HARI PENGHAKIMAN: AT-TARIQ, AL ADIYAT, & SANG MASIH

Surat At-Tariq (Surat 86 – Sang Pendatang Malam) memperingatkan kita tentang Hari Penghakiman yang akan datang ketika:

Sungguh, Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup setelah mati).Pada hari ditampakkan segala rahasia,maka manusia tidak lagi mempunyai suatu kekuatan dan tidak (pula) ada penolong.

Surat At-Tariq 86: 8-10

Surat At-Tariq memberitahu kita bahwa Allah akan menyelidiki semua pikiran dan perbuatan kita yang memalukan dan kita rahasiakan. Tak ada yang bisa melindungi kita dari ujian penghakiman-Nya. Surat Al-Adiyat (Surat 100 – Sang Pemburu yang Berlari Kencang) pun menggambarkan hari yang sama ketika:

sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak bersyukur) kepada Tuhannyadan sesungguhnya dia (manusia) menyaksikan (mengakui) keingkarannya,dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihanMaka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan,dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan?sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Mahateliti terhadap keadaan mereka.

Surat Al-Adiyat 100: 6-11

Surat Al-Adiyat memperingatkan bahwa rahasia hidup kita yang memalukan sekalipun, yang selama ini kita tutup rapat-rapat, akan diumumkan karena Allah sangat mengenal apa yang kita lakukan.

Kita dapat menghindari pemikiran tentang Hari yang akan datang ini dan berharap bahwa kita bisa melewatinya. Namun Surat At-Tariq dan Al-Adiyat memiliki peringatan yang sangat jelas tentang Hari itu.

Apakah tidak lebih baik kalau kita mempersiapkannya? Namun bagaimana caranya?

Nabi Isa AlMasih AS datang bagi kita yang berusaha mempersiapkan diri untuk Hari itu. Dia berkata dalam Injil:

Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.
Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak,
supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.
Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia.

Yahya 5: 21-27

Nabi Isa AlMasih AS mengklaim wewenang yang agung – bahkan wewenang untuk mengawasi Hari Penghakiman. Hal ini terbukti dalam bagaimana Taurat Nabi Musa menubuatkan wewenangnya dari Penciptaan dunia dalam enam hari. Penulis Zabur dan nabi-nabi berikutnya menubuatkan rincian tentang kedatangannya. Hal ini membuktikan bahwa ia telah diberi wewenang ini oleh Allah. Apa yang dimaksud oleh Nabi Isa dengan, “Barangsiapa yang mendengar firman-ku dan percaya bahwa Dia yang mengutus aku, memiliki hidup yang kekal dan tidak akan dihukum”? Kita bisa melihatnya di sini.

Nabi Isa al Masih (AS) melakukan Haji

Surat Al Haj [22] memberi tahu kita bahwa tata cara dan upacara yang berbeda telah diberikan pada waktu yang berbeda. Bukanlah tentang pengorbanan daging tertentu yang penting, tetapi apa yang ada di dalam diri kita yang paling penting.

Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah hati mereka berge-tar, orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang yang melaksanakan shalat dan orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka.Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk-mu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) da-lam keadaan berdiri dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah seba-giannya dan berilah makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur37Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demi-kianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik

Surat Al Haj 22: 34,37

Air adalah bagian penting dari tatanan dan upacara haji karena para peziarah berusaha untuk minum air sumur Zam Zam. Tetapi Surat Al-Mulk [67] menanyakan kepada kita pertanyaan penting

Katakanlah (Muhammad), “Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?”

Surat Al Mulk6 7: 30

Nabi Isa al Masih AS menjawab pertanyaan ini dalam ziarah Yahudi yang ditahbiskan oleh Nabi Musa AS. Kita lihat ini di sini melalui kacamata haji.

