleakhi dan Elia (AS untuk mereke) ditunjukkan dalam garis waktu sejarah

Sekitar 300 tahun setelah Yesaya dating, Maleakhi (AS) yang menulis kitab terakhir Zabur. Dalam kitab terakhir ini Maleakhi (AS) menguraikan tentang apa yang dikatakan Yesaya tentang Persiapan yang akan datang. Dia menulis:

Kataku: Baiklah dengar, hai para kepala di Yakub, dan hai para pemimpin kaum Israel! Bukankah selayaknya kamu mengetahui keadilan,

Maleakhi 3: 1

Di sini sekali lagi utusan yang akan ‘menyiapkan jalan’ diprediksi. Setelah Penyedia ini datang maka ‘utusan perjanjian’ akan datang. Perjanjian apa yang dimaksud Maleakhi (AS)? Ingatlah bahwa Yeremia (AS) telah meramalkan bahwa Allah akan membuat perjanjian baru dengan menuliskannya di hati kita. Hanya dengan demikian kita dapat memuaskan dahaga kita yang selalu menuntun kita pada dosa. Ini adalah perjanjian yang sama yang dirujuk oleh Maleakhi (AS). Pemberian perjanjian itu akan ditandai oleh kedatangan Si Penyedia.

Maleakhi (AS) kemudian menutup seluruh Zabur dengan paragraf terakhir dari bukunya. Dalam paragraf terakhir dia sekali lagi melihat ke masa depan dan menulis:

Biarpun segala bangsa berjalan masing-masing demi nama allahnya, tetapi kita akan berjalan demi nama TUHAN Allah kita untuk selamanya dan seterusnya.
Pada hari itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengumpulkan mereka yang pincang, dan akan menghimpunkan mereka yang terpencar-pencar dan mereka yang telah Kucelakakan.

Maleakhi 4: 5-6

Apa yang Maleakhi (AS) maksudkan dengan ‘Elijah’ akan datang sebelum hari besar TUHAN? Siapakah Elijah? Dia adalah nabi lain yang belum kita lihat (kita tidak dapat melihat semua nabi-nabi Zabur karena itu akan membuat ini terlalu panjang tetapi melihatnya dalam garis waktu di atas). Elijah (AS) hidup sekitar 850 SM. Dia terkenal karena hidup di hutan belantara dan mengenakan pakaian bulu binatang dan makan makanan liar. Dia mungkin terlihat sangat aneh. Maleakhi (AS) menulis bahwa dalam beberapa cara Si Penyedia yang datang sebelum Perjanjian Baru akan menjadi seperti Elijah (AS).

Dan dengan pernyataan itu, Zabur selesai. Ini adalah pesan terakhir dalam Zabur dan ditulis sekitar 450 SM. Taurat dan Zabur penuh dengan janji-janji tentang hal-hal yang akan datang. Mari kita ulas beberapa.

Meninjau Janji Taurat & Zabur yang menunggu untuk dipenuhi

Maka dengan berakhirnya Zabur pada 450 SM orang-orang Yahudi hidup dalam mengantisipasi pemenuhan janji-janji yang hebat ini. Dan mereka terus menunggu dan menunggu. Satu generasi menggantikan yang lain dan kemudian yang lain akan datang – tanpa ada pemenuhan janji-janji tersebut.

Apa yang terjadi setelah Zabur selesai

Seperti yang kita lihat dalam Sejarah Bangsa Israel, Alexander Agung menaklukkan sebagian besar dunia yang dikenal pada 330 SM dan dari penaklukan ini orang-orang dan peradaban dunia mengadopsi bahasa Yunani. Karena bahasa Inggris dewasa ini telah menjadi bahasa universal untuk bisnis, pendidikan, dan sastra, pada waktu itu bahasa Yunani juga dominan. Guru-guru Yahudi menerjemahkan Taurat dan Zabur dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani sekitar 250 SM. Terjemahan ini disebut Septuaginta. Sebagaimana kita lihat di sini, dari sinilah kata ‘Kristus’ berasal dan kita lihat di sini bahwa dari sinilah nama ‘Yesus’ juga berasal.

Nabi Yesaya, Maleakhi dan Elia (AS untuk mereka) ditunjukkan dalam garis waktu sejarah

Selama masa ini (300 – 100 SM yang merupakan periode biru seperti yang ditunjukkan dalam garis waktu) ada persaingan militer yang sedang berlangsung antara Mesir dan Suriah dan dengan orang-orang Israel yang tinggal tepat di antara kedua kerajaan ini, mereka secara teratur terperangkap dalam pertempuran. Beberapa raja khusus Suriah berusaha untuk memaksakan agama Yunani (agama penyembah berhala) pada bangsa Israel dan menghapuskan pemujaan mereka terhadap Satu Tuhan. Beberapa pemimpin Yahudi memimpin pemberontakan untuk mempertahankan monoteisme mereka dan mengembalikan kemurnian ibadah yang dilakukan oleh Nabi Musa AS. Apakah para pemimpin agama ini memenuhi janji-janji yang ditunggu-tunggu orang Yahudi? Orang-orang ini, meskipun pengikut setia ibadah seperti yang diperintahkan dalam Taurat dan Zabur, tidak cocok dengan Tanda-Tanda Ramalan. Bahkan mereka sendiri bahkan tidak mengklaim sebagai nabi-nabi, hanya orang Yahudi yang saleh yang membela ibadah mereka terhadap penyembahan berhala.

Buku-buku sejarah tentang periode ini, menggambarkan perjuangan yang menjaga kemurnian ibadah ditulis. Buku-buku ini memberikan wawasan sejarah dan agama dan sangat berharga. Tetapi orang-orang Yahudi tidak menganggap mereka ditulis oleh para nabi dan karenanya buku-buku ini tidak dimasukkan dalam Zabur. Itu adalah buku-buku bagus, ditulis oleh orang-orang beragama, tetapi itu tidak ditulis oleh para nabi. Buku-buku ini dikenal sebagai Apokrifa (tulisan yang diragukan pengarangnya).

Tetapi karena buku-buku ini bermanfaat, mereka sering disertakan bersama Taurat dan Zabur untuk memberikan sejarah lengkap tentang orang-orang Yahudi. Setelah Injil dan pesan Isa al Masih (AS) ditulis, kitab Taurat, Zabur dan Injil digabungkan menjadi satu buku – Alkitab. Beberapa Alkitab dewasa ini bahkan akan memasukkan kitab-kitab Apokrifa ini, meskipun mereka bukan bagian dari Taurat, Zabur atau Injil.

