Pertanyaan umum

Me -  in beautiful Muskoka, ON, Canada
Me –  in beautiful Muskoka, ON, Canada

 Saya –  di daerah Muskoka yang cantik, ON, Kanada.

Saya ingin membagikan bagaimana Kabar Baik Injil menjadi bermakna bagi saya. Mudah-mudahan ini bisa membuat Anda lebih memahami artikel-artikel yang ada dalam situs web ini.

(Sebagai informasi … Saya tinggal di Kanada. Saya sudah menikah dan kami punya seorang anak laki-laki. Saya menempuh pendidikan di Universitas Toronto, Universitas New Brunswick, dan Universitas Acadia. Saya memiliki berbagai gelar di bidang Teknik. Sebagian besar pengalaman profesional saya di bidang teknik adalah dalam hal perangkat lunak komputer dan permodelan matematika.)

Kegelisahan yang Dialami Seorang Remaja Kaya

Saya tumbuh dalam keluarga profesional kelas menengah-atas. Keluarga saya berasal dari Swedia. Kami pindah ke Kanada ketika saya masih kecil, dan kemudian besar di beberapa negara ketika keluarga kami tinggal di sana – Aljazair, Jerman dan Kamerun. Saya akhirnya kembali ke Kanada untuk kuliah. Sama seperti yang lain, saya ingin (dan masih ingin) mengalami kehidupan yang penuh – kehidupan yang penuh kepuasan, rasa damai, penuh makna dan tujuan – serta keterhubungan dengan orang lain, terutama dengan keluarga dan teman-teman saya.

Karena saya tinggal di lingkungan masyarakat yang beragam – masyarakat dengan berbagai latar belakang agama hingga masyarakat yang sangat sekuler – dan karena saya sangat suka membaca, saya terpapar pada berbagai pandangan tentang apa yang pada akhirnya ‘benar’ dan apa yang perlu saya lakukan untuk mendapatkan kehidupan yang penuh. Yang saya amati adalah, meskipun saya (dan kebanyakan orang Barat) memiliki kekayaan, teknologi, dan kebebasan untuk memilih – seperti yang belum pernah kami alami sebelumnya – untuk mencapai tujuan-tujuan di atas, tujuan-tujuan ini tampak begitu sulit dicapai. Ironi, memang. Saya perhatikan bahwa kini hubungan keluarga lebih mudah dikesampingkan dan lebih bersifat sementara dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Saya mendengar bahwa jika kita bisa mendapatkan ‘sedikit lebih banyak’ maka kita akan mencapai tujuan kita. Tetapi seberapa banyak lagi? Dan lebih banyak dari apa? Uang? Pengetahuan ilmiah? Teknologi? Kesenangan? Status?

Sebagai anak muda, pertanyaan-pertanyaan ini menimbulkan kegelisahan yang suram dalam hati saya. Karena ayah saya adalah seorang insinyur konsultan asing di Aljazair, saya bergaul dengan anak-anak muda kaya, berfasilitas, dan berpendidikan barat. Meski demikian, kehidupan dalam lingkungan itu rasanya terlalu sederhana karena hanya ada beberapa hal yang bisa menghibur kami. Jadi, saya dan teman-teman saya merindukan saat-saat kami bisa kembali ke negara asal kami, saat kami bisa menonton TV, makan makanan yang enak, memiliki banyak kesempatan yang terbuka, dibarengi dengan kebebasan dan kemudahan hidup orang Barat – karena pada saat itulah kami akan merasa ‘puas’. Meskipun demikian, tidak lama setelah saya mengunjungi Kanada atau Eropa, kegelisahan yang sama kembali memenuhi hati saya. Dan parahnya, saya juga memperhatikan bahwa kegelisahan ini pun dialami oleh orang-orang yang tinggal di sana semumur hidup mereka. Apa pun yang mereka miliki (dan diukur dengan standar apa pun, apa yang mereka miliki memang banyak) mereka selalu merasa kurang.

Saya pikir saya akan menemukan ‘apa yang saya cari’ ketika saya punya pacar yang populer. Dan untuk sementara waktu hal itu memang sepertinya mengisi sesuatu dalam diri saya, tetapi setelah beberapa bulan, kegelisahan tersebut kembali lagi. Saya pikir, ketika saya lulus sekolah, saya akan ‘mendapatkan apa yang saya cari’ … lalu ketika saya bisa mendapatkan SIM dan mengendarai mobil – saya pikir pencarian saya akan berakhir. Namun ternyata sekarang, ketika saya sudah lebih tua, saya mendengar orang berbicara bahwa pensiun adalah tiket untuk mendapatkan kepuasan hidup. Jadi, seperti itu sajakah? Apakah kita menghabiskan seluruh hidup kita hanya untuk mengejar apa yang kita inginkan satu demi satu, memikirkan hal selanjutnya yang kita pikir akan memberikan apa yang kita inginkan, dan kemudian … hidup kita berakhir!? Tampaknya sia-sia sekali kalau demikian!

Pada saat itulah saya mulai memercayai Allah meskipun dunia Barat penuh dengan orang-orang yang sekuler, dan bahkan ateis. Rasanya terlalu sulit bagi saya untuk percaya bahwa seluruh dunia ini dan semua yang ada di dalamnya terjadi karena kebetulan. Namun terlepas dari kepercayaan religius saya ini, saya terus mengalami kekacauan batin ketika mencoba memuaskan kegelisahan yang telah saya uraikan di atas dengan melakukan, mengatakan, atau memikirkan hal-hal yang pada akhirnya membuat saya malu. Saya merasa seperti memiliki kehidupan rahasia yang tidak diketahui orang lain. Hidup saya penuh dengan iri hati (Saya menginginkan apa yang dimiliki orang lain.), ketidakjujuran (Saya kadang-kadang mengaburkan kebenaran.), pertengkaran (Saya dengan mudah bisa bertengkar dengan orang-orang dalam keluarga saya.), tindakan seksual yang amoral (Seringkali hal seperti itu yang saya tonton di TV – dan ini sebelum adanya internet – atau yang saya baca, atau renungkan dalam pikiran saya.), dan keegoisan. Saya tahu bahwa meskipun banyak orang tidak melihat sisi hidup saya yang seperti ini, Allah melihatnya, dan hal ini membuat saya gelisah. Sebenarnya, dalam banyak hal akan lebih mudah bagi saya untuk tidak percaya pada keberadaan-Nya, karena saya kemudian bisa mengabaikan rasa malu yang muncul akibat rasa bersalah saya di hadapan-Nya. Saya mengajukan pertanyaan seperti yang Daud ajukan dalam Kitab Zabur, ”Dengan apakah seorang muda menjaga kesucian hidupnya?” (Zabur 119: 9) Meskipun saya mencoba menjalankan ibadah keagamaan seperti berdoa, menyangkal diri, atau mengikuti pertemuan-pertemuan keagamaan, pergumulan yang ada di dalam hati saya ini tidak menjauh.