Ziarah haji sudah dikenal dengan baik. Apa yang kurang diketahui adalah bahwa hukum Syariah Musa (AS), yang diterima 3500 tahun yang lalu, juga mengharuskan orang-orang beriman Yahudi untuk melakukan ziarah suci ke Yerusalem (Al-Quds) setiap tahun. Satu ziarah disebut Hari Raya Tabernakel (atau Sukkot). Ziarah ini memiliki banyak kemiripan dengan ibadah haji saat ini. Sebagai contoh, kedua ziarah ini berada pada minggu tertentu dari kalender, keduanya melibatkan pengorbanan hewan, keduanya melibatkan memperoleh air khusus (seperti zamzam), keduanya melibatkan tidur di luar, dan keduanya terlibat berbaris di sekitar bangunan suci tujuh kali. Hari Raya Tabernakel adalah seperti ibadah haji bagi orang Yahudi. Saat ini, orang-orang Yahudi masih merayakan Hari Raya Tabernakel tetapi melakukannya sedikit berbeda karena Kuil mereka di Yerusalem dihancurkan oleh bangsa Romawi pada tahun 70 Masehi.

Injil mencatat bagaimana Nabi Isa al Masih (AS) melakukan ziarah – ‘Haji’ nya. Pernyataan tersebut dicatat dengan beberapa penjelasan.

Yesus Pergi ke Hari Raya Tabernakel (Yohanes 7)

1 Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya.

2 Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.

3 Maka kata saudara-saudara Yesus kepada-Nya: “Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan.

4 Sebab tidak seorangpun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia.”

5 Sebab saudara-saudara-Nya sendiripun tidak percaya kepada-Nya.

Yohanes 7: 1-5

Saudara-saudara Isa al Masih memperlakukan nabi dengan sindiran kasar karena mereka tidak percaya kepadanya. Tetapi sesuatu terjadi kemudian yang mengubah pikiran mereka karena dua saudara lelakinya, Yakobus dan Yudas, kemudian menulis surat (disebut Yakobus dan Yudas) yang merupakan bagian dari Perjanjian Baru (Injil). Apa yang mengubah mereka? Kebangkitan Isa al Masih.

6 Maka jawab Yesus kepada mereka: “Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu.

7 Dunia tidak dapat membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, sebab Aku bersaksi tentang dia, bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat.

8 Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap.”

9 Demikianlah kata-Nya kepada mereka, dan Iapun tinggal di Galilea.

10 Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam.

11 Orang-orang Yahudi mencari Dia di pesta itu dan berkata: “Di manakah Ia?”

12 Dan banyak terdengar bisikan di antara orang banyak tentang Dia. Ada yang berkata: “Ia orang baik.” Ada pula yang berkata: “Tidak, Ia menyesatkan rakyat.”

13 Tetapi tidak seorangpun yang berani berkata terang-terangan tentang Dia karena takut terhadap orang-orang Yahudi.

14 Waktu pesta itu sedang berlangsung, Yesus masuk ke Bait Allah lalu mengajar di situ.

15 Maka heranlah orang-orang Yahudi dan berkata: “Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar!”

16 Jawab Yesus kepada mereka: “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.

17 Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.

18 Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya.

19 Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat kepadamu? Namun tidak seorangpun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu. Mengapa kamu berusaha membunuh Aku?”

20 Orang banyak itu menjawab: “Engkau kerasukan setan; siapakah yang berusaha membunuh Engkau?”

21 Jawab Yesus kepada mereka: “Hanya satu perbuatan yang Kulakukan dan kamu semua telah heran.

22 Jadi: Musa menetapkan supaya kamu bersunat–sebenarnya sunat itu tidak berasal dari Musa, tetapi dari nenek moyang kita–dan kamu menyunat orang pada hari Sabat!

23 Jikalau seorang menerima sunat pada hari Sabat, supaya jangan melanggar hukum Musa, mengapa kamu marah kepada-Ku, karena Aku menyembuhkan seluruh tubuh seorang manusia pada hari Sabat.

24 Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.”

25 Beberapa orang Yerusalem berkata: “Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh?

26 Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus?

27 Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorangpun yang tahu dari mana asal-Nya.”

Yohanes 7: 6-27

Perdebatan pada masa itu di antara orang-orang Yahudi adalah apakah Nabi Isa (AS) adalah Al Masih atau tidak. Beberapa orang Yahudi percaya bahwa tempat asal Al Masih berasal tidak diketahui. Karena mereka tahu dari mana asalnya, oleh karena itu mereka berpikir bahwa ia tidak mungkin menjadi Al Masih. Jadi dari mana mereka mendapatkan kepercayaan bahwa asal usul Al Masih tidak akan diketahui? Dari Taurat?

