Lailatul Qadar, Hari Kemuliaan & Sabda Para Nabi

Surat Al-Qadar [97] menggambarkan Malam Kemuliaan ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.Pada malam itu turun para malaikat dan Rµh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

Surat Al-Qadr 97:1-5

 

Surat Al-Qadar, meskipun menggambarkan Lailatul Qadar (Malam Kemuliaan) sebagai ‘lebih baik dari seribu bulan’ masih menanyakan apakah Malam Kemuliaan itu. Apa yang Menyemangati yang membuat Malam Kemuliaan lebih baik dari seribu bulan?

Surat Al-Lail [92] memiliki tema yang sangat mirip tentang Siang dan Cahaya yang mengikuti Malam. Hari itu datang dengan kemuliaan, dan Allah membimbing karena Dia mengetahui segalanya dari Awal hingga Akhir. Karena itu Dia memperingatkan kita tentang Api di Akhir.

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),demi siang apabila terang benderang,

 

Surat Al-Lail 92:1-2

Sesungguhnya Kamilah yang memberi petunjuk,dan sesungguhnya milik Kamilah akhirat dan dunia itu.Maka Aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala,

Surat Al-Lail 92:12-14

Bandingkan Surat Al-Qadar dan Surah Al-Lail dengan yang berikut ini:

Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.
Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.
Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,
dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,
dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.
Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.
Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.
Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.
Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Karena itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima.
Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini.
Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu.
Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.
Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.
Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.

2Petrus 1:19

Apakah Anda melihat kesamaan? Ketika saya membaca Surat Al-Qadar dan Surah Al-Lail saya teringat kutipan ini. Itu juga menyatakan Hari yang terbit setelah Malam. Pada malam hari wahyu diberikan kepada para nabi. Itu juga memperingatkan kita untuk tidak mengabaikan pesan kenabian. Jika tidak, kita menghadapi konsekuensi yang parah.

Ini ditulis oleh Rasul Petrus, murid terkemuka dan sahabat Nabi Isa al Masih AS. Surah As-Saf [61] mengatakan tentang murid Isa al Masih:

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah,” lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami berikan kekuatan ke-pada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.

Surat As-Saf 61:14

Surat As-Saf menyatakan bahwa murid Isa al Masih adalah ‘pembantu Tuhan’. Mereka yang percaya pesan para murid menerima kekuatan yang dibicarakan ini. Sebagai murid utama, Petrus, adalah pemimpin dari orang-orang yang membantu Tuhan. Meskipun ia adalah murid Nabi Isa al Masih AS, menyaksikan banyak mukjizatnya, mendengar banyak ajarannya, dan melihat wewenagnya dijalankan, Petrus masih menyatakan di atas bahwa perkataan para nabi bahkan ‘lebih pasti’. Mengapa dia lebih yakin pada para nabi daripada apa yang dia sendiri saksikan? Dia melanjutkan:

1:20 Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri,

1:21 sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

2 Petrus 1:20-21

Ini memberitahu kita bahwa Roh Kudus Tuhan ‘membawa’ para nabi, sehingga apa yang mereka baca dan tulis adalah ‘dari Tuhan’. Inilah mengapa Malam seperti ini lebih baik daripada seribu bulan karena itu berakar di dalam Roh Kudus daripada pada ‘kehendak manusia’. Surah As-Saf menceritakan kita bahwa mereka yang memperhatikan pesan Petrus akan menerima Kuasa yang dijalankan pada Malam Kemuliaan dan akan menang.

Hidup di zaman Nabi Isa al Masih, para ‘nabi’ yang ditulis oleh Petrus adalah nabi-nabi yang sekarang disebut dalam Perjanjian Lama – Kitab Suci yang datang sebelum Injil. Dalam Taurat Nabi Musa ada catatan dari Adam, Qabil & Habil, Nuh, Luth dan Ibrahim. Juga termasuk kisah ketika Musa menghadapi Fira’un dan kemudian menerima Hukum Syariah, dan juga pengorbanan saudaranya Harun, dari mana Surat Al- Baqarah disebutkan.

Setelah Taurat ditutup, datanglah Zabur di mana Dawudterinspirasi untuk berbicara tentang Masih yang akan datang. Nabi-nabi berturut-turut kemudian meramalkan tentang Masih datang dari seorang Perawan, Kerajaan Allah terbuka untuk semua, dan juga penderitaan besar untuk Hamba yang akan datang. Kemudian nama Masih dinubuatkan, bersamaan dengan waktu kedatangannya, juga Janji Sang Penyedia.

Banyak dari kita yang belum sempat membaca tulisan ini untuk diri kita sendiri. Di sini, dengan tautan-tautan yang berbeda ini, ada kesempatan. Surat Al-Lail memperingatkan akan datangnya Api. Surat Al-Qadar menyatakan bahwa Roh Tuhan sedang bekerja di Malam Kemuliaan. Surat As-Saf menjanjikan Kemuliaan bagi mereka yang mempercayai pesan para murid. Petrus, pemimpin dari murid-murid ini, kemudian menasihati kita untuk ‘memperhatikan’ wahyu dari para nabi paling awal, yang diberikan pada Malam, yang menantikan Hari. Bukankah bijaksana untuk mengetahui pesan-pesan mereka?

 

Apa pesan dari ‘al Kitab’ – Buku?

Al Kitab secara harfiah berarti ‘Buku’. Alkitab adalah tulisan pertama dalam sejarah yang dimasukkan ke dalam bentuk buku yang kita lihat hari ini. Alkitab adalah buku klasik dunia yang memasukkan dalam cakupannya semua orang dan bangsa di bumi. Dengan demikian, buku yang luar biasa ini telah diterjemahkan ke dalam hampir semua bahasa di bumi. Alkitab telah memiliki pengaruh besar terhadap banyak bangsa, dan merupakan buku yang paling banyak dibaca di planet ini. Namun buku ini juga merupakan buku yang panjang, dengan cerita yang kompleks. Begitu banyak dari kita yang tidak tahu atau mengerti tema buku ini. Artikel ini akan mengambil satu kalimat dari buku Alkitab untuk menjelaskan kisah buku klasik ini – karya Nabi Isa al Masih (AS).