Kebijaksanaan Sulaiman

Pada masa-masa itu, karena kegelisahan yang saya lihat dalam diri saya dan di sekitar saya, tulisan-tulisan Sulaiman memberikan pengaruh yang mendalam kepada saya. Sulaiman, putra Daud, adalah raja Israel Kuno yang terkenal karena kebijaksanaannya. Dia menulis beberapa buku yang merupakan bagian dari Kitab Zabur. Dalam buku-buku itu dia menggambarkan kegelisahan seperti yang saya alami. Dia menulis:

Aku berkata dalam hati, “Marilah, aku hendak mengujimu dengan kesukaan. Nikmatilah kesenangan!” Tetapi sesungguhnya, itu pun kesia-siaan. Tentang tawa aku berkata, “Itu gila!” dan tentang kesukaan, “Apa gunanya?” Kucoba menyukakan tubuhku dengan anggur, dan memegang kebodohan—sementara hatiku tetap menuntunku dengan hikmat. Aku ingin melihat apa yang baik bagi bani Adam, yang patut mereka lakukan di kolong langit ini sepanjang hidup mereka yang singkat itu. Kemudian, kulakukan pekerjaan-pekerjaan besar: Kubangun bagi diriku rumah-rumah, kutanami bagi diriku kebun-kebun anggur. Kubuat bagi diriku kebun-kebun dan taman-taman, lalu kutanam di dalamnya segala jenis pohon buah-buahan. Kubuat pula bagi diriku kolam-kolam air untuk mengairi hutan tempat pohon-pohon tumbuh. Kubeli beberapa budak laki-laki dan perempuan, lalu ada budak-budak yang lahir di rumahku. Juga kumiliki banyak ternak berupa kawanan lembu dan kawanan kambing domba melebihi semua orang yang hidup di Yerusalem sebelum aku. Selain itu, kukumpulkan bagi diriku perak, emas, dan harta benda dari raja-raja serta provinsi-provinsi. Kudapatkan bagi diriku para biduan dan biduanita, serta kesukaan bani Adam, yaitu banyak gundik. Maka, aku menjadi semakin besar lebih daripada semua orang yang hidup di Yerusalem sebelum aku. Sementara itu, hikmatku tetap ada padaku. Apa pun yang diinginkan mataku tidak kutahan, dan aku tidak mencegah hatiku dari segala kesukaan karena hatiku bersukacita atas segala jerih lelahku. Itulah bagianku dari segala jerih lelahku.
 
Pengajar 2: 1-10

Kekayaan, ketenaran, pengetahuan, proyek, banyak istri, kesenangan, kerajaan, status … Sulaiman memiliki semuanya – dan dia lebih dari siapa pun pada zamannya atau pun pada zaman kita. Anda mungkin berpikir bahwa dia pasti mengalami kepuasan yang lebih daripada siapa pun. Namun dia menyimpulkan:

Lalu, kupandang segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku, dan jerih lelah yang telah ku upayakan untuk mengerjakannya. Lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menggenggam angin. Tidak ada keuntungan di bawah matahari. Kemudian, aku berpaling untuk mengamati hikmat, kegilaan, dan kebodohan. Apakah yang dapat dilakukan orang yang menggantikan raja? Hanya apa yang sudah lama dilakukan. Kulihat bahwa hikmat lebih berfaedah daripada kebodohan sebagaimana terang lebih berfaedah daripada kegelapan. Orang bijak memiliki mata di kepalanya, sedangkan orang bodoh berjalan dalam kegelapan. Tetapi, aku tahu juga bahwa nasib yang sama berlaku atas mereka semua. Maka, aku berkata dalam hati, “Nasib yang berlaku atas orang bodoh juga akan berlaku atasku. Kalau begitu, mengapa aku harus lebih bijak?” Dalam hati aku berkata bahwa hal ini pun kesia-siaan. Seperti halnya orang bodoh, orang bijak pun tidak akan selamanya dikenang; pada hari-hari yang akan datang semuanya akan terlupakan.
Orang bijak pun mati, sama seperti orang bodoh! Sebab itu, aku membenci hidup karena pekerjaan yang dikerjakan di bawah matahari itu susah bagiku. Segala sesuatu hanyalah kesia-siaan dan usaha menggenggam angin. Aku membenci segala jerih lelah yang telah kuupayakan di bawah matahari sebab aku harus meninggalkannya bagi orang yang ada setelah aku. Siapa yang tahu apakah orang itu bijak atau bodoh? Namun, ia akan menguasai segala hasil jerih lelah yang kuupayakan dengan bijak di bawah matahari. Ini pun kesia-siaan. Jadi, aku berpaling dan membiarkan hatiku putus asa karena segala jerih lelah yang telah kuupayakan di bawah matahari. Ada orang yang berjerih lelah dengan bijak, dengan pengetahuan, dan dengan kecakapan, tetapi ia harus meninggalkannya bagi orang yang tidak berjerih lelah untuk itu sebagai bagiannya. Ini pun kesia-siaan dan kemalangan yang besar. Apakah yang diperoleh manusia dari segala jerih lelah serta keinginan hati yang diupayakannya di bawah matahari? Seluruh hidupnya adalah penderitaan, dan pekerjaannya adalah dukacita, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenang. Hal ini pun kesia-siaan.
 
Pengajar 2: 11-23

Kematian, Agama & Ketidakadilan– Kehidupan yang Tetap ‘Di Bawah Matahari’

Seiring dengan semua masalah ini, saya merasa terganggu oleh aspek kehidupan yang lain. Hal itu mengganggu Sulaiman juga.

Nasib bani Adam sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka. Sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain mati. Semuanya memiliki napas yang sama dan manusia tidak lebih unggul daripada binatang karena segala sesuatu adalah kesia-siaan. Semuanya menuju satu tempat, semuanya berasal dari debu, dan semuanya kembali kepada debu. Siapa yang tahu apakah nyawa bani Adam naik ke atas dan nyawa binatang turun ke bawah, ke bumi?”

Pengajar 3:19-21
Segala sesuatu berlaku sama bagi semua orang. Nasib yang sama menimpa orang benar dan orang fasik, orang baik dan orang jahat, orang suci dan orang najis, orang yang mempersembahkan kurban dan orang yang tidak mempersembahkan kurban. Sebagaimana nasib orang baik, demikian pula nasib orang berdosa. Sebagaimana nasib orang yang bersumpah, demikian pula nasib orang yang takut bersumpah. Inilah kemalangan dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari: Nasib semua orang sama. Lagi pula, selain hati bani Adam penuh dengan kejahatan, ada kegilaan dalam hati mereka seumur hidup, lalu setelah itu mereka menuju dunia orang mati. Siapa yang termasuk orang hidup masih punya harapan sebab anjing yang hidup lebih baik daripada singa yang mati. Orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang sudah mati tidak tahu apa-apa. Tidak ada lagi upah bagi mereka
 
Pengajar 9:2-5

Saya dibesarkan dalam keluarga yang religius dan tinggal di Aljazair, yang juga merupakan negara religius. Mungkinkah agama adalah jawabannya? Yang saya temukan adalah, agama seringkali dangkal – hanya berurusan dengan upacara lahiriah – tetapi tidak menyentuh hati kita. Berapa banyak kewajiban keagamaan seperti sholat dan pergi ke gereja (atau masjid) yang harus dilakukan seseorang untuk mendapatkan cukup ‘pahala’ dari Tuhan? Mencoba menjalani kehidupan moral yang religius sangatlah melelahkan. Siapa yang memiliki kekuatan untuk terus-menerus menghindari dosa? Berapa banyak yang harus saya hindari? Apa yang sebenarnya Allah harapkan dari saya? Kewajiban agama bisa memberatkan.