Tulisan para Nabi? Bukan sama sekali !! Para nabi dengan jelas menyatakan dari mana Al Masih akan datang. Nabi Mikha (AS) pada 700 SM telah menulis itu

   2 Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.

Mikha5: 2

Ramalan ini (lihat di sini untuk perincian lebih lanjut) telah menyatakan bahwa penguasa (= Masih) akan datang dari Betlehem. Kita lihat dalam kelahiran Al Masih bahwa dia memang lahir di Betlehem seperti yang diperkirakan 700 tahun sebelum kelahirannya.

Itu hanya tradisi keagamaan waktu itu yang mengatakan bahwa tempat asal Al Masih berasal tidak akan diketahui. Mereka membuat kesalahan karena mereka tidak menilai berdasarkan apa yang ditulis para nabi tetapi sebaliknya menilai berdasarkan pendapat jalanan, ide-ide yang keluar di zaman mereka – bahkan ide-ide yang keluar dari para cendekiawan agama. Kita tidak berani melakukan kesalahan yang sama.

Pernyataan berlanjut …

27 Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorangpun yang tahu dari mana asal-Nya.”

7:28 Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal.

7:29 Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.”

7:30 Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.

7:31 Tetapi di antara orang banyak itu ada banyak yang percaya kepada-Nya dan mereka berkata: “Apabila Kristus datang, mungkinkah Ia akan mengadakan lebih banyak mujizat dari pada yang telah diadakan oleh Dia ini?”

7:32 Orang-orang Farisi mendengar orang banyak membisikkan hal-hal itu mengenai Dia, dan karena itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi menyuruh penjaga-penjaga Bait Allah untuk menangkap-Nya.

7:33 Maka kata Yesus: “Tinggal sedikit waktu saja Aku ada bersama kamu dan sesudah itu Aku akan pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku.

7:34 Kamu akan mencari Aku, tetapi tidak akan bertemu dengan Aku, sebab kamu tidak dapat datang ke tempat di mana Aku berada.”

7:35 Orang-orang Yahudi itu berkata seorang kepada yang lain: “Ke manakah Ia akan pergi, sehingga kita tidak dapat bertemu dengan Dia? Adakah maksud-Nya untuk pergi kepada mereka yang tinggal di perantauan, di antara orang Yunani, untuk mengajar orang Yunani?

7:36 Apakah maksud perkataan yang diucapkan-Nya ini: Kamu akan mencari Aku, tetapi kamu tidak akan bertemu dengan Aku, dan: Kamu tidak dapat datang ke tempat di mana Aku berada?”

7:37 Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!

7:38 Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”

7:39 Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.

Yohanes 7: 27-39

Pada Hari Raya ini orang-orang Yahudi tersebut akan mengambil air dari mata air khusus di selatan Yerusalem dan masuk ke kota melalui ‘gerbang air’ dan membawa air ke altar di rumah suci. Ketika mereka melakukan upacara air suci ini Nabi Isa al Masih (AS) berseru, seperti yang dia katakan sebelumnya, bahwa dia adalah sumber ‘Air Kehidupan’. Dengan mengatakan ini dia mengingatkan mereka tentang kehausan di hati kita yang mengarah pada dosa yang ditulis oleh para nabi.

40 Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkata itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.”

41 Yang lain berkata: “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea!

42 Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.”

43 Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia.

44 Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuh-Nya.

Yohanes 7: 40-44

Saat itu, sama seperti hari ini, orang-orang terbelah tentang Nabi Isa al Masih (AS). Seperti yang kita lihat di atas, para nabi telah meramalkan kelahiran Al Masih berada di Betlehem (tempat Isa dilahirkan). Tetapi bagaimana dengan pertanyaan tentang Al Masih yang tidak datang dari Galilea ini? Nabi Yesaya (AS) telah menulis pada 700 SM itu

1 Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu TUHAN merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain.

2Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.

Yesaya 9: 1-2

Para nabi telah meramalkan bahwa Al Masih akan memulai pengajarannya (cahaya telah menyingsing) di ‘Galilea’ – tempat di mana Isa memang memulai pengajarannya dan melakukan sebagian besar mukjizatnya. Lagi-lagi orang-orang salah karena mereka tidak dengan cermat mempelajari para nabi dan sebaliknya hanya percaya pada apa yang secara umum diterima.