Alkitab diberikan untuk mengatasi masalah nyata di masa depan kita. Masalah ini dijelaskan dalam Surat al-Mujadila [58] dalam mencari Hari Penghakiman yang akan datang

Pada hari itu mereka dibangkitkan Allah, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya (semua amal perbuatan itu), meskipun mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Surat al-Mujadila 58: 6-7

Surat al-Mujadila memberi tahu kita bahwa tidak mungkin Allah tidak tahu tentang kita, dan dia akan menggunakan pengetahuan ini untuk menghakimi kita.

Surat al-Qiyamah [75] mengatakan hari ini ‘Hari Kebangkitan’ dan juga memperingatkan bagaimana manusia akan dibawa ke depan untuk mempertanggungjawabkan hidupnya.

pada hari itu manusia berkata, “Ke mana tempat lari?”Tidak! Tidak ada tempat berlindung!Hanya kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu.Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri,dan meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.

Surat al-Qiyamah 75: 10-15

Jadi apa yang kita lakukan jika ada niat dan tindakan dalam hidup kita yang membuat kita merasa malu? Pesan Alkitab adalah untuk mereka yang membawa keprihatinan ini.

Pesan Buku

Kita telah membahas minggu terakhir nabi Isa al Masih AS. Injil mencatat bahwa ia disalibkan pada Hari 6 – Jumat Agung, dan ia dibangkitkan kembali pada hari Minggu berikutnya. Ini diramalkan baik dalam Taurat dan Mazmur dan para Nabi. Tetapi mengapa ini terjadi dan apa artinya bagi Anda dan saya hari ini? Di sini kita berusaha memahami apa yang ditawarkan oleh Nabi Isa al Masih, dan bagaimana kita dapat menerima belas kasihan dan pengampunan. Ini akan membantu kita bahkan memahami tebusan Ibrahim yang dijelaskan dalam Surat As-Saffat [37], Surat al Fatihah [1] ketika meminta kepada Allah untuk ‘menunjukkan kita ke Jalan Yang Lurus’, serta memahami mengapa ‘Muslim’ berarti ‘orang yang berserah diri’, dan mengapa ketaatan beragama seperti berwudhu, zakat dan makan makanan yang halal adalah baik tetapi tidak mencukupi untuk Hari Penghakiman.

Berita Buruk – apa yang para nabi katakan tentang hubungan kita dengan Allah

Taurat mengajarkan bahwa ketika Allan menciptakan manusia Dia


Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Genesis1:27

“Gambar” tidak dimaksudkan dalam arti fisik, melainkan bahwa kita dibuat untuk mencerminkan Dia dalam cara kita berfungsi secara emosional, mental, sosial dan spiritual. Kita diciptakan untuk berada dalam hubungan dengan-Nya. Kita dapat menggambarkan hubungan ini di slide di bawah ini. Sang Pencipta, sebagai penguasa tanpa batas, ditempatkan di bagian atas sementara pria dan wanita ditempatkan di bagian bawah slide karena kita adalah makhluk yang terbatas. Hubungan ditunjukkan oleh panah penghubung.

 

Diciptakan dalam gambar-Nya, manusia diciptakan untuk berhubungan dengan Sang Pencipta

 

Allah itu sempurna dalam karakter – Dia Maha Suci. Karena hal ini Zabur berkata

Sebab Engkau bukan Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat tidak akan menumpang untuk Anda.Mazmur5: 4-5

Adam melakukan satu perbuatan ketidaktaatan – hanya satu – dan Kesucian Allah menuntutnya untuk menghakimi. Taurat dan Al Qur’an mencatat bahwa Allah menjadikannya manusia dan mengusirnya dari hadhirat-Nya. Situasi yang sama ada untuk kita. Ketika kita berbuat dosa atau tidak taat dengan cara apa pun kita tidak menghormati Allah karena kita tidak bertindak sesuai dengan gambaran kita yang diciptakan. Hubungan kita terputus. Ini menghasilkan penghalang sekokoh dinding batu diantara kita dan Sang Pencipta.

 

Dosa kita menciptakan penghalang yang kuat antara kita dan Allah yang Maha Suci

Menusuk Penghalang Dosa dengan Keta’atan Keagamaan

Banyak dari kita mencoba untuk menembus penghalang antara kita dan Allah ini dengan perbuatan keagamaan atau pekerjaan yang menghasilkan cukup banyak kepatutan untuk menghancurkan penghalang itu. Doa, puasa, haji, pergi ke masjid, zakat, sedekah adalah cara-cara yang kita upayakan untuk mendapatkan pahala untuk menembus penghalang seperti digambarkan berikut. Harapannya adalah pahala keagamaan akan menghapuskan beberapa dosa. Jika banyak perbuatan kita menghasilkan pahala yang cukup, kita berharap untuk menghapuskan semua dosa kita dan menerima belas kasihan dan pengampunan.

 

Kita mencoba untuk menembus penghalang ini dengan melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan pahala di hadapan Allah

Tetapi berapa banyak pahala yang kita butuhkan untuk menghapuskan dosa? Apa jaminan kita bahwa perbuatan baik kita akan cukup untuk menghapuskan dosa dan menembus penghalang yang telah terjadi di antara kita dan Sang Pencipta? Apakah kita tahu jika upaya kita untuk niat baik akan cukup? Kita tidak memiliki jaminan dan karenanya kita berusaha melakukan sebanyak yang kita bisa dan berharap itu akan cukup pada Hari Penghakiman.

Bersamaan dengan perbuatan untuk mendapatkan pahala, upaya-upaya untuk niat baik, banyak dari kita bekerja keras untuk tetap bersih. Kita rajin melakukan wudhu sebelum shalat. Kita bekerja keras untuk menjauh dari orang-orang, perbuatan-perbuatan dan makanan yang membuat kita tidak bersih. Tetapi nabi Yesaya mengungkapkan bahwa:

Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.

Yesaya64: 6

Nabi memberi tahu kita bahwa bahkan jika kita menghindari segala sesuatu yang membuat kita tidak suci, dosa-dosa kita akan membuat ‘tindakan benar’ kita sama tidak bergunanya dengan ‘kain kotor’ dalam membuat kita bersih. Itu berita buruk. Dan bertambah buruk.

Berita Lebih Buruk: kekuatan Dosa dan Kematian

Nabi Musa AS dengan jelas menetapkan standar dalam Hukum bahwa kepatuhan total diperlukan. Hukum tidak pernah mengatakan sesuatu seperti “upaya untuk mengikuti sebagian besar perintah”. Kenyataannya Hukum berulang kali menyatakan bahwa satu-satunya pekerjaan yang menjamin penebusan dosa adalah kematian. Kita lihat pada masa Nuh AS dan bahkan dengan istri Lut AS bahwa kematian dihasilkan dari dosa.