Dan sungguh, jika Allah berkuasa, mengapa pekerjaan-Nya begitu buruk? Saya menanyakan hal itu kepada diri saya sendiri karena tidak sulit untuk melihat adanya ketidakadilan, korupsi, dan penindasan di dunia. Ini bukanlah peristiwa yang baru-baru saja terjadi, karena Sulaiman pun melihatnya pada 3000 tahun yang lalu. Dia berkata:

Aku melihat pula di bawah matahari: Di tempat keadilan, di sana pun ada kefasikan,
dan di tempat kebenaran, di sana pun ada kefasikan.… Lalu, aku kembali melihat segala penindasan yang dilakukan di bawah matahari Lihat, air mata orang-orang yang tertindas! Tidak ada yang menghibur mereka. Di pihak para penindas mereka ada kuasa,
dan tidak ada yang menghibur mereka Sebab itu, aku menganggap orang-orang mati, yang sudah lama meninggal, lebih bahagia daripada orang-orang hidup, yang kini masih hidup. Tetapi, lebih baik daripada keduanya ialah orang yang kini belum ada, yang belum melihat perbuatan jahat yang dilakukan di bawah matahari.
 
Pengajar 3:16; 4: 1-3

Bagi Sulaiman, seperti yang juga bisa kita lihat dengan jelas, kehidupan ‘di bawah matahari’ ditandai dengan penindasan, ketidakadilan, dan kejahatan. Mengapa demikian? Apakah ada jalan keluarnya? Namun hidup berakhir begitu saja dengan kematian. Kematian merupakan penghabisan dan memiliki wewenang yang mutlak atas hidup kita. Seperti yang ditulis oleh Sulaiman, kematian adalah nasib semua orang: orang yang baik maupun buruk, orang yang beragama maupun tidak. Hal yang terkait erat dengan kematian adalah pertanyaan mengenai keabadian. Apakah saya akan pergi ke Firdaus? Atau (lebih mengkhawatirkan lagi), apakah saya akan pergi ke tempat penghakiman kekal – Neraka?

Mencari dalam Sastra Abadi

Masalah mencapai kepuasan abadi dalam hidup, beban ibadah keagamaan, penindasan dan ketidakadilan yang telah menjangkiti seluruh sejarah manusia, masalah kematian sebagai akhir, serta kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi setelah itu, menggelegak dalam diri saya. Tahun terakhir saya di SMA, kami pernah diberi tugas untuk mengumpulkan seratus lembar karya sastra (puisi, lagu, cerpen, dll.) yang kami sukai. Itu adalah salah satu tugas paling memuaskan yang pernah saya kerjakan waktu sekolah. Waktu itu, sebagian besar karya yang saya kumpulkan berhubungan dengan salah satu masalah tadi. Tugas ini memungkinkan saya untuk ‘bertemu’ dan mendengarkan banyak orang yang juga bergulat dengan masalah-masalah ini. Dan saya bertemu mereka – dari segala macam era, latar belakang pendidikan, filosofi, gaya hidup, dan aliran.

Saya juga menyertakan beberapa perkataan Isa (Yesus) dalam Injil. Jadi bersamaan dengan karya sastra sekuler, ada ajaran dari Isa yang seperti berikut:

“… Aku datang dengan maksud supaya domba-domba itu mempunyai hidup dan mempunyainya berlimpah-limpah”

Yahya 10:10

Saya sadar bahwa mungkin, mungkin saja, inilah jawaban bagi masalah-masalah yang diajukan oleh Sulaiman, para penulis itu, dan juga saya. Lagipula, Injil (yang sampai saat itu hanya sekedar kata keagamaan yang tidak terlalu berarti) secara harfiah berarti ‘kabar baik’. Apakah Injil benar-benar Kabar Baik? Apakah Injil memang bisa dipercaya, atau bermasalah? Pertanyaan-pertanyaan ini berkembang dalam diri saya.

Pertemuan yang Tak Terlupakan

Beberapa waktu kemudian pada tahun yang sama, saya dan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Swiss untuk bermain ski. Setelah seharian bermain ski, dengan tenaga muda yang kami miliki, malam harinya kami menghabiskan waktu di klub-klub. Di bar-bar ini kami menari, bertemu dengan banyak gadis, dan bersenang-senang sampai larut malam.

Resor ski di Swiss itu terletak di daerah pegunungan yang tinggi. Saya masih ingat dengan jelas ketika suatu malam yang larut saya keluar dari salah satu ruang dansa dan berjalan menuju ke kamar saya. Saya berhenti dan menatap bintang-bintang. Karena waktu itu sangat gelap (Saya berada di gunung, di mana ada sedikit ‘polusi cahaya’ buatan manusia.), saya bisa melihat kemegahan dan keagungan semua bintang. Pemandangan ini benar-benar membuat saya terkesima. Saya hanya bisa berdiri menatap bintang-bintang itu dengan perasaan kagum. Sebuah ayat dari Zabur muncul dalam benak saya, “Langit menyatakan Kemuliaan Allah …”

Zabur 19: 1

Ketika memandang keagungan alam semesta berbintang pada malam yang sangat gelap itu, saya merasa seperti bisa melihat sisi yang sangat kecil dari keagungan Allah. Dan dalam keheningan saat itu, saya tahu bahwa saya punya pilihan. Saya bisa tunduk kepada-Nya, atau tetap mengikuti jalan yang saya tempuh: memiliki semacam kesalehan tetapi menyangkal kuasa dari kesalehan itu dalam seluruh aspek kehidupan saya. Jadi saya berlutut dan bersujud dalam keheningan malam yang gelap itu dan berdoa, “Engkau adalah Tuhan. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu. Ada banyak hal yang tidak kumengerti. Tolong tuntun aku di Jalan Lurus-Mu ”. Saya tetap bersujud dalam penyerahan diri dan mengakui bahwa saya memiliki banyak dosa dalam hidup saya dan meminta bimbingan-Nya. Tidak ada manusia lain bersama dengan saya saat itu, hanya saya dan Allah, dengan latar belakang penuh bintang, pada sekitar jam 2 pagi, di luar resor ski, di Swiss. Itu adalah pertemuan dengan Allah yang tidak akan pernah saya lupakan. Kata-kata saya bahkan tidak cukup untuk menggambarkannya.