45 Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?”

46 Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!”

47 Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: “Adakah kamu juga disesatkan?

48 Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi?

49 Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!”

50 Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka:

51 “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?”

52 Jawab mereka: “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.”

Yohanes 7: 45-52

Para ahli dalam Hukum Taurat sepenuhnya salah karena Yesaya telah bernubuat bahwa pencerahan akan datang dari ‘Galilea’.

Dua pelajaran muncul dari kisah ini. Pertama sangat mudah untuk melakukan kegiatan keagamaan kita dengan penuh semangat tetapi berbekal dengan sedikit pengetahuan. Apakah vonis ini juga benar untuk kita?

  Karena saya dapat bersaksi tentang mereka bahwa mereka bersemangat untuk Tuhan, tetapi semangat mereka tidak berdasarkan pada pengetahuan.

Roma 10: 2

Kita perlu mempelajari apa yang ditulis para nabi untuk mendapat informasi yang benar.

Kedua, Nabi Isa al Masih (AS) mengajukan penawaran. Dia mengatakan pada haji mereka bahwa

37 Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!

38 Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”

Yohanes 7: 37-38

Tawaran ini diberikan kepada ‘siapa saja’ (dengan demikian tidak hanya untuk orang Yahudi, atau Kristen, dll.) yang ‘haus’. Apakah kamu haus? (di sini). Adalah baik untuk meminum dari zamzam. Mengapa tidak minum dari Al Masih yang dapat memuaskan dahaga batin kita?

Isa al Masih mengajar tentang pengampunan

Surat Al Ghafur (Surah 40) mengajarkan bahwa Allah mengampuni

 yang mengampuni dosa dan menerima tobat dan keras hukuman-Nya; yang memiliki karunia. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nyalah (semua makhluk) kembali.(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka yang menyala-nyala.

Surat Al Ghafur 40: 3 & 7

Surat Al-Hujurat (Surah 49) memberitahu kita untuk menjaga perdamaian antara satu sama lain untuk menerima rahmat ini.

 Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.

Surah Al-Hujurat 49:10

Isa al Masih mengajarkan tentang pengampunan dari Allah, dan juga mengaitkannya dengan saling memaafkan.

Isa al Masih tentang memaafkan orang lain

Ketika saya menonton berita dunia, tampaknya pertumpahan darah dan kekerasan meningkat semuanya. Pemboman di Afghanistan, pertempuran di Lebanon, Suriah dan Irak, kekerasan di Mesir, pembunuhan di Pakistan, kerusuhan di Turki, penculikan sekolah di Nigeria, perang dengan Palestina dan Israel, kota-kota yang dibantai di Kenya – dan ini hanya apa yang saya dengar tanpa melihat untuk menemukan berita buruk. Di atas semua itu ada banyak dosa, sakit hati, dan keluhan yang kita timbulkan satu sama lain yang tidak menjadi berita utama – tetapi tetap saja menyakiti kita. Pada hari pembalasan dan penghukuman ini, ajaran Isa al Masih tentang pengampunan adalah yang paling penting. Suatu hari murid-muridnya bertanya kepadanya berapa kali mereka harus mengampuni. Ini adalah catatan dari Injil

Zəhmətkeş qulluqçunun hekayəsi

21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”

22 Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.

24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.

25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.

18:26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.

18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!

29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.

30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.

31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.

32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.

33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?

34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Matius18:21-35

Inti dari kisahnya adalah bahwa jika kita telah menerima rahmat-Nya, Allah (Raja) sangat mengampuni kita. Ini dilambangkan dengan sepuluh ribu kantong emas yang berhutang kepadanya oleh pelayan. Pelayan itu menyatakan bahwa dia membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengembalikannya. Tapi itu jumlah yang terlalu besar untuk dibayar, jadi Raja hanya membatalkan seluruh utangnya. Inilah yang Allah lakukan untuk kita jika kita menerima rahmat-Nya.

