Sejauh Mana Kita Perlu Menaati Hukum Taurat?

Kadang-kadang, saya ditanya apakah Allah benar-benar mengharapkan dan menuntut ketaatan100% dari kita? Kita bisa berdebat dengan sesama kita mengenai hal ini, tetapi Allah sendiri yang akan menjawabnya, bukan kita. Oleh karena itu, saya mengutip ayat-ayat dari Kitab Taurat yang berbicara tentang tuntutan tingkat ketaatan kita terhadap Hukum Taurat. Berikut adalah ayat-ayatnya. Perhatikan betapa banyak dan jelasnya ayat-ayat tersebut. Ayat-ayat tersebut penuh dengan frasa seperti “melakukan dengan setia”, “SELURUH perintah”, “segenap hati”, “berpegang pada perintah-perintah”, “segala sesuatu”, “semua peringatan”, “taat sepenuhnya”, “segala perkataan”, dan “mendengarkan seluruhnya”.

Standar ketaatan 100% ini tidak pernah berubah pada masa nabi-nabi yang datang kemudian. Isa Almasih (AS) dalam Kitab Injil berkata,

Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. (Matius 5:17-19)

Dan Nabi Muhammad (SAW) dalam hadis berkata,

Diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Umar: Sekelompok orang Yahudi datang dan mengundang Rasulullah (SAW) ke Quff. … Mereka berkata: ‘AbulQasim, salah satu dari orang-orang kami telah melakukan percabulan terhadap seorang wanita; maka hukuman apa yang dijatuhkan mereka ‘. Mereka menempatkan bantal untuk Rasulullah (SAW) yang duduk di atasnya dan berkata: “Bawa Taurat”. Kemudian dibawa. Dia kemudian menarik kembali bantal dari bawahnya dan ditempatkan Taurat di atasnya dan mengatakan:“. Saya percaya kepadamu dan kepada-Nya yang mengungkapkan kepadamu”. (Sunan Abu Dawud Book 38, No. 4434)

Dengan demikian, hal ini menjadi jelas. Allah menyiapkan Firdaus‒suatu tempat yang sempurna dan suci‒di mana Dia berada. Tidak ada sistem keamanan yang diperlukan pada zaman sekarang‒seperti polisi, tentara, atau kunci‒untuk melindungi diri kita dari akibat dosa kita satu sama lain. Itu sebabnya, tempat itu adalah Firdaus. Supaya tempat tersebut tetap sempurna, maka hanya orang yang sempurna yang bisa memasukinya‒yaitu mereka yang melakukan “semua” perintah, “senantiasa”, “dengan sepenuhnya”, dan “dalam segala hal”.

Demikianlah yang diajarkan oleh Kitab Taurat tentang sejauh mana tingkat ketaatan yang dituntut dari kita terhadap Hukum Taurat:

  • Imamat 18:4 Taatilah hukum-hukum-Ku dan lakukanlah apa yang Kuperintahkan. Akulah TUHAN Allahmu.
  • Imamat 18:5 Taatilah peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang Kuberikan kepadamu. Kalau kamu berbuat begitu, hidupmu selamat. Akulah TUHAN.”
  • Imamat 25:18 Taatilah semua hukum dan perintah TUHAN, supaya kamu hidup dengan aman di negeri itu.
  • Imamat 26:3-4 Kalau kamu hidup menurut peraturan-peraturan-Ku dan mentaati perintah-perintah-Ku, Aku akan menurunkan hujan pada waktunya, sehingga tanah memberi hasil dan pohon-pohon berbuah.
  • Bilangan 15:39 Rumbai-rumbai adalah untuk peringatan: Setiap kali kamu melihatnya, kamu ingat akan segala perintah-Ku dan mentaatinya. Dan karena itu kamu tidak akan melupakan Aku untuk mengikuti keinginan dan hasratmu sendiri.
  • Bilangan 15:40 Rumbai-rumbai itu akan mengingatkan kamu untuk mentaati semua perintah-Ku, sehingga kamu benar-benar menjadi milik-Ku.
  • Ulangan 5:27 Sebab itu, pergilah Musa, dengarkan segala yang dikatakan TUHAN Allah kita, lalu sampaikanlah kepada kami apa yang dikatakan-Nya kepadamu. Kami akan mendengarkan dan taat.’
  • Ulangan 11:1 “Cintailah TUHAN Allahmu, dan taatilah selalu segala perintah-Nya.
  • Ulangan 11:13 Jadi taatilah perintah-perintah yang saya sampaikan kepadamu hari ini; cintailah TUHAN Allahmu dan beribadatlah kepada-Nya dengan seluruh jiwa ragamu.
  • Ulangan 11:32 kamu harus mentaati semua hukum yang saya sampaikan kepadamu hari ini.
  • Ulangan 12:28 Perhatikanlah dengan baik segala yang sudah saya perintahkan kepadamu, maka kamu melakukan yang baik dan berkenan kepada TUHAN Allahmu, sehingga kamu dan keturunanmu selamat dan sejahtera untuk selama-lamanya.
  • Ulangan 13:18 asal kamu mentaati segala perintah-Nya yang saya sampaikan kepadamu hari ini, dan melakukan segala yang dikehendaki-Nya.
  • Ulangan 15:5 asal kamu taat kepada TUHAN Allahmu, dan dengan teliti melakukan segala yang saya perintahkan kepadamu hari ini.
  • Ulangan 26:14 Dari persembahan itu tidak sedikit pun yang saya makan waktu saya sedang berkabung, atau saya bawa ke luar rumah waktu saya sedang najis, atau saya berikan sebagai sajian kepada orang mati. Saya telah taat kepada-Mu, ya TUHAN; segala yang Kauperintahkan sudah saya lakukan.
  • Ulangan 28:1 [Berkat untuk Ketaatan] Kalau kamu mentaati TUHAN Allahmu dan setia melakukan segala perintah yang saya berikan kepadamu hari ini, maka Ia akan menjadikan kamu bangsa yang paling masyhur di dunia.
  • Ulangan 28:15 [Kutukan untuk Ketidaktaatan] Tetapi kalau kamu tidak mentaati TUHAN Allahmu, dan tidak setia melakukan segala perintah dan hukum-Nya yang saya berikan kepadamu hari ini, maka segala kutuk ini akan menimpa kamu..
  • Ulangan 30:2 Kalau kamu dan keturunanmu mau kembali kepada TUHAN Allahmu, dan dengan sepenuh hati mentaati perintah-perintah-Nya yang saya berikan kepadamu hari ini…
  • Ulangan 30:10 Tetapi kamu harus taat kepada TUHAN Allahmu dan mentaati segala hukum-Nya yang tertulis di dalam buku ini, buku Hukum TUHAN. Kamu harus kembali kepada-Nya dengan sepenuh hatimu.
  • Ulangan 32:46 Musa berkata, “Perhatikanlah semua perintah yang saya berikan kepadamu hari ini. Ajarkanlah kepada anak-anakmu, supaya mereka dengan setia melakukan semua hukum TUHAN.

Mengapa Ada Empat Kitab Untuk Satu Injil?

Kadang saya ditanya, kalau hanya ada satu Injil dalam Kitab Suci Nasrani, mengapa Injil itu tersusun atas empat kitab, dan ditulis oleh empat penulis? Apakah hal ini tidak membuat keempatnya rentan memuat kesalahan dan menimbulkan kontradiksi bahwa kitab ini ditulis oleh manusia, bukan oleh Allah?

Tentang hal tersebut, Kitab Suci Nasrani berkata:

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. (2 Timotius 3: 16-17)

Jadi, Kitab Suci Nasrani menyatakan bahwa Allah adalah penulis utama dan Dia menginspirasi para penulis kitab. Alquran sepenuhnya setuju dengan hal ini – seperti yang dapat kita lihat pada unggahan Apa yang dikatakan Alquran tentang Kitab Suci Nasrani?

