Masih yang Akan Datang: Dalam Tanda ‘Tujuh’

Berkali-kali dalam Alquran, kita melihat bahwa Allah menggunakan siklus tujuh. Misalnya, Surah At-Talaq (Surah 65‒Perceraian) menyatakan

 Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.

Surah At-Talaq 65: 12

Dan Surah An-Naba (Surah 78 – Berita Besar) mengatakan

(yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka),

Surah An-Naba 78: 12

Jadi, tidak mengejutkan kalau waktu kedatangan Masih juga dinyatakan dalam angka tujuh, seperti yang akan kita lihat di bawah ini.

Seiring dengan penelaahan kita terhadap para nabi, kita telah belajar bahwa terkadang meskipun mereka  terpisah satu sama lain selama ratusan tahun‒sehingga mereka tidak bisa berkoordinasi satu sama lain tentang nubuat mereka‒namun nubuat mereka mengembangkan tema sentral tentang Masih yang akan datang (= Kristus). Kita lihat bahwa nabi Yesaya (AS) telah menggunakan Tanda Ranting dari tunggul, kemudian nabi Zakharia (AS) telah bernubuat bahwa Ranting ini akan memiliki nama Ibrani Yhowshuwa, yang dalam bahasa Yunani disebut Iesous, yaitu Jesus dalam bahasa Inggris dan Isa dalam bahasa Arab. Ya, nama Masih (= Kristus) telah dinubuatkan 500 tahun sebelum Isa Almasih‒Yesus (AS)‒pernah hidup. Nubuat ini dituliskan dalam Kitab Yahudi, (bukan dalam Injil), yang masih dibaca dan diterima‒tetapi tidak dipahami‒oleh orang-orang Yahudi.

Nabi Daniel

Sekarang, kita mendatangi nabi Daniel (AS). Dia tinggal di pengasingan di Babilonia dan merupakan pejabat tinggi di pemerintahan Babel dan Persia‒dia juga seorang nabi. Kerangka waktu di bawah ini menunjukkan kapan nabi Daniel (AS) hidup dalam sejarah para nabi.

The Prophets Daniel & Nehemiah shown in timeline with other prophets of Zabur

Dalam kitabnya, nabi Daniel (AS), menerima pesan dari malaikat Gabriel (Jibril). Daniel dan Maria‒ibu Yesus (Isa‒AS), adalah dua orang dari seluruh Alkitab yang menerima pesan yang diberikan oleh Gabriel (Jibril). Jadi kita harus memberikan perhatian khusus pada pesan ini. Malaikat Gabriel (Jibril) mengatakan kepadanya bahwa:

sementara aku berbicara dalam doa, terbanglah dengan cepat ke arahku Gabriel, dia yang telah kulihat dalam penglihatan yang dahulu itu pada waktu persembahan korban petang hari.
Lalu ia mengajari aku dan berbicara dengan aku: “Daniel, sekarang aku datang untuk memberi akal budi kepadamu untuk mengerti.
Ketika engkau mulai menyampaikan permohonan keluarlah suatu firman, maka aku datang untuk memberitahukannya kepadamu, sebab engkau sangat dikasihi. Jadi camkanlah firman itu dan perhatikanlah penglihatan itu!
Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus, untuk melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi yang maha kudus.
Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan.
Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah rakyat seorang raja memusnahkan kota dan tempat kudus itu, tetapi raja itu akan menemui ajalnya dalam air bah; dan sampai pada akhir zaman akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan.

Daniel 9: 21-26

Kita lihat bahwa nubuat ini adalah nubuat tentang kedatangan ‘Yang Diurapi’ (= Kristus = Masih seperti yang kita lihat di sini). Malaikat Gabriel (Jibril) memberi jadwal kapan Masih akan datang. Gabriel (Jibril) mengatakan akan ada penghitungan yang akan dimulai dengan ‘penerbitan keputusan untuk memulihkan dan membangun kembali Yerusalem’. Meskipun Daniel menerima pesan ini (sekitar tahun 537 SM), dia tidak lagi hidup untuk mengalami awal penghitungan ini.

Penerbitan Keputusan untuk memulihkan dan membangun kembali Yerusalem

Justru Nehemia, yang hidup hampir seratus tahun setelah Daniel (AS), yang melihat awal dari penghitungan ini. Dia adalah juru minuman raja untuk Kaisar Persia Artahsasta dan dengan demikian dia tinggal di Susa yang sekarang terletak di Iran. Lihatlah kapan dia hidup dalam kerangka waktu di atas. Dia memberi tahu kita dalam kitabnya, bahwa

Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja,
bertanyalah ia kepadaku: “Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati.” Lalu aku menjadi sangat takut.
Jawabku kepada raja: “Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?”
Lalu kata raja kepadaku: “Jadi, apa yang kauinginkan?” Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit,
kemudian jawabku kepada raja: “Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali.”
Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya: “Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?” Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya.
Berkatalah aku kepada raja: “Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda.
Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami.” Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku.
Maka datanglah aku kepada bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat dan menyerahkan kepada mereka surat-surat raja. Dan raja menyuruh panglima-panglima perang dan orang-orang berkuda menyertai aku.
Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, mendengar hal itu, mereka sangat kesal karena ada orang yang datang mengusahakan kesejahteraan orang Israel.
Maka tibalah aku di Yerusalem. Sesudah tiga hari aku di sana,
bangunlah aku pada malam hari bersama-sama beberapa orang saja yang menyertai aku. Aku tidak beritahukan kepada siapapun rencana yang akan kulakukan untuk Yerusalem, yang diberikan Allahku dalam hatiku. Juga tak ada lain binatang kepadaku kecuali yang kutunggangi.