Injil merangkum kebenaran ini dengan cara berikut:

Karena upah dosa adalah maut…Roma 6:23

“Kematian” secara harfiah berarti ‘pemisahan’. Ketika jiwa kita terpisah dari tubuh kita, kita mati secara fisik. Demikian pula kita sekarang bahkan terpisah dari Allah secara rohani dan mati serta najis di hadapan-Nya.

Ini mengungkapkan masalah dari harapan kita dalam mendapatkan jasa untuk menebus dosa. Masalahnya adalah bahwa upaya keras, pahala, niat baik, dan perbuatan kita, meskipun tidak salah, tidak cukup karena pembayaran yang diperlukan (‘upah’) untuk dosa-dosa kita adalah ‘kematian’. Hanya kematian yang akan menembus tembok ini karena itu memenuhi keadilan Tuhan. Upaya kita untuk mendapatkan pahala seperti mencoba menyembuhkan kanker (yang berakibat kematian) dengan makan makanan halal. Makan makanan halal itu tidak buruk, itu baik – dan seharusnya makan makanan yang halal – tetapi itu tidak akan menyembuhkan kanker. Untuk kanker Anda membutuhkan perawatan yang sama sekali berbeda yaitu yang mematikan sel kanker.

Jadi, bahkan dalam upaya dan niat baik kita untuk menghasilkan keta’atan keagamaan kita sebenarnya mati dan najis sebagai mayat di hadapan Sang Pencipta.

 

Dosa kita menghasilkan kematian – Kita seperti mayat yang najis di hadapan Allah

Ibrahim – menunjukkan Jalan Yang Lurus

Lain halnya dengan Nabi Ibrahim AS. Dia ‘dianggap sebagai kebenaran’, bukan karena jasa-jasanya tetapi karena dia percaya dan percaya janji kepadanya. Dia memercayai Tuhan untuk memenuhi penebusan yang diminta, daripada menghasilkan untuk dirinya sendiri. Kita lihat dalam pengorbanannya yang besar bahwa kematian (penebusan dosa) dibayarkan, tetapi bukan oleh putranya melainkan oleh seekor domba yang disediakan oleh Allah.

 

Ibrahim ditunjukkan Jalan Lurus – Dia hanya mempercayai Janji Tuhan dan Tuhan Menyediakan pembayaran kematian untuk dosa

Al-Quran berbicara tentang ini dalam Surat As-Saffat [37] di mana dikatakan:

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,”Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”

Surat As-Saffat37: 107-109

Allah ‘menebus’ (membayar harga) dan Ibrahim menerima berkah, rahmat dan pengampunan, termasuk ‘kedamaian’.

Kabar Baik: Karya Isa al Masih atas nama kita

Teladan dari nabi ada di sana untuk menunjukkan kepada kita Jalan Lurus sesuai dengan permintaan Surat Al-Fatihah [1 – Pembukaan]

Pemilik hari pembalasan.Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.Tunjukilah kami jalan yang lurus(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Surat al-Fatihah 1: 4-7

Injil menjelaskan bahwa ini adalah gambaran untuk menunjukkan bagaimana Allah akan menebus dosa dan menyediakan obat untuk kematian dan kenajisan dengan cara yang sederhana namun kuat.

Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Roma 6:23

Sejauh ini semuanya merupakan ‘berita buruk’. Tetapi ‘injil’ secara harfiah berarti ‘kabar baik’ dan dalam menyatakan bahwa pengorbanan kematian Isa sudah cukup untuk menembus penghalang antara kita dan Tuhan, kita dapat melihat mengapa itu adalah kabar baik seperti yang ditunjukkan.

 

Pengorbanan Isa al Masih – anak domba Allah – melakukan pembayaran mati terhadap dosa atas nama kita seperti yang dilakukan dalam dombanya Ibrahim.

Nabi Isa al Masih dikorbankan dan kemudian bangkit dari kematian sebagai buah sulung sehingga ia sekarang menawarkan kepada kita kehidupan barunya. Kita tidak perlu lagi menjadi tahanan atas kematian dosa.

 

Kebangkitan Isa al Masih adalah ‘buah sulung’. Kita dapat dibebaskan dari kematian dan menerima kehidupan kebangkitan yang sama.

Dalam pengrobanan dan kebangkitannya, Isa al Masih menjadi gerbang yang menerobos penghalang dosa yang memisahkan kita dari Allah. Inilah sebabnya nabi berkata:

Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.
Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Yohannes 10:9-10

 

Dengan demikian Isa al Masih adalah Gerbang yang menerobos penghalang dosa dan kematian

Karena gerbang ini, kita sekarang dapat memperoleh kembali hubungan yang kita miliki dengan Sang Pencipta sebelum dosa kita menjadi penghalang dan kita dapat diyakinkan menerima kemurahan dan pengampunan atas dosa-dosa kita.

 

Dengan Gerbang terbuka kita sekarang dipulihkan dalam Hubungan dengan Sanf Pencipta

Seperti yang dinyatakan Injil:

Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,ng telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.

1 Timotius 2: 5-6

Karunia Tuhan untuk Anda

Nabi ‘memberikan dirinya sendiri’ untuk ‘semua orang’. Jadi ini pasti termasuk Anda dan juga saya. Melalui kematian dan kebangkitannya, dia telah membayar harganya untuk menjadi ‘penengah’ dan memberi kita kehidupan. Bagaimana kehidupan ini diberikan?

Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Roma 6:23

Perhatikan bagaimana itu diberikan kepada kita. Ini ditawarkan sebagai sebuah… ‘hadiah‘. Pikirkan tentang hadiah. Tidak peduli apa hadiahnya, jika itu benar-benar sebuah hadiah, itu adalah sesuatu yang tidak Anda usahakan dan tidak dapatkan berdasarkan prestasi. Jika Anda mengusahakan untuk mendapatkannya hadiah tidak akan lagi menjadi hadiah – itu akan menjadi upah! Dengan cara yang sama Anda tidak bisa mengusahakan untuk mendapatkan pengorbanan Isa al Masih. Itu diberikan kepada Anda sebagai hadiah. Sesederhana itu.