Itu adalah langkah penting dalam perjalanan hidup saya. Saya menyerahkan diri saya pada pilihan-Nya ketika saya berada tepat di mana saya menginginkan jawaban. Saya mulai mendapatkan jawaban-jawaban yang saya cari ketika saya meneliti dan tunduk pada apa yang saya pelajari. Banyak tulisan dalam situs web ini merupakan hal-hal yang saya pelajari sejak malam itu. Ada perasaan yang sangat nyata bahwa ketika seseorang memulai perjalanan semacam ini, dia mungkin tidak akan pernah benar-benar sampai di tujuan yang dia inginkan. Namun saya telah belajar dan mengalami bahwa Injil sungguh memberikan jawaban bagi permasalahan-permasalahan yang saya hadapi dalam hidup saya. Maksud utama Injil sebenarnya adalah untuk mengatasi permasalahan-permasalahan itu – kehidupan yang penuh, kematian, keabadian, kebebasan, dan masalah-masalah praktis seperti kasih dalam hubungan keluarga kita, rasa malu, rasa bersalah, rasa takut, dan pengampunan. Injil menyatakan diri sebagai fondasi untuk membangun kehidupan kita. Mungkin seseorang tidak menyukai jawaban yang diberikan oleh Injil, atau tidak sepenuhnya memahaminya. Namun karena pesan ini datang dari Allah dalam pribadi Isa AlMasih, adalah hal yang bijaksana kalau kita berusaha mendapatkan informasi tentangnya.

Jika Anda mengambil waktu untuk mempertimbangkan Injil, Anda mungkin akan menemukan hal-hal yang saya temukan.

Kita lihat dalam sejarah bangsa Israel bahwa pada tahun 70 M mereka diusir dari Tanah Perjanjian untuk hidup sebagai orang buangan dan orang asing di semua bangsa di dunia.   Selama sekitar 2000 tahun inilah di mana dan bagaimana orang Israel hidup.   Ketika mereka tinggal di berbagai negara ini, mereka secara berkala menderita penganiayaan besar. Ini secara khusus benar di lingkungan Kristen di Eropa.   Dari Spanyol, di Eropa Barat, hingga penganiayaan Yahudi di Rusia, orang Israel sering hidup dalam keadaan genting. Kata-kata Musa yang diberikan dalam Kutukan terpenuhi seperti yang tertulis

65 Di antara bangsa-bangsa itu engkau tidak akan mendapat ketenangan. Tidak akan ada tempat perhentian bagi telapak kakimu. Di sana Allah akan memberikan kepadamu hati yang gemetar, mata yang sayu, dan jiwa yang merana.

Ulangan28: 65

Garis waktu di bawah ini menunjukkan periode 2000 tahun ini sejak setelah sejarah orang Israel dari zaman Alkitab.   Periode ini ditampilkan dalam garis balok merah panjang.

Garis Waktu Sejarah orang Yahudi dari Musa hingga Saat ini

Anda dapat lihat bahwa orang Israel melewati sejarah mereka dalam dua periode pengasingan tetapi periode pengasingan kedua jauh lebih lama daripada periode pengasingan pertama (yang hanya dari 600-530 SM).

Orang-orang Yahudi menjaga identitas budaya mereka

Yang menarik bagi saya yaitu meskipun orang Israel tidak pernah memiliki pijakan utama untuk meletakkan akar budaya, dan meskipun mereka tidak pernah berkembang sangat banyak (seringkali karena kematian dalam penganiayaan), mereka tidak pernah kehilangan identitas budaya mereka selama periode 2000 tahun ini.   Itu sangat menakjubkan.   Di sini di Taurat adalah daftar negara-negara yang tinggal di Tanah Perjanjian pada saat Tanda 1 Musa (AS).

Maka saya turun untuk menyelamatkan mereka dari tangan orang Mesir dan membawa mereka keluar dari tanah itu ke tanah yang baik dan luas, tanah yang dipenuhi susu dan madu — rumah orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Peris, Hivit dan Yebusit . (Keluaran 3: 8)

Dan sejak saat pemberian Berkah-berkah dan Kutukan-kutukan :

1 Setelah Allah, Tuhanmu, membawa engkau ke negeri yang akan kau masuki serta duduki, Ia akan menghalau banyak bangsa dari hadapanmu, yaitu orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus—tujuh bangsa yang lebih besar dan lebih kuat daripada kamu.

Ulangan 7: 1

Apakah ada di antara orang-orang ini yang masih ada, mempertahankan identitas budaya dan bahasa mereka?   Tidak, mereka sudah lama hilang.   Kita hanya tahu tentang ‘ Girgashites ‘ dari sejarah kuno ini.   Ketika kekaisaran Babilonia, Persia, Yunani, dan kemudian Romawi menaklukkan bangsa-bangsa ini, mereka dengan cepat kehilangan bahasa dan identitas mereka ketika mereka terserap ke dalam kekaisaran besar ini.   Ketika saya tinggal di Kanada, saya melihat para imigran datang ke sini dari seluruh dunia.   Setelah generasi ketiga budaya dan bahasa negara imigran sudah lama hilang.   Saya berimigrasi dari Swedia ke Kanada ketika saya masih sangat muda.   Anak saya tidak bisa bahasa Swedia.   Demikian juga anak-anak dari saudara lelaki atau perempuan saya.   Identitas Swedia dari leluhur saya menghilang ke dalam wadah peleburan budaya Kanada.   Dan ini berlaku untuk hampir semua imigran apakah mereka berasal dari Cina, Jepang, Korea, Iran, Amerika Selatan, Afrika atau negara-negara Eropa – dalam tiga generasi hilang.

Jadi luar biasa bahwa orang Israel, yang hidup dalam permusuhan seperti itu, dipaksa untuk melarikan diri kesana kemari selama berabad-abad, populasi global mereka tidak pernah melebihi 15 juta, tidak pernah kehilangan identitas mereka – agama, budaya dan bahasa – meskipun ini berlangsung selama 2000 tahun.

Genosida modern orang Yahudi – Holocaust

Kemudian penganiayaan dan pembasmian etnik terhadap orang-orang Yahudi mencapai puncaknya. Hitler dalam Perang Dunia II, melalui Nazi Jerman berusaha memusnahkan semua orang Yahudi yang tinggal di Eropa.   Dan dia hampir berhasil dengan menciptakan sistem mekanis untuk memusnahkan mereka dengan gas oven.   Namun dia dikalahkan dan sisa-sisa orang Yahudi selamat.

Kelahiran Kembali Israel Modern

Dan kemudian pada tahun 1948 orang-orang Yahudi, melalui PBB, mengalami kelahiran kembali yang luar biasa dari negara modern Israel.   Sungguh kenyataan yang luar biasa, seperti disebutkan di atas, bahwa masih ada orang yang menamakan diri mereka sebagai ‘orang Yahudi’ setelah bertahun-tahun.   Tetapi kata-kata Musa yang tertulis 3500 tahun yang lalu untuk menjadi kenyataan harus tetap ada ‘kamu’ atau orang-orang yang dapat menerima janji itu. Jadi mereka tetap menjadi umat bahkan saat berada di pengasingan yang panjang.