Nehemia 2: 1-12

Ayat-ayat tersebut mencatat “penerbitan keputusan untuk memulihkan dan membangun kembali Yerusalem” yaitu suatu hari pada masa yang akan datang, yang dinubuatkan Daniel. Dan kita lihat bahwa hal itu terjadi pada tahun ke-20 Kaisar Persia, Artahsasta, yang dikenal dengan baik dalam sejarah dan memulai pemerintahannya pada 465 SM. Dengan demikian, tahun ke-20 diterbitkannya keputusan tersebut jatuh pada tahun 444 SM. Gabriel (Jibril) telah mengirim pesan kepada nabi Daniel (AS) dan memberikan tanda dimulainya penghitungan. Hampir seratus tahun kemudian, Kaisar Persia, tanpa mengetahui nubuat Daniel ini, menerbitkan keputusan ini‒ dan dengan demikian memulai penghitungan, dan seperti telah ditulis sebelumnya bahwa hal ini akan menyatakan Yang Diurapi‒Masih.

Angka Tujuh yang Misterius

Pesan Gabriel (Jibril) yang diberikan kepada nabi Daniel mengindikasikan bahwa dibutuhkan “tujuh‘tujuh’ dan enam puluh dua ‘tujuh’”lalu kemudian Masih akan dinyatakan. Jadi apa yang dimaksud dengan ‘Tujuh’? Dalam Taurat Musa (AS), ada siklus tujuh tahun. Setiap tahun ke-7 tanah harus diistirahatkan, tidak ditanami, sehingga tanah bisa mengisi kembali unsur haranya. Jadi, ‘Tujuh’ adalah siklus 7 tahun. Dengan mengingat hal itu, kita lihat bahwa sejak dikeluarkannya keputusan, penghitungan akan datang dalam dua bagian. Bagian pertama adalah ‘tujuh tujuh’ atau tujuh periode 7 tahun. Hal ini berarti, 7 x 7 = 49 tahun, adalah waktu yang diperlukan untuk membangun kembali Yerusalem. Hal ini diikuti oleh enam puluh dua tujuh, sehingga total penghitungannya adalah 7 * 7 + 62 * 7 = 483 tahun. Dengan kata lain, sejak dikeluarkannya keputusan Artahsasta, akan ada 483 tahun sampai Masih dinyatakan.

Tahun yang terdiri dari 360 hari

Harus ada sedikit penyesuaian yang kita buat pada kalender. Seperti yang dilakukan oleh banyak bangsa pada zaman kuno, para nabi menggunakan perhitungan tahun yang lamanya 360 hari. Ada berbagai cara untuk menetapkan lamanya satu tahun dalam kalender. Kalender Barat (catatan: Kalender Solar) (berdasarkan revolusi matahari) adalah 365,24 hari, dan Kalender Muslim (catatan: Kalender Lunar) 354 hari (berdasarkan siklus bulan), dan yang digunakan Daniel adalah 360 hari. Jadi 483 tahun jika dihitung menggunakan Kalender ‘360 hari’ adalah 483 x 360 / 365.24 = 476 tahun (Kalender Solar).

Tahun Kedatangan Masih

Dengan informasi ini kita dapat menghitung kapan Masih seharusnya datang. Kita akan beralih dari era ‘SM’ ke era ‘M’ dan hanya ada 1 tahun dari 1SM – 1M (tidak ada tahun ‘nol’). Informasi untuk perhitungan ini dirangkum dalam tabel berikut:

Tahun mulai 444 SM (tahun ke-20 pemerintahan Artahsasta)
Lamanya waktu 476 tahun (Kalender Solar)
Perkiraan kedatangan menurut Kalender Barat (-444 + 476 + 1) (‘ditambah 1’ karena tidak ada tahun 0 M) = 33
Perkiraan tahun kedatangan 33 M

Dengan menunggang seekor keledai, Yesus dari Nazareth datang ke Yerusalem  pada waktu yang  dikenal luas sebagai perayaan hari Minggu Palem. Hari itu ia menyatakan dirinya dan memasuki Yerusalem sebagai Masih mereka. Itu tahun 33 M.