Namun janji-janji yang diberikan dalam Taurat dan Zabur masih dipenuhi. Mengikuti pengaruh Yunani, Kekaisaran Romawi yang kuat berkembang dan menggantikan orang-orang Yunani untuk memerintah orang-orang Yahudi (ini adalah periode kuning yang muncul setelah warna biru pada garis waktu di atas). Bangsa Romawi memerintah dengan efisien tetapi keras. Pajaknya tinggi dan orang-orang Romawi tidak menoleransi perbedaan pendapat. Orang-orang Yahudi semakin merindukan pemenuhan janji-janji yang diberikan dalam Taurat dan Zabur, meskipun dalam penantian panjang ibadah mereka menjadi sangat kaku dan mereka mengembangkan banyak aturan tambahan bukan dari para nabi tetapi dari tradisi. ‘Perintah’ ekstra ini tampak seperti ide bagus ketika pertama kali disarankan tetapi mereka dengan cepat mengganti perintah asli Taurat dan Zabur di hati dan pikiran para guru Yahudi.

Dan akhirnya ketika sepertinya janji-janji itu sudah lama terlupakan oleh Allah, Malaikat Jibril yang perkasa datang untuk mengumumkan kelahiran Sang Penyedia yang telah lama ditunggu-tunggu. Kita mengenalnya hari ini sebagai Nabi Yahya (atau Yohanes Pembaptis – AS). Tetapi itu adalah awal dari Injil, yang kita lihat selanjutnya.

Tanda Kedatangan Sang Hamba

Dalam postingan terakhir kami, kita telah lihat bahwa nabi Daniel telah meramalkan bahwa Masih akan ‘terputus’. Kita sampai pada akhir perjalanan kita melalui Zabur. Tetapi kita masih harus belajar lebih banyak. Nabi Yesaya (lihat dia dalam timeline di bawah) telah meramalkan

Garis sejarah dari Nabi Yesaya dengan beberapa nabi yang lainnya di kitab Zabur

tentang kedatangan Masih dengan menggunakan gambar dari sebuah Cabang. Tetapi dia juga menulis tentang seseorang yang akan datang yang dia sebut sebagai Hamba. Dia menulis panjang bagian tentang Hamba yang akan datang ini. Siapa ‘Hamba’ ini? Apa yang akan dia lakukan? Kita lihat bagian ini secara rinci. Saya mereproduksi dengan tepat dan lengkap di sini di bawah ini, dengan memasukkan beberapa komentar untuk menjelaskan.

Kedatangan Hamba diramalkan oleh Nabi Yesaya. Bagian lengkap dari Yesaya 52: 13-53: 12)

Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan.
Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia–begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami.

Yesaya 52: 13-15

Kita tahu bahwa Hamba ini akan menjadi manusia (pria) karena Yesaya menyebut sebagai ‘dia-pria (subjek)’, ‘dia-pria (objek)’, ‘dia-pria (milik)’. Ketika Harun (AS) akan memberikan pengorbanannya bagi kaum Israel, ia akan memercikkan darah kepada orang-orang — dan kemudian dosa-dosa mereka diampuni dan tidak akan ditimpakan balasan terhadap mereka. Ketika dikatakan bahwa Hamba akan ‘menaburi’ nabi Yesaya berarti bahwa dengan cara yang sama Hamba ini akan memercikkan orang dari dosa-dosa mereka seperti Harun (AS) lakukan untuk kaum Israel ketika ia melakukan pengorbanan.

Tetapi Sang Hamba akan memercikkan ‘banyak bangsa’. Jadi Hamba tidak datang hanya untuk orang Yahudi. Ini mengingatkan kita akan janji-janji kepada Ibrahim (AS) ketika Allah berfirman (Tanda 1 dan Tanda 3) bahwa ‘semua bangsa‘ akan diberkati melalui keturunannya. Tetapi dalam melakukan pemercikan ini, ‘penampilan’ dan of ‘bentuk’ ’dari Sang Hamba akan ‘cacat’dan‘ternoda’. Meskipun tidak jelas apa yang akan dilakukan Sang Hamba untuk menjadi cacat seperti ini, suatu hari bangsa-bangsa ‘akan mengerti’

Siapakah yang memercayai berita yang kami dengar, dan siapkan yang diperintahkan
Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak membuat kita memandang dia, dan rupapun tidak, jadi kita menginginkan
Ia dihina dan dihindari orang, yang penuh dengan kesengsaraan dan yang biasa dimenangkan kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.

Yesaya 53: 1-3

Untuk beberapa alasan, meskipun Hamba itu akan memercikkan banyak bangsa, dia juga akan ‘dihina’ dan ‘ditolak’, penuh ‘penderitaan’ dan ‘akrab dengan rasa sakit’.

Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.
Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Yesaya  53:4-5

Sang Hamba akan menanggung rasa sakit ‘kita’. Hamba ini juga akan ‘ditikam’ dan ‘dihancurkan’ dalam ‘hukuman’. Hukuman ini akan membawa kita (orang-orang di banyak negara) ‘kedamaian’ dan membuat kita ‘tersembuhkan’.

Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Yesaya 53-6

Kita lihat di  Tanda Kehausan kita, betapa mudahnya kita pergi ke ‘sumur yang rusak’ untuk memuaskan rasa haus kita daripada beralih kepada Allah. Kita telah ‘tersesat’ masing-masing dari kita ‘berbalik ke arah kita sendiri’. Ini adalah dosa (= kedurhakaan).

Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.

Yesaya 53-7

Bersama para nabi Abel, Nuh, Ibrahim, Musa dan Harun (AS) mereka membawa domba untuk dijadikan sebagai korban. Tetapi Sang Hamba sendiri akan seperti seekor domba yang akan pergi ke ‘penyembelih’. Tetapi dia tidak akan memprotes atau bahkan ‘membuka mulutnya’.


Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.

Yesaya 53- 8

Sang Hamba ini ‘terputus’ dari ‘tanah kehidupan’. Apakah ini yang dimaksudkan oleh nabi Daniel ketika dia mengatakan bahwa  Masih akan ‘terputus’? Kata-kata yang sama persis digunakan! Apa artinya ‘terputus dari tanah kehidupan’ kecuali bahwa seseorang akan mati?

Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya

Yesaya 53- 9

Jika dia diberi ‘sebuah kuburan’, Hamba ini pasti sudah mati. Dia meninggal dikutuk sebagai pria ‘jahat’ meskipun ‘dia tidak melakukan kekerasan’ dan tidak ada ‘tipuan di mulutnya’.

Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.