3 maka Allah, Tuhanmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan mengasihani engkau. Ia akan kembali mengumpulkan engkau dari antara bangsa-bangsa tempat Allah, Tuhanmu, mencerai-beraikan engkau.

4 Bahkan jika ada di antaramu yang terbuang ke ujung langit, maka dari sana juga Allah, Tuhanmu, akan mengumpulkan engkau, dan dari sana juga Ia akan mengambil engkau.

Ulangan30: 3-4

Ini memang pertanda bahwa Allah menepati Firman-Nya.

Ini juga luar biasa karena negara ini didirikan di atas perlawanan sengit.   Sebagian besar negara di wilayah itu berperang melawan Israel pada tahun 1948 … pada tahun 1956 … pada tahun 1967 dan lagi pada tahun 1973.   Israel, negara yang sangat kecil, sering berperang dengan lima negara pada saat yang sama.   Namun tidak hanya mereka bertahan hidup, tetapi wilayah mereka meningkat.   Dalam perang 1967, orang-orang Yahudi merebut kembali Yerusalem, ibu kota bersejarah mereka yang didirikan oleh Dawud (David).

Mengapa Allah mengijinkan kelahiran kembali Israel

Sampai hari ini, semua perkembangan modern ini sangat kontroversial.   Hampir tidak ada kejadian modern lain yang menimbulkan begitu banyak kontroversi seperti kelahiran kembali Israel dan kembalinya bangsa Israel – yang terjadi hampir setiap hari sekarang – dari negara-negara ini di seluruh dunia tempat mereka hidup selama ribuan tahun di pengasingan.   Dan mungkin saat Anda membaca ini, Anda sendiri dipenuhi amarah.   Jelas bukan bahwa orang Yahudi saat ini religius – kebanyakan sangat sekuler atau ateis karena apa yang terjadi dengan genosida Hitler yang hampir berhasil.   Dan bukan berarti mereka benar.   Tetapi fakta yang menakjubkan yaitu apa yang ditulis Musa di akhir kutukan telah terjadi dan masih terjadi di depan mata kita.   Mengapa?   Apa artinya ini?   Dan bagaimana ini bisa terjadi ketika mereka masih menolak Al Masih?   Ini adalah pertanyaan penting.   Jawaban untuk semua pertanyaan ini dapat ditemukan di Taurat dan Zabur .   Mungkin Anda marah dengan apa yang baru saja saya tulis, mungkin pahit.   Tetapi mungkin kita dapat menunda penilaian terakhir sampai kita memahami sebagian dari apa yang ditulis para nabi tentang peristiwa yang luar biasa ini.   Mereka menuliskannya untuk keuntungan kita – karena ini semua akan mengarah pada Penghakiman – untuk orang Yahudi dan yang lainnya.   Marilah kita setidaknya mengetahui tentang apa yang ditulis para nabi ini sehingga kita dapat membangun penilaian kita dari semua tulisan.   Kami lanjutkan dengan Zabur untuk menanyakan mengapa orang-orang Yahudi menolak Al Masih .

Kadang-kadang, saya ditanya apakah Allah benar-benar mengharapkan dan menuntut ketaatan100% dari kita? Kita bisa berdebat dengan sesama kita mengenai hal ini, tetapi Allah sendiri yang akan menjawabnya, bukan kita. Oleh karena itu, saya mengutip ayat-ayat dari Kitab Taurat yang berbicara tentang tuntutan tingkat ketaatan kita terhadap Hukum Taurat. Berikut adalah ayat-ayatnya. Perhatikan betapa banyak dan jelasnya ayat-ayat tersebut. Ayat-ayat tersebut penuh dengan frasa seperti “melakukan dengan setia”, “SELURUH perintah”, “segenap hati”, “berpegang pada perintah-perintah”, “segala sesuatu”, “semua peringatan”, “taat sepenuhnya”, “segala perkataan”, dan “mendengarkan seluruhnya”.

Standar ketaatan 100% ini tidak pernah berubah pada masa nabi-nabi yang datang kemudian. Isa Almasih (AS) dalam Kitab Injil berkata,

17 “Jangan menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat, yaitu hukum yang terdapat dalam Kitab Suci Taurat, atau firman yang telah disampaikan Allah melalui para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18 Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, sebelum langit dan bumi lenyap, satu titik atau satu huruf terkecil pun dari hukum Taurat tidak akan ditiadakan sampai semuanya digenapi.
19 Sebab itu, siapa meniadakan salah satu perintah yang terkecil sekalipun dari hukum ini, lalu mengajarkannya kepada orang lain, ia akan memperoleh kedudukan yang paling rendah dalam Kerajaan Surga. Tetapi, siapa melakukan dan mengajarkannya, ia akan memperoleh kedudukan yang tinggi dalam Kerajaan Surga.

(Matius 5:17-19)

Dan Nabi Muhammad (SAW) dalam hadis berkata,

Diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Umar: Sekelompok orang Yahudi datang dan mengundang Rasulullah (SAW) ke Quff. … Mereka berkata: ‘AbulQasim, salah satu dari orang-orang kami telah melakukan percabulan terhadap seorang wanita; maka hukuman apa yang dijatuhkan mereka ‘. Mereka menempatkan bantal untuk Rasulullah (SAW) yang duduk di atasnya dan berkata: “Bawa Taurat”. Kemudian dibawa. Dia kemudian menarik kembali bantal dari bawahnya dan ditempatkan Taurat di atasnya dan mengatakan:“. Saya percaya kepadamu dan kepada-Nya yang mengungkapkan kepadamu”. (Sunan Abu Dawud Book 38, No. 4434)

Dengan demikian, hal ini menjadi jelas. Allah menyiapkan Firdaus‒suatu tempat yang sempurna dan suci‒di mana Dia berada. Tidak ada sistem keamanan yang diperlukan pada zaman sekarang‒seperti polisi, tentara, atau kunci‒untuk melindungi diri kita dari akibat dosa kita satu sama lain. Itu sebabnya, tempat itu adalah Firdaus. Supaya tempat tersebut tetap sempurna, maka hanya orang yang sempurna yang bisa memasukinya‒yaitu mereka yang melakukan “semua” perintah, “senantiasa”, “dengan sepenuhnya”, dan “dalam segala hal”.