Nabi Daniel dan Nehemia, meskipun mereka tidak mengenal satu sama lain karena masa hidup mereka terpisah 100 tahun lamanya, dikoordinir oleh Allah untuk menerima nubuat dan memulai  penghitungan yang akan menyatakan Masih. Sekitar 570 tahun setelah nabi Daniel menerima pesannya dari Jibril, Isa memasuki Yerusalem sebagai Masih. Itu adalah ramalan yang sangat luar biasa dan penggenapan yang tepat. Bersamaan dengan prediksi nama Masih yang diberikan oleh nabi Zakharia, para nabi ini membentuk serangkaian prediksi yang benar-benar menakjubkan sehingga semua orang yang ingin tahu dapat melihat rencana Allah terbuka.

Namun, jika ramalan-ramalan Zabur ini begitu luar biasa, dan hal tersebut ditulis dalam Kitab Yahudi‒bukan Injil‒mengapa orang Yahudi tidak menerima Isa sebagai Masih? Bukankah semuanya itu ada dalam buku mereka! Kita pikir seharusnya hal ini sudah jelas, terutama berkaitan dengan prediksi yang begitu tepat dan tergenapi. Dalam memahami mengapa orang-orang Yahudi tidak menerima Isa sebagai Masih, kita akan mempelajari lebih lanjut beberapa hal yang luar biasa menyangkut kedatangan Dia yang sudah dinubuatkan oleh para nabi. Kita akan meninjau pertanyaan ini dalam artikel selanjutnya.

Tanda Tunas: Penamaan Masih Yang Akan Datang

Surah Al-Ahzab (Surah 33‒Golongan Yang Bersekutu) memberikan solusi untuk situasi umum manusia‒bagaimana kita memanggil seseorang ketika kita tidak tahu nama mereka.

 Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Surah Al-Ahzab 33: 5

Hal ini mengingatkan kita bahwa pengetahuan manusia terbatas‒bahkan kita sering tidak tahu nama-nama orang di sekitar kita. Surah An-Najm (Surah 53‒Bintang) yang membahas beberapa berhala umum pada zaman Nabi Muhammad SAW (Lat, ‘Uzza, dan Manat) menyatakan:

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka.

Surah An-Najm 53: 23

Dewa-dewa palsu dinamai oleh orang-orang biasa. Ayat-ayat ini memberikan pedoman untuk memisahkan ibadah palsu dari ibadah yang benar. Mengingat, terkadang kita tidak mengetahui  nama-nama orang di sekitar kita, manusia tentu saja tidak dapat mengetahui nama seorang nabi yang datang jauh di masa depan. Jika nama Masih diberikan jauh sebelumnya maka hal ini akan menjadi pertanda bahwa inilah rencana sejati Allah dan bukan datang dari sesuatu yang salah. Di sini, kita melihat bagaimana nama Isa Almasih dinubuatkan.

Tanda dalam Sebuah Nama

Telah kita lihat bahwa Allah sudah menjanjikan Kerajaan yang Akan Datang. Kerajaan ini akan berbeda dari kerajaan-kerajaan manusia. Lihatlah berita hari ini dan perhatikan apa yang terjadi dalam kerajaan manusia. Pertempuran, korupsi, kekejaman, pembunuhan, yang kuat mengeksploitasi yang lemah‒hal-hal ini terjadi dalam semua kerajaan manusia baik mereka Muslim, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu maupun Sekularisme Barat. Permasalahan yang terdapat dalam semua kerajaan ini adalah bahwa kita yang hidup di dalamnya memiliki rasa haus yang tak berkesudahan‒sebagaimana kita lihat dengan Nabi Yeremia (AS)‒yang menuntun kita pada dosa dan segala permasalahan ini dalam segala bentuknya (yaitu korupsi, pembunuhan, pelecehan seksual, dll.) adalah hasil dari dosa. Jadi kendala utama yang menghambat kedatangan Kerajaan Allah adalah kita. Jika Allah mendirikan Kerajaan baru-Nya sekarang, tidak seorang pun dari kita yang dapat memasukinya karena dosa kita akan menghancurkan Kerajaan itu sama halnya menghancurkan kerajaan-kerajaan yang ada sekarang. Yeremia (AS) juga menubuatkan hari di mana Allah akan menegakkan suatu Perjanjian Baru. Perjanjian ini akan menjadi baru karena akan ditulis dalam hati kita dan bukan pada loh batu seperti Hukum Musa. Hal itu akan mengubah diri kita dari dalam ke luar untuk menjadikan kita layak sebagai warga Kerajaan ini.

Bagaimana hal ini akan terlaksana? Rencana Allah seperti harta terpendam. Namun, petunjuk telah disampaikan melalui pesan-pesan Zabur sehingga mereka yang mencari Kerajaan-Nya akan mengerti‒sementara yang lain, yang tidak tertarik, akan tetap tidak tahu. Kita melihat pesan-pesan tersebut sekarang. Rencana tersebut berpusat pada Masih yang akan datang (seperti yang kita lihat di sini = Mesias = Kristus). Kita telah melihat dalam Mazmur Zabur (diilhami oleh Raja Dawud) bahwa Masih yang dinubuatkan ini harus berasal dari garis Raja Dawud (lihat tinjauan di sini).