Dan apa hadiahnya? Itu adalah ‘kehidupan abadi’. Itu berarti bahwa dosa yang membuat Anda dan saya mati sekarang sudah ditebus. Tuhan sangat mencintai Anda dan saya. Ini sangatlah kuat.

Jadi bagaimana Anda dan saya mendapatkan kehidupan kekal? Sekali lagi, pikirkan hadiah-hadiah. Jika seseorang ingin memberi Anda hadiah, Anda harus ‘menerimanya’. Kapan saja hadiah ditawarkan, hanya ada dua pilihan. Entah hadiah ditolak (“Tidak, terima kasih”) atau diterima (“Terima kasih atas hadiah Anda. Saya akan menerimanya”). Begitu juga hadiah ini harus diterima. Tidak bisa secara mental dipercaya, dipelajari atau dipahami. Agar bermanfaat, hadiah apa pun yang ditawarkan kepada Anda harus ‘diterima’.

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nyorang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Yohannes 1: 12-13

Faktanya, Injil mengatakan tentang Tuhan itu

Tuhan Juruselamat kita, yang ingin semua orang diselamatkan …

1 Timotius 2: 3-4

Dia adalah seorang Juru Selamat dan keinginan-Nya adalah agar ‘semua orang’ menerima hadiahnya dan diselamatkan dari dosa dan kematian. Jika ini adalah kehendak-Nya, maka untuk menerima hadiahnya hanya akan berserah pada kehendak-Nya – makna dari kata ‘Muslim’ – orang yang berserah diri.

Bagaimana kita menerima hadiah ini? Injil mengatakan itu

Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.

Roma 10:12

Perhatikan bahwa janji ini adalah untuk ‘semua orang’. Sejak dia bangkit dari kematian, Isa al Masih masih hidup sampai sekarang. Jadi jika Anda memanggilnya dia akan mendengar dan memberikan hadiahnya kepada Anda. Anda memanggilnya dan bertanya kepadanya. Mungkin Anda belum pernah melakukan ini. Di bawah ini adalah panduan yang dapat membantu Anda. Itu bukan mantra sihir. Bukan kata-kata khusus yang memberi kekuatan. Ini adalah kepercayaan seperti yang dimiliki Ibrahim yang kita tempatkan di Isa al Masih untuk memberi kita hadiah ini. Saat kita percaya padanya, Dia akan mendengarkan kita dan menjawab. Injil itu kuat, namun juga sangat sederhana. Jangan ragu untuk mengikuti panduan ini jika Anda merasa terbantu.

Nabi dan Tuhan terkasih Isa al Masih. Saya mengerti bahwa dengan dosa-dosa saya saya terpisah dari Allah Sang Pencipta. Meskipun saya bisa berusaha keras, usaha saya tidak menembus penghalang ini. Tetapi saya mengerti bahwa kematian Anda adalah pengorbanan untuk membasuh semua dosa saya dan membuat saya bersih. Saya tahu bahwa Anda bangkit dari kematian setelah pengorbanan Anda, jadi saya percaya bahwa pengorbanan Anda sudah cukup dan saya tunduk kepada Anda. Saya meminta Anda untuk membersihkan saya dari dosa-dosa saya dan menengahi dengan Pencipta saya sehingga saya dapat memiliki kehidupan yang kekal. Terima kasih, Isa the Masih, untuk melakukan semua ini untukku dan maukah kamu sekarang terus membimbingku dalam hidupku sehingga aku dapat mengikuti kamu sebagai Tuhanku.

Atas nama Tuhan, Maha Penyayang

 

Kebangkitan Isa Al-Masih tercatat dalam Injil

20:19 Saat magrib pada hari itu juga, yaitu hari pertama minggu itu, ketika semua pintu di tempat para pengikut Isa berada telah dikunci sebab mereka takut kepada orang-orang Israil, tiba-tiba Isa datang dan berdiri di tengah-tengah mereka. Lalu, sabda-Nya kepada mereka, “Damai bagimu!”

20:20 Setelah Ia bersabda begitu, ditunjukkan-Nya kedua tangan-Nya kepada mereka dan juga lambung-Nya. Pada waktu para pengikut itu melihat Junjungan Yang Ilahi, mereka pun sangat gembira.

20:21 Kembali Isa bersabda kepada mereka, “Damai bagimu! Sama seperti Sang Bapa mengutus Aku, Aku pun mengutus kamu.”

20:22 Setelah Ia bersabda begitu, Ia pun menghembus mereka dan bersabda, “Terimalah Ruh Allah Yang Mahasuci.

20:23 Siapa yang kamu ampuni dosanya, dosanya diampuni, tetapi siapa yang kamu katakan bahwa dosanya tetap, maka dosanya tetap, tidak diampuni.”

20:24 Tomas, salah satu dari kedua belas pengikut Isa yang juga dipanggil Didimus, tidak bersama mereka ketika Isa menampakkan diri di tengah-tengah mereka.

20:25 Maka, para pengikut lainnya berkata kepada Tomas, “Kami telah melihat Junjungan!” Tetapi, ia berkata kepada mereka, “Jika aku belum melihat bekas paku pada tangan-Nya serta mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu, dan mencucukkan tanganku ke lambung-Nya, aku tidak akan percaya.”

20:26 Selang delapan hari, para pengikut Isa kembali berkumpul dalam rumah itu. Tomas pun ada di antara mereka. Tiba-tiba Isa datang dan berdiri di tengah-tengah mereka, padahal semua pintu dalam keadaan terkunci. Lalu, Ia bersabda, “Damai bagimu!”

20:27 Setelah itu, Ia bersabda kepada Tomas, “Ulurkanlah jarimu kemari dan lihatlah tangan-Ku. Ulurkanlah juga tanganmu dan cucukkanlah ke lambung-Ku. Jangan tidak percaya, tetapi percayalah!”

20:28 Jawab Tomas kepada-Nya, “Ya Junjunganku, ya Tuhanku.”

20:29 Sabda Isa kepadanya, “Engkau percaya karena engkau telah melihat Aku. Berbahagialah mereka yang percaya sekalipun tidak melihat.”

20:30 Banyak tanda ajaib lainnya yang dilakukan oleh Isa di hadapan para pengikut-Nya, tetapi tidak dituliskan dalam kitab ini.