Yesaya 53- 10

Seluruh kematian yang kejam ini bukan kecelakaan atau kemalangan yang mengerikan. Itu secara eksplisit ‘kehendak TUHAN’ untuk ‘menghancurkannya’. Tapi kenapa? Sama seperti pengorbanan Harun adalah ‘persembahan untuk dosa’ sehingga orang yang memberikan persembahan itu dapat dianggap tidak bersalah, di sini ‘kehidupan’ Hamba ini juga merupakan ‘persembahan untuk dosa’. Untuk dosa siapa? Mengingat bahwa banyak bangsa ’akan ditaburi’ (dari atas) itu pasti merupakan dosa rakyat di ‘banyak bangsa’.

Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.

Yesaya 53- 11

Meskipun ramalan sang Hamba mengerikan di sini, nadanya berubah dan menjadi sangat optimis dan bahkan berjaya. Setelah ‘penderitaan’ yang mengerikan ini (karena ‘terputus dari negeri kehidupan’ dan diberi ‘sebuah kuburan’), Hamba ini akan melihat ‘cahaya kehidupan’. Dia akan hidup kembali ?! Dan dengan melakukan hal ini Hamba akan ‘membenarkan’ banyak.

Untuk ‘membenarkan’ sama dengan memberi ‘kebenaran’. Ingatlah bahwa untuk mendapatkan ‘Kebenaran’ dari Hukum Musa seseorang harus mematuhi SEMUA perintah sepanjang waktu. Tetapi nabi Ibrahim (Tanda 2) ‘dikreditkan’ atau diberikan ‘kebenaran’. Itu diberikan kepadanya hanya karena kepercayaannya. Dengan cara yang sama, Sang Hamba ini akan membenarkan, atau memuji kebenaran kepada ‘banyak’. Apakah kebenaran bukanlah sesuatu yang kita inginkan dan butuhkan?

Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberon

Yesaya 53- 12

Hamba ini akan berada di antara ‘yang agung’ karena ia mengajukan (‘mencurahkan’) hidupnya ‘hingga mati’. Dan dia mati sebagai orang yang disebut sebagai ‘pelanggar’, yaitu sebagai ‘orang berdosa’. Karena Hamba melakukan ini, ia dapat membuat ‘syafaat’ atas nama ‘pelanggar’. Seorang pendoa syafaat adalah perantara antara dua pihak, Kedua pihak di sini haruslah ‘orang kebanyakan’ dan ‘TUHAN’. “Hamba” ini cukup layak untuk menjadi perantara atau memohon atas nama kita kepada Allah sendiri!

Siapakah Sang Hamba ini? Bagaimana semua hal ini terjadi? Bisakah dan akankah dia ‘menengahi’ atas nama ‘banyak’ dari ‘bangsa’ berbeda kepada Allah sendiri? Kita simpulkan Zabur dengan melihat ramalan terakhir dan kemudian kita buka Injil.

Al Masih: Datang untuk memerintah … atau ‘tersingkirkan’?

Dalam artikel terakhir kita, telah kita lihat bagaimana para nabi memberikan tanda-tanda yang meramalkan nama Masih (ramalannya adalah Yesus ) dan memperkirakan waktu kedatangannya. Ini adalah ramalan yang luar biasa khusus, direkam dan ditulis ratusan tahun sebelum kedatangan Yesus (Isa al Masih – AS) dan mereka dengan benar meramalkannya. Ramalan-ramalan ini ditulis, dan masih ada di sana (!), dalam kitab suci bangsa Yahudi – bukan dalam Injil atau Al- Qur’an. Pertanyaannya kemudian muncul mengapa orang-orang Yahudi tidak dan (kebanyakan) masih tidak menerima Yesus sebagai Kristus   (Masih) meskipun ini ditulis dalam buku mereka. 

Sebelum kita melihat persoalan ini, saya harus mengklarifikasi bahwa mengajukan pertanyaan dengan cara yang saya baru saja lakukan tidaklah cukup akurat. Banyak orang Yahudi di masa Yesus hidup (Isa – AS) menerima dia sebagai Masih. Dan hari ini ada juga banyak yang menerimanya sebagai Masih. Tetapi faktanya tetap, sebagai suatu bangsa, mereka tidak menerimanya. Jadi kenapa?

Mengapa orang-orang Yahudi tidak menerima Isa (AS) sebagai Masih?

Injil Matius mencatat pertemuan antara Isa AS dan guru-guru agama Yahudi (disebut orang Farisi dan Saduki – mereka memiliki peran yang sama seperti yang dimiliki para imam saat ini). Mereka telah memancing pertanyaan jebakan kepadanya dan inilah jawaban Yesus:

Yesus menjawab mereka: “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!

Matius 22: 29

Pertukaran pemikiran ini memberi kita petunjuk penting. Meskipun meraka adalah para pemimpin yang mengajarkan Taurat dan Zabur kepada orang-orang, Yesus menuduh mereka tidak memahami tulisan-tulisan di kitab suci dan tidak mengetahui kuasa Allah . Apa yang dia maksudkan dengan ini? Bagaimana mungkin para ahli tidak ‘memahami tulisan-tulisan di kitab suci’?

Orang-orang Yahudi tidak tahu SEMUA tulisan di   kitab suci

Ketika Anda mempelajari apa yang para pemimpin bicarakan dan rujuk dalam Taurat dan Zabur, Anda akan lihat bahwa mereka sangat menyadari ramalan tertentu saja – dan bukan yang lainnya. Jadi kita lihat, misalnya, dalam Tanda Putra Perawan, bahwa para ahli tahu ramalan bahwa Masih akan datang dari Betlehem. Berikut adalah ayat yang dikutip oleh para ahli Hukum kepada Raja Herodes pada saat kelahiran Isa untuk menunjukkan di mana Masih akan dilahirkan: 

 Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.

Mikha 5: 2

Anda akan lihat bahwa mereka mengetahui ayat yang merujuk pada Kristus (= Masih – lihat di sini atau mengapa ada kesamaam istilah-istilah) yang mana ayat ini merujuk kepadanya sebagai ‘penguasa’ . Bagian lain yang terkenal bagi para ahli Yahudi adalah Mazmur 2, diilhami oleh Dawud(AS) yang pertama kali memperkenalkan gelar Kristus’ dan yang mengatakan bahwa ‘Kristus’ akan ‘dinobatkan sebagai Raja di Sion’ (= Yerusalem atau Al Quds) seperti yang kita lihat dalam ayat ini. 

Raja-raja di bumi mengambil pendirian mereka … melawan TUHAN dan melawan Masih- Nya … Yang bertakhta di surga tertawa; Tuhan mengejek mereka … mengatakan, “Aku telah menobatkan Rajaku di Sion, bukit suci-Ku …

Mazmur 2 Zabur 

Para guru Yahudi juga sangat menyadari bagian-bagian berikut dari Zabur

O Tuhan … Demi Dawud hamba-Mu, tidak menolak  Masih Mu. Tuhan bersumpah pada Dawud , sebuah sumpah pasti bahwa dia tidak akan mencabut: “Salah satu keturunanmu sendiri aku akan tempatkan di atas takhta kamu…” Di sini aku akan membuat tanduk tumbuh untuk Dawud dan mendirikan lampu untuk Masih-Ku .