Nabi Yesaya tentang Pohon, Tunggul… dan Tunas

Nabi Yesaya (AS) mengungkapkan bagaimana rencana Allah ini akan terjadi. Kitab Yesaya dalam Zabur ditulis selama periode dinasti Kerajaan Dawud (sekitar 1000-600 SM). Ketika ditulis (750 SM), dinasti tersebut dan seluruh kerajaan Israil menyimpang‒disebabkan kehausan hati mereka.

When Isaiah lived

Historical Timeline of Prophet Isaiah (PBUH) with some other prophets in Zabur

Dinasti Dawud – seperti Pohon

Yesaya (SAW) diilhami untuk menulis permohonan agar orang Israel kembali kepada Allah dan kepada praktik dan semangat Hukum Musa. Yesaya juga tahu bahwa pertobatan dan kembalinya ini tidak akan terjadi sehingga ia meramalkan bahwa bangsa Israel akan dihancurkan dan dinasti kerajaan akan hancur berkeping-keping. Kami melihat di sini bagaimana ini terjadi. Dalam ramalannya ia menggunakan metafora atau gambar dinasti yang seperti pohon besar yang akan segera ditebang dan hanya tunggul yang tersisa. Ini terjadi sekitar 600 SM ketika Babel menghancurkan Yerusalem dan sejak saat itu tidak ada keturunan Raja

David / Dawud pernah memerintah di Yerusalem.

Tetapi bersama dengan semua nubuat tentang kehancuran yang akan datang dalam bukunya ini, muncul pesan khusus ini:

“Tembakan akan muncul dari tunggul Isai; dari akarnya Cabang akan menghasilkan buah. Roh Tuhan akan bersemayam padanya – Roh kebijaksanaan dan pengertian, Roh nasihat dan kuasa, Roh pengetahuan.

Yesaya 11: 1-2

Dinasti Dawud (SAW) – sekarang menembak muncul dari tunggul mati

Jesse adalah ayah dari Raja David / Dawud, dan dengan demikian akar dari Dinasti. Karenanya, ‘tunggul Isai’ adalah ramalan kehancuran yang akan datang atas dinasti raja-raja dari David / Dawud. Tetapi Yesaya, sebagai seorang nabi, juga melihat melewati masa ini dan meramalkan bahwa meskipun tunggul (garis raja) akan terlihat mati, itu tidak akan sepenuhnya benar. Suatu hari di masa depan, sebuah pemotretan, yang dikenal sebagai Cabang, akan muncul dari tunggul yang sama yang dia nyatakan. Cabang ini disebut ‘dia’ sehingga Yesaya bernubuat tentang seorang pria yang akan datang dari garis keturunan Daud. Orang ini akan memiliki kualitas kebijaksanaan, kekuatan, dan pengetahuan seperti itu hanya dapat berasal dari Roh Allah yang bersandar padanya. Sekarang ingat bagaimana kita melihat bahwa Masih juga dinubuatkan datang dari garis keturunan Daud – ini yang paling penting. Cabang dan Masih keduanya dari David / Dawud? Mungkinkah ini dua gelar untuk orang yang akan datang yang sama? Mari kita terus menjelajah melalui Zabur.

Nabi Yeremia … tentang Ranting

Nabi Yeremia (SAW), datang 150 tahun setelah Yesaya, ketika dinasti Daud benar-benar ditebang di depan matanya sendiri menulis:

The Prophet Jeremiah shown in Timeline with other Prophets of Zabur

“Hari-hari akan datang,” demikianlah firman TUHAN, “pada waktu Aku akan membangkitkan bagi Daud Cabang yang adil, seorang Raja yang akan memerintah dengan bijak dan melakukan apa yang adil dan benar di negeri itu. Pada zamannya Yehuda akan diselamatkan dan Israel akan hidup dengan aman. Inilah nama yang dengannya dia disebut: TUHAN, Kebenaran kita ”.

Yeremia 23: 5-6

Yeremia (PBUH) langsung berlanjut dari nubuat Cabang yang dimulai oleh nabi Yesaya (PBUH) 150 tahun sebelumnya. Cabang akan menjadi Raja. Kami melihat bahwa Masih juga harus menjadi raja. Kesamaan antara Masih dan Cabang tumbuh.