Yahya 20:19-30

21:1 Beberapa waktu kemudian, Isa kembali menampakkan diri-Nya kepada para pengikut-Nya di Danau Tiberias. Demikianlah kisah dari penampakan diri-Nya itu:

21:2 Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari daerah Kana di wilayah Galilea, anak-anak Zabdi, dan dua pengikut lainnya sedang berkumpul di situ.

21:3 Lalu, Simon Petrus berkata kepada mereka, “Aku hendak pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, “Kami akan pergi bersamamu.” Maka, pergilah mereka, lalu naik ke perahu. Tetapi, sepanjang malam itu tidak ada satu ekor ikan pun yang dapat mereka tangkap.

21:4 Ketika hari mulai terang, Isa berdiri di pantai. Namun, para pengikut-Nya tidak tahu bahwa Dia adalah Isa.

21:5 Lalu, sabda Isa kepada mereka, “Hai anak-anak, apakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka, “Tidak ada.”

21:6 Lalu, sabda Isa kepada mereka, “Tebarkanlah pukatmu di sebelah kanan perahu maka kamu akan mendapatkannya.” Kemudian, mereka menebar pukat itu, lalu tidak dapat menariknya kembali sebab banyak sekali ikan yang terjaring.

21:7 Pengikut yang dikasihi oleh Isa berkata kepada Petrus, “Itu Junjungan.” Setelah Simon Petrus mendengar bahwa Dia adalah Sang Junjungan, ia mengenakan pakaiannya sebab sebelumnya ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam air.

21:8 Para pengikut lainnya pun datang dengan menggunakan perahu kecil sambil menarik pukat yang penuh dengan ikan itu karena mereka tidak begitu jauh dari darat, hanya kira-kira seratus meter saja.

21:9 Pada waktu mereka naik ke darat, mereka melihat sudah ada api arang, bahkan di atasnya ada ikan dan juga roti.

21:10 Sabda Isa kepada mereka, “Ambillah ikan-ikan yang kamu tangkap itu.”

21:11 Maka, pergilah Simon Petrus untuk menarik pukat itu ke darat. Pukat itu penuh dengan ikan yang besar-besar. Ada seratus lima puluh tiga ekor banyaknya. Sekalipun demikian banyak, pukat itu tidak koyak.

21:12 Lalu, sabda Isa kepada mereka, “Mari, makanlah.” Tidak seorang pun dari antara para pengikut itu berani bertanya, “Siapakah Engkau?”Sebab mereka tahu bahwa Dia adalah Junjungan Yang Ilahi.

21:13 Isa maju untuk mengambil roti, lalu diberikan-Nya roti itu kepada mereka, begitu juga dengan ikan itu.

21:14 Penampakan Isa di hadapan para pengikut-Nya di danau itu adalah untuk yang ketiga kalinya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.

21:15 Sesudah mereka makan, Isa bersabda kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yahya, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Ya Junjungan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Sabda Isa kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku.”

21:16 Sabda-Nya lagi untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yahya, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Ya Junjungan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Lalu, Isa bersabda kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

21:17 Kemudian, sabda Isa untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yahya, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun menjadi sedih sebab untuk yang ketiga kalinya Isa bersabda kepadanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Ya Junjungan, Engkau mengetahui segala sesuatu dan Engkau pun tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Sabda Isa kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku.

21:18 Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, sewaktu engkau masih muda, engkau mengikat pinggangmu dan pergi ke mana saja yang kau kehendaki. Tetapi, setelah engkau tua nanti, engkau akan mengulurkan kedua tanganmu, lalu orang lain akan mengikatmu dan membawamu ke tempat yang tidak kau kehendaki.”

21:19 Isa bersabda begitu untuk menggambarkan bagaimana cara Petrus meninggal demi memuliakan Allah. Setelah itu, Isa bersabda lagi kepada Petrus, “Ikutlah Aku!”

21:20 Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa pengikut yang dikasihi Isa juga ikut. Dialah yang duduk dekat Isa pada waktu perjamuan malam dan bertanya, “Ya Junjungan, siapakah yang akan menyerahkan Engkau?”

21:21 Sambil memandang pengikut itu, Petrus bertanya kepada Isa, “Ya Junjungan, bagaimana dengan orang itu?”

21:22 Sabda Isa kepadanya, “Jika Aku menghendaki agar ia tetap hidup sampai Aku datang, apa urusanmu? Sudahlah, ikutlah Aku!”

21:23 Lalu, tersebarlah kabar di kalangan para pengikut Isa bahwa pengikut itu tidak akan meninggal. Tetapi, Isa tidak menyebutkan bahwa ia tidak akan meninggal, melainkan, “Jika Aku menghendaki agar ia tetap hidup sampai Aku datang, apa urusanmu?”

21:24 Pengikut itulah yang memberi kesaksian tentang semua ini. Ia jugalah yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya benar.

21:25 Masih banyak lagi hal lainnya yang dilakukan oleh Isa, tetapi jika hal-hal itu ditulis satu demi satu, kukira dunia ini tidak akan dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.

Yahya 21:1-25

1:1 Di dalam kitab yang pertama aku telah menulis, hai Teofilus, mengenai semua yang dilakukan dan diajarkan oleh Isa

1:2 sampai pada hari Ia diangkat ke surga. Sebelumnya, melalui Ruh Allah Yang Mahasuci, Ia telah memberikan petunjuk-petunjuk kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya.

1:3 Kepada mereka itulah Isa menampakkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan selama empat puluh hari melalui berbagai cara, berulang kali Ia menunjukkan kepada mereka dengan jelas bahwa Ia hidup dan Ia berbicara dengan mereka mengenai Kerajaan Allah.

1:4 Pada suatu hari, ketika Isa ada bersama dengan rasul-rasul itu, Ia berpesan supaya mereka tidak meninggalkan Yerusalem. Sabda-Nya, “Tetaplah di situ menantikan apa yang dijanjikan oleh Bapa-Ku dan yang sudah kamu dengar dari-Ku.

1:5 Karena Nabi Yahya mempermandikan dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dipermandikan dengan Ruh Allah.”

1:6 Ketika mereka semua berkumpul, mereka bertanya kepada Isa, “Junjungan, inikah masanya Junjungan memulihkan kembali Kerajaan Israil?”

1:7 Isa bersabda kepada mereka, “Kamu tidak perlu tahu kapan waktu dan saatnya untuk hal-hal itu. Bapa-Ku sendiri yang menentukannya menurut wewenang-Nya.