Jadi sekarang, bagaimana kita bisa memahami adanya empat kitab untuk satu pesan Injil? Dalam Alquran, seringkali ada beberapa bagian yang menceritakan satu peristiwa yang sama. Apabila kita membaca semua bagian itu, kita akan mendapat gambaran yang lebih lengkap tentang peristiwa tersebut. Sebagai contoh, tulisan tentang Tanda Adam terdapat dalam Surah 7: 19-26 (The Heights), yang memberitahu kita tentang Adam di Taman Firdaus, dan juga Surah 20: 121-123 (Ta Ha), yang memberikan pemahaman tambahan tentang Adam dengan menjelaskan bahwa dia ‘digoda’. Keterangan tentang godaan tersebut tidak disebutkan dalam The Heights. Karena itu, kalau kita membaca keduanya, kita akan mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang apa yang terjadi. Jadi, itulah tujuannya, yaitu supaya tulisan-tulisan itu saling melengkapi.

Demikian halnya dengan empat kitab Injil dalam Kitab Suci Nasrani, keempatnya selalu dan hanya berbicara tentang satu Injil. Dengan membaca keempat kitab tersebut, kita akan mendapat pemahaman yang lebih lengkap tentang Injil, yaitu Injil Nabi Isa Al Masih-AS. Selain itu, masing-masing kitab tersebut memuat keterangan yang tidak terdapat dalam ketiga kitab lainnya. Oleh karena itu, dengan membaca keempat-empatnya, kita tahu bahwa kitab-kitab tersebut menawarkan gambaran yang lebih lengkap tentang Injil.

Itu sebabnya, – khususnya dalam Bahasa Inggris- ketika suatu pembicaraan merujuk pada Injil, maka kata “Injil” akan selalu disebut dalam bentuk tunggal, tidak jamak, karena memang hanya ada satu Injil. Galatia 1: 11-12 mencontohkan hal ini, bahwa Injil itu tunggal.

Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia.

Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus. (Galatia 1: 11-12)

Alquran juga menulis “Injil’ dalam bentuk tunggal (lihat Pola Injil dalam Alquran). Namun ketika kita membicarakan saksi-saksi mata atau kitab-kitab yang ada dalam Injil, maka memang ada empat kitab. Sebenarnya, dalam Kitab Taurat, suatu perkara hanya dapat diselesaikan jika ada lebih dari satu saksi. Hukum Musa menuntut sedikitnya ‘dua atau tiga saksi’ (Ulangan 19: 15) untuk bersaksi tentang satu peristiwa atau perkara. Dengan adanya empat kitab yang ditulis para saksi, maka keabsahan Injil telah melampaui syarat minimum yang ditetapkan oleh Hukum Musa.

Mengapa Ada Banyak ‘Versi’ Kitab Suci Nasrani?

Baru-baru ini, saya ada di masjid, mendengarkan pengajaran seorang imam. Sayangnya, Beliau mengatakan hal yang tidak benar. Apa yang Beliau katakan sudah berulang kali saya dengar sebelumnya dari teman-teman baik saya. Mungkin Anda juga pernah mendengarnya dan hal itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran Anda. Jadi, mari kita membahas hal ini.

Imam itu berkata bahwa ada banyak versi Kitab Suci Nasrani. Beliau mencontohkan beberapa versi dalam bahasa Inggris, seperti: versi King James, versi New International, versi New American Standard, versi New English, dan lain sebagainya. Beliau kemudian juga berkata bahwa karena ada begitu banyak versi yang berbeda, maka hal ini menunjukkan bahwa isi Kitab Suci Nasrani sudah tidak lagi sesuai dengan aslinya, atau setidaknya kita tidak dapat mengetahui mana Kitab Suci Nasrani yang ‘sejati’. Memang ada beragam versi, tetapi hal ini sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan ‘sesuai atau tidak sesuainya Kitab Suci Nasrani dengan naskah aslinya’ dan tidak juga berarti bahwa setiap terjemahan tersebut menjadi Kitab Suci Nasrani lain, karena pada keyataannya, hanya ada satu Kitab Suci Nasrani.