Nabi Zakharia … memberi nama Cabang

Nabi Zakharia (AS) lanjut dengan pesan untuk kita. Dia hidup 520 SM, tepat setelah orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem dari pembuangan pertama mereka ke Babilonia, tetapi ketika mereka berada di bawah kekuasaan Persia

The dynasty of Dawud - like a Tree

Yesaya (AS) menerima ilham untuk menuliskan permohonan agar orang Israil kembali kepada Allah dan pada praktik serta spirit Hukum Musa. Yesaya juga tahu bahwa mereka tidak akan bertobat dan kembali, sehingga ia meramalkan bahwa bani Israil akan dihancurkan dan dinasti kerajaannya akan hancur berkeping-keping. Kita telah melihat di sini bagaimana hal itu terjadi. Dalam nubuatnya, ia menggambarkan dinastinya seperti sebuah pohon besar yang akan segera ditebang sehingga hanya tersisa tunggulnya. Hal ini terjadi sekitar 600 SM ketika bangsa Babilonia menghancurkan Yerusalem, dan sejak saat itu tidak ada keturunan Raja Daud/Dawud yang pernah memerintah di Yerusalem.

http://al-injil.net/wp-content/uploads/2013/02/david-stump-300x167.jpg

Nabi Zakharia … mengungkapkan nama Sang Tunas

Nabi Zakharia (AS) lanjut dengan pesan untuk kita. Dia hidup 520 SM, tepat setelah orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem dari pembuangan pertama mereka ke Babilonia, tetapi ketika mereka berada di bawah kekuasaan Persia.

http://al-injil.net/wp-content/uploads/2013/02/zechariah-in-timeline.jpg

The Prophet Zechariah in Timeline with other prophets of Zabur

(Jangan bingung antara nabi Zakharia yang dimaksud di sini dan imam Zakharia yang adalah ayah Yahya/Yohanes Pembaptis. Nabi Zakharia hidup 500 tahun sebelum imam Zakharia, bahkan nama imam Zakharia diambil dari nama nabi Zakharia, sama seperti pada hari-hari ini, ada banyak orang bernama Muhammad dan nama mereka diambil dari Nabi Muhammad SAW). Pada waktu itu (520 SM) orang-orang Yahudi bekerja untuk membangun kembali bait suci mereka yang hancur dan mulai lagi mempersembahkan Kurban Harun (AS). Keturunan Harun yang adalah Imam Besar (dan hanya keturunan Harun yang bisa menjadi Imam Besar) pada zaman nabi Zakharia dipanggil Joshua (atau Yosua dalam Alkitab Terjemahan Baru, atau Yusak dalam Kitab Suci). Jadi pada waktu itu (sekitar 520 SM) Zakharia adalah nabi dan Joshua adalah Imam Besar. Inilah yang Allah nyatakan‒melalui nabi Zakharia‒tentang Imam Besar Joshua (atau Yosua dalam Alkitab Terjemahan Baru, atau Yusakdalam Kitab Suci):

“’Dengarlah, hai Imam Besar Yusak, baik engkau maupun kawan-kawanmu yang duduk di hadapanmu-karena merekalah orang-orang yang menjadi lambang dari masa depan yang baik-sesungguhnya, Aku akan mendatangkan hamba-Ku, Sang Tunas. Lihatlah permata yang telah Kuletakkan di hadapan Yusak itu!’ …, demikianlah firman ALLAH, Tuhan semesta alam, ‘dan Aku akan menghapuskan kesalahan negeri ini dalam satu hari saja.’”

Zakharia 3: 8-9

Lagi-lagi Tunas! Namun kali ini dia juga disebut ‘hamba-Ku’. Dan dalam beberapa hal, Imam Besar Joshua adalah simbol dari Tunas yang akan datang ini. Dengan demikian Imam Besar Joshua adalah suatu Tanda. Tetapi dalam hal apa? Dan apa yang dimaksud dengan dalam ‘satu hari’ kesalahan akan dihapuskan oleh TUHAN (“Aku akan menghapus …”)? Kita lanjut dengan nabi Zakharia dan akan belajar sesuatu yang menakjubkan.

‘Turunlah firman ALLAH kepadaku demikian: “… [tentang] Imam Besar Joshua. Katakan kepadanya: Beginilah Firman Allah, Tuhan semesta alam, ‘Inilah orang yang bernama Tunas….’

Zakharia 6: 9-10

Perhatikan bahwa Joshua, sesungguhnya, adalah nama Tunas. Ingat apa yang sudah kita pelajari tentang transliterasi dan alih bahasa dari bahasa Ibrani ke bahasa Inggris. Di sini, kita membaca ‘Joshua’ karena kita membaca terjemahan bahasa Inggris. Tetapi siapa nama aslinya dalam bahasa Ibrani? Gambar di bawah ini memberitahu kita.

http://al-injil.net/wp-content/uploads/2013/02/translation-of-Joshua.jpg

Joshua = Jesus because both are transliterations from same Hebrew name

Dari Kuadran 1 -> 3 (seperti yang kita lakukan dalam memahami dari mana asal gelar ‘Mesias’ atau ‘Masih’) kita melihat bahwa nama ‘Joshua’ (‘Yosua’ dalam Alkitab Terjemahan Baru, ‘Yusak’dalam Kitab Suci) ditransliterasikan dari nama Ibrani ‘Yhowshuwa’. Nama ini ditransliterasikan ke ‘Joshua’ ketika Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Ingat pula bahwa Taurat/Zabur diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sekitar 250 SM. Ini adalah Kuadran 1 -> 2. Para penerjemah ini juga mentransliterasikan nama Ibrani ‘Yhowshuwa’ pada waktu mereka menerjemahkan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani. Transliterasi Yunani mereka adalah Iesous. Dengan demikian ‘Yhowshuwa’ dari Perjanjian Lama bahasa Ibrani disebut Iesous dalam Perjanjian Lama bahasa Yunani. Ketika Perjanjian Baru bahasa Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris nama Iesous ditransliterasikan menjadi ‘Jesus’. Dengan kata lain,  Masih = Mesias = Kristus = Yang Diurapi,