Tetapi kemudian hamba yang sama ini menemukan hamba lain yang berhutang kepadanya seratus koin perak. Dia menuntut pembayaran penuh dan tidak akan memberi pelayan lain lebih banyak waktu. Ketika kita berdosa satu sama lain ada luka dan kerusakan, tetapi dibandingkan dengan bagaimana dosa kita telah berduka dan melukai Allah, itu tidak signifikan – seperti 100 keping perak dibandingkan dengan sepuluh ribu kantong emas.

Jadi Raja (Allah) kemudian mengirim pelayan ke penjara untuk membayar semuanya. Dalam ajaran Isa al Masih, untuk tidak mengampuni dosa dan keluhan yang dilakukan orang terhadap kita berarti kehilangan pengampunan Allah dan menghukum diri kita ke neraka. Tidak ada yang lebih serius.

Tantangannya adalah menjaga semangat pengampunan ini. Ketika seseorang telah menyakiti kita, keinginan untuk membalas bisa sangat besar. Jadi bagaimana kita bisa mendapatkan semangat yang bisa memaafkan ini? Kita perlu terus menggali Injil.

Al Masih mengajar tentang Kesucian Batin

Seberapa pentingkah untuk menjadi suci? Surah An-Nisa’ (Surat 4) menyatakan

  Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati shalat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub). Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.

Surat-Nisa’4: 43

Perintah dalam Surah An-Nisa’ adalah membersihkan wajah dan tangan kita dengan tanah suci sebelum salat. Kesucian luar itu penting.

Surah Asy-Syamsi (Surah 91) juga memberi tahu kita bahwa jiwa kita – diri batin kita sama pentingnya.

demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya,maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.

Surat Asy-Syamsi 91: 7-10

Surah Asy-Syamsi memberi tahu kita bahwa jika jiwa kita, atau batin kita, disucikan, maka kita telah berhasil, sedangkan jika jiwa kita rusak maka kita telah gagal. Isa al Masih AS juga mengajarkan tentang Kebersihan dalam dan luar.

Kita lihat bagaimana kata-kata Isa al Masih (AS) memiliki kekuatan mengajar dengan otoritas, untuk menyembuhkan orang, dan bahkan untuk mengendalikan alam. Dia juga mengajarkan untuk membuka kondisi hati kita – untuk menyebabkan kita memeriksa batin kita dan juga bagian luarnya. Kita akrab dengan kebersihan luar, itulah sebabnya wudhu sebelum salat dilakukan dan mengapa makan daging halal dilakukan. Nabi Muhammad (SAW), menurut hadits mengatakan itu

“Kebersihan adalah setengah dari iman …”

Muslim Bab 1 Buku 002, Nomor 0432

Nabi Isa al Masih (AS) juga ingin kita berpikir tentang separuh lainnya – yaitu kebersihan batin kita. Ini penting karena meskipun manusia dapat melihat kebersihan luar orang lain, karena Allah itu berbeda – Dia juga melihat bagian dalam. Ketika salah satu raja Yehuda yang secara lahiriah menjalankan semua kewajiban agama, tetapi hatinya tidak bersih, nabi pada waktu itu datang dengan pesan ini:

Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan.”

2 Tawarikh 16: 9

Seperti yang dinyatakan oleh pesan itu, kebersihan batin berkaitan dengan ‘hati’ kita – yaitu ‘Anda’ yang berpikir, merasakan, memutuskan, menyerahkan atau tidak mematuhi, dan mengendalikan lidah. Para nabi Zabur mengajarkan bahwa kehausan hati kita adalah akar dari dosa kita. Hati kita sangat penting sehingga Isa al Masih (AS) menekankan hal ini dalam ajarannya dengan membandingkannya dengan kebersihan luar kita. Inilah cara Injil mencatat waktu yang berbeda yang ia ajarkan tentang kebersihan dalam diri:

 Bersihkan Bagian Dalam dan Bagian Luar

(‘Orang-orang Farisi’ disebutkan di sini. Mereka adalah guru-guru Yahudi pada hari itu, mirip dengan para imam hari ini. Isa menyebutkan memberikan ‘sepersepuluh’ kepada Allah. Ini adalah Zakat Yahudi yang disyaratkan.)

37 Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan.

38 Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.