Mazmur 132: 10-18 dari Zabur

Orang-orang Yahudi tidak tahu kekuasaan Allah dengan membatasinya dengan logika mereka

Jadi mereka tahu bagian-bagian tertentu, yang semuanya menuju ke satu arah –yang mana Masih akan memerintah dengan kekuasaan. Mengingat bahwa pada masa Isa (AS) orang-orang Yahudi hidup di bawah pendudukan Romawi di tanah Israel (lihat di sini untuk sejarah orang-orang Yahudi) ini adalah satu – satunya jenis Masih yang mereka inginkan. Mereka menginginkan Masih yang akan datang dengan kekuatan dan mengusir orang-orang Romawi yang dibenci dan mendirikan Kerajaan yang kuat yang telah didirikan oleh Raja Dawud 1000 tahun sebelumnya (lihat di sini untuk latar belakang Raja Dawud ). Dambaan untuk memiliki  Masih yang terbentuk dari keinginan mereka sendiri dan bukan dari rencana Allah membuat mereka tidak mempelajari semua tulisan-tulisan dikitab suci mereka.  

Kemudian mereka menggunakan logika akal mereka untuk membatasi kuasa Tuhan dalam pemikiran mereka. Ramalan telah mengatakan bahwa Masih akan memerintah di Yerusalem. Yesus tidak memerintah dengan kekuasaan di Yerusalem. Jadi dia tidak mungkin menjadi Masih! Itu logika sederhana. Mereka membatasi kekuasaan Allah dengan membatasi Dia pada logika sederhana dan manusiawi dari mereka.

Orang Yahudi sampai hari ini sebagian besar tidak tahu ramalan yang ada di Zabur. Meskipun ada dalam buku mereka, yang disebut Tanakh (= Taurat + Zabur ) tetapi jika mereka membacanya mereka hanya membaca Taurat . Mereka mengabaikan perintah Tuhan untuk memahami SEMUA tulisan di kitab suci dan karena itu mengabaikan ramalan lainnya, dan dengan membatasi Allah dengan logika manusia mereka, mereka beralasan bahwa karena Masih yang akan memerintah, dan Isa tidak memerintah, ia tidak mungkin menjadi Masih. Titik! Tidak perlu menyelidiki lebih jauh! Sampai hari ini kebanyakan orang Yahudi tidak melihat lebih jauh dalam masalah ini.

Al Masih : datang …. untuk ‘tersingkirkan’

Tetapi jika mereka memeriksa tulisan-tulisan di kitab suci, mereka akan belajar sesuatu yang sekarang akan kita pelajari. Dalam artikel terakhir kita lihat bahwa nabi Daniel (AS) dengan benar meramalkan waktu kedatangan Masih . Tetapi sekarang perhatikan apa lagi yang dia katakan tentang Mesias ini ( = Yang Diurapi = Masih = Kristus )

Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan.
Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah rakyat seorang raja memusnahkan kota dan tempat kudus itu, tetapi raja itu akan menemui ajalnya dalam air bah; dan sampai pada akhir zaman akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan.

Daniel 9: 25-26

Perhatikan apa yang dikatakan Daniel akan terjadi pada Masih ketika dia tiba. Apakah Daniel meramalkan bahwa Masih akan memerintah? Bahwa ia akan menduduki takhta leluhurnya, Dawud dan menghancurkan kekuatan pendudukan Romawi? Tidak! Bahkan dikatakan, cukup jelas, bahwa Masih akan ‘tersingkirkan dan tidak memiliki apa-apa‘. Kemudian dikatakan bahwa orang asing akan menghancurkan tempat suci (Kuil Yahudi) dan kota (Yerusalem) dan itu akan menjadikannya sunyi sepi. Jika Anda melihat sejarah orang Israel, Anda akan melihat bahwa ini memang terjadi. Empat puluh tahun setelah wafatnya Yesus, orang-orang Romawi datang dan membakar Rumah Allah, menghancurkan Yerusalem dan mengirim orang-orang Yahudi ke pengasingan di seluruh dunia sehingga mereka terusir dari tanah itu. Peristiwa itu terjadi pada 70 M persis seperti diramalkan oleh Daniel sekitar 537 SM, dan diramalkan sebelumnya oleh Nabi Musa (AS) dalam Kutukan .   

Jadi Daniel meramalkan Masih itu tidak akan memerintah! Sebaliknya dia akan ‘tersingkirkan dan tidak memiliki apa-apa’. Para pemimpin Yahudi melewatkan ini karena mereka tidak ‘tahu tulisan-tulisan di kitab suci’.  Tapi ini menimbulkan masalah lain. Apakah tidak ada kontradiksi antara ramalan Daniel (‘tersingkirkan’) dan orang-orang yang akrab dengan orang Yahudi ( Masih akan memerintah). Lagipula, jika semua nabi memiliki pesan dari Allah, mereka semua harus menjadi kenyataan  sebagaimana ditentukan oleh Musa (AS) dalam Taurat.  Bagaimana mungkin Masih tersingkirkan DAN bahwa ia akan memerintah? Tampaknya logika manusia mereka telah mengakali ‘kekuatan Tuhan’. 

Kontradiksi antara ‘Memerintah’ dan ‘Tersingkirkan’ dijelaskan

Tetapi tentu saja logika mereka dibawah kuasa Tuhan. Mereka hanya, seperti kita manusia, tidak mengenali asumsi yang mereka buat. Mereka berasumsi bahwa Masih akan datang hanya sekali. Jika itu yang terjadi maka memang akan ada kontradiksi antara pemerintahan Masih dan dia yang ‘tersingkirkan’. Jadi mereka membatasi kekuatan Tuhan dalam pikiran mereka karena logika mereka, tetapi pada akhirnya logika mereka yang salah. Al Masih akan datang dua kali. Dalam kedatangan pertama dia akan memenuhi ramalan ‘tersingkirkan dan tidak memiliki apa-apa‘ dan hanya pada kedatangan kedua dia akan memenuhi ramalan ‘memerintah‘. Dari perspektif itu, ‘kontradiksi’ dengan mudah diselesaikan.

Apakah kita juga melalaikan SEMUA tulisan suci dan membatasi kuasa Allah?