‘Yhowshuwa’ = Iesous = Joshua = Jesus (= Isa)

Seperti halnya nama Muhammad = محمد, Yosua (atau Yusakdalam Kitab Suci) = Yesus (atau Isa). Apa yang luar biasa, yang patut diketahui oleh semua orang? Yaitu bahwa 500 tahun sebelum Isa Almasih‒Nabi Injil‒hidup, hal ini telah dinubuatkan oleh nabi Zakharia bahwa nama Sang Tunas adalah Yesus (atau Isa‒transliterasi dari bahasa Arab). Yesus (atau Isa) adalah Sang Tunas! Sang Tunas dan Masih (atau Kristus) adalah dua gelar untuk orang yang sama! Tetapi mengapa dia membutuhkan dua gelar yang berbeda? Hal teramat penting apa yang akan dilakukannya? Para nabi Zabur kemudian menjelaskan lebih jauh dan lebih rinci‒dalam artikel berikutnya.

Dari mana Isa ‘Almasih’ dan Yesus ‘Kristus’ berasal?

Al-Qur’an menyebut Isa (Yesus – AS) sebagai ‘Al-Masih’. Apa maksudnya ini? Dari mana asalnya? Mengapa orang Kristen menyebut dia sebagai ‘Kristus’? Apakah ‘Al-Masih’ sama dengan ‘Kristus’ atau apakah ini kontradiksi atau terjadi perubahan (terkorupsi)? Zabur (Mazmur) menyediakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penting ini. Namun, untuk memahami artikel ini, Anda harus terlebih dahulu membaca artikel tentang ‘Bagaimana Alkitab diterjemahkan?’ Karena informasi ini akan digunakan di sini.

Asal usul ‘Kristus’

Pada gambar di bawah ini saya mengikuti proses penerjemahan seperti yang dijelaskan dalam ‘Bagaimana Alkitab diterjemahkan?‘, tetapi secara khusus memfokuskan pada kata ‘Kristus’ yang digunakan dalam Injil atau Perjanjian Baru.

Aliran terjemahan kata ‘Kristus’ dari bahasa Ibrani ke zaman modern

Anda dapat lihat bahwa dalam bahasa Ibrani asli Zabur (dalam Kuadran # 1) istilahnya adalah ‘mashiyach‘ yang didefinisikan dalam kamus Ibrani sebagai orang yang ‘diurapi atau disucikan’. Bagian-bagian tertentu dari Zabur (Mazmur) berbicara tentang mashiyach tertentu (dengan artikel tertentu) yang diramalkan untuk masa yang akan datang. Ketika Septuaginta dikembangkan pada tahun 250 SM (lihat Bagaimana Alkitab diterjemahkan), para sarjana menggunakan sepatah kata dalam bahasa Yunani untuk mashiyach Ibrani yang memiliki arti yang sama – Χριστός = Christos – yang berasal dari chrio, yang berarti berlumurkan dengan minyak secara seremonial. Oleh karena itu kata Christos diterjemahkan dengan makna (dan tidak ditransliterasikan dengan suara) dari bahasa Ibrani ‘mashiyach‘ ke dalam Septuaginta Yunani untuk merujuk pada orang khusus ini. Ini adalah Kuadran # 2. Para murid Isa (Yesus – AS) mengerti bahwa dia adalah orang yang dibicarakan dalam Septuaginta sehingga mereka terus menggunakan istilah Christos dalam Injil (atau Perjanjian Baru). (lagi di Kuadran # 2)

Tetapi dengan bahasa-bahasa modern ‘Christos’ kemudian ditransliterasikan dari bahasa Yunani ke bahasa Inggris (dan bahasa modern lainnya) sebagai ‘Christ (Kristus dalam Bahasa Indonesia)’. Ini adalah bagian bawah gambar yang berlabel # 3. Jadi, bahasa Inggris ‘Christ‘ adalah judul yang sangat spesifik dari Mazmur Zabur, yang diturunkan dengan terjemahan dari bahasa Ibrani ke Bahasa Yunani, dan kemudian ditransliterasi dari Bahasa Yunani ke Bahasa Inggris. Bahasa Ibrani Zabur diterjemahkan secara langsung ke bahasa-bahasa modern dan para penerjemah telah menggunakan kata-kata yang berbeda dalam menerjemahkan bahasa Ibrani asli ‘mashiyach’. Beberapa (seperti Raja James) menerjemahkan ‘mashiyach’ bahasa Ibrani ke bahasa Inggris Mesias dengan suara. Yang lain (seperti Internasional Baru) menerjemahkan ‘mashiyach’ dengan maknanya dan demikian pula ‘Yang Diurapi’ dalam pasal-pasal Mazmur (atau Zabur) yang spesifik ini. Dalam kedua kasus itu, kita tidak sering melihat kata ‘Christ‘ dalam Mazmur Inggris dan karena itu hubungan ini dengan Perjanjian Lama tidak jelas. Tetapi dari analisis ini kita tahu bahwa dalam Alkitab:

‘Kristus’ = ‘Mesias’ = ‘Yang Diurapi’

dan itu adalah judul yang spesifik.