39 Tetapi Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.

40 Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?

41 Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.

42 Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

43 Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.

44 Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Lukas11: 37-44

Menyentuh mayat membuat seorang Yahudi najis menurut Hukum. Ketika Isa AS berkata bahwa orang-orang berjalan di ‘kuburan tanpa tanda’, yang ia maksudkan adalah mereka najis tanpa mereka bahkan ‘mengetahuinya’ karena mereka mengabaikan kesucian batin. Jika kita mengabaikan ini kita bisa menjadi najis seperti orang yang tidak percaya yang tidak memperhatikan kebersihan.

Hati menajiskan orang yang bersih agama

Dalam ajaran berikut, Isa al Masih (AS) mengutip dari nabi Yesaya (PBUH) yang hidup 750 SM. (klik di sini untuk informasi tentang Yesaya)

1 Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata:

2 “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”

3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?

4 Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati.

5 Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah,

16 orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.

7 Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu:

8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.

9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”

10 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka:

11 “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

12 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: “Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?”

13 Jawab Yesus: “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya.

14 Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.”

15 Lalu Petrus berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah perumpamaan itu kepada kami.”

16 Jawab Yesus: “Kamupun masih belum dapat memahaminya?

15:17 Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban?

18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.

19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

20 Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.”

Matius15: 1-20

Dalam pertemuan ini, Isa al Masih (AS) menunjukkan bahwa kita cepat membangun kewajiban agama kita dari ‘tradisi manusia’ daripada dari pesan Tuhan. Pada masa nabi, para pemimpin Yahudi mengabaikan kewajiban mereka di hadapan Allah untuk merawat orang tua mereka dengan memberikan uang mereka untuk tujuan keagamaan alih-alih membantu orang tua mereka.

Hari ini kita menghadapi masalah yang sama yaitu mengabaikan kesucian batin. Tapi Allah sangat peduli dengan kenajisan yang datang dari hati kita. Kenajisan ini akan menghasilkan kutukan kita pada Hari Pengadilan jika tidak dibersihkan.

Indah di Luar tetapi di Dalam penuh dengan kejahatan

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.

26 Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

27 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.

28 Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.

Matius23: 25-28

Isa al Masih (AS) menyatakan apa yang telah kita semua lihat. Mengikuti kebersihan lahiriah bisa sangat umum di antara orang-orang percaya kepada Tuhan, tetapi banyak yang masih penuh dengan keserakahan dan kesenangan di dalam batin – bahkan mereka yang secara agama penting. Menggapai kesucian batin itu perlu – tetapi jauh lebih sulit. Allah akan menilai kesucian batin kita dengan sangat hati-hati. Jadi masalah ini muncul dengan sendirinya: Bagaimana kita membersihkan hati kita sehingga kita dapat memasuki Kerajaan Allah pada Hari Penghakiman? Kita lanjutkan dalam Injil untuk mendapatkan jawabannya.

Nabi Isa (AS) menyembuhkan: Dengan Otoritas Kata

Surah ‘Abasa (Surah 80) mencatat Nabi Muhammad SAW bertemu dengan seorang buta.

  Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling,karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum)Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa),

Surat ‘Abasa80: 1-3

Meskipun ada kesempatan untuk pemahaman spiritual, Nabi Muhammad SAW tidak menyembuhkan orang buta itu. Nabi Isa al Masih AS adalah unik di antara para nabi dalam hal dia bisa dan memang menyembuhkan orang buta. Dia memiliki otoritas yang tidak ditunjukkan oleh nabi lain, bahkan nabi seperti Nabi Musa (AS), Nabi Ibrahim (AS) dan Nabi Muhammad (SAW). Dia adalah satu-satunya nabi yang pernah memiliki wewenang untuk memenuhi tantangan khusus yang diberikan dalam Surah Ghafir (Surah 43)

Maka apakah engkau (Muhammad) dapat menjadikan orang yang tuli bisa mendengar, atau (dapatkah) engkau memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?