Demikianlah yang diajarkan oleh Kitab Taurat tentang sejauh mana tingkat ketaatan yang dituntut dari kita terhadap Hukum Taurat:

  • Imamat 18:4 Peraturan-peraturan-Ku harus kamu lakukan dan ketetapan-ketetapan-Ku harus kamu pegang teguh. Hiduplah menurut semua itu. Akulah Allah, Tuhanmu.
  • Imamat 18:5 Peganglah teguh ketetapan-ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-Ku sebab orang yang melakukannya akan hidup karenanya. Akulah Allah.
  • Imamat 25:18 Turutilah ketetapan-ketetapan-Ku dan peganglah teguh peraturan-peraturan-Ku. Lakukanlah semua itu maka kamu akan tinggal di negeri itu dengan aman.
  • Imamat 26:3-4 Jika kamu hidup menurut ketetapan-ketetapan-Ku, memegang teguh perintah-perintah-Ku, dan melakukan semua itu, maka Aku akan menurunkan hujan bagimu pada musimnya sehingga tanah memberi hasil dan pohon-pohon di ladang mengeluarkan buah.
  • Bilangan 15:39 Jumbai-jumbai itu akan menjadi rambu-rambu peringatan bagimu karena setiap kali kamu melihatnya, kamu akan mengingat segala perintah Allah dan melakukannya sehingga kamu tidak lagi mengikuti keinginan hatimu atau keinginan matamu sendiri, seperti yang biasa kamu lakukan dalam kekafiranmu.
  • Bilangan 15:40  Dengan demikian, kamu dapat mengingat dan melakukan segala perintah-Ku sehingga kamu menjadi suci bagi Tuhanmu.
  • Ulangan 5:27  Tuan sajalah yang datang mendekat dan mendengarkan semua yang difirmankan Allah, Tuhan kita. Setelah itu, sampaikanlah kepada kami segala yang difirmankan Allah, Tuhan kita, kepada Tuan. Kami akan mendengar serta melaksanakannya.’
  • Ulangan 11:1 Kasihilah Allah, Tuhanmu, dan peganglah teguh kewajibanmu pada-Nya, juga ketetapan-ketetapan, peraturan-peraturan, serta perintah-perintah-Nya.
  • Ulangan 11:13 Jadi, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan perintah-perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, yaitu mengasihi Allah, Tuhanmu, serta beribadah kepada-Nya dengan segenap hati dan segenap jiwamu,
  • Ulangan 11:32  lakukanlah dengan setia segala ketetapan dan peraturan yang kusampaikan kepadamu pada hari ini.
  • Ulangan 12:28 Ingatlah dan taatilah segala perkataan yang kuperintahkan kepadamu ini. Dengan demikian, keadaanmu dan keadaan anak-anakmu kelak akan baik sampai selama-lamanya karena engkau melakukan apa yang baik dan benar dalam pandangan Allah, Tuhanmu.
  • Ulangan 13:18 karena engkau mematuhi Allah, Tuhanmu, memegang teguh segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, dan melakukan apa yang benar dalam pandangan Allah, Tuhanmu.
  • Ulangan 15:5 asal engkau sungguh-sungguh mematuhi Allah, Tuhanmu, dan melakukan dengan setia segala perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini.
  • Ulangan 26:14 Dari persembahan itu tidak sesuatu pun kumakan ketika aku berkabung, tidak sesuatu pun kukeluarkan ketika aku dalam keadaan najis, dan tidak sesuatu pun kupersembahkan kepada orang mati. Sebaliknya, aku mematuhi Allah, Tuhanku, dan aku melakukan segala yang Kauperintahkan kepadaku.
  • Ulangan 28:1 Jadi, jika engkau sungguh-sungguh mematuhi Allah, Tuhanmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka Allah, Tuhanmu, akan meninggikan engkau di atas segala bangsa di bumi.
  • Ulangan 28:15 Akan tetapi, jika engkau tidak mau mematuhi Allah, Tuhanmu, untuk melakukan dengan setia segala perintah-Nya dan ketetapan-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang ke atasmu dan sampai kepadamu..
  • Ulangan 30:2 lalu engkau dan anak-anakmu berbalik kepada Allah, Tuhanmu, dan mematuhi-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, seperti semua yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini…
  • Ulangan 30:10 asal engkau mematuhi Allah, Tuhanmu, dengan memegang teguh perintah-perintah-Nya serta ketetapan-ketetapan-Nya yang tertulis dalam Kitab Suci Taurat ini, dan asal engkau berbalik kepada Allah, Tuhanmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.
  • Ulangan 32:46 berkatalah ia kepada mereka, “Taruhlah di hatimu segala perkataan yang kusampaikan kepadamu pada hari ini. Perintahkanlah anak-anakmu untuk melakukan segala perkataan hukum Taurat ini dengan setia

Maaf. Ini bukan Kabar Baik. Sebaliknya, ini adalah kabar yang sangat buruk karena berarti Anda (dan juga saya karena saya punya masalah yang sama) tidak memiliki kebenaran. Kebenaran penting, karena hal ini adalah dasar yang menjadikan Kerajaan Allah, sebagai Firdaus. Kebenaran akan menjadi tolok ukur dalam urusan kita dengan sesama (tidak berbohong, tidak mencuri, tidak membunuh, tidak menyembah berhala, dsb.) dan dalam ibadah yang benar di hadapan Allah, yang akan menghadirkan Firdaus. Itu sebabnya, Kebenaran diperlukan untuk memasuki Kerajaan Suci seperti yang dinyatakan oleh Nabi Daud dalam Kitab Zabur. Hanya orang yang sesuai dengan gambaran inilah yang akan masuk ke dalam Kerajaan Suci dan itu sebabnya tempat tersebut akan menjadi Firdaus.

1 Ya Allah, siapakah yang boleh menumpang dalam Kemah Suci-Mu? Siapakah yang boleh tinggal di gunung-Mu yang suci? 2 Dia yang hidup tak bercela, yang berbuat benar, dan yang mengatakan kebenaran dalam hatinya; 3 dia yang tidak memfitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap sahabatnya, dan yang tidak menanggungkan cela kepada tetangganya; 4 dia yang memandang hina orang keji, tetapi menghormati orang yang bertakwa kepada Allah; dia yang tidak mengubah janjinya sekalipun rugi; 5 dia yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan bunga, dan yang tidak menerima suap untuk melawan orang yang tak bersalah. Orang yang berbuat demikian selama-lamanya tak akan tergoyahkan. (Zabur 15:1-5)

Memahami Dosa

Karena Anda (dan saya) tidak selalu mematuhi Perintah Allah, kita berdosa. Jadi, apa itu dosa? Sebuah ayat dari kitab setelah Kitab Taurat dalam Perjanjian Lama memberikan gambaran yang menolong saya memahami prinsip-prinsip dosa dengan lebih baik. Ayat tersebut berkata,

Di antara seluruh pasukan itu terdapat tujuh ratus orang pilihan bertangan kidal. Setiap orang di antara mereka dapat mengumban batu mengenai sehelai rambut tanpa meleset sedikit pun. (Hakim-Hakim 20:16)