Jadi dari mana ‘Masih’ berasal di dalam Al-Qur’an?

Kita telah lihat bagaimana ‘Kristus’ = ‘Mesias’ = ‘Yang Diurapi’ yang merupakan gelar setara yang Anda temukan di berbagai bagian Alkitab. Tapi bagaimana dengan ‘Kristus’ yang disebutkan dalam Al-Qur’an? Untuk menjawabnya saya akan memperkirakan dari gambar di atas yang menunjukkan aliran Mashiyach-> Kristus dalam Alkitab.

Gambar di bawah ini memperluas proses untuk memasukkan Al-Quran yang berbahasa Arab yang ditulis setelah terjemahan Alkitab bahasa Ibrani dan Yunani. Anda dapat melihat bahwa saya telah membagi kuadran # 1 menjadi dua bagian. Bagian 1a sama dengan sebelum berurusan dengan ‘mashiyach’ asli dalam bahasa Ibrani Zabur seperti yang dijelaskan di atas. Bagian 1b sekarang mengikuti istilah ini ke dalam bahasa Arab. Anda dapat melihat bahwa istilah ‘mashiyac’h ditransliterasikan (yaitu dengan suara serupa) dalam Al-Qur’an (seperti مسيح). Kemudian, ketika pembaca Al-Quran yang berbahasa Arab menerjemahkan kata itu ke dalam bahasa Inggris, mereka menerjemahkannya kembali menjadi ‘Masih’.

Proses terjemahan menunjukkan bahwa ‘Yang Diurapi’ = ‘Masih’ = ‘Mesias’ = ‘Kristus’

Dengan latar belakang pengetahuan ini kita dapat lihat bahwa mereka semua memiliki judul yang sama dan semuanya memiliki arti yang sama dengan cara yang sama yaitu “4 = ’empat’ (Inggris) = ‘quatre’ (Prancis) = IV (angka Romawi) = 6- 2 = 2 + 2.

Kristus diantisipasi pada abad ke-1

Dengan pengetahuan ini, mari kita lakukan pengamatan dari Injil. Di bawah ini adalah reaksi Raja Herodes ketika orang-orang bijak dari Timur datang mencari raja orang Yahudi, bagian yang terkenal dari kisah kelahiran Isa (Yesus – AS). Perhatikan, ‘itu mendahului Kristus’, meskipun itu tidak merujuk secara khusus tentang Isa (Yesus – AS).

3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. 4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. (Matthew2:3-4)

Matius2:3-4

Anda dapat lihat bahwa gagasan tentang ‘Kristus’ sudah diterima secara umum antara Herodes dan para penasihat agamanya – bahkan sebelum Isa (Yesus – AS) lahir – dan digunakan di sini tanpa merujuk secara khusus kepadanya. Ini karena, sebagaimana dijelaskan di atas, ‘Kristus’ berasal dari Zabur (Mazmur) yang ditulis ratusan tahun sebelumnya oleh Nabi dan Raja Dawud (AS), dan itu biasanya dibaca oleh orang Yahudi abad ke-1 (seperti Herodes) di Septuaginta Yunani. ‘Kristus’ adalah (dan masih) judul, bukan nama. Dari sini kita dapat mengabaikan gagasan konyol bahwa ‘Kristus’ adalah penemuan Kristen atau penemuan oleh seseorang seperti Kaisar Romawi Konstantinus pada 300 M yang dipopulerkan oleh film-film seperti Da Vinci Code. Gelar itu sudah ada ratusan tahun sebelum ada orang Kristen atau sebelum Konstantinus berkuasa.

Ramalan ‘Kristus’ di Zabur

Mari kita lihat kejadian pertama dari gelar kenabian ‘Kristus’ ini dalam Zabur (Mazmur), yang ditulis oleh Nabi Dawud (AS) sekitar 1000 SM –  jauh sebelum kelahiran Isa (Yesus – PBUH).

Raja-raja di bumi mengambil pendirian mereka … melawan TUHAN dan terhadap Yang Diurapi-Nya … Yang bertahta di surga tertawa; Tuhan mengejek mereka … mengatakan, “Aku telah memasang Rajaku di Sion, bukit suci-Ku ….”.