1:8 Akan tetapi, kamu akan menerima kuasa apabila Ruh Allah datang ke atasmu dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi.”

1:9 Setelah bersabda demikian, Isa terangkat naik ke surga, disaksikan oleh rasul-rasul-Nya. Tiba-tiba ada awan yang meliputi-Nya sehingga Ia lenyap dari penglihatan mereka.

1:10 Ketika mereka masih juga menatap ke langit menyaksikan kepergian Isa, tiba-tiba dua orang berpakaian putih berdiri dekat mereka.

1:11 Kedua orang itu berkata, “Hai kamu, orang Galilea! Mengapa kamu berdiri saja di situ memandang ke langit? Isa itu, yang kamu lihat terangkat naik ke surga meninggalkan kamu, nanti akan datang lagi dengan cara yang sama sebagaimana kamu lihat Dia naik ke surga.”

Kisah Para Rasul 1:1-11

Siapakah Nabi Ilyas? Bagaimana Ia menuntun kita saat ini?

Nabi Ilyas disebutkan tiga kali dalam Surah Al-Anam dan As-Saffat. Surah-surah ini berkata:

dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih,

Al-Anam 6:85

Dan sungguh, Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul.(Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu tidak bertakwa?Patutkah kamu menyembah Ba’l dan kamu tinggalkan (Allah) sebaik-baik pencipta.(Yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu?”Tetapi mereka mendustakannya (Ilyas), maka sungguh, mereka akan diseret (ke neraka),kecuali hamba-hamba Allah yang disucikan (dari dosa),Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.”Selamat sejahtera bagi Ilyas.”Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

(As-Saffat 37:123-132)

Ilyas disebut bersamaan dengan Yahya dan Isa Almasih karena Ia juga salah satu nabi dalam Alkitab. Dalam Surah-Surah tersebut dikatakan bahwa Nabi Ilyas menantang nabi-nabi Baal. Pertarungan ini dituliskan dengan sangat detail dalam Akitab di sini. Di bawah ini kita akan melihat apa saja berkah bagi kita (‘generasi yang akan datang kemudian’ seperti yang dijanjikan dalam Surah As-Saffat).

Ilyas dan ujian bagi nabi-nabi Baal

Ilyas adalah orang yang bertabiat keras, yang menantang 450 nabi Baal. Bagaimana ia bisa menantang begitu banyak nabi? Alkitab menjelaskan bahwa ia menguji mereka dengan cara yang cerdik. Nabi Ilyas dan nabi-nabi Baal harus mempersembahkan satu hewan kurban, tetapi mereka tidak boleh menyalakan api untuk membakar kurban tersebut. Masing-masing pihak akan memanggil dan meminta Allahnya untuk menyalakan api dari surga.  Allah mana pun yang bisa membakar kurban tersebut dengan api dari surga, Dialah Allah yang sejati dan hidup. Jadi, 450 nabi Baal itu memanggil-manggil dan meminta Baal sepanjang hari supaya ia membakar kurban mereka dari surga, tetapi ternyata tidak ada api yang turun dari surga. Kemudian Ilyas, seorang diri, memanggil dan meminta Sang Pencipta untuk membakar kurbannya. Dengan segera, api turun dari langit dan membakar habis kurbannya. Orang-orang yang menyaksikan  pertarungan itu akhirnya tahu siapa Allah yang sejati dan siapa Allah yang palsu. Baal terbukti palsu.

Kita tidak menyaksikan pertarungan ini secara langsung, tetapi kita bisa memakai strategi yang dipakai oleh Ilyas untuk menguji apakah suatu pesan atau seorang nabi benar-benar berasal dari Allah. Strateginya adalah dengan mengujinya sedemikian rupa sehingga nyata bahwa hanya Allah dan utusan-utusan-Nyalah yang akan berhasil membuktikannya. Sementara itu, mereka yang bergantung pada kemampuan manusia tidak akan sanggup, sama halnya dengan nabi-nabi Baal yang tidak sanggup mendatangkan api dari surga.

 Ujian Ilyas saat ini

Bagaimana penerapan ujian seperti ini pada masa sekarang?

Surah An-Najm berkata:

(Tidak!) Maka milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia

.An-Najm 53:25

Hanya Allah yang mengetahui Akhir dari segala sesuatu, bahkan sebelum Akhir tersebut terjadi. Manusia hanya bisa mengetahui Akhir dari sesuatu setelah semua itu terjadi. Oleh karena itu, ujian ini bertujuan untuk melihat apakah pesan yang disampaikan meramalkan masa depan dengan tepat jauh sebelum hal tersebut terjadi. Tidak ada seorang manusia ataupun berhala yang bisa melakukannya. Hanya Allah yang bisa.

Banyak yang bertanya-tanya apakah Nabi Isa Almasih AS, sebagaimana dinyatakan dalam Injil, adalah  memang pesan Allah yang sejati, ataukah semata-mata adalah rekayasa kaum cerdik cendekia. Kita bisa menerapkan ujian yang dipakai Ilyas untuk menjawab pertanyaan ini. Kitab Taurat dan Zabur, bersama dengan kitab para nabi seperti Ilyas, ditulis ratusan bahkan ribuan tahun sebelum masa Isa Almasih AS. Kitab-kitab ini ditulis oleh para nabi Yahudi. Dengan demikian, jelas bahwa tulisan-tulisan ini bukanlah tulisan ‘Kristen.’ Apakah tulisan-tulisan awal ini berisi nubuat-nubuat yang dengan tepat memprediksi peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Isa Almasih? Berikut ringkasan nubuat-nubuat yang tertulis dalam Taurat. Berikut ringkasan berikutnya. Sekarang Anda bisa mengujinya seperti Ilyas unnubuat-nubuat yang tertulis dalam Zabur dan para nabi tuk mengetahui apakah Nabi Isa Almasih AS, sebagaimana dinyatakan dalam Injil, adalah benar-benar dari Allah atau merupakan penyimpangan  yang dilakukan oleh manusia.

Surah Al-Anam menyebut Ilyas bersamaan dengan Yahya dan Isa Almasih. Menariknya, dalam kitab terakhir Perjanjian Lama, Ilyas dinubuatkan datang dan mempersiapkan hati kita untuk kedatangan Sang Masih. Dalam Injil, kita melihat bagaimana Nabi Yahya datang seperti Ilyas untuk memberi teguran dan mempersiapkan orang bagi kedatangan Sang Masih. Pribadi Ilyas sendiri juga terikat dengan nubuat-nubuat mengenai Yahya dan Sang Masih.