Tetapi apakah artinya bahwa Masih akan ‘tersingkirkan dan tidak memiliki apa-apa’? Kita akan lihat pertanyaan ini dengan segera. Tetapi untuk sekarang mungkin akan lebih berguna untuk merenungkan bagaimana orang-orang Yahudi melalaikan tanda-tanda itu. Kita telah lihat dua alasan mengapa orang-orang Yahudi tidak melihat tanda-tanda Masih. Ada juga alasan ketiga, yang tercatat bagi kita dalam Injil Yohanes dalam pertukaran pemikiran lain antara Yesus (Isa – AS) dan para pemimpin agama di mana dia berkata kepada mereka.  

Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku,
namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.
Aku tidak memerlukan hormat dari manusia.Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih akan Allah. Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia.Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?

Yohanes 5: 39-40, 44

Dengan kata lain, alasan ketiga mengapa orang-orang Yahudi melalaikan tanda-tanda Masih adalah karena mereka hanya ‘menolak’ untuk menerimanya karena mereka lebih tertarik untuk mendapatkan persetujuan satu sama lain daripada persetujuan dari Tuhan!

Orang-orang Yahudi tidak lebih sesat dan keras kepala daripada orang lain. Memang mudah bagi kita untuk menghakimi mereka karena melewatkan tanda-tanda bahwa Yesus adalah Masih . Tetapi sebelum kita menghakimi mereka mungkin kita harus melihat diri kita sendiri. Bisakah kita dengan jujur ​​mengatakan bahwa kita tahu ‘semua tulisan di kitab suci’? Bukankah kita, seperti orang-orang Yahudi, hanya melihat pada tulisan suci yang kita sukai, kita nyaman denganya, dan kita mengerti? Dan apakah kita tidak sering menggunakan logika manusiawi kita untuk membatasi kuasa Allah dalam pikiran kita? Atau apakah kita kadang-kadang menolak untuk menerima tulisan suci karena kita khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan lebih dari apa yang dikatakan Tuhan?  

Cara orang-orang Yahudi melewatkan tanda-tanda itu harus menjadi peringatan bagi kita. Kita tega membatasi diri hanya pada tulisan suci yang kita kenal dan kebetulan kita sukai. Kita tega membatasi kekuatan Tuhan dengan logika manusia kita. Dan kita tega menolak untuk menerima apa yang diajarkan tulisan suci. Dilengkapi dengan peringatan-peringatan tentang bagaimana orang-orang Yahudi melewatkan tanda-tanda kedatangan Masih, sekarang kita beralih untuk memahami kedatangan orang kunci – Sang Hamba.

Masih yang Akan Datang: Dalam Tanda ‘Tujuh’

Berkali-kali dalam Alquran, kita melihat bahwa Allah menggunakan siklus tujuh. Misalnya, Surah At-Talaq (Surah 65‒Perceraian) menyatakan

 Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.

Surah At-Talaq 65: 12

Dan Surah An-Naba (Surah 78 – Berita Besar) mengatakan

(yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka),

Surah An-Naba 78: 12

Jadi, tidak mengejutkan kalau waktu kedatangan Masih juga dinyatakan dalam angka tujuh, seperti yang akan kita lihat di bawah ini.

Seiring dengan penelaahan kita terhadap para nabi, kita telah belajar bahwa terkadang meskipun mereka  terpisah satu sama lain selama ratusan tahun‒sehingga mereka tidak bisa berkoordinasi satu sama lain tentang nubuat mereka‒namun nubuat mereka mengembangkan tema sentral tentang Masih yang akan datang (= Kristus). Kita lihat bahwa nabi Yesaya (AS) telah menggunakan Tanda Ranting dari tunggul, kemudian nabi Zakharia (AS) telah bernubuat bahwa Ranting ini akan memiliki nama Ibrani Yhowshuwa, yang dalam bahasa Yunani disebut Iesous, yaitu Jesus dalam bahasa Inggris dan Isa dalam bahasa Arab. Ya, nama Masih (= Kristus) telah dinubuatkan 500 tahun sebelum Isa Almasih‒Yesus (AS)‒pernah hidup. Nubuat ini dituliskan dalam Kitab Yahudi, (bukan dalam Injil), yang masih dibaca dan diterima‒tetapi tidak dipahami‒oleh orang-orang Yahudi.

Nabi Daniel

Sekarang, kita mendatangi nabi Daniel (AS). Dia tinggal di pengasingan di Babilonia dan merupakan pejabat tinggi di pemerintahan Babel dan Persia‒dia juga seorang nabi. Kerangka waktu di bawah ini menunjukkan kapan nabi Daniel (AS) hidup dalam sejarah para nabi.

Dalam kitabnya, nabi Daniel (AS), menerima pesan dari malaikat Gabriel (Jibril). Daniel dan Maria‒ibu Yesus (Isa‒AS), adalah dua orang dari seluruh Alkitab yang menerima pesan yang diberikan oleh Gabriel (Jibril). Jadi kita harus memberikan perhatian khusus pada pesan ini. Malaikat Gabriel (Jibril) mengatakan kepadanya bahwa:

sementara aku berbicara dalam doa, terbanglah dengan cepat ke arahku Gabriel, dia yang telah kulihat dalam penglihatan yang dahulu itu pada waktu persembahan korban petang hari.
Lalu ia mengajari aku dan berbicara dengan aku: “Daniel, sekarang aku datang untuk memberi akal budi kepadamu untuk mengerti.
Ketika engkau mulai menyampaikan permohonan keluarlah suatu firman, maka aku datang untuk memberitahukannya kepadamu, sebab engkau sangat dikasihi. Jadi camkanlah firman itu dan perhatikanlah penglihatan itu!
Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus, untuk melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi yang maha kudus.
Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan.
Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah rakyat seorang raja memusnahkan kota dan tempat kudus itu, tetapi raja itu akan menemui ajalnya dalam air bah; dan sampai pada akhir zaman akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan.

Daniel 9: 21-26

Kita lihat bahwa nubuat ini adalah nubuat tentang kedatangan ‘Yang Diurapi’ (= Kristus = Masih seperti yang kita lihat di sini). Malaikat Gabriel (Jibril) memberi jadwal kapan Masih akan datang. Gabriel (Jibril) mengatakan akan ada penghitungan yang akan dimulai dengan ‘penerbitan keputusan untuk memulihkan dan membangun kembali Yerusalem’. Meskipun Daniel menerima pesan ini (sekitar tahun 537 SM), dia tidak lagi hidup untuk mengalami awal penghitungan ini.