Surat Ghafir43: 40

Surah Al-Maidah (Surah 5) menggambarkan keajaiban Isa al Masih seperti ini:

Dan ingatlah ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan Rohulkudus. Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. Dan ingatlah ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) Hikmah, Taurat dan Injil. Dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) di kala waktu engkau mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”

al-Maidah, Surah5: 110

Surah Ali-Imran (Surat 3) lebih lanjut menggambarkan otoritasnya dalam mukjizat

Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil (dia berkata), “Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman.Dan sebagai seorang yang membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan agar aku menghalalkan bagi kamu sebagian dari yang telah diharamkan untukmu. Dan aku datang kepadamu membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

Surat Al-Imran3:49-50

Orang buta melihat, orang kusta sembuh, orang mati dibangkitkan! Itulah sebabnya Surah al-Maidah (5: 110) mengatakan Isa al Masih AS menunjukkan ‘tanda-tanda yang jelas’ dan Surat Al-Imran (3: 49-50) menyatakan bahwa Tanda-Nya adalah ‘untuk Anda’ dari Tuhanmu. Tidakkah bodoh untuk mengabaikan arti dari tanda-tanda yang kuat ini?

Sebelumnya kita lihat bahwa Nabi Isa al Masih (AS) mengajar dengan otoritas besar, menggunakan otoritas yang hanya dimiliki oleh Al Masih. Tepat setelah selesai mengajarkan Khotbah di Bukit Injil ini mencatat bahwa:

1 Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia.2 Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”

3 Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.4 Lalu Yesus berkata kepadanya: “Ingatlah,jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”

(Matius8: 1-4)

Nabi Isa (AS) sekarang menunjukkan otoritasnya dengan menyembuhkan seorang pria dengan penyakit kusta. Dia hanya mengatakan ‘Bersihkan’ dan dia telah dibersihkan dan disembuhkan. Kata-katanya memiliki wewenang untuk menyembuhkan serta mengajar.

Kemudian Isa (AS) bertemu dengan ‘musuh’. Roma adalah penjajah tanah Yahudi yang dibenci pada waktu itu. Orang-orang Yahudi memandang orang-orang Romawi pada waktu itu seperti bagaimana perasaan sebagian orang Palestina terhadap orang Israel dewasa ini. Yang paling dibenci (oleh orang Yahudi) adalah tentara Romawi yang sering menyalahgunakan kekuasaan mereka. Yang lebih buruk lagi adalah para petugas militer Romawi – ‘perwira Romawi‘ yang memerintahkan para prajurit ini. Isa (AS) sekarang menghadapi ‘musuh’ yang dibenci tersebut. Inilah cara mereka bertemu:

Isa al Masih (AS) dan Seorang Perwira Romawi

5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:6 “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.”

7 Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.”

8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”

10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Matius8:5-13

Kata-kata Masih memiliki otoritas sedemikian rupa sehingga ia hanya mengucapkan perintah dan itu terjadi dari kejauhan! Tetapi yang membuat Isa (AS) terkagum-kagum adalah bahwa hanya ‘musuh’ kafir ini yang memiliki iman untuk mengakui kekuatan Firman-Nya – bahwa Masih memiliki wewenang untuk Mengatakan dan itu akan terjadi. Orang itu kita berharap tidak memiliki iman (karena dia berasal dari orang yang ‘salah’ dan agama ‘salah’), dari kata-kata Isa (AS), suatu hari akan bergabung dalam pesta surgawi dengan Ibrahim dan orang-orang benar lainnya, sementara orang-orang dari agama yang ‘benar’ dan orang-orang yang ‘benar’ tidak akan melakukannya. Isa (AS) memperingatkan kita bahwa bukan agama atau warisan yang menjamin surga.

Yesus membangkitkan anak perempuan seorang pemimpin sinagog yang mati

Ini tidak berarti bahwa Isa al Masih (AS) tidak menyembuhkan para pemimpin Yahudi. Faktanya, salah satu mukjizatnya yang paling kuat adalah membangkitkan putrinya yang sudah mati dari seorang pemimpin sinagog. Injil mencatatnya seperti ini:

  

40 Ketika Yesus kembali, orang banyak menyambut Dia sebab mereka semua menanti-nantikan Dia.41 Maka datanglah seorang yang bernama Yairus. Ia adalah kepala rumah ibadat. Sambil tersungkur di depan kaki Yesus ia memohon kepada-Nya, supaya Yesus datang ke rumahnya,42 karena anaknya perempuan yang satu-satunya, yang berumur kira-kira dua belas tahun, hampir mati. Dalam perjalanan ke situ Yesus didesak-desak orang banyak.