 

Siapakah Yusuf? Apa Tanda yang Ditunjukkannya?

Surah Yusuf (Surah 12 – Yusuf) menceritakan kisah Hazrat Yusuf. Yusuf adalah anak Hazrat Ya’qub, anak Hazrat Ishaq, anak Hazrat Ibrahim. Ya’qub memunyai dua belas anak, dan salah satunya adalah Yusuf. Kesebelas saudara Yusuf bersepakat melawan dia dan rencana perlawanan mereka ini membentuk kisah Yusuf. Cerita ini pertama kali dicatat dalam Taurat Musa lebih dari 3500 tahun yang lalu. Lihat cerita lengkapnya dalam Taurat di sini dan cerita dalam Surah Yusuf (Surah 12 – Yusuf) di sini. Surah Yusuf memberitahu kita bahwa ini bukanlah sekedar cerita, tetapi:

Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya

Surah Yusuf 12:7

Dalam cerita Yusuf dan saudara-saudaranya, apa yang menjadi ‘tanda’ bagi mereka yang sedang mencari kebenaran? Untuk memahami ‘tanda-tanda’ ini, mari kita tinjau kembali ceritanya dalam Taurat dan Surah Yusuf.

Sujud di hadapan …?

Satu tanda yang jelas adalah mimpi Yusuf yang ia ceritakan kepada ayahnya, Ya’qub, seperti yang tertulis dalam surah berikut:

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Surah Yusuf 12:4

Pada akhir ceritanya, kita melihat bahwa

Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.

Surah Yusuf 12:100

Dalam Alquran, kata ‘sujud’ disebutkan berkali-kali. Namun, kata itu hanya digunakan untuk menjelaskan sujud kepada Allah yang Mahakuasa, dalam doa, di Ka’bah, atau di hadapan mujizat Allah (seperti para ahli sihir Mesir dengan Musa). Namun, di sini ada satu pengecualian, yaitu sujud yang diberikan kepada manusia (Yusuf). Satu-satunya kejadian yang serupa terjadi ketika para malaikat diperintahkan untuk ‘bersujud’ di hadapan Hazrat Adam (Ta-Ha 116 dan Al-Araf 11). Akan tetapi, malaikat bukanlah manusia, peraturan umumnya adalah, manusia hanya sujud kepada Tuhan.

ahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung.

Al-Hajj 22:77

Apa yang membuat Yusuf mendapat pengecualian sehingga ayahnya, Ya’qub, dan saudara-saudaranya bersujud di hadapannya?

Anak Manusia

 Historical Timeline showing Prophet Daniel and other prophets of Zabur

Kerangka Sejarah menunjukkan Nabi Daniel bersama dengan nabi-nabi lain Kitab Zabur

Likewise in the Bible we are commanded to only prostrate before, or worship, the LORD, but there is also an exemption.  The prophet Daniel received a vision which looked far forward in time to when the Kingdom of God would be established and in his vision he saw a ‘Son of Man’.

Alkitab juga memberi perintah yang sama, yaitu manusia hanya bersujud atau menyembah TUHAN saja, namun ada juga pengecualian. Nabi Daniel menerima penglihatan tentang masa jauh di depan saat Kerajaan Allah didirikan, dan dalam penglihatan itu, ia melihat seorang ‘Anak Manusia’.

13 Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya.
14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.

Daniel 7:13-14

Dalam penglihatan itu, manusia bersujud di hadapan ‘anak manusia’ sama seperti keluarga Yusuf bersujud di hadapan Yusuf.

‘Anak Manusia’ adalah gelar yang paling sering dipakai oleh Isa Almasih AS untuk menyebut dirinya sendiri. Selama di bumi, dia memang menunjukkan kuasanya yang agung saat mengajar, – saat menyembuhkan, dan saat menaklukkan alam. Namun, dia tidak datang ‘dalam awan-awan surga’ seperti yang dinyatakan dalam ramalan penglihatan Daniel, karena penglihatan itu menunjukkan masa yang lebih jauh dari masa akan datang. Penglihatan itu melewati masa kedatangannya yang pertama sampai pada kedatangannya yang kedua – masa di mana dia kembali lagi ke bumi untuk menghancurkan Dajjal (seperti nubuat yang dinyatakan kepada Hazrat Adam) dan mendirikan Kerajaan Allah.

Kedatangannya yang pertama, lahir melalui perawan Maryam, adalah untuk menebus umat manusia sehingga mereka bisa menjadi warga Kerajaan Allah. Namun, pada saat itu pun, dia telah menyatakan bahwa dia, Sang Anak Manusia, akan memisahkan umat manusia ketika dia datang kembali dalam awan-awan. Dia menubuatkan semua bangsa akan datang dan sujud di hadapannya seperti halnya saudara-saudara Yusuf datang bersujud di hadapan Yusuf. Lihat apa yang diajarkan Sang Masih berikut:

31 “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.
44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?
45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.
46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”

Matius 25: 31-46

Hazrat Yusuf dan Isa Almasih

Selain pengecualian bahwa manusia lain akan bersujud di hadapan mereka, Hazrat Yusuf dan Isa Almasih juga menjalani beberapa pola dan kejadian yang sama dalam hidup mereka. Perhatikanlah berbagai situasi yang menunjukkan persamaan dalam hidup mereka:

Peristiwa-peristiwa dalam hidup Hazrat Yusuf Peristiwa-peristiwa dalam hidup Isa Almasih

 

Saudara-saudaranya, yang kemudian menjadi 12 suku Israil, membenci Yusuf dan menolaknya. Orang Yahudi, sebagai suatu bangsa yang terdiri atas berbagai suku, membenci Isa Almasih dan menolaknya sebagai Sang Masih.
given by God)Yusuf menyatakan kepada Israil (nama Ya’qub yang diberikan oleh Allah) bahwa saudara-saudaranya akan bersujud kepadanya di masa depan. Isa Almasih menyatakan kepada bangsa Israil bahwa saudara-saudaranya (sesamanya orang Yahudi) akan bersujud kepadanya di masa depan (Markus 14:62).
Yusuf diutus oleh Ya’qub, ayahnya, kepada saudara-saudaranya, tetapi mereka menolaknya dan bersepakat untuk membunuhnya. Isa Almasih diutus oleh Bapa-Nya kepada saudara-saudaranya, orang Yahudi, tetapi “umat kepunyaannya tidak menerimanya.” (Yahya 1:11) dan mereka “bersepakat untuk membunuhnya” (Yahya 11:53)

 

Mereka melemparkannya ke dalam sumur tanah yang dalam.