Penerbitan Keputusan untuk memulihkan dan membangun kembali Yerusalem

Justru Nehemia, yang hidup hampir seratus tahun setelah Daniel (AS), yang melihat awal dari penghitungan ini. Dia adalah juru minuman raja untuk Kaisar Persia Artahsasta dan dengan demikian dia tinggal di Susa yang sekarang terletak di Iran. Lihatlah kapan dia hidup dalam kerangka waktu di atas. Dia memberi tahu kita dalam kitabnya, bahwa

Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja, bertanyalah ia kepadaku: “Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati.” Lalu aku menjadi sangat takut.
Jawabku kepada raja: “Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?”
Lalu kata raja kepadaku: “Jadi, apa yang kauinginkan?” Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit, kemudian jawabku kepada raja: “Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali.”
Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya: “Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?” Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya.
Berkatalah aku kepada raja: “Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda.
Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami.” Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku.
Maka datanglah aku kepada bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat dan menyerahkan kepada mereka surat-surat raja. Dan raja menyuruh panglima-panglima perang dan orang-orang berkuda menyertai aku.
Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, mendengar hal itu, mereka sangat kesal karena ada orang yang datang mengusahakan kesejahteraan orang Israel.
Maka tibalah aku di Yerusalem. Sesudah tiga hari aku di sana,
bangunlah aku pada malam hari bersama-sama beberapa orang saja yang menyertai aku. Aku tidak beritahukan kepada siapapun rencana yang akan kulakukan untuk Yerusalem, yang diberikan Allahku dalam hatiku. Juga tak ada lain binatang kepadaku kecuali yang kutunggangi.

Nehemia 2: 1-12

Ayat-ayat tersebut mencatat “penerbitan keputusan untuk memulihkan dan membangun kembali Yerusalem” yaitu suatu hari pada masa yang akan datang, yang dinubuatkan Daniel. Dan kita lihat bahwa hal itu terjadi pada tahun ke-20 Kaisar Persia, Artahsasta, yang dikenal dengan baik dalam sejarah dan memulai pemerintahannya pada 465 SM. Dengan demikian, tahun ke-20 diterbitkannya keputusan tersebut jatuh pada tahun 444 SM. Gabriel (Jibril) telah mengirim pesan kepada nabi Daniel (AS) dan memberikan tanda dimulainya penghitungan. Hampir seratus tahun kemudian, Kaisar Persia, tanpa mengetahui nubuat Daniel ini, menerbitkan keputusan ini‒ dan dengan demikian memulai penghitungan, dan seperti telah ditulis sebelumnya bahwa hal ini akan menyatakan Yang Diurapi‒Masih.

Angka Tujuh yang Misterius

Pesan Gabriel (Jibril) yang diberikan kepada nabi Daniel mengindikasikan bahwa dibutuhkan “tujuh‘tujuh’ dan enam puluh dua ‘tujuh’”lalu kemudian Masih akan dinyatakan. Jadi apa yang dimaksud dengan ‘Tujuh’? Dalam Taurat Musa (AS), ada siklus tujuh tahun. Setiap tahun ke-7 tanah harus diistirahatkan, tidak ditanami, sehingga tanah bisa mengisi kembali unsur haranya. Jadi, ‘Tujuh’ adalah siklus 7 tahun. Dengan mengingat hal itu, kita lihat bahwa sejak dikeluarkannya keputusan, penghitungan akan datang dalam dua bagian. Bagian pertama adalah ‘tujuh tujuh’ atau tujuh periode 7 tahun. Hal ini berarti, 7 x 7 = 49 tahun, adalah waktu yang diperlukan untuk membangun kembali Yerusalem. Hal ini diikuti oleh enam puluh dua tujuh, sehingga total penghitungannya adalah 7 * 7 + 62 * 7 = 483 tahun. Dengan kata lain, sejak dikeluarkannya keputusan Artahsasta, akan ada 483 tahun sampai Masih dinyatakan.

Tahun yang terdiri dari 360 hari

Harus ada sedikit penyesuaian yang kita buat pada kalender. Seperti yang dilakukan oleh banyak bangsa pada zaman kuno, para nabi menggunakan perhitungan tahun yang lamanya 360 hari. Ada berbagai cara untuk menetapkan lamanya satu tahun dalam kalender. Kalender Barat (catatan: Kalender Solar) (berdasarkan revolusi matahari) adalah 365,24 hari, dan Kalender Muslim (catatan: Kalender Lunar) 354 hari (berdasarkan siklus bulan), dan yang digunakan Daniel adalah 360 hari. Jadi 483 tahun jika dihitung menggunakan Kalender ‘360 hari’ adalah 483 x 360 / 365.24 = 476 tahun (Kalender Solar).

Tahun Kedatangan Masih

Dengan informasi ini kita dapat menghitung kapan Masih seharusnya datang. Kita akan beralih dari era ‘SM’ ke era ‘M’ dan hanya ada 1 tahun dari 1SM – 1M (tidak ada tahun ‘nol’). Informasi untuk perhitungan ini dirangkum dalam tabel berikut:

Tahun mulai 444 SM (tahun ke-20 pemerintahan Artahsasta)
Lamanya waktu 476 tahun (Kalender Solar)
Perkiraan kedatangan menurut Kalender Barat (-444 + 476 + 1) (‘ditambah 1’ karena tidak ada tahun 0 M) = 33
Perkiraan tahun kedatangan 33 M

Dengan menunggang seekor keledai, Yesus dari Nazareth datang ke Yerusalem  pada waktu yang  dikenal luas sebagai perayaan hari Minggu Palem. Hari itu ia menyatakan dirinya dan memasuki Yerusalem sebagai Masih mereka. Itu tahun 33 M.

Nabi Daniel dan Nehemia, meskipun mereka tidak mengenal satu sama lain karena masa hidup mereka terpisah 100 tahun lamanya, dikoordinir oleh Allah untuk menerima nubuat dan memulai  penghitungan yang akan menyatakan Masih. Sekitar 570 tahun setelah nabi Daniel menerima pesannya dari Jibril, Isa memasuki Yerusalem sebagai Masih. Itu adalah ramalan yang sangat luar biasa dan penggenapan yang tepat. Bersamaan dengan prediksi nama Masih yang diberikan oleh nabi Zakharia, para nabi ini membentuk serangkaian prediksi yang benar-benar menakjubkan sehingga semua orang yang ingin tahu dapat melihat rencana Allah terbuka.

Namun, jika ramalan-ramalan Zabur ini begitu luar biasa, dan hal tersebut ditulis dalam Kitab Yahudi‒bukan Injil‒mengapa orang Yahudi tidak menerima Isa sebagai Masih? Bukankah semuanya itu ada dalam buku mereka! Kita pikir seharusnya hal ini sudah jelas, terutama berkaitan dengan prediksi yang begitu tepat dan tergenapi. Dalam memahami mengapa orang-orang Yahudi tidak menerima Isa sebagai Masih, kita akan mempelajari lebih lanjut beberapa hal yang luar biasa menyangkut kedatangan Dia yang sudah dinubuatkan oleh para nabi. Kita akan meninjau pertanyaan ini dalam artikel selanjutnya.