Mazmur 2: 2-4

Mazmur 2 dari Zabur dalam Septuaginta akan membaca dengan cara berikut dalam Septuaginta Yunani (saya menuliskannya dengan Christos yang ditransliterasikan sehingga Anda dapat ‘melihat’ judul Kristus seperti yang pembaca Septuaginta baca)

Raja-raja di bumi mengambil pendirian mereka … melawan TUHAN dan melawan Kristus-Nya … Yang bertakhta di surga tertawa; Tuhan mengejek mereka … mengatakan, “Aku telah memasang Rajaku di Sion, bukit suci-Ku …

Mazmur 2

Anda sekarang dapat ‘melihat’ Kristus dalam bagian ini seperti yang dimiliki pembaca abad ke-1. Dan transliterasi berikut akan memiliki arti yang persis sama:

Raja-raja di bumi mengambil pendirian mereka … melawan TUHAN dan melawan Masih-Nya … Yang bertakhta di surga tertawa; Tuhan mengejek mereka … mengatakan, “Aku telah memasang Rajaku di Sion, bukit suci-Ku …

Mazmur 2 Zabur

Tetapi Zabur (Mazmur) melanjutkan dengan lebih banyak referensi tentang Kristus atau Masih yang akan datang ini. Saya menempatkan bagian standar berdampingan dengan yang ditransliterasikan dengan ‘Kristus’ dan dengan ‘Masih’ sehingga Anda dapat melihatnya.

Mazmur 132 – Dari Ibrani Mazmur 132 – Dari Septuaginta Mazmur 132 dari Zabur dengan transliterasi Arab
Ya Tuhan, … 10 Demi Daud, hambamu, jangan menolak orang yang diurapi kamu.11 Tuhan bersumpah kepada Daud, suatu sumpah yang pasti bahwa dia tidak akan mencabut: “Salah satu keturunanmu sendiri Aku akan menempatkan di atas takhtamu— … 17 “Di sini Aku akan membuat tanduk untuk Daud dan mendirikan pelita untuk yang diurapi. ” Ya Tuhan, … 10 Demi Daud, hambamu, jangan menolak Kristus Anda.11 Tuhan bersumpah kepada Daud, suatu sumpah yang pasti bahwa ia tidak akan mencabut: “Salah satu keturunanmu sendiri, aku akan menempatkan di atas takhtaamu—… 17“ Di sini aku akan membuat tanduk untuk Daud dan mendirikan pelita bagi Kristus-Ku. ” Ya Tuhan, … Demi Dawud, hambamu, jangan menolak Masihmu.11 Tuhan bersumpah pada Dawud, sumpah pasti bahwa ia tidak akan mencabut: “Salah satu keturunanmu sendiri, aku akan menempatkan di atas takhtamu— … 17” Di sini aku akan membuat tanduk untuk Dawud dan menyiapkan lampu untuk Masih-ku. ”

Anda dapat lihat bahwa Mazmur 132 secara khusus berbicara dalam bentuk waktu yang akan datang (“… Saya akan membuat terompet untuk Daud (atau Dawud) …”), seperti banyak bagian di seluruh Taurat dan Zabur. Ini penting untuk diingat ketika menilai ramalan (nubuat). Jelas bahwa Zabur membuat klaim dan memprediksi masa depan. Herodes sadar bahwa para nabi Perjanjian Lama membuat ramalan tentang ‘Kristus’ yang akan datang – itulah sebabnya ia siap untuk pengumuman ini. Dia hanya perlu penasihatnya untuk menjelaskan secara khusus prediksi ini karena dia tidak mengetahui Zabur dengan baik. Orang-orang Yahudi sudah tahu dan sedang menunggu Mesias mereka (atau Kristus). Fakta bahwa mereka sedang menunggu atau mencari kedatangan Mesias mereka tidak ada hubungannya dengan Isa (atau Yesus – AS) di dalam Injil, tetapi lebih berkaitan dengan ramalan-ramalan (nubuat-nubuat) yang secara terang-terangan mencari keadaan masa depan di dalam Zabur.

Ramalan Taurat & Zabur: seperti kunci dari sistem terkunci

Fakta bahwa Taurat dan Zabur secara khusus memprediksi masa depan membuat mereka seperti kunci pintu. Kunci dirancang dalam bentuk tertentu sehingga hanya ‘kunci’ spesifik yang cocok dengan bentuk yang dapat membukanya. Demikian juga Perjanjian Lama seperti kunci. Kita sudah melihat di posting tentang Pengorbanan Besar Ibrahim (AS), dan Paskah dari Nabi Musa (AS) dan Tanda dari Putra Perawan yang akan datang (silahkan diliat kalau belum menyimak) bahwa ada nubuat khusus tentang orang ini dimasa akan datang. Mazmur 132 dari Zabur menambahkan aturan bahwa ‘Kristus’ akan berasal dari garis keturunan Nabi dan Raja Dawud (Daud – AS). Jadi ‘kunci’ menjadi lebih dan lebih tepat ketika kita membaca bagian nubuat melalui Perjanjian Lama. Zabur tidak berakhir dengan nubuat-nubuat ini. Ini memberi tahu kita secara lebih terperinci apa yang  dilakukan dan akan dilakukan oleh Masih. Kita lanjutkan melalui zabur.