Dalam ayat ini digambarkan para prajurit yang mahir dalam menggunakan umban. Bidikannya  tidak pernah meleset. Kitab Taurat dan Perjanjian Lama ditulis oleh para nabi dalam bahasa Ibrani. Kata ‘meleset’ diterjemahkan dari kata dalam bahasa Ibrani yaituיַחֲטִֽא׃ (diucapkan Khaw-taw). Kata yang sama dalam bahasa Ibrani ini diterjemahkan menjadi dosa dalam Kitab Taurat. Contohnya, kata ini diterjemahkan menjadi ‘dosa’,ketika Yusuf‒yang dijual sebagai budak ke Mesir‒tidak mau berzina dengan istri tuannya, sekalipun istri tuannya itu memohon kepadanya (juga diceritakan kembali dalam Alquran melalui Surah 12: 22-29‒Yusuf). Yusuf berkata kepada istri tuannya itu,

 Di dalam rumah ini tidak ada seorang pun yang lebih besar wewenangnya daripada aku, dan tuanku tidak menahan apa pun dari aku, selain Nyonya karena Nyonya istrinya. Bagaimana mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berdosa terhadap Allah?” (Kejadian 39:9)

Selain itu, tidak lama setelah pemberian Sepuluh Perintah Allah, Kitab Taurat menyatakan bahwa,

Kata Musa kepada bangsa itu, “Jangan takut karena Allah telah datang untuk menguji kamu supaya ketakwaan kepada-Nya selalu ada padamu sehingga kamu tidak berbuat dosa.” (Keluaran 20:20)

Dalam kedua ayat ini, terdapat kata dalam bahasa Ibrani yang sama, yaituיַחֲטִֽא׃ yang diterjemahkan menjadi ‘dosa’. Kata tersebut sama persis dengan kata ‘meleset’ yang dipakai saat para prajurit mengumban batu ke sasaran. Dalam kedua ayat ini, kata tersebut berarti ‘dosa’ saat dihubungkan dengan perlakuan seseorang terhadap orang lain. Allah telah memberikan gambaran yang luar biasa untuk menolong kita memahami apa itu ‘dosa’. Para prajurit membidik sasaran. Jika meleset, prajurit itu gagal mencapai tujuannya. Dengan cara yang sama, Allah telah menciptakan kita untuk mengenai sasaran dalam hal beribadah kepada Dia dan memperlakukan orang lain. ‘Berdosa’ sama artinya dengan meleset dari tujuan atau sasaran yang Allah maksudkan bagi kita. Situasi itulah yang kita dapati kalau kita tidak mematuhi Sepuluh Perintah Allah‒kita meleset dari maksud Allah menciptakan kita.

KematianKonsekuensi Dosa dalam Kitab Taurat

Jadi, apa akibat dosa? Kita melihat petunjuk pertama mengenai hal ini dalam Tanda Nabi Adam. Waktu Adam tidak taat (meskipun hanya sekali!), Allah menjadikannya fana. Dengan kata lain, dia sudah akan mati. Hal ini berlanjut dengan Tanda Nabi Nuh. Allah menghukum manusia dengan kematian dalam air bah. Kemudian, hal ini berlanjut dengan Tanda Nabi Lut yang mana hukuman Allah lagi-lagi adalah kematian. Anak Nabi Ibrahim seharusnya mati saat dikurbankan. Azab ke-sepuluh dalam Kitab Keluaran adalah kematian anak sulung. Akibat dosa ini diperjelas dan dipertegas lagi waktu Allah berbicara kepada Nabi Musa (AS). Kita melihatnya sesaat sebelum Allah sendiri menulis Sepuluh Perintah Allah pada loh batu. Dia memerintahkan,

10 Firman Allah kepada Musa, “Pergilah kepada bangsa itu. Sucikanlah mereka pada hari ini dan besok. Mereka harus mencuci pakaiannya 11 dan bersiap-siap menjelang hari ketiga karena pada hari ketiga itu Allah akan hadir di atas Gunung Sinai di depan mata seluruh bangsa itu.

12 Pasanglah batas di sekeliling bangsa itu dan katakan kepada mereka, ‘Hati-hati, jangan naik ke gunung ini atau bahkan hanya menyentuh kakinya. Siapa menyentuh gunung ini pastilah dihukum mati. (Keluaran 19:10-12)

Pola ini berlanjut sepanjang Kitab Taurat. Bani Israil tidak sepenuhnya menaati Allah (mereka berdosa) tetapi mendekati tempat kudus-Nya. Perhatikan bahwa mereka menjadi benar-benar khawatir ketika menyadari konsekuensinya.

12 Kata bani Israil kepada Musa, “Sesungguhnya, kami akan mati! Kami binasa, kami semua binasa! 13 Siapa pun yang datang mendekati Kemah Suci Allah akan mati. Haruskah kami habis binasa?” (Bilangan 17:12-13)

Harun sendiri yang adalah,saudara laki-laki Nabi Musa (AS), memunyai anak-anak laki-laki yang mati karena mendekati Ruang Teramat Suci Allah dengan dosa.

Sesudah kedua anak Harun mati karena mereka mendekati hadirat Allah, berfirmanlah Allah kepada Musa.

Firman Allah kepada Musa, “Katakanlah kepada Harun abangmu agar jangan ia masuk sembarang waktu ke dalam Ruang Suci di balik tabir, di hadapan tutup pendamaian yang ada di atas tabut supaya jangan ia mati karena Aku menampakkan diri dalam awan di atas tutup pendamaian itu. (Imamat 16:1-2)

Jadi, Harun (AS) diberi perintah tentang tata cara yang benar yang harus dia lakukan untuk mendekati tempat ini. Allah juga mengajarinya menjadi imam dengan

…Jabatan imam Kukaruniakan kepadamu sebagai suatu pemberian; orang awam yang berani mendekati Kemah itu harus dihukum mati.” (Bilangan 18:7)

Selanjutnya, beberapa anak perempuan yang tidak memunyai saudara laki-laki mendekati Nabi Musa (AS) untuk meminta tanah warisan. Mengapa ayah mereka mati?

“Ayah kami telah meninggal di padang belantara. Ia tidak termasuk orang-orang dalam kelompok Qarun yang bermufakat untuk melawan Allah, melainkan ia meninggal karena dosanya sendiri. Akan tetapi, ia tidak mempunyai anak laki-laki. (Bilangan 27:3)

Jadi, ada pola besar yang ditegakkan, dan dirangkum pada bagian akhir Kitab Taurat dengan,

…Setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri. (Ulangan 24: 16b)

Allah mengajari bani Israil (dan kita) bahwa akibat dosa adalah maut.

Rahmat Allah

Namun, bagaimana dengan Rahmat Allah? Apakah Rahmat Allah bisa dilihat pada zaman-zama tersebut? Ya! Bisakah kita belajar dari bukti tersebut? Ya! Sangat penting bagi kita yang berdosa dan tidak memunyai kebenaran untuk memperhatikan Rahmat Allah ini. Kita sudah bisa melihat Rahmat Allah dalam Serangkaian Tanda-Tanda yang sudah dikemukakan sebelumnya.  Sekarang, Rahmat Allah akan semakin jelas terlihat dalam Tanda Imam Harun – Seekor Lembu dan Dua Ekor Kambing.