Tanda Tunas: Penamaan Masih Yang Akan Datang

Surah Al-Ahzab (Surah 33 ‒ Golongan Yang Bersekutu) memberikan solusi untuk situasi umum manusia‒bagaimana kita memanggil seseorang ketika kita tidak tahu nama mereka.

 Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Surah Al-Ahzab 33: 5

Hal ini mengingatkan kita bahwa pengetahuan manusia terbatas‒bahkan kita sering tidak tahu nama-nama orang di sekitar kita. Surah An-Najm (Surah 53‒Bintang) yang membahas beberapa berhala umum pada zaman Nabi Muhammad SAW (Lat, ‘Uzza, dan Manat) menyatakan:

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka.

Surah An-Najm 53: 23

Dewa-dewa palsu dinamai oleh orang-orang biasa. Ayat-ayat ini memberikan pedoman untuk memisahkan ibadah palsu dari ibadah yang benar. Mengingat, terkadang kita tidak mengetahui  nama-nama orang di sekitar kita, manusia tentu saja tidak dapat mengetahui nama seorang nabi yang datang jauh di masa depan. Jika nama Masih diberikan jauh sebelumnya maka hal ini akan menjadi pertanda bahwa inilah rencana sejati Allah dan bukan datang dari sesuatu yang salah. Di sini, kita melihat bagaimana nama Isa Almasih dinubuatkan.

Tanda dalam Sebuah Nama

Telah kita lihat bahwa Allah sudah menjanjikan Kerajaan yang Akan Datang. Kerajaan ini akan berbeda dari kerajaan-kerajaan manusia. Lihatlah berita hari ini dan perhatikan apa yang terjadi dalam kerajaan manusia. Pertempuran, korupsi, kekejaman, pembunuhan, yang kuat mengeksploitasi yang lemah‒hal-hal ini terjadi dalam semua kerajaan manusia baik mereka Muslim, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu maupun Sekularisme Barat. Permasalahan yang terdapat dalam semua kerajaan ini adalah bahwa kita yang hidup di dalamnya memiliki rasa haus yang tak berkesudahan‒sebagaimana kita lihat dengan Nabi Yeremia (AS)‒yang menuntun kita pada dosa dan segala permasalahan ini dalam segala bentuknya (yaitu korupsi, pembunuhan, pelecehan seksual, dll.) adalah hasil dari dosa. Jadi kendala utama yang menghambat kedatangan Kerajaan Allah adalah kita. Jika Allah mendirikan Kerajaan baru-Nya sekarang, tidak seorang pun dari kita yang dapat memasukinya karena dosa kita akan menghancurkan Kerajaan itu sama halnya menghancurkan kerajaan-kerajaan yang ada sekarang. Yeremia (AS) juga menubuatkan hari di mana Allah akan menegakkan suatu Perjanjian Baru. Perjanjian ini akan menjadi baru karena akan ditulis dalam hati kita dan bukan pada loh batu seperti Hukum Musa. Hal itu akan mengubah diri kita dari dalam ke luar untuk menjadikan kita layak sebagai warga Kerajaan ini.

Bagaimana hal ini akan terlaksana? Rencana Allah seperti harta terpendam. Namun, petunjuk telah disampaikan melalui pesan-pesan Zabur sehingga mereka yang mencari Kerajaan-Nya akan mengerti‒sementara yang lain, yang tidak tertarik, akan tetap tidak tahu. Kita melihat pesan-pesan tersebut sekarang. Rencana tersebut berpusat pada Masih yang akan datang (seperti yang kita lihat di sini = Mesias = Kristus). Kita telah melihat dalam Mazmur Zabur (diilhami oleh Raja Dawud) bahwa Masih yang dinubuatkan ini harus berasal dari garis Raja Dawud (lihat tinjauan di sini).

Nabi Yesaya tentang Pohon, Tunggul… dan Tunas

Nabi Yesaya (AS) mengungkapkan bagaimana rencana Allah ini akan terjadi. Kitab Yesaya dalam Zabur ditulis selama periode dinasti Kerajaan Dawud (sekitar 1000-600 SM). Ketika ditulis (750 SM), dinasti tersebut dan seluruh kerajaan Israil menyimpang‒disebabkan kehausan hati mereka.

When Isaiah lived
Dinasti Dawud – seperti Pohon

Yesaya (SAW) diilhami untuk menulis permohonan agar orang Israel kembali kepada Allah dan kepada praktik dan semangat Hukum Musa. Yesaya juga tahu bahwa pertobatan dan kembalinya ini tidak akan terjadi sehingga ia meramalkan bahwa bangsa Israel akan dihancurkan dan dinasti kerajaan akan hancur berkeping-keping.

Kami melihat di sini bagaimana ini terjadi. Dalam ramalannya ia menggunakan metafora atau gambar dinasti yang seperti pohon besar yang akan segera ditebang dan hanya tunggul yang tersisa. Ini terjadi sekitar 600 SM ketika Babel menghancurkan Yerusalem dan sejak saat itu tidak ada keturunan Raja David / Dawud pernah memerintah di Yerusalem.

Tetapi bersama dengan semua nubuat tentang kehancuran yang akan datang dalam bukunya ini, muncul pesan khusus ini:

“Tembakan akan muncul dari tunggul Isai; dari akarnya Cabang akan menghasilkan buah. Roh Tuhan akan bersemayam padanya – Roh kebijaksanaan dan pengertian, Roh nasihat dan kuasa, Roh pengetahuan.

Yesaya 11: 1-2
Dinasti Dawud (SAW) – sekarang menembak muncul dari tunggul mati

Jesse adalah ayah dari Raja David / Dawud, dan dengan demikian akar dari Dinasti. Karenanya, ‘tunggul Isai’ adalah ramalan kehancuran yang akan datang atas dinasti raja-raja dari David / Dawud. Tetapi Yesaya, sebagai seorang nabi, juga melihat melewati masa ini dan meramalkan bahwa meskipun tunggul (garis raja) akan terlihat mati, itu tidak akan sepenuhnya benar. Suatu hari di masa depan, sebuah pemotretan, yang dikenal sebagai Cabang, akan muncul dari tunggul yang sama yang dia nyatakan. Cabang ini disebut ‘dia’ sehingga Yesaya bernubuat tentang seorang pria yang akan datang dari garis keturunan Daud. Orang ini akan memiliki kualitas kebijaksanaan, kekuatan, dan pengetahuan seperti itu hanya dapat berasal dari Roh Allah yang bersandar padanya. Sekarang ingat bagaimana kita melihat bahwa Masih juga dinubuatkan datang dari garis keturunan Daud – ini yang paling penting. Cabang dan Masih keduanya dari David / Dawud? Mungkinkah ini dua gelar untuk orang yang akan datang yang sama? Mari kita terus menjelajah melalui Zabur.