 

Isa Almasih turun ke kedalaman bumi.
Yusuf disingkirkan dengan dijual dan diserahkan kepada orang asing. Isa Almasih disingkirkan dengan dijual dan diserahkan kepada orang asing.

 

Dia dibawa jauh supaya saudara-saudara dan ayahnya berpikir bahwa dia sudah mati. Israil dan saudara-saudaranya, orang Yahudi, berpikir bahwa Isa Almasih masih dalam keadaan mati.

 

Yusuf direndahkan sebagai seorang hamba.

 

Isa Almasih mengambil “rupa sebagai seorang hamba” dan ‘merendahkan dirinya’ sampai mati. (Filipi 2:7)

 

Yusuf dituduh melakukan dosa. Bangsa Yahudi “menuduhnya mengenai banyak hal”. (Markus 15:3)

 

Yusuf dimasukkan ke dalam penjara sebagai seorang budak. Di sana, dia menubuatkan bebasnya seorang tawanan dari kegelapan penjara bawah tanah (tukang roti).

 

Isa Almasih diutus “… untuk membalut hati yang hancur, memaklumkan kebebasan bagi para tawanan dan kelepasan bagi para tahanan…”. (Yesaya 61:1)
Yusuf naik menuju takhta Mesir, mengatasi semua penguasa lain, langsung di bawah Firaun sendiri. Orang-orang yang datang kepadanya bersujud di hadapannya.

 

“Allah sangat menjunjungnya (Almasih) tinggi dan menganugerahkan kepadanya nama di atas segala nama supaya di dalam nama Isa semua akan bertekuk lutut, baik yang ada di langit, di bumi, maupun yang ada di bawah bumi,…”. (Filipi 2:9-11)

 

provide themSementara ia masih ditolak dan dipercaya telah mati oleh saudara-saudaranya, bangsa-bangsa datang kepada Yusuf untuk mendapatkan roti yang bisa ia sediakan bagi mereka. Sementara Dia masih ditolak dan dipercaya telah mati oleh saudara-saudara sebangsanya, orang Yahudi, bangsa-bangsa datang kepada Isa Almasih untuk mendapatkan roti hidup yang hanya bisa disediakan oleh-Nya.
Yusuf menyampaikan pengkhianatan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya.

 

(Kejadian 50: 19-20)

 

Isa Almasih menyampaikan bahwa pengkhianatan yang dilakukan oleh saudara-saudara sebangsanya, orang Yahudi, adalah kehendak Allah dan melaluinya banyak jiwa akan diselamatkan.

 

(Yahya 5:24)

Saudara-saudaranya dan bangsa-bangsa bersujud di hadapan Yusuf. Nubuat Daniel tentang Anak Manusia adalah, “semua bangsa dan kaum, dengan setiap bahasanya, akan menyembahnya”

 

Banyak Pola – Banyak Tanda

Hampir semua nabi dalam Taurat memiliki hidup yang terpola dengan Isa Almasih – pola-pola ini telah tertata ratusan tahun sebelum kedatangan-Nya. Hal ini terjadi untuk menunjukkan bahwa kedatangan Sang Masih merupakan murni rencana Allah, bukan gagasan manusia, karena manusia tidak tahu apa yang akan terjadi jauh di masa depan.

Mulai dari Hazrat Adam sudah ada nubuat mengenai Sang Masih. Alkitab menyatakan bahwa Hazrat Adam

…. adalah gambaran dia yang akan datang (yaitu Isa Almasih)

14 Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.

Roma 5:14

Meskipun pada akhirnya Yusuf menerima sujud dari saudara-saudaranya, yang menjadi penekanan utama dalam hidupnya bukanlah sujud itu, melainkan penolakan, pengorbanan, dan pengasingannya dari saudara-saudaranya. Penekanan pada pengorbanan Sang Masih juga bisa dilihat dalam pola pengorbanan Nabi Ibrahim. Setelah masa Yusuf, kedua belas anak Ya’qub menjadi dua belas suku Israil yang kemudian dipimpin oleh Nabi Musa AS keluar dari Mesir. Cara ia melakukannya juga menunjukkan sebuah pola yang menubuatkan detail-detail pengorbanan Sang Masih. Sebenarnya, dalam Kitab Taurat terdapat banyak tanda mendetail yang ditulis ribuan tahun sebelum kedatangan Sang Masih. Kitab Zabur dan Kitab Nabi-Nabi lainnya, yang berisi detail-detail lebih lanjut yang ditulis ratusan tahun sebelum Sang Masih, menekankan penolakan dalam nubuat tentang Hamba yang Menderita. Tidak ada satu orang pun yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada ratusan tahun ke depan. Lalu, bagaimana nabi-nabi itu mengetahui detail-detail ini? Tentu Allah sendirilah yang mengilhamkannya kepada mereka. Jika demikian adanya, maka penolakan yang dialami oleh Isa Almasih dan pengorbanannya pastilah merupakan rencana Allah.

Sebagian besar pola atau nubuat ini berhubungan dengan kedatangan pertama Sang Masih di mana dia mempersembahkan dirinya sendiri supaya kita bisa diselamatkan dan dapat memasuki Kerajaan Allah.

Namun demikian, gambaran Yusuf juga merujuk lebih jauh pada masa ketika Kerajaan Allah akan didirikan dan semua bangsa akan bersujud saat Isa Almasih datang kembali ke dunia. Sekarang kita hidup pada masa ketika kita diundang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Janganlah kita menjadi seperti orang bodoh dalam Surah Al-Ma’arij yang menunda sampai Hari Penghakiman dalam mencari Sang Penebus – dan terlambat. Pelajari sekarang  hidup yang ditawarkan Sang Masih bagi Anda.

Sang Masih mengajarkan bahwa kedatangannya yang kedua akan seperti ini:

ada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.
2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,
4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.
5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.
6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!
7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.
8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.
9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.
10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.
11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!
12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.
13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”
14 “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
17 Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.
18 Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.
20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.
21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
22 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.
23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
24 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
25 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!
26 Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?
27 Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
28 Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
30 Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Matius 25:1-30