 

Selamat! Anda bisa merasa makin percaya diri dan aman pada hari Penghakiman karena jika Anda mematuhi seluruh Hukum Taurat sepanjang waktu, Anda memunyai Kebenaran. Secara pribadi, saya tidak mengenal seorang pun yang sanggup mematuhi Hukum Taurat dengan cara demikian, jadi memang ini adalah prestasi yang luar biasa. Namun, jangan hentikan dulu upaya Anda, Anda harus terus mengikuti Jalan yang Lurus ini sepanjang hidup Anda.

Sudah saya nyatakan bahwa Sepuluh Perintah Allah dalam Hukum Taurat tidak pernah dibatalkan mengingat perintah tersebut berurusan dengan hal-hal mendasar seperti beribadah kepada Satu Tuhan, berzinah, mencuri, kejujuran, dan lain sebagainya. Namun, nabi-nabi yang datang kemudian mengulas perintah-perintah tersebut untuk menjelaskan penerapannya secara utuh dan mendalam. Berikut adalah apa yang dikatakan oleh Isa Almasih (AS) dalam Kitab Injil tentang bagaimana kita menaati Sepuluh Perintah Allah ini. Dalam ajaran-Nya, Dia mengacu kepada ‘orang Farisi’. Mereka adalah para pengajar religius pada zaman itu. Mereka dapat dianggap sebagai sarjana yang sangat religius dan berpengetahuan luas pada zaman sekarang.

Perkataan Isa Almasih (AS) tentang Sepuluh Perintah Allah

20 Karena itu, Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak melakukan kehendak Allah lebih daripada para ahli Kitab Suci Taurat dan orang-orang dari mazhab Farisi, maka kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

21 Kamu telah mendengar perkataan yang disampaikan melalui nenek moyang kita, ‘Jangan membunuh! Siapa melakukannya harus dihakimi.’

22 Tetapi, Aku berkata kepadamu, siapa marah kepada saudaranya harus dihakimi. Siapa memaki saudaranya dengan berkata, ‘Hai kafir,’ harus dihadapkan ke Mahkamah Agama. Siapa berkata, ‘Hai jahil,’ harus dimasukkan ke neraka jahanam.

23 Sebab itu, jika engkau membawa persembahanmu ke tempat pembakaran kurban, lalu di sana tiba-tiba engkau ingat bahwa saudaramu menganggap engkau bersalah terhadapnya,

24 tinggalkanlah persembahanmu itu di depan tempat pembakaran kurban, lalu pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu. Setelah itu, barulah engkau boleh datang kembali ke tempat pembakaran kurban untuk mempersembahkan persembahanmu.

25 Segeralah berdamai dengan orang yang mendakwa engkau sewaktu engkau masih dalam perjalanan bersamanya supaya ia tidak menyerahkan engkau ke pengadilan, lalu hakim menyerahkan engkau kepada petugasnya dan engkau dimasukkan ke penjara.

26 Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, engkau sekali-kali tidak akan dikeluarkan dari tempat itu sebelum engkau melunasi sisa hutangmu.

27 Kamu telah mendengar perkataan, ‘Jangan berzina.’

28 Tetapi, Aku berkata kepadamu, siapa memandang perempuan serta menginginkannya, ia telah berbuat zina dengan perempuan itu di dalam hatinya.

29 Sebab itu, jika mata kananmu menyebabkan engkau bersalah, cungkil dan buanglah!
Karena lebih baik engkau kehilangan satu anggota tubuhmu daripada seluruh tubuhmu dimasukkan ke neraka jahanam.

30 Demikian juga jika tangan kananmu menyebabkan engkau berdosa, potong dan buanglah! Karena lebih baik engkau kehilangan satu anggota tubuhmu daripada seluruh tubuhmu masuk ke neraka jahanam. (Matius 5:20-30)

Lagi pula, para rasul Isa Almasih ‒kawan sekerja-Nya‒juga menjelaskan tentang penyembahan berhala. Mereka menjelaskan bahwa penyembahan berhala tidak hanya menyembah patung-tetapi juga menyembah apapun yang lain bersamaan dengan Allah, termasuk uang. Itu sebabnya, mereka menjelaskan bahwa ‘keserakahan’ adalah penyembahan berhala juga, karena orang yang serakah memuja uang bersamaan dengan Allah.

5 Oleh sebab itu, matikanlah di dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, keinginan untuk melakukan hal-hal yang zalim, dan keserakahan yang sesungguhnya sama dengan penyembahan berhala. 6 Semua itu mendatangkan murka Allah atas orang-orang yang durhaka.

4 Begitu juga halnya dengan kata-kata atau lelucon yang kotor dan bodoh, yaitu hal-hal yang tidak pantas. Sebaliknya, lebih baik kamu memanjatkan syukur. 5 Karena kamu tahu bahwa orang-orang yang cabul, yang cemar, dan yang tamak (orang tamak sama dengan penyembah berhala), tidak akan memperoleh warisan dalam Kerajaan Al-Masih dan Allah. 6 Jangan sampai ada orang yang menipu kamu dengan perkataan kosongnya, sebab karena hal-hal itulah murka Allah turun atas orang-orang yang durhaka.

Penjelasan tersebut membawa Sepuluh Perintah Allah, yang awalnya, secara luas, berurusan dengan tindakan-tindakan lahiriah, menuju ranah batiniah, menyangkut motivasi dari dalam hati, yang hanya bisa dilihat oleh Allah. Hal ini menjadikan Hukum Taurat makin sulit dilakukan.

Anda dapat mempertimbangkan kembali jawaban Anda, apakah Anda mematuhi Hukum Taurat atau tidak? Namun, kalau Anda yakin bahwa Anda mematuhi seluruh Hukum Taurat, maka Injil tidak akan bermakna atau berfaedah bagi Anda. Tidak perlu juga mengikuti Tanda-Tanda berikutnya atau mencoba memahami Kitab Injil, karena Kitab Injil hanya untuk mereka yang tidak berhasil mematuhi Hukum Taurat ‒bukan untuk mereka yang berhasil mematuhinya ‒. Isa Almasih menjelaskan hal ini dalam ayat di bawah ini.

10 Selanjutnya, ketika Isa makan di rumah Matius, datanglah para pemungut cukai dan para pendosa, lalu mereka turut makan bersama-sama dengan Isa serta para pengikut-Nya. 11 Pada waktu orang-orang dari mazhab Farisi melihat hal itu, mereka berkata kepada para pengikut-Nya, “Mengapa Gurumu makan dengan para pemungut cukai dan para pendosa?”

12 Hal itu didengar oleh Isa, lalu bersabdalah Ia, “Orang-orang yang sehat tidak memerlukan tabib, melainkan orang-orang sakitlah yang memerlukannya. 13 Pergilah dan pelajarilah arti firman ini, ‘Aku menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan.’ Kedatangan-Ku pun bukan untuk memanggil orang-orang saleh, melainkan orang-orang berdosa.” (Matius 9:10-13)