Ketika kita membicarakan versi New International, sebagai contoh, maka kita sedang membicarakan terjemahan tertentu naskah asli berbahasa Yunani (Injil) dan berbahasa Ibrani (Taurat & Zabur) dalam bahasa Inggris. Demikian juga dengan versi The New American Standard yang merupakan terjemahan bahasa Inggris lain dari naskah asli yang sama.

Situasi yang sama terjadi juga pada Alquran. Biasanya, saya menggunakan terjemahan Yusuf Ali, namun kadang-kadang, saya juga menggunakan terjemahan Pickthall. Pickthall dan Yusuf Ali menerjemahkan Alquran berbahasa Arab yang sama, tetapi pilihan kata dalam bahasa Inggris yang digunakan oleh keduanya tidak selalu sama. Itu sebabnya, terjemahan mereka berbeda. Meski demikian, tidak ada seorang pun baik orang Kristen, Yahudi, bahkan ateis sekalipun yang berkata, “Karena ada dua terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris (terjemahan Pickthall dan Yusuf Ali) , maka artinya ada dua Alquran dan keduanya berbeda.” atau berkata, “Terjemahan Alquran tidak sesuai naskah aslinya.”

Hal yang sama juga terjadi dalam penerjemahan Kitab Suci Nasrani. Naskah asli Injil ditulis dalam bahasa Yunani (lihat di sini) dan naskah asli Taurat dan Zabur ditulis dalam bahasa Ibrani (lihat di sini). Masalahnya, kebanyakan orang tidak berbahasa ataupun membaca dalam kedua bahasa ini. Itu sebabnya, ada berbagai terjemahan dalam bahasa Inggris (dan bahasa-bahasa lainnya) dengan maksud supaya orang dapat memahami pesan dalam kitab-kitab tersebut dalam bahasa mereka sendiri. Beragam versi Kitab Suci Nasrani hanyalah terjemahan yang berbeda, dengan tujuan agar pesan yang tertulis dapat dipahami dengan lebih baik.

Lalu, bagaimana dengan kemungkinan munculnya kesalahan-kesalahan penerjemahan? Bukankah terjemahan yang beragam memunculkan kemungkinan tidak akuratnya penerjemahan tulisan penulis asli? Namun, keraguan di atas tidak perlu muncul, sebab luasnya literatur klasik yang ditulis dalam bahasa Yunani telah memungkinkan penerjemah menerjemahkan dengan tepat setiap pemikiran dan setiap kata yang ditulis penulis asli. Berbagai versi baru Kitab Suci Nasrani bahkan menunjukkan kesesuaian dengan argumen di atas. Contohnya adalah tulisan asli dalam bahasa Yunani 1 Timotius 2: 5

εις γαρ θεος εις και μεσιτης θεου και ανθρωπων ανθρωπος χριστος ιησους

Berikut adalah beberapa terjemahan yang umum dipakai untuk ayat di atas:

For there is one God and one mediator between God and mankind, the man Christ Jesus – New International Version;

For there is one God, and one mediator between God and men, the man Christ Jesus – King James Version;

For there is one God, and one mediator also between God and men, the man Christ Jesus – New American Standard Version.

Seperti dapat Anda lihat, terjemahan-terjamahan itu sangat mirip, hanya dibedakan dengan beberapa kata. Meskipun sedikit berbeda dalam penggunaan kata,  ketiganya mempunyai arti yang tepat sama. Hal ini terjadi karena hanya ada satu Kitab Suci Nasrani dan oleh sebab itu terjemahan-terjemahannya pun menjadi sangat mirip. Terjemahan-terjemahan itu bukanlah Kitab Suci Nasrani yang ‘lain’. Seperti yang saya tulis pada awal tulisan ini, tidak benar apabila ada orang yang berkata bahwa karena ada banyak versi, maka ada bermacam-macam Kitab Suci Nasrani.

Saya menganjurkan setiap orang memilih dan membaca versi Kitab Suci Nasrani dalam bahasa mereka sendiri. Hal ini layak untuk dilakukan.