Nabi Yeremia … tentang Ranting

Nabi Yeremia (SAW), datang 150 tahun setelah Yesaya, ketika dinasti Daud benar-benar ditebang di depan matanya sendiri menulis:

“Hari-hari akan datang,” demikianlah firman TUHAN, “pada waktu Aku akan membangkitkan bagi Daud Cabang yang adil, seorang Raja yang akan memerintah dengan bijak dan melakukan apa yang adil dan benar di negeri itu. Pada zamannya Yehuda akan diselamatkan dan Israel akan hidup dengan aman. Inilah nama yang dengannya dia disebut: TUHAN, Kebenaran kita ”.

Yeremia 23: 5-6

Yeremia (PBUH) langsung berlanjut dari nubuat Cabang yang dimulai oleh nabi Yesaya (PBUH) 150 tahun sebelumnya. Cabang akan menjadi Raja. Kami melihat bahwa Masih juga harus menjadi raja. Kesamaan antara Masih dan Cabang tumbuh.

Nabi Zakharia … memberi nama Cabang

Nabi Zakharia (AS) lanjut dengan pesan untuk kita. Dia hidup 520 SM, tepat setelah orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem dari pembuangan pertama mereka ke Babilonia, tetapi ketika mereka berada di bawah kekuasaan Persia.

The dynasty of Dawud - like a Tree

(Jangan bingung antara nabi Zakharia yang dimaksud di sini dan imam Zakharia yang adalah ayah Yahya/Yohanes Pembaptis. Nabi Zakharia hidup 500 tahun sebelum imam Zakharia, bahkan nama imam Zakharia diambil dari nama nabi Zakharia, sama seperti pada hari-hari ini, ada banyak orang bernama Muhammad dan nama mereka diambil dari Nabi Muhammad SAW). Pada waktu itu (520 SM) orang-orang Yahudi bekerja untuk membangun kembali bait suci mereka yang hancur dan mulai lagi mempersembahkan Kurban Harun (AS). Keturunan Harun yang adalah Imam Besar (dan hanya keturunan Harun yang bisa menjadi Imam Besar) pada zaman nabi Zakharia dipanggil Joshua (atau Yosua dalam Alkitab Terjemahan Baru, atau Yusak dalam Kitab Suci). Jadi pada waktu itu (sekitar 520 SM) Zakharia adalah nabi dan Joshua adalah Imam Besar. Inilah yang Allah nyatakan‒melalui nabi Zakharia‒tentang Imam Besar Joshua (atau Yosua dalam Alkitab Terjemahan Baru, atau Yusakdalam Kitab Suci):

“Dengarlah, hai Imam Besar Yusak, baik engkau maupun kawan-kawanmu yang duduk di hadapanmu-karena merekalah orang-orang yang menjadi lambang dari masa depan yang baik-sesungguhnya, Aku akan mendatangkan hamba-Ku, Sang Tunas. Lihatlah permata yang telah Kuletakkan di hadapan Yusak itu! …, demikianlah firman ALLAH, Tuhan semesta alam, dan Aku akan menghapuskan kesalahan negeri ini dalam satu hari saja.”

Zakharia 3: 8-9

Lagi-lagi Tunas! Namun kali ini dia juga disebut ‘hamba-Ku’. Dan dalam beberapa hal, Imam Besar Joshua adalah simbol dari Tunas yang akan datang ini. Dengan demikian Imam Besar Joshua adalah suatu Tanda. Tetapi dalam hal apa? Dan apa yang dimaksud dengan dalam ‘satu hari’ kesalahan akan dihapuskan oleh TUHAN (“Aku akan menghapus …”)? Kita lanjut dengan nabi Zakharia dan akan belajar sesuatu yang menakjubkan.

‘Turunlah firman ALLAH kepadaku demikian: “… [tentang] Imam Besar Joshua. Katakan kepadanya: Beginilah Firman Allah, Tuhan semesta alam, ‘Inilah orang yang bernama Tunas….’

Zakharia 6: 9-10

Perhatikan bahwa Joshua, sesungguhnya, adalah nama Tunas. Ingat apa yang sudah kita pelajari tentang transliterasi dan alih bahasa dari bahasa Ibrani ke bahasa Inggris. Di sini, kita membaca ‘Joshua’ karena kita membaca terjemahan bahasa Inggris. Tetapi siapa nama aslinya dalam bahasa Ibrani? Gambar di bawah ini memberitahu kita.

Dari Kuadran 1 -> 3 (seperti yang kita lakukan dalam memahami dari mana asal gelar ‘Mesias’ atau ‘Masih’) kita melihat bahwa nama ‘Joshua’ (‘Yosua’ dalam Alkitab Terjemahan Baru, ‘Yusak’dalam Kitab Suci) ditransliterasikan dari nama Ibrani ‘Yhowshuwa’. Nama ini ditransliterasikan ke ‘Joshua’ ketika Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Ingat pula bahwa Taurat/Zabur diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sekitar 250 SM. Ini adalah Kuadran 1 -> 2. Para penerjemah ini juga mentransliterasikan nama Ibrani ‘Yhowshuwa’ pada waktu mereka menerjemahkan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani. Transliterasi Yunani mereka adalah Iesous. Dengan demikian ‘Yhowshuwa’ dari Perjanjian Lama bahasa Ibrani disebut Iesous dalam Perjanjian Lama bahasa Yunani. Ketika Perjanjian Baru bahasa Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris nama Iesous ditransliterasikan menjadi ‘Jesus’. Dengan kata lain,  Masih = Mesias = Kristus = Yang Diurapi,

‘Yhowshuwa’ = Iesous = Joshua = Jesus (= Isa)

Seperti halnya nama Muhammad = محمد, Yosua (atau Yusakdalam Kitab Suci) = Yesus (atau Isa). Apa yang luar biasa, yang patut diketahui oleh semua orang? Yaitu bahwa 500 tahun sebelum Isa Almasih‒Nabi Injil‒hidup, hal ini telah dinubuatkan oleh nabi Zakharia bahwa nama Sang Tunas adalah Yesus (atau Isa‒transliterasi dari bahasa Arab). Yesus (atau Isa) adalah Sang Tunas! Sang Tunas dan Masih (atau Kristus) adalah dua gelar untuk orang yang sama! Tetapi mengapa dia membutuhkan dua gelar yang berbeda? Hal teramat penting apa yang akan dilakukannya? Para nabi Zabur kemudian menjelaskan lebih jauh dan lebih rinci ‒ dalam artikel berikutnya.