43 Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun.44 Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya.45 Lalu kata Yesus: “Siapa yang menjamah Aku?” Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: “Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.”46 Tetapi Yesus berkata: “Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku.”47 Ketika perempuan itu melihat, bahwa perbuatannya itu ketahuan, ia datang dengan gemetar, tersungkur di depan-Nya dan menceriterakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Dia dan bahwa ia seketika itu juga menjadi sembuh.48 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”49 Ketika Yesus masih berbicara, datanglah seorang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: “Anakmu sudah mati, jangan lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru!”

50 Tetapi Yesus mendengarnya dan berkata kepada Yairus: “Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat.”

51 Setibanya di rumah Yairus, Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut masuk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus dan ayah anak itu serta ibunya.52 Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi Yesus berkata: “Jangan menangis; ia tidak mati, tetapi tidur.”

53 Mereka menertawakan Dia, karena mereka tahu bahwa anak itu telah mati.
54 Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: “Hai anak bangunlah!”55 Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan.56 Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi itu.

Lukas8: 40-56)

Sekali lagi, hanya dengan Perintah Kata, Yesus membangkitkan seorang gadis muda dari kematian. Bukan agama atau kurangnya agama, menjadi Yahudi atau bukan, yang membuat Isa al Masih (AS) tidak melakukan mukjizat untuk menyembuhkan orang. Di mana pun ia menemukan iman, terlepas dari jenis kelamin, ras, atau agama mereka, ia akan menjalankan wewenang untuk menyembuhkan.

Isa al Masih (AS) menyembuhkan banyak orang, termasuk para teman

Injil juga mencatat bahwa Isa (AS) pergi ke rumah Peter, yang nantinya akan menjadi pembicara utama di antara 12 muridnya (sahabat). Ketika dia sampai di sana dia melihat kebutuhan dan melayani. Seperti ada tertulis:

  14 Setibanya di rumah Petrus, Yesuspun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam.

15 Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Iapun bangunlah dan melayani Dia.

16 Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit.

17 Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”

Matius 8: 14-17

Dia memiliki otoritas atas roh-roh jahat yang dia usir dari orang-orang hanya ‘dengan sepatah kata‘. Injil kemudian mengingatkan kita bahwa Zabur telah meramalkan bahwa penyembuhan ajaib akan menjadi tanda kedatangan Masih. Kenyataannya nabi Yesaya (AS) juga telah bernubuat di bagian lain dengan berbicara atas nama Masih yang akan datang bahwa:

 1 Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara,
2 untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung,
3 untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka “pohon tarbantin kebenaran”, “tanaman TUHAN” untuk memperlihatkan keagungan-Nya.

Yesaya61: 1-3

Nabi Yesaya telah meramalkan (750 SM) bahwa Masih akan membawa ‘kabar baik‘ (= ‘Injil’) kepada orang miskin dan menghibur, membebaskan dan melepaskan orang. Mengajar, menyembuhkan orang sakit, dan membangkitkan orang mati adalah cara-cara nabi Isa (AS) memenuhi nubuat ini. Dan dia melakukan semua ini hanya dengan mengucapkan Firman otoritas kepada orang-orang, kepada penyakit, kepada roh-roh jahat dan bahkan kepada mati itu sendiri. Inilah mengapa Surah Al-Imran memanggilnya:

(Ingatlah), ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (fir-man) dari-Nya (yaitu seorang putra), namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)

Surat3: 45 Al-Imran

Dan Injil, juga mengatakan tentang Isa AS

… dan namanya adalah Firman Tuhan.

Penyingkapan 19:13

Nabi Isa (AS), sebagai al Masih, memiliki otoritas berbicara sedemikian rupa sehingga ia juga disebut ‘Kata-kata dari Tuhan’ dan ‘Kata-kata Tuhan’. Karena inilah yang disebutnya dalam Kitab-Kitab Suci, kita bijaksana untuk menghormati dan mematuhi ajarannya. Selanjutnya kita lihat bagaimana Alam menaati Firman nya.